PELAJARAN DARI RAMADHAN
Oleh: M. Mujib Ansor, S.H., M.Pd.I.
Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jum’at rahimakumullah,
Hari ini kita telah berada di bulan Syawal, artinya kita baru saja ditinggalkan bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh rahmat, berkah, serta ampunan.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala (selanjutnya disingkat swt) menerima semua amal ibadah kita selama bulan suci Ramadhan. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah,
Ada dua hal penting yang perlu kita ingat terkait dengan bulan Ramadhan ini, yaitu:
Pertama: Ramadhan ini ibarat sekolahan atau madrasah yang akan mencetak kita menjadi orang-orang yang bertakwa. Nah, inilah hikmah puasa yang terbesar itu. Sebagaimana firman Allah swt:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah (2): 183)
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Allah swt menyebutkan hikmah disyariatkannya puasa seraya berfirman: ‘…agar kamu bertakwa,’ karena sesungguhnya puasa itu merupakan salah satu faktor penyebab ketakwaan, (mengapa?) karena berpuasa adalah merealisasikan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Di antaranya ialah, orang yang berpuasa akan meninggalkan apa yang diharamkan Allah seperti makan, minum, melakukan jimak, dan semacamnya yang sangat diinginkan oleh nafsu, (hal itu) dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah… maka ini merupakan bagian dari ketakwaan.”
Dan di antaranya juga adalah bahwa orang yang berpuasa itu melatih dirinya untuk selalu merasa diawasi oleh Allah swt, maka dia meninggalkan apa yang diinginkan oleh nafsunya, padahal ia mampu melakukannya, karena ia tahu bahwa Allah melihatnya.”[1]
- Karena sekolah/madrasah Ramadhan ini akan mencetak menjadi orang yang bertakwa, maka di antara tanda-tanda keberhasilan puasa Ramadhan (puasa kita maqbulah, diterima Allah) adalah tetap istiqamah dalam ketaatan. Setelah Ramadhan ibadah kita tambah meningkat, bukan malah merosot…! Seperti: shalat, jamaah, baca al-Qur’an, sedekah dsb….!!
- Maka untuk menjaga kemakbulan puasa kita ini, marilah kita tingkatkan amal kebaikan kita ke depan. Sebagaimana Allah swt berfirman:
فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرۡغَب
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,[2] dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al-Insyirah (94): 7-8)
Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jum’at rahimakumullah,
Hal Kedua yang perlu diperhatikan ialah, melaksanakan pelajaran dari puasa. Apakah itu? Yaitu menahan hawa nafsu dan syahwat. Hakikat dari puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, dan menahan diri dari hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan pahala puasa.

Karena itu, puasa yang benar dan sempurna adalah puasa seluruh anggota tubuh dari makan dan minum, juga berkumpul dengan istri, serta berpuasa pula mata, telinga, lisan, tangan, kaki, dan hati dari bermaksiat kepada Allah swt.
Nah, kalau yang demikian ini bisa kita jaga dan kita praktikkan di luar Ramadhan, maka ada peningkatan perilaku yang baik, yang berdampak positif bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Masalahnya, kita –umat Islam- ini tidak terbiasa mewujudkan nilai dari ibadah kita dalam kehidupan sehari-hari. Habis melakukan shalat, puasa, haji dst… ya, sudah hilang begitu saja tanpa bekas. Ketaatan hanya ada pada saat beribadah, setelah itu kembali kepada kemaksiatan-kemaksiatan.
Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono (Guru Besar Fak Psikologi UI), pada tahun 2007 yang lalu mengatakan: “Republik ini sudah lebih dari 62 (sekarang 78) kali Ramadhan, tetapi kondisi masyarakatnya begitu-begitu saja…” Mengapa demikian…?! “Sebab, al-Qur’an dan as-Sunnah tidak dipraktikkan,” tegas Sarlito.[3]
- Semangat imsak (menahan diri) tidak diwujudkan: dusta, tidak jujur, korupsi, berbuat zalim, konsumtif, permisif (paham serba boleh), hedonis (mengejar kenikmatan sesaat/ duniawi), hiburan, dan permainan, tetap jalan terus…!
- Jadi tidak ada wujud / realisasi dari semangat imsak (menahan diri) dari puasa itu…!!
- Habis berpuasa, kembali lagi hawa nafsu menguasai kita. Padahal, nafsu itu selalu mengajak kepada keburukan. Allah I berfirman:
… إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيٓۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٞ رَّحِيمٞ
“… Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku….” (QS. Yusuf (12): 53)
- Jadi, hawa nafsu ini harus dikendalikan, diperangi, dan tidak dituruti…!
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pada Hari Raya Idul Fitri, iblis akan menjerit karena tahu bahwa Allah swt mengampuni para hamba-Nya dari dosa-dosa. Sehingga iblis memerintahkan kepada anak buahnya untuk menggoda anak Adam agar terlena dalam melampiaskan syahwat, mabuk, narkoba, makan riba, korupsi, berbuat zalim, serta berbagai perbuatan maksiat lainnya, serta berbagai malahi (permainan) yang tidak ada gunanya.
Nah, jika kita terseret godaan iblis dan setan, maka sia-sialah latihan atau riyadhah kita selama Ramadhan ini. Karena inti tujuan berpuasa sebenarnya adalah untuk menjinakkan hawa nafsu yang selalu ingin menuruti ajakan iblis laknatullahu ‘alaih.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Akhirnya, marilah kita hidup setelah Ramadhan ini sampai akhir hayat nanti berbekal firman Allah I:
فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum (30): 30)
Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.[4]
Ayat ini berisi perintah untuk mengikuti agama Allah yang lurus ini sampai akhir hayat, tidak hanya di bulan Ramadhan saja. Karena Tuhan yang kita sembah di bulan Ramadhan adalah juga Tuhan yang kita sembah di luar Ramadhan. Allah I berfirman:
وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr (15): 99)
Yang dimaksud Al-Yaqin dalam ayat ini adalah al-maut (kematian/ajal).[5] Syaikh Abdurrahman as-Sa’di mengatakan, “Maksudnya, istiqamahlah engkau untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan segala macam ibadah di setiap waktu. Maka Nabi r menaati perintah Tuhannya dan senantiasa membiasakan beribadah sampai datang al-yaqin (ajal) dari Tuhannya.”[6]
Sebagai penutup
Memasuki Hari Raya Idul Fitri ini, marilah kita isi Idul Fitri dengan penuh khidmad, penuh rasa syukur kepada Allah, bergembira dalam ketaatan kepada Allah, bukan kemaksiatan.
Kita isi dengan bersilaturrahim dan saling memaafkan dengan tidak melanggar syariat, misalnya berjabat tangan antara lawan jenis yang bukan mahram, atau mengisi hari-harinya dengan hiburan yang dilarang. [*]
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ، تَقَبَّلْ يَاكَرِيْمُ
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA
Pada khutbah kedua ini mari kita renungkan firman Allah I berikut ini, agar kita tetap istiqamah dalam tauhid dan tetap beramal saleh:
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka istiqamah (meneguhkan pendirian mereka)[7], maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushshilat (41): 30)
Mari kita berdoa kepada Allah, memohon kebaikan dunia dan akhirat untuk diri, keluarga dan segenap umat Islam. [*]
SUMBER RUJUKAN:
- Materi ceramah “Buka Bersama” oleh penulis.
- Al-Quran dan Terjemahnya, Departen Agama RI.
- Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Aal asy-Syaikh, Dr., Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 5, terj. Abdul Ghaffar, Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’i, 2001.
- Al-Hafizh Imaduddin Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’anul Azhim, Juz 2, Bairut: Darul Jiil, tt.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Tafsir Al-Qur’an, jilid 1 dan 4, terj. Muhammad Iqbal, Lc. dkk., Jakarta: Pustaka Sahifa, 1433 H/ 2012
- Majalah Al-Falah edisi 234.
Catatan kaki:
[1] Tafsir as-Sa’di, 1/316.
[2] Maksudnya: Sebagian ahli tafsir menafsirkan apabila kamu (Muhammad) telah selesai berdakwah Maka beribadatlah kepada Allah; apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia maka kerjakanlah urusan akhirat, dan ada lagi yang mengatakan: apabila telah selesai mengerjakan shalat berdoalah.
[3] Majalah al-Falah, edisi 234, hal. 8.
[4] Al-Qur’an dan Terjemahnya, 645.
[5] Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 2/540 edisi Indonesia, 5/32.
[6] Tafsir as-Sa’di, 4/146.
[7] Istiqamah ialah teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal yang shaleh.

















