ORANG BERIMAN TIDAK BERBUAT KERUSAKAN
Oleh: M. Mujib Ansor, S.H., M.Pd.I. (Kadiv. Pendidikan YBM/ Pesantren Al-Umm Malang)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Orang beriman selalu berbuat baik (dalam bahasa Agama disebut amal shalih). Mengapa? Karena iman dan amal saleh tak bisa dipisahkan. Perbuatan baik adalah bukti nyata dari keimanan yang hidup. Kebaikan sekecil apa pun tidak boleh diremehkan, misalnya membuang duri di jalan atau bahkan sekedar senyuman dan wajah yang berseri. Itulah ajaran Islam. Islam itu rahmatan lil’alamin.
Mengapa orang beriman selalu berbuat baik? Karena iman adalah akar, amal adalah buah: Iman yang benar mendorong perbuatan baik, seperti akar yang menumbuhkan pohon, dan pohon menghasilkan buah. Tanpa amal saleh, maka iman hanyalah teori. Kalau sekarang disebut omon-omon saja.
Hadirin jamaah rahimakumullah,
Motivasi utama berbuat baik adalah ikhlas karena Allah, mengharap ridha Allah, bukan penilaian manusia. Karena berbuat baik adalah perintah Allah swt:
وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
“Berinfaklah di jalan Allah, jangan jerumuskan diri kalian ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195)

Jika dirinci perbuatan baik orang beriman itu sebagai berikut: pertama, ibadah ritual, seperti: shalat, puasa, zakat, haji, dzikir, dan khusyuk saat ibadah dst. Kedua, ibadah sosial, seperti: jujur dalam segala hal, menepati janji, menjaga amanah, menolong sesama, memuliakan tetangga dan tamu, selalu tersenyum dan wajah berseri dst. Ketiga, ibadah lingkungan (ekologi), yaitu menjaga lingkungan dan melestarikan alam, tidak merusak alam, seperti menebangi hutan, menggunduli hutan, mengalihfungsikan hutan (deforestasi) dst. Keempat, siap menghadapi ujian/ cobaan, yaitu: bersyukur jika mendapat nikmat, dan bersabar ketika mendapat musibah.
Singkatnya, menjadi mukmin sejati berarti mewujudkan keimanan itu dalam setiap amal perbuatan baik, karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.
اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195)
Hadirin jamaah rahimakumullah
Perbuatan baik itu bisa berupa sikap, ucapan, maupun perbuatan. Orang beriman itu sikapnya selalu membela yang benar menegakkan keadilan; ucapannya selalu baik, santun, dan beradab; dan perbuatannya selalu baik dan tidak merusak.
Berbeda dengan orang fasik apalagi munafik. Mereka selalu membuat kerusakan di muka bumi. Itu yang ditegaskan Allah dalam firman-Nya:
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِۙ قَالُوْٓا اِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ اَلَآ اِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلٰكِنْ لَّا يَشْعُرُوْنَ
“Apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafik), “Janganlah berbuat kerusakan di bumi,”[1] mereka menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari. (QS. Al-Baqarah [2]: 11-12)
Ayat ini memang secara khusus ditujukan kepada orang munafik, bahwa orang munafik itu selalu berbuat kerusakan, meskipun ngakunya berbuat baik. Tetapi Allah menegaskan: “Sungguh merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.” Nah, kata para ulama, ini kejahatan yang lebih besar lagi dan lebih bahaya, karena aslinya membuat kerusakan, tapi ngakunya berbuat baik.
Hadirin jamaah rahimakumullah,
Berbuat kerusakan di muka bumi ini bisa berupa kerusakan sosial, yaitu merusak tatanan sosial kemasyarakatan dengan berbagai macam kesyirikan dan perbuatan yang dilarang atau maksiat atau perbuatan menyimpang, seperti: minum khamer, narkoba, judi, zina, memperkosa, berbuat zalim, mencuri, merampok, korupsi dst. Bisa juga berupa merusak alam atau lingkungan (yang biasa disebut kejahatan ekologi), seperti merusak hutan, menebangi hutan, dan mengalihfungsikan hutan (deforestasi). Ini semua masuk kategori perbuatan merusak.
Allah swt melarang berbuat kerusakan di muka bumi dengan firman-Nya:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-A’raf [7]: 56)
Para ulama ahli tafsir seperti Imam Jalaluddin al-Mahalli dalam tafsir Jalalain: Syaikh as-Sa’di dalam Tafsirnya dll, semua mengatakan “Jangan kalian membuat kerusakan di muka bumi” dengan melakukan kemusyrikan dan perbuatan-perbuatan maksiat.”
Imam Ibnu Katsir rhm mengatakan: “Allah Ta’ala melarang dari melakukan pengrusakan dan hal-hal yang membahayakan, setelah dilakukan perbaikan atasnya. Karena jika berbagai macam urusan sudah berjalan dengan baik dan setelah itu terjadi pengrusakan, maka yang demikian itu lebih berbahaya bagi umat manusia.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/391)
Dr. Hikmat Basyir dkk dalam Tafsir Muyassar menegaskan: “Janganlah kalian melakukan perbuatan kerusakan di muka bumi dengan cara apa pun, setelah Allah memperbaikinya dengan pengutusan para rasul dan menyemarakkannya dengan amal ketatan kepada-Nya.”
Hadirin jamaah rahimakumullah
Apa akibat dari pengrusakan di bumi? Akibat berbuat kerusakan di muka bumi adalah bencana yang menimpa semua manusia dan lingkungan, yang disebut bencana ekologi. Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, akhir November 2025, adalah contoh bencana akibat ulah tangan segelintir manusia yang rakus dan serakah, yaitu para pemilik modal, korporasi, dan penguasa, yang sudah merusak hutan di hulu, menebangi pohonnya, menggunduli hutannya, untuk kepentingan bisnis, kemudian yang menanggung akibatnya adalah derita rakyat.
Allah swt sudah mengingatkan dalam firman-Nya:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Rum [30]: 41)
Hadirin jamaah rahimakumullah,

Ayat di atas menegaskan bahwa kerusakan di bumi (terjadinya bencana) itu bima kasabat aidinnas (karena ulah tangan manusia). Nah, Akibat ulah tangan manusia itu, menurut para ulama ahli tafsir seperti Imam Jalaluddin al-Mahalli, Imam as-Suyithi, Imam Ibnu Katisr, dan Syaikh as-Sa’di dll, maksudnya adalah karena dosa dan kesalahan manusia. Dosa dan kesalahan manusia ini ada dua macam: pertama, Perbuatan (kesalahan) yang mempunyai hubungan langsung dengan terjadinya musibah/bencana (istilah Syaikh as-Sa’di: perbuatan yang merusak/ “al-mufsidah“), seperti: penebangan hutan secara liar (baik legal maupun illegal) atau pengrusakan alam (lingkungan) yang besar (seperti untuk pertambangan, perkebunan, dll), maka ini akan menyebabkan banjir besar, tanah longsor, terjadinya pemanasan global, dan perubahan musim dsb. Membuang sampah sembarangan mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit, banjir, dan mengganggu lingkungan. kemudian perzinaan (apakah seks bebas, atau LGBT) maka menyebabkan virus HIV/AIDS dan penyakit lainnya yang amat mengerikan itu, dsb.
Kedua, Perbuatan (kesalahan) berupa dosa atau maksiat (istilah Syaikh as-Sa’di: perbuatan yang rusak/ al-fasidah). Seperti: kesyirikan, kemaksiatan, dan berbagai kemungkaran yang kian merajalela. Ini secara logika memang tampak tidak ada hubungan langsung dengan bencana, tetapi kemaksiatan dan kemungkaran itu mengundang murka Allah, mengundang bencana/malapetaka.
Rasulullah r bersabda:
إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِى فِى اُمَّتِى عَمَّهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ …
“Apabila maksiat sudah merajalela di kalangan umatku, Allah akan menurunkan siksa dari sisi-Nya kepada mereka secara merata…” (HR. Ahmad, dll. Hadits Shahih)
Ya, musibah/bencana yang menimpa seluruh umat manusia, tidak hanya menimpa orang yang buruk (zhalim), tetapi juga menimpa orang-orang baik, yang tidak ikut melakukan kesalahan tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Anfal: 25.
Dengan demikian jelas sekali, keserakahan segilintir orang, yaitu para pemilik modal, korporasi, dan penguasa yang tidak amanah, yang merusak alam (yang biasa disebut kejahatan ekologi) demi keuntungan pribadi dan glongannya, mengakibatkan bencana yang begitu hebat berupa meninggalnya seribu lebih orang, hilangnya rumah-rumah dan perkampungan, rusaknya jalan, terputusnya jembatan, aliran listrik, dan berbagai fasilitas lainnya, yang sampai sekarang masih belum bisa dipulihkan secara baik.
Maka sekali lagi, ini adalah bukti nyata dan peringatan keras bagi umat manusia bahwa keserakahan segelintir manusia yang bermodal dan berkuasa itu ternyata mengakibatkan malapetaka yang begitu hebat yang kerugiannya dirasakan oleh rakyat banyak untuk hari ini dan generasi yang akan datang.
Maka benarlah jika Allah mengatakan bahwa bumi ini diwariskan hanya kepada orang-orang baik saja, karena orang baik akan menjaga lingkungan, terhindar dari kerusakan. Allah berfirman:
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ مِنْۢ بَعْدِ الذِّكْرِ اَنَّ الْاَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصّٰلِحُوْنَ
Sungguh, Kami telah menuliskan di dalam Zabur[2] setelah (tertulis) di dalam aż-Żikr (Lauh Mahfuz) bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh (yang berbuat baik).” (QS. Al-Anbiya [21]: 105)
Mengapa diwariskan kepada orang yang berbuat baik (shalihun)? Karena mereka selalu berbuat baik, tidak merusak. Sebagaimana firman Allah:
وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهٗ بِاِذْنِ رَبِّهٖۚ وَالَّذِيْ خَبُثَ لَا يَخْرُجُ اِلَّا نَكِدًاۗ كَذٰلِكَ نُصَرِّفُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّشْكُرُوْنَ ࣖ
Tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur seizin Tuhannya. Adapun tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami jelaskan berulang kali tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur. (QS. Al-A’raf [7]: 58)
Ibnu Abbas ra mengatakan: “Ini merupakan perumpamaan yang dibuat oleh Allah terhadap orang mukmin. Dia berfirman, ‘Orang mukmin itu baik, dan amal perbuatannya juga baik, sebagaimana negeri yang baik menghasilkan buah yang baik.” (Tafsir Ibnu Abbas, hal. 333)
Hadirin jamaah rahimakumullah,
Demikianlah khutbah kita kali ini, bahwa orang beriman itu selalu berbuat baik: berbuat baik kepada Allah, dengan sesama manusia, dan terhadap lingkungan; tidak berbuat kerusakan. Semoga Allah swt menjadikan kita orang-orang yang benar-benar mukmin sejati, yang selalu berbuat baik dan tidak berbuat kerusakan. Amin ya Rabbal ‘alamin. []
Mojokerto, 7 Januari 2026/ 20 Rajab 1447 H
Sumber Rujukan:
Aplikasi Al-Qur’an Digital Terjemah Kemenag RI Tahun 2019
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Khadim al-Haramain asy-Syarifain, KSA.
Al-Hafizh Imaduddin Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’anul Azhim, Juz 1 dan 3, Bairut: Darul Jiil, tt.
Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Aal asy-Syaikh, Dr., Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 1 dan 6, terj. Abdul Ghaffar, Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’i, 2001.
Ali bin Abu Thalhah, Tafsir Ibnu Abbas, terj. Muhyiddin Mas Rida dkk., Jakarta: Pustaka Azzam, 2021.
Hikmat Basyir, Dr., dkk., Tafsir Muyassar: Memahami Al-Qur’an Dengan Terjemahan dan Penafsiran Paling Mudah Jilid 1, terj. Muhammad Ashim, Lc. dkk., Jakarta: Darul Haq, 1445 H.
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi, Tafsir al-Jalalain, Indonesia: Maktabatu Daru Ihya’i al-Kutub al-Arabiyah Indonesia, tt.
Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuti, Tafsir Jalalain, Jilid 1 dan 2, terj. Bahrun Abubakar, Lc., Bandung: Sinar baru Algensindo, 2013.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Taisirul Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, Riyadh: Darus Salam Lin-nasyr wat-Tauzi’, 1422 H/2002
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Taisirul Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, Jilid 1 terj. Muhammad Iqbal, Lc. dkk., Jakarta: Pustaka Sahifa, cet. ke-2, 2012.
Catatan Kaki:
[1] Di antara bentuk kerusakan di atas bumi adalah kekufuran, kemaksiatan, menyebarkan rahasia orang mukmin, dan memberikan loyalitas kepada orang kafir. Melanggar nilai-nilai yang ditetapkan agama akan mengakibatkan alam ini rusak, bahkan hancur. (Terjemah Kemenag 2019)
[2] Sebagian mufasir menyatakan bahwa Zabur adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Daud a.s., sedangkan aż-Żikr adalah kitab Taurat. Menurut yang lain, Zabur adalah kitab-kitab yang diturunkan Allah Swt. kepada nabi-nabi setelah ditulis di Lauh Mahfuz. (Terjemah Kemenag 2019)

















