SEKULARISME, SAUDARA KANDUNG ISLAMOPHOBIA
Oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I. (Kadiv. Pendidikan YBM Malang)

Pendahuluan
Sampai hari ini masih banyak orang yang alergi dengan Islam, alergi dengan syariat Islam, alergi dengan syiar dan simbol-simbol Islam. Baik itu yang berasal dari kalangan umat Islam sendiri maupun di luar Islam. Pokoknya, kalau sudah bicara soal Islam, syariat Islam, kontan kepalanya mau pecah. Maka seketika itu orang atau hal yang islami itu dijulukilah radikal, intoleran, anti-budaya, anti-kebhinnekaan, bahkan anti-NKRI dan anti-Pancasila. Benarkah demikian? Apakah itu bukan karena Islamophobia ataukah karena sudah menjalarnya paham sekuler?
Apa itu Sekularisme dan Liberalisme?
Sekularisme adalah paham yang ingin memisahkan urusan dunia dengan agama. Masudnya, semua urusan dunia, baik itu urusan politik, hukum, sosial, budaya, bahkan pendidikan harus bersih dari agama, dilepaskan dari norma agama. Dus, agama tidak boleh dibawa-bawa alias tidak boleh turut campur mengurusinya. Belum lagi ditambah dengan adik kandungnya, yaitu liberalisme. Yaitu, sebuah paham yang ingin memahami Islam secara bebas, tanpa aturan baku atau metodologi yang jelas dan benar dari Islam. Mereka ingin memahami Islam dengan pisau analisa dari Barat yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad SAW.
Nah, kedua paham ini, sekularisme dan liberalisme, sama-sama “anti” dengan ajaran Islam yang asli, yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Karena itu mereka berusaha menafsiri dan memahami ajaran Islam bukan dengan metodologi Islam, tapi dengan metodologi Barat sekuler.
Sekularisme dan Liberalisme Tidak Pernah Ketemu dengan Islam

Maka, kedua ideologi itu tidak pernah ketemu dengan Islam. Mereka anti Islam, benci dengan Islam. Itulah islamophobia. Maka tidak salah jika saya menyebut sekularisme itu saudara kandung islamophobia.
Islam memandang dunia sebagai ladang untuk akhirat. Artinya, dunia adalah tempat beramal untuk kepentingan akhirat. Sehingga, apapun aktivitas kita di dunia tidak bisa lepas dari nilai-nilai dan norma-norma Islam. Islam menolak paham sekuler, yang memisahkan antara urusan dunia dan urusan akhirat, dalam semua bidang kehidupan, baik kehidupan individu, sosial, maupun bernegara.
Namun demikian, Islam lebih mengedepankan kehidupan akhirat daripada dunia, sebagaimana difirmankan Allah dalam surat Al-A’la (87) ayat 16-17:
بَلۡ تُؤۡثِرُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا ١٦ وَٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰٓ ١٧
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”
Islam Membangun Peradaban Untuk Dunia Akhirat
Namun demikian, Islam tidak meninggalkan urusan dunia sama sekali bagi umatnya. Dunia tetap sebagai tempat tinggal sekarang, boleh dimakmurkan, dan boleh dinikmati kehidupannya -karena itulah tugas dan fungsi manusia sebagai khalifah, yaitu untuk memakmurkan bumi-, tetapi untuk memakmurkan dunia tidak boleh mengalahkan akhirat. Sehingga, dalam memakmurkan bumi tetap berpegang pada norma-norma agama. Karena tujuan diciptakannya jin dan manusia adalah untuk menyembah Allah I, sebagaimana telah disebutkan dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56. Karena itu, di ayat yang lain Allah berfirman:
وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ٧٧
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. al-Qashshash (28): 77)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, Firman-Nya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,” yaitu gunakanlah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu berupa harta yang melimpah dan kenikmatan yang panjang dalam berbuat taat kepada Rabbmu serta bertaqarrub kepada-Nya dengan berbagai amal yang dapat menghasilkan pahala di dunia dan akherat. “Dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi,” yaitu apa-apa yang dibolehkan oleh Allah di dalamnya berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan pernikahan. Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak, dirimu memiliki hak, keluargamu memiliki hak, serta orang yang meminta kepadamu pun memiliki hak. Maka berikanlah setiap sesuatu dengan haknya.[1]
Beraktivitas di Dunia Untuk Dua Kebahagiaan
Jadi, kita beraktivitas di dunia ini untuk dua kebahagiaan sekaligus, yaitu kebahagiaan di dunia dan akhirat. Karena manusia memang menyandang dua fungsi sekaligus; sebagai hamba dan sebagai khalifah. Sebagai hamba tugasnya menyembah dan mengabdi kepada Allah, sedangkan sebagai khalifah tugasnya adalah memakmurkan bumi. Dan tugas sebagai khalifah harus sinergi dengan tugas utama sebagai hamba, yaitu tunduk patuh dengan aturan Tuhan.
Prof. Musa Asy’ari menegaskan, “Dalam hubungan ini, posisi khalifah pada dasarnya harus dijalankan tanpa mengabaikan posisi moral manusia sebagai makhluk, yang diciptakan, yang menempati posisi hamba Tuhan atau ‘abd. Sebagai ‘abd, maka wewenang yang diberikan Tuhan kepada manusia sebagai wakil-Nya, tidak mutlak, tetapi terbatas, tidak boleh berbuat kerusakan dan bebas berbuat apa saja, tetapi dibatasi oleh hukum-hukum moralitas kemanusiaan dan agama.”[2]
Berbeda dengan kaum sekuler yang ingin memisahkan antara keduanya. Kaum sekuler yang dipelopori para filosof dan teolog Barat seperti Ludwig Feurbach, Bonhoeffer, Harvey Cox, dan lain-lain memang telah mempropagandakan gerakan “memisahkan agama dan dunia” ini. Meraka mengatakan, “Tuhan tidak berhak campur tangan dalam kehidupan manusia. Manusia harus mengatur hidupnya sendiri dengan hukum yang mereka buat sendiri.”[3]
Harvey Cox mengatakan, bahwa dunia perlu dikosongkan dari nilai-nilai rohani dan agama.[4] Berikutnya, dalam masalah politik mereka mengatakan, politik tidaklah sakral. Jadi, unsur-unsur rohani dan agama harus disingkirkan dari politik. Oleh karena itu, peran ajaran agama kepada institusi politik harus disingkirkan.[5]
Coba perhatikan, betapa lancangnya ucapan mereka di hadapan Tuhan. Inilah hakikat sekuler, sekaligus liberal.
Dunia Pendidikan pun Tak Luput dari Sekulerisme

Dalam dunia pendidikan pun tak luput dari paham sekuler ini. Salah satu pemikir pendidikan karakter kontemporer, Thomas Lickona, misalnya, memiliki pandangan bahwa pendidikan karakter dan pendidikan agama semestinya dipisahkan dan tidak dicampur adukkan…. Bagi dia, agama bukanlah urusan sekolah negeri (public school). Dan pendidikan karakter tidak ada urusan dengan ibadat dan doa-doa yang dilakukan di lingkungan sekolah….[6]
Pendapat ini ditolak oleh Doni Koesoema Albertus.[7] Ia menulis:
Dalam konteks kehidupan bermasyarakat di Indonesia, pemisahan teoritis antara pendidikan agama dan pendidikan karakter dalam lembaga pendidikan patutlah dipertanyakan keshahihannya. Sebab, jika pemisahan itu terjadi, dasar kehidupan bernegara kita akan timpang. Paling tidak, ada dua alasan mengapa argumentasi Lickona kurang tepat.
Pertama, Ia mengatakan bahwa kehidupan religius seseorang merupakan urusan pribadi antara individu itu dan Tuhannya, merupakan sebuah pemahaman tentang kehidupan beragama secara keliru, kalau tidak dikatakan distortif. Sebagaimana dijelaskan pada Bab VII, sikap hidup keberagamaan dapat menjadi fondasi kokoh bagi pelaksanaan pendidikan karakter, terutama agama akan menjadi dasar kokoh tak tergoyahkan bagi pelaksanaan nilai-nilai moral ketika nilai-nilai moral tersebut diyakini sebagai berasal dari perintah Tuhan sendiri.
Kedua, Ia mengatakan bahwa pendidikan karakter merupakan relasi antar pribadi individu di dalam masyarakat akan menciptakan relasi antarpribadi yang semu. Sebab, individu yang dihormati itu ternyata tidak termasuk keyakinan agamanya. Relasi seperti ini tidak autentik, sebab ia hanya menghormati individu secara parsial. Menghormati individu sesungguhnya juga merupakan kesediaan dan keterbukaan hati untuk menghormati keyakinan iman dan ajaran kepercayaan dari individu tersebut. Individu tidak dapat dikatakan menghormati individu lain jika ia tidak dapat menghargai keyakinan dan kepercayaan iman orang lain.[8]
Ironis, Gerakan Sekuler Mendapat Sambutan Hangat
Anehnya, gerakan sekuler ini disambut hangat di negeri ini oleh sebagian umat Islam, terutama yang menamakan dirinya dengan “Islam Liberal”. Bahkan, secara khusus, kelompok sekuler dari “Islam Liberal” ini sering mengkritisi ajaran-ajaran Islam yang sudah baku. Di antara karyanya ialah berhasil menebitkan buku “Fikih Lintas Agama” yang menghebohkan itu.[9] Banyak sekali pernyataannya yang ingin “meruntuhkan” bangunan Islam yang sudah baku ini. Satu contoh saja, mereka menulis: “Karena itu teks-teks (baca: ayat) yang turun pada periode Madinah sangat diskriminatif, eksklusif, dan fundamentalistik.” (FLA, hal. 142)[10] Sekali lagi, begitulah di antara kelancangan mereka.
Prinsip Pendidikan Nabi Bertolak Belakang dengan Paham Sekuler
Prinsip pendidikan Nabi r sangat bertolak belakang dengan paham sekuler. Nabi menekankan adanya prinsip keseimbangan dalam masalah ini, bukan memisahkan. Bahwa kehidupan di dunia tidak bisa dilepaskan dari norma agama, karena dunia hanya tempat persinggahan, tempat beramal, sedangkan tujuan akhir adalah kehidupan akhirat. Oleh karena itu, Nabi r memerintahkan untuk bertakwa di mana saja berada, beliau bersabda:
اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَاَتْبَعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, dan iringilah keburukan dengan perbuatan baik niscaya akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik. (HR. Ahmad (20975), ad-Darimi (2790) dari Abu Dzar t)[11]
Dalam hadits ini kita diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah I di mana pun berada, tidak hanya di masjid atau di tempat ibadah, tetapi di mana saja –di kantor, di kampus, di pasar, di mall, di jalan, dst- dan kapan saja. Karena memang kita tidak sedang hidup di dunia bebas yang bebas sama sekali dari hukum Tuhan. Benar manusia sebagai khalifah, tetapi ia juga sebagai hamba Allah I, yang harus tunduk kepada-Nya.
Oleh karena itu, pendidikan Nabi r adalah pendidikan yang integral dan komprehensip, yang menanamkan iman, mentransformasikan ilmu, dan membangun akhlak mulia; atau dengan istilah lain, membangun kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan sosial. Kurikulumnya pun meliputi aqidah, ibadah, al-Qur’an, mu’amalah, ketrampilan, fisik (olah raga), dsb. Pendek kata, tidak ada pemisahan ilmu secara signifkan, yang penting ilmu tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam. Demikian pula urusan yang lain, politik misalnya, tetap terkait dengan norma dan ajaran agama (Islam), tidak ada yang bebas (kosong) dari agama.
Peunutup
Itulah Islam, agama yang syamil kamil, sempurna dan menyeluruh. Sempurna ajarannya, menyeluruh aturannya; mengatur semua aspek kehidupan manusia. Makanya tidak heran, jika Islam dibenci sedimikian rupa oleh kaum sekuler dan liberal, sampai ke akar-akarnya, masuk ke tulang sumsumnya, karena mereka tidak ridha urusan dunia diatur oleh Tuhan. Itulah islamophobia.
Semoga Allah swt senantiasa memberikan hidayah taufik-Nya kepada kita kaum muslimin di mana pun berada, agar tetap istiqamah di atas jalan-Nya yang lurus sampai akhir hayat nanti. Amin ya Rabbal ‘alamin. [*]
Mojokerto, 24/03/2019
Sumber Rujukan:
Al-Hafizh Imaduddin Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’anul Azhim, Juz 3, Bairut: Darul Jiil, tt.
Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Aal asy-Syaikh, Dr., Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 6, terj. M. Abdul Ghaffar E.M. dan Abu Ihsan al-Atsari, Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’i, 1429 H/ 2008, cet. Ke-5.
Adnin Armas, Pengaruh Kristen-Orientalis terhadap Islam Liberal, Jakarta: Gema Insani Press, 2003.
Agus Hasan Bashori, Koreksi Total Buku Fikih Lintas Agama, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2004.
Doni Koesoema Albertus, Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, Jakarta: Grasindo, 2010.
Musa Asy’arie, Filsafat Islam Sunnah Nabi dalam Berpikir, Yogyakarta: LESFI, 2002.
Catatan Kaki:
[1] Tafsir Ibnu Katsir, 3/385; edisi Indonesia, 6/298.
[2] Musa Asy’arie, Filsafat Islam Sunnah Nabi dalam Berpikir, (Yogyakarta: LESFI, 2002), 232.
[3] Adnin Armas, Pengaruh Kristen-Orientalis terhadap Islam Liberal, (Jakarta: Gema Insani Press, 2003), 6.
[4] Adnin Armas, Ibid., 12
[5] Adnin Armas, Ibid., 13.
[6] Doni Koesoema Albertus, Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, (Jakarta: Grasindo, 2010), 250.
[7] Doni Koesoema Albertus adalah praktisi pendidikan dan penulis buku dan artikel produktif. Ia mendapat penghargaan dari Mendiknas sebagai penulis artikel yang produktif tentang pendidikan di media cetak dalam rangka Apresiasi Penulis Artikel Peduli Pendidikan 2008-2009.
[8] Doni Koesoema Albertus, Pendidikan Karakter…, 250-251.
[9] Sekarang bahkan tidak susah lagi menemukan buku-buku karya kelompok liberal ini dipajang di toko-toko buku, karena saking banyaknya karya mereka. Artinya, resistensi bagi generasi muda semakin tinggi.
[10] Agus Hasan Bashori, Koreksi Total Buku Fikih Lintas Agama, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2004), 212.
[11] Musnad al-Imam Ahmad, (6/190); Sunan ad-Darimi, (2/323)

















