Tuesday, May 19, 2026
  • Login
SWAHARAH
  • Beranda
  • Profil
    • PROFIL PENDIRI
    • PROFIL SWAHARAH.ID
  • Agama
    • Kajian
    • Khutbah
    • Makalah
  • Pendidikan
  • Kutipan
  • Nasional
    • Berita
    • Internasional
    • Opini
  • Sejarah
  • Keluarga
  • Tamu
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Profil
    • PROFIL PENDIRI
    • PROFIL SWAHARAH.ID
  • Agama
    • Kajian
    • Khutbah
    • Makalah
  • Pendidikan
  • Kutipan
  • Nasional
    • Berita
    • Internasional
    • Opini
  • Sejarah
  • Keluarga
  • Tamu
No Result
View All Result
SWAHARAH
No Result
View All Result
Home Agama

BERMUHASABAH (INTROSPEKSI DIRI)

M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I. by M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.
January 2, 2026
in Agama, Khutbah
A A
0
BERMUHASABAH (INTROSPEKSI DIRI)

sumber: Al-Umm TV

0
SHARES
30
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

BERMUHASABAH (INTROSPEKSI DIRI)

Oleh: M. Mujib Ansor, S.H., M.Pd.I. (Kadiv. Pendidikan YBM/ Pondok Pesantren Al-Umm Malang)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

sumber: Al-Umm TV

Hari ini, Jum’at, 2 Januari 2026 bertepatan dengan 13 Rajab 1447 H, adalah hari-hari di awal tahun 2026. Meskipun tahun ini adalah tahun Masehi, tahunnya kaum Nasrani, bukan tahunnya umat Islam, tidak mengapa kita gunakan untuk bermuhasabah/ introspeksi, mengevaluasi diri. Sebenarnya untuk bermuhasabah tidak harus menunggu pergantian tahun. Setiap saat, setiap pergantian waktu, hari, pekan, dan bulan, kita perlu bermuhasabah: alhamdulillah, kita diberi sehat, umur panjang… dst. Kemudian amal apa yang sudah kita lakukan? Begitu seharusnya.

Nah, dengan berakhirnya tahun 2025 dan masuknya tahun 2026, itu artinya usia kita bertambah sekaligus jatah umur kita berkurang. Maka kita layak untuk merenung, amal apa yang sudah kita lakukan selama setahun kemarin? Apakah lebih banyak amal baiknya ataukah amal buruknya?

Allah swt berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ 

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr (59): 18).

Hadirin jamaah rahimakumullah,

Melalui ayat ini Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk bertakwa kepada Allah, takut kepada Allah, serta berharap dan cemas dalam mengerjakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi maksiat kepada Allah.[1]

Berharap agar semua amal ibadah kita diterima oleh Allah swt, dan cemas karena khawatir amal baik kita tidak diterima oleh Allah, serta tidak mendapat ampunan dari Allah.

Di ayat ini pula, Allah menyebutkan kata “takwa” sampai dua kali. Ini menunjukkan betapa pentingnya takwa untuk persiapan hari esok. Ada penegasan: ayo takwa, takwa, takwa… tidak sekedar kerja, kerja, kerja!

Hadirin jamaah rahimakumullah,

sumber: Al-Umm TV

Syaikh as-Sa’di rhm mengatakan: Allah memerintahkan untuk menunaikan konsekuensi iman yaitu dengan bertakwa kepada Allah, baik di kala sepi maupun ramai dan di segala hal. Allah memerintahkan untuk menjaga apa saja yang diperintahkan, baik yang berbentuk perintah, syariat, maupun batasan-batasannya, serta memikirkan apa akibat baik dan buruk yang akan mereka dapatkan.[2]

Kemudian, Allah menyuruh orang-orang beriman untuk introspeksi diri sebelum mereka dihitung (dihisab) kelak, merenung kembali apa yang telah mereka investasikan untuk hari perjumpaan dengan Sang Khalik nanti.

Imam Ibnu Katsir rhm mengatakan, “Hasibu qobla an tuhasabu”. Hisablah diri kalian sebelum dihisab oleh Allah. Dan lihatlah apa yang kalian tabung untuk diri kalian berupa amal shalih untuk hari kemudian ketika bertemu dengan Tuhan kalian.”[3]

Di ayat berikutnya Allah berfirman:

وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ نَسُواْ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمۡ أَنفُسَهُمۡۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ 

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr (59): 19)

Imam Jalaluddin al-Mahalli rhm dalam Tafsir Jalalain mengatakan: “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah” maksudnya, tidak mau taak kepada Allah. “lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri” (untuk melakukan ketaatan dan perbuatan baik).[4]

Imam Ibnu Katsir rhm menuturkan: Janganlah kalian lupa berdzikir kepada Allah, sehingga Allah pun akan menjadikan kalian lupa berbuat untuk kepentingan kalian sendiri yang bermanfaat bagi kalian di akhirat kelak. Karena sesungguhnya balasan itu sesuai dengan amal perbuatan.[5]

Jika mereka lalai untuk mengingat Allah, tidak menunaikan hak-hak Allah, dan hanya menuruti hawa nafsu, maka mereka benar-benar terhalang dari rahmat Allah swt, kata as-Sa’di.[6]

Jadi, ketika kita lupa ingat kepada Allah, maka kita pun dibuat lupa untuk beramal untuk kepentingan akherat kita. Dengan kata lain, ketika kita lupa/ malas beramal untuk akherat, itu artinya kita sedang dibuat lupa untuk akherat kita akibat kelalaian kita kepada Allah. Maka, kita perlu hati-hati dan waspada. Ini peringatan dari Allah.

sumber: Al-Umm TV

Sementara Imam Ibnul Qayyim rhm menuturkan lebih detil lagi: Jika engkau menelaah lebih jauh ayat ini, engkau akan mendapati makna indah, yaitu barangsiapa melalaikan Tuhannya, maka Tuhannya akan menjadikan ia melalaikan dirinya sendiri, sehingga tidak lagi mengenal hakikat dan kemaslahatan dirinya, ia juga tidak mengenal hakikat hidup dan mati, akhirnya ia menjadi orang yang rusak dan hina bagaikan binatang ternak. Bisa jadi hewan ternak lebih paham akan kepentingannya, mengetahui hakikat keberadaannya di alam ini, sementara ia (orang yang lupa kepada Allah itu) telah keluar dari fitrahnya sebagai manusia, karena lupa terhadap Tuhannya, maka Allah pun membuatnya lalai terhadap diri dan eksistensinya. Ia lupa apa yang menjadi kebutuhannya. Kebaikan tidak lagi menjadi tujuannya. Ia senantiasa terperdaya dengan orang-orang yang telah dilalaikan hatinya oleh Allah.[7]

Rasulullah saw bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْموْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ اَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ

“Orang cerdas adalah orang yang mensucikan dirinya dan berbuat untuk bekal setelah mati, sedangkan orang lemah (bodoh) adalah orang yang selalu menuruti nafsunya, sementara ia berharap akan rahmat Allah.” (HR. Ahmad, dihasankan oleh Hamzah az-Zain, dan dishahihkan oleh al-Hakim)

Mensucikan diri yaitu selalu introspeksi dan muhasabah.[8]

Hadirin jamaah rahimakumullah,

Termasuk kita harus introspeksi adalah banyaknya musibah dan bencana yang menimpa kita, bangsa Indonesia. Ini perlu kita renungkan. Karena setiap musibah yang menimpa kita, baik individu maupun kelompok (masyarakat dan bangsa) itu tidak lepas dari tiga hal: pertama, ujian atau cobaan; kedua, peringatan dan juga kafarat (penebus dosa); dan ketiga, adzab/siksa.

Allah sendiri sudah mengingatkan bahwa beragam musibah (bencana) yang datang itu sering karena perbuatan (dosa) manusia sendiri:

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

Musibah (bencana) apa saja yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan (dosa) kalian sendiri. Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian) (QS. asy-Syura [42]: 30).

Di ayat lain Allah berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum (30): 41)

Mayoritas ulama ahli tafsir mengatakan bahwa “bima kasabat aidikum/ aidinnas” itu maksudnya karena kesalahan, dosa, dan maksiat. Termasuk kesalahan atau dosa langsung ialah perbuatan merusak alam, menebang hutan, dan mengalih fungsikan hutan (deforestasi)[9], sehingga menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor, sebagaimana yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir November 2025 kemarin. Kerusakan alam itu semakin sistematis, tersturktur, dan massif manakala dilakukan oleh para pemilik modal, korporasi, dan didukung oleh penguasa, yang kesemuanya itu terjadi karena keserakahan segelintir manusia, yang akibatnya ditanggung  oleh rakyat kebanyakan, yang tidak ikut menikmati hasil dari pengrusakan alam tersebut.

Hadirin jamaah rahimakumullah,

Karena akibat kesalahan/ dosa/ maksiat, maka kita perlu memperbanyak istighfar, mohon ampun, dan bertobat kepada Allah swt, serta memperbaiki perilaku yang salah tersebut, terutama para perusak alam tersebut. Karena di antara tujuan diberikannya musibah oleh Allah adalah agar manusia kembali ke jalan yang benar:

لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“… supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum (30): 41)

Maka, setiap kali kita ditimpa musibah, kemudian tidak ada perbaikan hidup, tidak ada peningkatan ketaatan kepada Allah, tetap berkubang dalam maksiat dan dosa, tetap membuat kerusakan di muka bumi, maka kita termasuk orang yang bebal, tidak pandai mengambil ibrah atas teguran dan peringatan dari Allah swt.

Hadirin jamaah rahimakumullah,

Sebagai penutup, sekali lagi, tahun masehi ini bukan tahunnya orang Islam. Maka umat Islam, khususnya kaum muda-mudinya, mestinya tidak perlu ikut merayakannya dengan keluar malam beramai-ramai, setiap pergantian tahun masehi. Di sana ada beberapa simbol agama lain: terompet (Yahudi), api (Majusi), dan lonceng (Nasrani). Masak kita bangga dengan simbol-simbol agama mereka dan ikut berpartisipasi dalam syiar-syiar mereka? Wal-‘iyadzu billah.

Saat itu mestinya kita perbanyak istighfar, mohon ampun kepada Allah, karena di malam pergantian tahun baru, kata Habib Al-Musawa adalah puncak segala kemaksiatan kumpul di berbagai tempat.

Semoga Allah swt mengampuni kita, menyelamatkan kita, meneguhkan iman kita, dan memberikan keistiqamahan sampai husnul khatimah. Amin ya Rabbal ‘alamin. [*]

Mojokerto, 30/12/2022 diupdate 02/01/2026

 

Sumber Rujukan

Syaikh Muhammad Abdul Athi Buhairi, Tafsir Ayat-Ayat Ya Ayyuhal-Ladzina Amanu, terj. H. Abdurrahman Kasdi, Lc., M.Si. dkk, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2016, cet. ketiga.

Al-Hafizh Imaduddin Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’anul Azhim, Juz IV, Bairut: Darul Jiil, tt.

Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Aal asy-Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 8, terj. Abdul Ghaffar, Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’i, 2001.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Taisirul Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, Riyadh: Darus Salam Lin-nasyr wat-Tauzi’, 1422 H/2002.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Tafsir Al-Qur’an, jilid 7, terj. Muhammad Iqbal, Lc. dkk., Jakarta: Pustaka Sahifa, 2012.

Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi, Tafsir al-Jalalain, Indonesia: Maktabatu Daru Ihya’i al-Kutub al-Arabiyah Indonesia, tt.

Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuti, Tafsir Jalalain, Jilid 2, terj. Bahrun Abubakar, Lc., Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013.

 

Catatan Kaki:

[1] Tafsir Ayat Ya Ayyuhalladzina Amanu, hal. 636-837

[2] Tafsir As-Sa’di, 7/229.

[3] Tafsir Ibnu Katsir, 8/123.

[4] Tafsir Jalalain, 2/1061.

[5] Tafsir Ibnu Katsir, 8/123.

[6] Tafsir As-Sa’di, 7/230.

[7] Tafsir Ayat Ya Ayyuhalladzina Amanu, hal. 838.

[8] Ibid., hal. 841.

[9] Deforestasi Adalah penggundulan hutan atau penghilangan hutan secara permanen untuk diubah menjadi lahan non-hutan, seperti pertanian, Perkebunan, pertambangan, atau pemukiman yang menyebabkan hilangnya tutupan hutan dan fungsi ekologisnya, sehingga menimbulkan dampak serius pada lingkunan seperti perubahan iklim, bencana (banjir dan tanah longsor), dan hilangnya keanekaragaman hayati. (Ringkasan AI)

Previous Post

ICHSANUDDIN: BENCANA SUMATERA ADALAH TAMPARAN BAGI PEMERINTAH

Next Post

MAHFUD: KORUPSI BARU TERKENDALI, KORUPSI LAMA TERKENDALA

M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.

M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.

Related Posts

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM
Agama

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

January 9, 2026
SABAR MENERIMA MUSIBAH
Agama

SABAR MENERIMA MUSIBAH

December 17, 2025
FADHILAH MENOLONG ORANG YANG KESUSAHAN (TERTIMPA MUSIBAH)
Agama

FADHILAH MENOLONG ORANG YANG KESUSAHAN (TERTIMPA MUSIBAH)

December 10, 2025
Next Post
MAHFUD: KORUPSI BARU TERKENDALI, KORUPSI LAMA TERKENDALA

MAHFUD: KORUPSI BARU TERKENDALI, KORUPSI LAMA TERKENDALA

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
PENGHAPUSAN TUJUH KATA PIAGAM JAKARTA

PENGHAPUSAN TUJUH KATA PIAGAM JAKARTA

July 29, 2024
PIAGAM JAKARTA DAN PANCASILA (Bag. 1)

PIAGAM JAKARTA DAN PANCASILA (Bag. 1)

July 21, 2024
KERUKUNAN (TOLERANSI) ANTAR UMAT BERAGAMA

KERUKUNAN (TOLERANSI) ANTAR UMAT BERAGAMA

December 3, 2023
GURU BESAR UGM: JOKOWI KELUAR DARI JALUR DEMOKRASI

GURU BESAR UGM: JOKOWI KELUAR DARI JALUR DEMOKRASI

February 1, 2024
BELAJAR KEPADA SAYYIDAH KHADIJAH Radhiyallahu ‘Anha

BELAJAR KEPADA SAYYIDAH KHADIJAH Radhiyallahu ‘Anha

4
JILBAB PELAJAR, JILBAB PERJUANGAN

JILBAB PELAJAR, JILBAB PERJUANGAN

4
ORANG KAFIR (BARAT) BENCI ISLAM

ORANG KAFIR (BARAT) BENCI ISLAM

4
ORANG KAFIR SALING MENOLONG

ORANG KAFIR SALING MENOLONG

4
ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

April 30, 2026
BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

March 10, 2026
APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

February 9, 2026
ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

January 9, 2026

Recent News

ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

April 30, 2026
BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

March 10, 2026
APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

February 9, 2026
ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

January 9, 2026
SWAHARAH

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Check our landing page for details.

© 2023 Swaharah Indonesia Muhammad Mujib Ansor, S.H, M.Pdi by Ahsan.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Profil
    • PROFIL PENDIRI
    • PROFIL SWAHARAH.ID
  • Agama
    • Kajian
    • Khutbah
    • Makalah
  • Pendidikan
  • Kutipan
  • Nasional
    • Berita
    • Internasional
    • Opini
  • Sejarah
  • Keluarga
  • Tamu

© 2023 Swaharah Indonesia Muhammad Mujib Ansor, S.H, M.Pdi by Ahsan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In