Thursday, July 23, 2026
  • Login
SWAHARAH
  • Beranda
  • Profil
    • PROFIL PENDIRI
    • PROFIL SWAHARAH.ID
  • Agama
    • Kajian
    • Khutbah
    • Makalah
  • Pendidikan
  • Kutipan
  • Nasional
    • Berita
    • Internasional
    • Opini
  • Sejarah
  • Keluarga
  • Tamu
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Profil
    • PROFIL PENDIRI
    • PROFIL SWAHARAH.ID
  • Agama
    • Kajian
    • Khutbah
    • Makalah
  • Pendidikan
  • Kutipan
  • Nasional
    • Berita
    • Internasional
    • Opini
  • Sejarah
  • Keluarga
  • Tamu
No Result
View All Result
SWAHARAH
No Result
View All Result
Home Agama

SABAR MENERIMA MUSIBAH

M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I. by M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.
December 17, 2025
in Agama, Khutbah
A A
0
SABAR MENERIMA MUSIBAH

sumber: detiknews

1
SHARES
62
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

SABAR MENERIMA MUSIBAH

Oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I. (Kadiv. Pendidikan YBM/ Pondok Pesantren Al-Umm Malang)

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jum’at  rahimakumullah,

Dunia tempat kita berpijak ini hanyalah sebagai negeri persinggahan, bukan tempat tinggal abadi. Penuh dengan ujian dan cobaan. Maka bagi orang mukmin, adanya ujian dan cobaan di dunia adalah sebuah kepastian. Tidak seorang pun yang luput dari ujian dan cobaan. Hanya saja bentuk ujian dan cobaan itu yang berbeda-beda, ada yang baik dan ada yang buruk. Allah I berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗوَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kepada Kamilah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 35)

Imam Ibnu Katsir menuturkan, “Yaitu Kami terkadang menguji kalian dengan berbagai musibah dan terkadang dengan berbagai nikmat, lalu Kami akan melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur serta siapa yang bersabar dan siapa yang putus asa.”[1]

Imam as-Suyuthi mengemukakan, “(Dan Kami menguji kalian) mencoba kalian (dengan keburukan dan kebaikan) seperti miskin dan kaya, sakin dan sehat, (sebagai cobaan) kalimat ini menjadi maf’ul lah, maksudnya supaya Kami melihat, apakah mereka bersabar dan bersyukur ataukah tidak.”[2]

Di ayat yang lain Allah berfirman:

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?” (QS. Al-Ankabut [29]: 2)

Menurut Imam Ibnu Katsir, “Firman Allah (QS. Al-Ankabut ayat 2 ini) adalah bentuk istifham inkari (pertanyaan yang bersifat mengingkari). Maknanya, bahwa Allah swt harus menguji hama-hamba-Nya yang beriman sesuai dengan keimanan yang mereka miliki.”[3]

Sebab turunnya ayat ini: Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari asy-Sya’bi tentang firman-Nya (Al-Ankabut ayat 1-2), turun tentang beberapa orang yang tinggal di Mekkah dan telah menyatakan masuk Islam, lalu para sahabat Rasulullah di Madinah menulis surat kepada mereka, ‘Pernyataan masuk Islam kalian tidak diterima kecuali jika kalian berhijrah!’ Maka mereka berangkat menuju Madinah, tapi mereka dikejar kaum musyrik dan dipaksa kembali. Maka turunlah ayat ini.”[4]

  • Jadi, ujian atau cobaan itu pasti, dan ujian itu bisa berupa kebaikan atau keburukan. Hanya saja kebanyakan manusia tidak merasa diuji ketika sedang diberikan kebaikan.
  • Maka dunia adalah negeri tempat taklif (perintah dan larangan), serta negeri beramal, bukan negeri tempat bersenang-senang, serta berangan-angan, apalagi berfoya-foya.
  • Tetapi kebanyakan manusia lalai dari kenyataan tersebut.
  • Dan, musibah itu bisa bersifat individual atau pun bersifat komunal atau jamaah (menimpa masyarakat secara umum).
sumber: pusiknas.polri.go.id

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Untuk apa ujian dan cobaan?!

Ujian atau cobaab itu untuk mengukur dan mengetahui siapakah yang terbaik dalam menghadapi ujian tersebut? Siapa yang lulus dan siapa yang tidak? Siapa yang layak diangkat derajatnya dan siapa yang tidak? Siapa yang layak mendapatkan surga dan siapa yang tidak? Allah I berfirman:

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ

“yaitu Yang Menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk [67]: 2)

Maka orang mukmin akan menerima setiap musibah dengan sabar, tabah, dan ikhlas terhadap takdir Allah. Sementara yang tidak iman, akan tercengang dan bahkan marah terhadap takdir Allah I. Hal ini karena keimanan mereka, baik secara umum maupun secara khusus, yaitu keimanan terhadap qadha’ dan qadar masih belum kokoh.

Bagaimana sebaiknya menghadapi musibah?

Pertama, Sabar. Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ

“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali)[5]. (QS. Al-Baqarah [2]: 155-156)

  • Sabar di sini maksudnya menerima takdir Allah dengan ikhlas, tidak marah-marah, dan tidak menyalahkan Allah I.

Mengapa harus sabar?

  1. Karena musibah adalah bagian dari ketentuan Allah. Menerimanya adalah wajib, karena ia termasuk kesempurnaan ridha kepada Allah sebagai Rabb. Allah I berfirman:

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَآ اٰتٰىكُمْ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙ

“Tidak ada bencana (apa pun) yang menimpa di bumi dan tidak (juga yang menimpa) diri kalian, kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah. (Yang demikian itu kami tetapkan) agar kalian tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kalian dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid [57]: 22-23)

  1. Orang yang diberi musibah itu akan diberi kebaikan. Rasulullah r bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْراً يُصِبْ مِنْهُ

“Siapa yang Allah berkehendak baik kepadanya maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Bukhari)

Rasulullah r bersabda:

إِذَا أَرَادَ الله بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ في الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافى بِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Jika Allah menghendaki kebaikan kepada seorang hamba-Nya, maka Allah segerakan hukuman di dunia. Dan jika Allah menghendaki keburukan terhadap seorang hamba, maka Allah tahan (hukuman) terhadapnya dengan dosanya, hingga akan disempurnakan (diberikan secara penuh hukuman) terhadapnya nanti pada hari kiamat.” (HR. Turmudzi (2438); ash-Shahihah, 1220; Shahihul Jami’, 308)

Dan Nabi r bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عُظمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ الله إِذَا أَحَبَّ قَوْماً ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَى، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya balasan beserta dengan besarnya bala’ (bencana), dan sesungguhnya Allah jika Dia mencintai suatu kaum, maka Dia menguji mereka. Barangsiapa ridho (dengan bala’ tersebut) baginya ridho (Allah), dan siapa murka (dengan bala’ tersebut), maka baginya kemurkaan (Allah).” (HR. Turmudzi (2438); ash-Shahihah, 146; Shahihul Jami’, 2110)

3). Diampuni dosa-dosanya. Rasulullah r bersabda:

مَا أَصَابَ الْمُسْلِمَ مِنْ مَرَضٍ ، وَلَا وَصَبٍ، وَلَا حَزَنٍ، حَتَّى اِلْهَمَّ يُهِمَّهُ، إِلَّا يُكَفِّرُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهُ مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim ditimpa oleh suatu penyakit, letih, sedih, hingga keprihatinan yang membebani pikirannya kecuali Allah akan menebus dengannya sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. Ahmad, (10958; 11204) Syuaib al-Arnauth berkata: hadits shahih lighairihi, dan ini adalah sanad yang hasan)

Dan perhatikan firman Allah:

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri dan (Allah) memaafkan banyak (kesalahan kalian).” (QS. Asy-Syura [42]: 30)

Ringkasnya, berdasarkan hadits atau ayat tersebut dan yang lainnya, sabar atas musibah itu akan mendatangkan pahala, diampuni dosa, dan diangkat derajatnya, maka selayaknya kita bersabar atas musibah yang menimpa kita, kecil maupun besar.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

sumber: redaksiku.com

Kedua, Mengupayakan selamat.

Sabar bukan berarti berpangku tangan dan berdiam diri, tetapi berupaya untuk menjaga keselamatan diri dan keluarga semaksimal mungkin, dan berhati-hati dalam bertindak. Selama ada kesempatan untuk menyelamatkan diri, seharusnya kita ambil kesempatan itu baik-baik. Misalnya, ketika pemerintah memberikan peringatan atau perintah untuk mengungsi karena Gunung Merapi mau meletus atau yang lain, maka sebisa mungkin kita segera mengungsi, sambil terus berdoa dan bertawakkal kepada Allah I. Tidak menantang bencana dengan berdiam diri terus di situ.

Ketiga, memperbanyak istighfar dan bertaubat.

Setiap musibah itu karena ulah dan dosa manusia. Allah I berfirman:

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri dan (Allah) memaafkan banyak (kesalahan kalian).” (QS. Asy-Syura [42]: 30)

Dan Allah berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum [30]: 41)

Nah, oleh karena itu setiap kali terjadi musibah menimpa kita (baik individu maupun masyarakat), sudah sepantasnya kita iringi dengan introspeksi (mawas diri) dan memperbanyak istighfar dan bertaubat kepada Allah I. Bukan sebaliknya, malah semakin menjadi-jadi dalam kemaksiatan, karena dianggap sebagai fenomena alam biasa (yang rutin), yang tidak ada kaitannya dengan dosa atau ulah manusia. Padahal Allah dan Rasul-Nya sudah menjelaskan bahwa setiap musibah itu “bima kasabat aidinnas atau aidikum” (sebab ulah dan dosa manusia).[6]

Keempat, menyerahkan nasib kepada Allah I.

  • Jangan putus asa, dan jangan meratap
  • Jangan mengharap kematian.
  • Berharaplah kepada Allah I, keselamatan dan jalan keluar.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Sebagai penutup, marilah kita memohon kepada Allah, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, merahmati dan memberkati kita, dan semoga Allah melindungi kita dari segala macam bentuk bencana, serta memberi keselamatan kepada kita di dunia dan akherat. Amin ya Rabbal ‘alamin. [*]

Mojokerto, 21/12/2018 dibaca ulang 17/12/2025

Sumber Rujukan:

Al-Qur’an dan Terjemahnya, Departemen Agama RI. Juga aplikasi Qur’an Kemenag terjemahan tahin 2019

Agus Hasan Bashori, Sabar Menghadapi Musibah, materi ceramah di Desa Gondang Paten, di bawah Babadan Gunung Merapi Magelang, 14 Mei 2006 (dua hari sebelum meletus).

Al-Hafizh Imaduddin Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’anul Azhim, Juz 3, Bairut: Darul Jiil, tt.

Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Aal asy-Syaikh, Dr., Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 5 dan 6, terj. Abdul Ghaffar, Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’i, 2001.

Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuti, Tafsir Jalalain, Jilid 2, terj. Bahrun Abubakar, Lc., Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013.

Jalaluddin as-Suyuthi, Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie, Jakarta: Gema Insani, 2008.

Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi, Tafsir al-Jalalain, Surabaya: Al-Hidayah, tt.

M, Mujib Ansor, SH., M.Pd.I, Dosa Mengundang Bencana, Majalah Al-Umm edisi 04/VI.

————————————-

Notes: Gambar cover dan insert adalah foto-foto bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera (Aceh, Sumut, dan Sumbar) yang terjadi pada akhir November 2025.

————————————-

Catatan Kaki:

[1] Tafsir Ibnu Katsir, 3/147; edisi Indonesia, 5/449-450

[2] Tafsir Jalalain, 268; edisi Indonesia, 2/128

[3] Tafsir Ibnu Katsir, 3/390; edisi Indonesia, 6/310

[4] Sebab Turunnya Ayat al-Qur’an, 427.

[5] Kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa musibah, baik besar maupun kecil. (Al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI)

[6] Lihat, Dosa Mengundang Bencana (Khutbah, M. Mujib), Majalah Al-Umm edisi 04/VI.

Previous Post

FADHILAH MENOLONG ORANG YANG KESUSAHAN (TERTIMPA MUSIBAH)

Next Post

ICHSANUDDIN: BENCANA SUMATERA ADALAH TAMPARAN BAGI PEMERINTAH

M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.

M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.

Related Posts

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM
Agama

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

January 9, 2026
BERMUHASABAH (INTROSPEKSI DIRI)
Agama

BERMUHASABAH (INTROSPEKSI DIRI)

January 2, 2026
FADHILAH MENOLONG ORANG YANG KESUSAHAN (TERTIMPA MUSIBAH)
Agama

FADHILAH MENOLONG ORANG YANG KESUSAHAN (TERTIMPA MUSIBAH)

December 10, 2025
Next Post
ICHSANUDDIN: BENCANA SUMATERA ADALAH TAMPARAN BAGI PEMERINTAH

ICHSANUDDIN: BENCANA SUMATERA ADALAH TAMPARAN BAGI PEMERINTAH

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
PENGHAPUSAN TUJUH KATA PIAGAM JAKARTA

PENGHAPUSAN TUJUH KATA PIAGAM JAKARTA

July 29, 2024
PIAGAM JAKARTA DAN PANCASILA (Bag. 1)

PIAGAM JAKARTA DAN PANCASILA (Bag. 1)

July 21, 2024
KERUKUNAN (TOLERANSI) ANTAR UMAT BERAGAMA

KERUKUNAN (TOLERANSI) ANTAR UMAT BERAGAMA

December 3, 2023
GURU BESAR UGM: JOKOWI KELUAR DARI JALUR DEMOKRASI

GURU BESAR UGM: JOKOWI KELUAR DARI JALUR DEMOKRASI

February 1, 2024
BELAJAR KEPADA SAYYIDAH KHADIJAH Radhiyallahu ‘Anha

BELAJAR KEPADA SAYYIDAH KHADIJAH Radhiyallahu ‘Anha

4
JILBAB PELAJAR, JILBAB PERJUANGAN

JILBAB PELAJAR, JILBAB PERJUANGAN

4
ORANG KAFIR (BARAT) BENCI ISLAM

ORANG KAFIR (BARAT) BENCI ISLAM

4
ORANG KAFIR SALING MENOLONG

ORANG KAFIR SALING MENOLONG

4
ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

April 30, 2026
BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

March 10, 2026
APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

February 9, 2026
ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

January 9, 2026

Recent News

ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

April 30, 2026
BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

March 10, 2026
APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

February 9, 2026
ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

January 9, 2026
SWAHARAH

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Check our landing page for details.

© 2023 Swaharah Indonesia Muhammad Mujib Ansor, S.H, M.Pdi by Ahsan.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Profil
    • PROFIL PENDIRI
    • PROFIL SWAHARAH.ID
  • Agama
    • Kajian
    • Khutbah
    • Makalah
  • Pendidikan
  • Kutipan
  • Nasional
    • Berita
    • Internasional
    • Opini
  • Sejarah
  • Keluarga
  • Tamu

© 2023 Swaharah Indonesia Muhammad Mujib Ansor, S.H, M.Pdi by Ahsan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In