KEADILAN KHALIFAH UMAR BIN ABDUL AZIZ MELAHIRKAN KEMAKMURAN RAKYAT
Oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I. (Kepala MA Al-Umm Malang)
Pendahuluan
Pada rubrik khutbah kami telah memaparkan tentang urgensinya imam (pemimpin). Bahwa imam (pemimpin) itu ternyata sangat penting dan sangat vital bagi umat, bangsa, dan negara dalam perspektif fiqhus siyasah (fikih politik), karena pemimpin negara itu mengurusi urusan rakyat dunia dan akherat. Maka dalam kesempatan ini kami ingin menampilkan satu sosok pemimpin besar dalam sejarah peradaban dunia, yang bisa dijadikan teladan sekaligus bukti bahwa pemimpin yang adil dan amanah itu bisa membawa kepada kemakmuran. Tokoh dimaksud adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah.
Nama dan Nasab Umar bin Abdul Aziz
Nama lengkap beliau adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin al-Hakam bin Abul Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf.[1] Ibunya adalah Ummu Ashim (Laila) binti Ashim bin Umar bin al-Khathab.[2] Ia dilahirkan di Madinah al-Munawwarah, tahun 61 H. Inilah pendapat sebagian besar sejarawan, dan karena ini menguatkan bahwa dia meninggal dunia pada usia empat puluh tahun, dimana dia meninggal pada tahun 101 H.[3] Tetapi, Wikipedia Indonesia menyebut secara lengkap tanggal lahir beliau, 2 November 682 (26 Safar 63 H).[4] Wallahu a’lam.
Diangkat Menjadi Khalifah
Beliau adalah khalifah kedelapan dari Dinasti (Bani) Umayyah. Beliau diangkat menjadi Khalifah pada 99 H, pada hari wafatnya Khalifah Sulaiman bin Abdil Malik. Khalifah Sulaiman telah mewasiatkan kekhalifahan kepada Umar ketika ia ditimpa sakit demam. Sejatinya, ia bukanlah putra mahkota. Namun, kehebatan dan kemuliaan akhlak serta tauhidnya, keturunan Khalifah Umar bin Khattab itu dianugerahi sebuah jabatan yang mulia.[5]
Bani Umayyah atau Kekhalifahan Umayyah adalah kekhalifahan Islam pertama setelah masa Khulafaur Rasyidin yang memerintah dari tahun 661 sampai 750 M di Jazirah Arab dan sekitarnya; serta dari 756 sampai 1031 di Cordoba, Spanyol sebagai Kekhalifahan Cordoba. Nama dinasti ini dirujuk kepada Umayyah bin ‘Abd asy-Syams, kakek buyut dari khalifah pertama Bani Umayyah, yaitu Muawiyah bin Abu Sufyan atau kadangkala disebut juga dengan Muawiyah I.[6]
Keagungan Umar bin Abdul Aziz
Keagungan Umar bin Abdul Aziz dikemukakan oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab beliau Siyar A’lam an-Nubala’ (5/114) –sebagaimana dikutip Prof. Dr. Abdussyafi Muhammad dalam buku Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah– dengan sifat (karakter) yang agung, yaitu: “Sang imam, hafizh, allamah, mujtahid, zahid, ahli ibadah, sayyid, amirul mukminin sejati, sang khalifah yang zahid lagi rasyid dari Bani Umayyah…”[7]

Masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz adalah masa keemasan Islam. Suatu masa dimana keadilan, kebijaksanaan, ketakwaan, dan keilmuan ditegakkan. Pada masanya terjadi fenomena menakjubkan yang tidak ditemukan pada masa lain… Ia berhasil dalam mengelola negara, tidak ditemukan pertikaian berarti pada masanya, bahkan semua urusan berjalan lancar bagaikan air mengalir. Padahal apa yang dilakukannya dapat dikatakan mengubah total frame pemerintahan. Seperti diketahui bahwa reformasi bukanlah hal yang mudah, biasanya disertai penolakan kuat dari rezim sebelumnya… sementara di masa beliau kita lihat sebagai suatu periode yang tenang, stabil, dan sepi dari perlawanan, walaupun ia banyak membuat perubahan mendasar.[8]
Seorang Reformer Besar; Menerapkan Sistem Negara Islam
Umar bin Abdul Aziz adalah seorang reformer besar. Ia berhasil memperbaiki hampir di semua bidang. Keberhasilan itu tidak lepas dari langkah-langkah beliau yang amat jitu, menerapkan prinsip-prinsip atau sistem Negara Islam, yang menitikberatkan pada kebenaran dan keadilan, bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw.
Sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Dr. Ali Muhammad ash-Shallabi bahwa landasan yang menjadi pijakan Umar dalam menerapkan taktik dan strateginya adalah: 1) Keteguhannya untuk selalu mengacu kepada al-Qur’an dan hadits, dan 2) Menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Inilah yang menjadi dasar Umar dalam menerapkan strategi pemerintahannya. Semua jalur dan sasaran yang ditempuhnya harus selalu seirama dengan landasan. Apalagi menegakkan keadilan dan menghapus kezaliman adalah salah satu dasar dan tujuan utama syari’at Islam.[9]
Allah swt berfirman:
۞إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ٩٠
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl (16): 90)
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُواْ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلۡقِسۡطِۖ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنََٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْۚ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ٨
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah (5): 8)
Langkah Awal: Bersih Diri dan Keluarga
Langkah awal yang beliau lakukan dalam melakukan pekerjaan besar berupa reformasi total ini ialah dimulai dari bersih-bersih terhadap diri dan keluarga. Ia bertekad akan bersikap keras terhadap dirinya. Ia berpikir bahwa hal yang paling baik untuk dilaksanakan bagi dirinya adalah harus mengubah sikap dan kehidupannya. Sebelum menjadi khalifah, Umar –meskipun saleh dan takwa- adalah seorang pemuda yang hidupnya mewah, penuh kenikmatan dan kesenangan, berpakaian halus dan terbaik, rambut tersisir rapi dan berpenampilan menarik. Setelah menjadi khalifah ia berubah total, berubah 180 derajat. Ia dikenal sebagai seorang yang zahid dan jauh dari perhiasan dunia. Rasa tanggung jawabnya begitu dalam, sampai-sampai memalingkannya dari kenikmatan dan kemewahan dunia.[10]
Ia berpenampilan sederhana, bahkan sangat sederhana. Para pengawal khusus yang bertugas menjaga istana yang digaji secara khusus, ia bubarkan. Alat angkutan khusus khalifah ia perintahkan untuk dijual dan uangnya dibagikan kepada fakir miskin. Bahkan ia berpendapat bahwa ia harus memberi contoh untuk mengembalikan harta negara yang biasanya diberikan kepada keluarga kerajaan sebagai hadiah. Benar itu adalah hadiah yang sudah menjadi haknya, tetapi ia menolak hak tersebut supaya memberi contoh kepada sanak kerabatnya agar tidak menerimanya. Kerja pertamanya adalah mengembalikan harta kepada Baitul Mal, sehingga istrinya, Fatimah, anak Khalifah Abdul Malik bin Marwan, terpaksa mengembalikan perhiasan yang telah diberikan oleh ayahnya… Dan, gerakannya ini telah berhasil menghentikan kebiasaan memberi hadiah.[11] Subhanallah. []
Mojokerto, 10/05/2019 [Telaah ulang, 16/01/2024]
[Bersambung…!]
Sumber Rujukan:
Abdul Aziz bin Ibrahim Al-Umari, Dr., Penaklukan Dalam Islam, terj., Abdul Basith Basamhah, Lc., Jakarta: Darus Sunnah, 2013.
Abdussyafi Muhmmad Abdul Latif, Prof. Dr., Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah, terj. Masturi Ilham dan Malik Supar, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, cet. II, 2016.
Ali Muhammad Ash-Shallabi, Prof. Dr., Biografi Umar bin Abdul Aziz, ter. H. Sofau Qolbi, Lc., MA., Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, cet.III, 2017.
Yusuf Al-‘Isy, Dr., Dinasti Umawiyah, terj. Iman Nurhadayat, Lc. dkk, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, cet. II, 2009.
https://id.wikipedia.org/wiki/Umar_bin_Abdul-Aziz
Cataan Kaki:
[1] Biografi Umar bin Abdul Aziz, 11
[2] Biografi Umar bin Abdul Aziz, 13; Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah, 213.
[3] Biografi Umar bin Abdul Aziz, 15 mengutip dari Al-Bidayah wan-Nihayah, 12/676.
[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Umar_bin_Abdul-Aziz
[5] https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/18/11/25/piqdbv313-tiga-tahun-umar-bin-abdul-aziz-memimpin
[6] https://id.wikipedia.org/wiki/Umar_bin_Abdul-Aziz
[7] Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah, 213; lihat juga, Biografi Umar bin Abdul Aziz, 11.
[8] Lihat, Dinasti Umawiyah, 318.
[9] Lihat, Biografi Umar bin Abdul Aziz, 423-424.
[10] Lihat, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah, 217.
[11] Dinasti Umawiyah, 320-321.

















