ISLAM GARIS LURUS ed
Oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.
Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jum’at Rahimakumullah,
Marilah kita bersama-sama meningkatkan iman dan takwa kepada Allah I, dan mari kita bangun terus akidah kita di atas landasan ilmu yang benar, ilmu yang berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman para salaf ash-shalih. Menurut Islam, jalan yang ditapaki manusia itu ada dua, yaitu: jalan yang lurus dan jalan yang bengkok. Jalan lurus adalah jalan yang sampai kepada Allah, sedangkan jalan bengkok adalah jalan yang tidak sampai kepada Allah. Untuk itu kita perlu mengenali jalan yang lurus dan jalan yang bengkok ini sebagaimana yang disebutkan Allah dalam Surat al-Fatihah: 6-7. Kita kenali jalan yang lurus, supaya kita kenal jalan yang bengkok.
Hadirin, jamaah rahimakumullah,
Kita semua bermunajat kepada Allah swt lebih dari 17 kali setiap hari, memohon kepada Allah “اهدنا الصراط المستقيم” = Tunjukilah kami jalan yang lurus”. (QS. Al-Fatihah: 6)
- Kata hidayah pada ayat ini bermakna اَلإِرْشَادُ وَالتَّوْفِيْقُ (bimbingan dan taufik). Juga terkandung makna [ أَلْهِمْنَا ] (berikan ilham pada kami), [ وَفِّقْنَا ] (berikan taufik kami), atau [أُرْزُقْنَا] (berikan rezki kami), atau [ أَعْطِنَا ] (berilah anugerah kami).
- Sedangkan [ash-shirathul mustaqim] menurut Imam Abu Ja’far ibnu Jarir: para ahli tafsir telah sepakat bahwa الصّراط المستقيم adalah jalan yang terang dan lurus yang tidak bengkok-bengkok di dalamnya.
Kemudian terjadi perbedaan ungkapan dari para ahli tafsir tentang hal ini, antara lain:
Pertama, bermakna Kitabullah, sebagaimana hadits riwayat dari Ibnu Abi Hatim.
Kedua, bermakna al-Islam, sebagaimana riwayat adh-Dhahhak, Maemun bin Mahron dari Ibnu Abbas.
Ketiga, bermakna al-Hak (yang benar), demikian kata Mujahid.
Keempat, Abul Aliyah berkata bahwa ash-shirathal mustaqim adalah Rasulullah e dan dua orang sahabat sesudahnya. Ashim menceritakan hal itu kepada al-Hasan al-Bashri, maka al-Hasan berkata: صدق ابوالعالية ونصح (Dia berkata benar dan sekaligus memberi nasehat).
Artinya “jalan lurus” itu mengikuti jalan Rasulullah e dan jalan para sahabat y. Jadi ungkapan Abul Aliyah ini bermakna lebih khusus.
- Tetapi perbedaan ungkapan tersebut pada prinsipnya kembali kepada satu makna, yaitu [المتابعة لله وللرسوله] = (mengikuti Allah dan Rasul-Nya), demikian penjelasan Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Dan hal ini sesuai dengan penjelasan pada ayat berikutnya:
صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ
“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 7)
- Ini adalah tafsir dari ayat “Shirathal mustaqim”.
- Jadi, ada 3 jalan di sini: satu jalan lurus, dan dua model jalan bengkok.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Kemudian, siapakah orang yang diberi nikmat itu?!
Allah sendiri yang menjelaskan bahwa orang-orang yang diberi nikmat itu adalah orang-orang yang tersebut dalam surat an-Nisa’: 69-70
وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا ذٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللّٰهِ ۗوَكَفٰى بِاللّٰهِ عَلِيْمًا ࣖ
”Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiqin, para syuhada’ (orang-orang yang mati syahid) dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.” (QS. An-Nisa (4): 69-70)
Jadi, orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah I, atau jalan orang-orang yang lurus itu adalah:
- Para Nabi: orang-orang yang dipilih Allah dengan diberinya wahyu kepada mereka.
- para Shiddiqin: orang-orang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran Rasulullah r. Yang secara khusus ayat ini berkenaan dengan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq t
- Para Syuhada, yaitu orang yang mati dalam menegakkan agama Allah. Yang secara khusus ayat ini ditujukan kepada sayyidina Umar, Utsman, dan Ali y.
- Para Shalihin: orang-orang shaleh, yaitu orang-orang yang berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Sunnah. Mereka adalah para sahabat Nabi r dan para pengikut setianya sampai hari kiamat.
Mereka itulah di atas shirathal mustaqim, jalan yang lurus, yang mendapat nikmat Allah, teman yang sebaik-baiknya.
Mengikuti selain mereka berarti mengikuti jalan yang bengkok atau sesat.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Allah swt berfirman:
غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ
“Bukan jalan orang-orang yang dimurkai, dan bukan (pula) jalan orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Fatihah (1): 7)
Maksudnya: Bukan jalan orang-orang yang mendapat murka, yang kehendak mereka telah rusak sehingga meskipun mereka mengetahui kebenaran, namun menyimpang darinya. Dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat, yaitu orang-orang yang tidak memiliki ilmu, sehingga mereka berada dalam kesesatan, serta tidak mendapatkan jalan menuju kebenaran.
Pembicaraan di sini dipertegas dengan kata “لا” (bukan), guna menunjukkan bahwa di sana terdapat dua model jalan yang rusak, yaitu jalan orang-orang Yahudi dan jalan orang-orang Nasrani. Juga untuk membedakan antara kedua jalan itu, agar setiap orang menjauhkan diri darinya.
Jalan orang-orang yang beriman itu mencakup pengetahuan akan kebenaran serta pengamalannya, sementara orang-orang Yahudi tidak memiliki amal, sedangkan orang-orang Nasrani tidak memiliki ilmu (agama). Oleh karena itu, kemurkaan bagi orang-orang Yahudi, sedangkan kesesatan bagi orang-orang Nasrani. Karena orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya, itu berhak mendapat kemurkaan, berbeda dengan orang yang tidak memiliki ilmu.
- Jadi orang yang dimurkai adalah orang yang tahu kebenaran tetapi menyimpang. Sedangkan orang yang sesat adalah orang yang tidak memiliki ilmu untuk beramal.
- Secara khusus orang yang dimurkai adalah Yahudi. Dan Orang yang sesat adalah Nasrani.
Demikian pendapat para ahli tafsir, sebagaimana yang dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya.
- Memang orang-orang Yahudi dan Nasrani adalah sesat dan mendapat murka. Tetapi sifat Yahudi yang paling khusus adalah mendapat kemurkaan sebagaimana firman Allah tetang diri mereka:
قُلْ هَلْ اُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِّنْ ذٰلِكَ مَثُوْبَةً عِنْدَ اللّٰهِ ۗمَنْ لَّعَنَهُ اللّٰهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيْرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوْتَۗ اُولٰۤىِٕكَ شَرٌّ مَّكَانًا وَّاَضَلُّ عَنْ سَوَاۤءِ السَّبِيْلِ
“Yaitu orang yang dilaknat dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi, dan (orang yang) menyembah thaghut.” (QS. Al-Maidah (5): 60)
Sedangkan sifat orang Nasrani yang paling khusus adalah kesesatan, sebagaimana firman Allah mengenai ikhwal mereka:
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوْٓا اَهْوَاۤءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوْا مِنْ قَبْلُ وَاَضَلُّوْا كَثِيْرًا وَّضَلُّوْا عَنْ سَوَاۤءِ السَّبِيْلِ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam (urusan) agamamu tanpa hak. Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu kaum yang benar-benar tersesat sebelum kamu dan telah menyesatkan banyak (manusia) serta mereka sendiri pun tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah (5): 77)
Dan masalah ini banyak disebutkan dalam hadits dan atsar, yang intinya Rasulullah r menyatakan bahwa [غير المغضوب عليهم] adalah Yahudi dan [ ولاالضالين ] adalah Nasrani. (lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz I, hal. 28)
- Sehingga makna dan tafsir dari ayat tersebut adalah: “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka (yaitu jalannya para nabi, shiddiqin, syuhada’, dan sholihin), bukan jalan orang-orang yang dimurkai (yaitu orang-orang Yahudi beserta orang-orang yang sepaham dengannya), dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat (yaitu orang-orang Nasrani dan orang-orang yang sepaham dengan mereka).”
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Dari ayat ini jelas, tidak ada pluralisme (menganggap semua agama benar) dalam Islam. Yang ada adalah jalan yang lurus (yang benar dan diridhai Allah), dan jalan yang bengkok (jalan yang salah, yang dimurkai oleh Allah). Maka dengan demikian, batallah paham liberal (JIL dan lain-lain yang sepaham dengannya) yang menyatakan dan membela mati-matian bahwa semua agama benar, semua agama bisa masuk surga (pluralisme agama itu).
Dalilnya sudah jelas dan tegas. Allah I berfirman:
اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah adaalah Islam.” (QS. Ali Imran (3): 19)
وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali Imron (3): 85)
Baginda Rasul I bersabda:
«وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هٰذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ».
“Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya! Tidak seorangpun mendengar tentang aku dari umat (manusia) ini, seorang Yahudi ataupun Nasrani, kemudian meninggal dunia dan tidak beriman kepada apa yang aku diutus karenanya, kecuali ia termasuk para penduduk neraka.” (HR. Muslim (341) dari Abu Hurairah ra.)
Kita memohon kepada Allah I agar diteguhkan iman kita di atas ash-shirathul mustaqim, amin Ya Rabbal ‘alamin. [*]
Sumber Rujukan:
- Al-Hafizh Imaduddin Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’anul Azhim, Juz I, Bairut: Darul Jiil, tt.
- Tim Ahli Tauhid, Kitab Tauhid 2, Jakarta: Darul Haq, 1419 H.

















