Wednesday, May 13, 2026
  • Login
SWAHARAH
  • Beranda
  • Profil
    • PROFIL PENDIRI
    • PROFIL SWAHARAH.ID
  • Agama
    • Kajian
    • Khutbah
    • Makalah
  • Pendidikan
  • Kutipan
  • Nasional
    • Berita
    • Internasional
    • Opini
  • Sejarah
  • Keluarga
  • Tamu
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Profil
    • PROFIL PENDIRI
    • PROFIL SWAHARAH.ID
  • Agama
    • Kajian
    • Khutbah
    • Makalah
  • Pendidikan
  • Kutipan
  • Nasional
    • Berita
    • Internasional
    • Opini
  • Sejarah
  • Keluarga
  • Tamu
No Result
View All Result
SWAHARAH
No Result
View All Result
Home Agama

AGAR HIDUP LAPANG, PENUH BERKAH, DAN TIDAK SEMPIT

Khutbah Idul Fitri 1445 H/ 2024

M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I. by M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.
April 16, 2024
in Agama, Khutbah
A A
0
AGAR HIDUP LAPANG, PENUH BERKAH, DAN TIDAK SEMPIT

sumber: sukabumiupdate.com

0
SHARES
18
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

AGAR HIDUP LAPANG, PENUH BERKAH, DAN TIDAK SEMPIT[1]

Oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.

 

Allahu Akbar …. 3x walillahil hamd

Ma’asyirol Muslimin, jamaah shalat Idul Fitri, di komplek Masjid Jami’ Al-Umm rahimakumullah

Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah swt,  pada pagi hari yang penuh berkah ini kita dikaruniai kesempatan untuk menyambut hari raya Idul Fitri 1445 H ini dg penuh suka cita, setelah berhasil melaksanakan berbagai amal ibadah dan ketaatan di bulan suci Ramadhan selama sebulan penuh.

Selanjutnya, dalam kondisi apa pun, setiap kali ia datang, kita sambut Idul Fitri ini dengan rasa syukur dan gembira. Kita sambut dengan menyerukan satu jalinan kalimat-kalimat suci dan mengumandangkan rajutan kalimat tauhid.

  • Dg kalimat takbir (ألله أكبر), kita mengagungkan Allah Yang Maha Besar.
  • Dg kalimat tauhid (لا إله إلا الله), kita mengesakan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
  • Dan dg kalimat tahmid (الحمد لله), kita mensyukuri berbagai nikmat Allah Yang Maha Pengasih dan Pemurah, yang tidak terhitung jumlahnya.

Allahu Akbar… 3 x, walillahil Hamd

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kita semua sepakat bahwa yang dicari manusia itu -apa pun suku, bangsa, ras, dan agamanya- adalah sama, yaitu kehidupan yang tenteram, damai, sejahtera, bahagia, dan penuh keberkahan.

Nah, dalam konsep Islam, semua itu akan kita dapatkan manakala kita bisa mewujudkan iman, takwa, dan ketaatan kepada Allah swt. Allah sw berfirman:

فَاتَّقُوا اللّٰهَ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ࣖ

“Maka, bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal sehat agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah (5): 100)

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ

“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia sangka. (QS. Ath-Thalaq (65): 2-3)

Kemudian di ayat ke-4 Allah berfirman:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا

Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.

Allahu Akbar… 3 x, walillahil Hamd

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Di ayat yang lain Allah berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Siapa yang mengerjakan amal shaleh (Kebajikan), baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl (16): 97)

Kehidupan yang baik itu, kata Ibnu Katsir: mencakup seluruh bentuk ketenangan, bagaimana pun wujudnya. (hal. 103)

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Al-A’raf (7): 96)

Dari ayat-ayat ini dan banyak ayat lain yang tidak disebutkan di sini, para ulama mengambil kesimpulan bahwa iman, takwa, amal shalih, dan berbagai bentuk ketaatan kepada Allah, akan mendatangkan kebaikan, keselamatan, kesejahteraan, rezki, dan kebahagiaan dunia-akhirat. Ini yang pertama.

Sebaliknya, berbagai kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah akan mendatangkan bencana, fitnah, kesusahan, dan kesengsaraan, baik dunia maupun akhirat. Dalilnya, di surat Al-A’raf: 96 tadi, di bagian akhir sarat Allah berfirman:

وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami siksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.

Di ayat lain Allah berfirman:

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

“Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan (Allah) memaafkan banyak (kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura (42): 30)

Ini yang kedua, agar hidup ini lapang, penuh berkah, dan tidak sempit maka jauhi/ hindari maksiat. Karena maksiat menghilangkan nikmat dan mendatangkan madharat, bencana dan kesusahan lainnya.

Allahu Akbar… 3 x, walillahil Hamd

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ketiga, agar hidup tidak sempit, ikuti petunjuk al-Qur’an, laksanakan perintahnya, jangan meninggalkan petunjuknya. Jika ini yang dilakukan maka Allah akan memberikan hidup yang sempit.

Bisa jadi semangat belajar Al-Quran tinggi, semangat membaca Al-Qur’an meningkat, tiap hari tidak pernah absen, tetapi jika masih sebatas membaca saja, bukan mengambil petunjuknya atau melaksanakan petunjuknya, sehingga terjadilah banyak penyimpangan dan kemungkaran. Akibatnya, tidak mendapatkan keberkahan dalam hidup, serta tidak mendapatkan pertolongan Allah, bahkan hidupnya akan sempit.

Allah swt berfirman:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى

“Dan siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha (20): 124)

Berpaling dari peringatan-Ku, kata Imam Suyuthi (dalam Tafsir Jalalain) artinya berpaling dari Al-Quran. Kata Ibnu Katsir: menentang perintah-KU, dan apa yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku (Qur’an), juga berpaling dari Rasul-Nya.

Menurut Ibnul Qoyyim j bahwa perilaku meninggalkan (berpaling) dari al-Qur’an itu bermacam-macam bentuknya, antara lain:

  1. Tidak mau (enggan) mendengarkannya
  2. tidak mengamalkan kandungannya
  3. Tidak bertahkim (berhukum) atau menjadikannya sebagai landasan hukum dalam memutuskan setiap perkara
  4. Tidak bertafakkur, memahami, dan mengetahui apa yang dikehendaki Allah
  5. Tidak menjadikannya sebagai obat penyembuh bagi berbagai macam penyakit hati.

Sedangkan kehidupan yang sempit, kata Ibnu Katisr, maksudnya sempit di dunia, sehingga tidak ada ketenangan dan kelapangan di dalam dadanya. Kata Ibnu Abbas ra: yakni hidup sengsara. (5/424)

Di antara contoh berpaling dari Qur’an ialah: pertama, tidak melaksanakan rukun Islam yaitu shalat, puasa, zakat, dan haji (jika sudah mampu).

Kedua, soal riba. Menurut al-Qur`an riba itu haram dan dimurkai oleh Allah serta dihilangkan keberkahannya. Allah berfirman:

… وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ …

“Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (QS. Al-Baqarah (2): 275)

Faktanya? Kebanyakan umat Islam masih akrab dengan riba bahkan menikmati riba, sampai ke pelosok desa praktik riba ini sangat marak, asing dengan ekonomi syari’ah (ekonomi halal) bahkan mencibirnya, apalagi mau mendukungnya.

Ketiga, menurut al-Qur`an syirik itu adalah dosa besar, kezhaliman terbesar yang paling dimurkai oleh Allah (ان الشرك لظلم عظيم), dan kita diwajibkan untuk menjauhinya, dan mencegahnya. Apa yang terjadi? Sebagian umat Islam justru banyak abai tidak peduli dengan keberadaan dan penyebaran syirik ini. Bahkan, jika ada yang berdakwah memberantas kesyirikan, maka akan dilawan dan dibenturkan dengan budaya, dianggap melawan tradisi, melawan kebiasaan nenek moyang, dianggap anti kearifan lokal, dan anti budaya dst. atasnama pariwisata, wisata budaya.

Keempat, menurut al-Qur’an umat Islam itu harus bersatu dalam kebenaran, dengan memegang tali Allah (agama Allah) dan tidak cerai berai.

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ

“Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, …” (QS. Ali Imran (3): 103)

Bagaimana faktanya? Banyak umat Islam tidak mengindahkannya, tidak bersatu, tidak rukun, saling menjegal dan menjatuhkan apalagi dalam dunia politik. bahkan rela dipecah belah dan diadu domba. Beda organisasi dan beda politik tidak mau bertemu, bahkan saling menjatuhkan sesama umat Islam. Padahal mestinya bisa bekerjasama dan berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat).

Kelima, menurut al-Quran umat Islam wajib memilih pemimpin yang muslim, shalih, adil, dan Amanah. Faktanya, tidak demikian. Jika disebutkan kriteria pemimpin yang baik menurut Islam, mereka enggan menerimanya, bahkan tidak peduli. Apalagi jika disebut calon pemimpin itu yang iman takwanya jelas, dan bisa memimpin shalat misalnya. Mereka tak mempedulikan itu. Pokoknya kalau disebut-sebut Islamnya, label Islam, maka seolah alergi -meskipun itu umat Islam sendiri. Istilahnya: “jualan Islam di tengah-tengah umat Islam itu tidak laku sekarang”, akan dicap politik identitas, atau radikal, dan ekstrem.

Bahkan memilih pemimpin itu dianggap “permainan” saja, bukan sesuatu yang serius, yang tidak perlu dikaitkan dengan agama? Padahal pemimpin yang kita pilih itu menyangkut nasib rakyat, umat, bangsa, dan negara. Bahkan yang paling parah seolah mengatakan: “kami tidak peduli semua itu, yang penting dapat uang, sembako, atau bansos, atau apa sajalah namanya. Begitu seterusnya. Na’uzhu billah tsumma na’uzhu billah.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Begitulah, faktanya, banyak umat Islam yang suka berpaling dari al-Quran. Padahal setiap hari ia baca, apalagi yang tidak pernah baca. Sungguh memprihatinkan.

Terkait hal ini, Rasulullah ﷺ pernah menyatakan keprihatinannya:

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا

Rasul (Muhammad) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini (sebagai) sesuatu yang diabaikan.” (QS. Al-Furqan (25): 30)

Saat itu yang dikeluhkan oleh Rasul adalah sikap orang kafir yang tidak mau menerima petunjuk Quran. Nah, ketika umat Islam juga enggan dengan Quran, tentu sama, Nabi akan mengatakan seperti ayat di atas:

 اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا

sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini (sebagai) sesuatu yang diabaikan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kelima, kebahagiaan akan lebih sempurna lagi jika dikaruniai seorang pemimpin yang amanah, yang adil, dan bijaksana. Keadaan yang sebaliknya, kerusakan akan menimpa umat jika mendapati tersia-siakannya amanah dengan terpilihnya orang-orang yang tidak Amanah atau kurang memiliki keahlian (kompetensi) serta integritas menjadi pemimpin.

Hal ini bisa dipahami, karena pemimpin dalam Islam itu sangatlah penting. Pemimpin bisa membawa kemaslahatan (kebaikan) sekaligus membawa kemadharatan (keburukan) bagi yang dipimpinnya. Jika pemimpin adil, amanah, ditambah berkompeten tentu rakyat akan tenteram, damai, dan Sejahtera.

Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh seorang Baduwi: “Kapankan kiamat (kerusakan) itu?” Maka Rasulullah tetap saja berbicara. Sebagian orang mengatakan: Beliau mendengar apa yang dikatakan orang itu dan tidak suka apa yang dikatakannya. Sebagian mengatakan: beliau tidak mendengarnya. Hingga ketika beliau selesai dari pembicaraannya beliau bertanya:

“Mana si penanya tentang kiamat tadi?” Orang tadi menjawab: “Saya, wahai Rasullullah.” Maka Rasululah ﷺ bersabda:

«فَإِذَا ضُيِّعَتِ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ»

“Jika amanah telah disia-siakan maka tunggulah saat kehancurannya.” Orang itu lalu bertanya: “Bagaimana menyia-nyiakan amanah itu?” Beliau bersabda:

«إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ».

“Jika urusan itu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Hadits ini sifatnya umum, apa pun itu ketika dipegang oleh orang yang tidak Amanah pasti rusak, apalagi pemimpin yang mengurusi orang banyak, mengurusi rakyat, mengurusi bangsa dan negara, tentu sangat membutuhkan pemimpin yang Amanah.

Pemimpin yang tidak amanah apalagi tidak memiliki kapabilitas dan kredibilitas (tidak berkompeten dan tidak punya integritas), maka sulit diharapkan untuk memberikan kesejahteraan kepada rakyat, sulit memberikan keadilan dan kemakmuran untuk semua rakyat. Yang kita khawatirkan justru mereka akan memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan golongannya, bukan untuk kepentingan rakyat, bangsa, dan negara.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Dalam konteks Indonesia, amanah itu telah disebutkan dalam Konstitusi kita baik dalam pembukaan maupun batang tubuh (pasal-pasal). Dalam alinea IV Pembukaan UUD 1945 disebutkan ada 4 amanah, yaitu: pertama melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah Indonesia. Artinya menciptakan rasa aman, melindungi seluruh rakyat Indonesia di manapun termasuk di luar negeri. Tidak boleh ada yang ketakutan, dipersekusi dst. Mereka harus dilindungi secara hukum. Semua warga negara sama kedudukannya di depan hukum dan pemerintahan.

Kedua, memajukan kesejahteraan umum. Maksudnya membuat rakyat sejahtera, makmur, tidak ada yang kekurangan atau kelaparan..

Ketiga mencerdaskan kehidupan bangsa. Artinya, rakyat harus dicerdaskan. Untuk itu rakyat diberikan pendidikan yang baik, yang murah, dan mudah.

Keempat, ikut melaksanakan ketertiban dunia. Artinya, ikut aktif dalam kancah perdamaian dunia, seperti membela rakyat Palestina yang terjajah, sebagaimana sudah dilakukan oleh Presiden RI pertama dulu, juga aktif di kawasan Asean bahkan di Asia Afrika, sebagaimana yang sudah dilakukan oleh Presiden Soekarno tahun 1955 dengan mengadakan Konferensi Asia-Afrika yang melahirkan Dasasila Bandung yang terkenal itu.

Kemudian, ma’asyiral muslimin rhm.

Dalam pasal 33 (2) UUD 1945 disebutkan: Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.

Pasal 33 (3): Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Itulah amanah yang dituangkan dalam Konstitusi UUD 1945, yang harus ditunakan oleh para pemimpin negeri ini mulai dari legislatif (DPR-MPR), eksekutif (Presidan dan para menterinya), serta yudikatif (MA, MK, KY)

Faktanya? Indonesia ini sudah Merdeka lebih dari 78 tahun, tetapi kekayaan alamnya yang melimpah ruah itu belum bisa memberikan kemakmuran dan kesejahteraan kepada rakyat secara adil dan merata, justru hutang negara sangat menumpuk, harga barang-barang pokok makin mahal, angka kemiskinan masih tinggi, pengangguran juga masih tinggi, dan yang berpendidikan rendah juga masih banyak.

Mengapa demikian? Karena amanah Konstitusi masih belum dijalankan dengan baik dan benar. Pertama pengelolaan negara boleh jadi masih belum profesional dan transparan, kedua, banyaknya korupsi, ketiga masih dikuasai oleh para pemilik modal (oligarki), sehingga kekayaan Sumber Daya Alam yang melimpah ruah ini hanya dikuasai oleh segelintir orang yang disebut oligarki itu. Mengapa bisa demikian?

Karena pendidikan rakyat masih rendah, sehingga pengetahuan politiknya juga masih lemah, tahap berikutnya kurang jeli dalam memilih pemimpin atau wakil rakyat. Mereka masih bisa dibeli atau dimanfaatkan alias mudah dibohongi, dan lemah dalam pengawasan, karena sudah “nerimo ing pandum”. Nerimo ing pandum ini bagus jika dalam kaitannya dengan menerima takdir Allah, tetapi jika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang menganut sistem demokrasi, maka rakyat harus kuat, rakyat harus cerdas, agar bisa mengawasi pemerintah, karena rakyatlah yang berdaulat, rakyatlah pemilik kedaulatan, bukan seperti di negara Kerajaan. Karena kelemahan rakyat ini, menyebabkan pemerintah (pemimpin) menjadi tidak Amanah. Mengapa? Karena merasa bisa menguasai rakyat, rakyat dianggap lemah, sehingga pemimpin merasa jumawa. Maka, pemimpin tidak Amanah itu malapetaka bagi rakyat.

Karena itulah Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Untuk memperbaiki keadaan umat Islam yang mayoritas ini, tiada lain harus kembali kepada Allah (kembali kepada petunjuk al-Qur’an) dengan penuh ridha dan keyakinan, kemudian memperhatikan soal kepemimpinan agar amanah bisa ditunaikan dengan lebih baik lagi. Pada saat yang sama, hukum dan keadilan harus ditegakkan, dan hak-hak rakyat harus diberikan.

Allahu Akabr… 3x, walillahilhamd.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Demikianlah yang dapat kami sampaikan bahwa kunci agar hidup ini lapang, penuh berkah, dan tidak sempit ada 4: Pertama, wujudkan iman, takwa, dan ketaatan. Kedua, jauhi maksiat. Ketiga, ikuti petunjuk al-Qur’an, jangan berpaling darinya. Dan keempat, dikaruniai-Nya seorang pemimpin yang amanah.

Kebenaran datangnya dari Allah swt, sementara kesalahan datangnya dari diri pribadi yang dhaif (lemah).

Mari berdoa untuk kita dan seluruh umat Islam. Semoga Allah I berkenan menerima puasa kita, shalat kita, qiyamul lail kita, qiroatul Qur’an kita, sedekah kita, dzikir kita, istighfar kita, dan semua ibadah yang telah kita laksanakan di bulan suci Ramadhan. Taqabbalallhu minna waminkum, taqabbal ya karim.

Dan semoga Allah menuntun bangsa yang besar ini menuju hidayah-Nya untuk perbaikan dan kemajuan, keadilan, dan kemakmuran untuk semuanya. Negeri yang Baldatun thayyibatun warabbun ghafur. Amin ya Rabbal ‘alamin. [*]

Mojokerto, 09/04/2024 (29 Ramadhan 1445 H)

 

Catatan Kaki:

[1] Disampaikan dalam khutbah Idul Fitri di Komplek Pondok Pesantren Al-Umm Malang, 1 Syawal 1445 H/ 10 April 2024.

Previous Post

INILAH PELUANG MK MELURUSKAN DEMOKRASI

Next Post

PELAJARAN DARI RAMADHAN

M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.

M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.

Related Posts

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM
Agama

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

January 9, 2026
BERMUHASABAH (INTROSPEKSI DIRI)
Agama

BERMUHASABAH (INTROSPEKSI DIRI)

January 2, 2026
SABAR MENERIMA MUSIBAH
Agama

SABAR MENERIMA MUSIBAH

December 17, 2025
Next Post
PELAJARAN DARI RAMADHAN

PELAJARAN DARI RAMADHAN

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
PENGHAPUSAN TUJUH KATA PIAGAM JAKARTA

PENGHAPUSAN TUJUH KATA PIAGAM JAKARTA

July 29, 2024
PIAGAM JAKARTA DAN PANCASILA (Bag. 1)

PIAGAM JAKARTA DAN PANCASILA (Bag. 1)

July 21, 2024
KERUKUNAN (TOLERANSI) ANTAR UMAT BERAGAMA

KERUKUNAN (TOLERANSI) ANTAR UMAT BERAGAMA

December 3, 2023
GURU BESAR UGM: JOKOWI KELUAR DARI JALUR DEMOKRASI

GURU BESAR UGM: JOKOWI KELUAR DARI JALUR DEMOKRASI

February 1, 2024
BELAJAR KEPADA SAYYIDAH KHADIJAH Radhiyallahu ‘Anha

BELAJAR KEPADA SAYYIDAH KHADIJAH Radhiyallahu ‘Anha

4
JILBAB PELAJAR, JILBAB PERJUANGAN

JILBAB PELAJAR, JILBAB PERJUANGAN

4
ORANG KAFIR (BARAT) BENCI ISLAM

ORANG KAFIR (BARAT) BENCI ISLAM

4
ORANG KAFIR SALING MENOLONG

ORANG KAFIR SALING MENOLONG

4
ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

April 30, 2026
BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

March 10, 2026
APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

February 9, 2026
ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

January 9, 2026

Recent News

ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

April 30, 2026
BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

March 10, 2026
APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

February 9, 2026
ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

January 9, 2026
SWAHARAH

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Check our landing page for details.

© 2023 Swaharah Indonesia Muhammad Mujib Ansor, S.H, M.Pdi by Ahsan.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Profil
    • PROFIL PENDIRI
    • PROFIL SWAHARAH.ID
  • Agama
    • Kajian
    • Khutbah
    • Makalah
  • Pendidikan
  • Kutipan
  • Nasional
    • Berita
    • Internasional
    • Opini
  • Sejarah
  • Keluarga
  • Tamu

© 2023 Swaharah Indonesia Muhammad Mujib Ansor, S.H, M.Pdi by Ahsan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In