Thursday, May 14, 2026
  • Login
SWAHARAH
  • Beranda
  • Profil
    • PROFIL PENDIRI
    • PROFIL SWAHARAH.ID
  • Agama
    • Kajian
    • Khutbah
    • Makalah
  • Pendidikan
  • Kutipan
  • Nasional
    • Berita
    • Internasional
    • Opini
  • Sejarah
  • Keluarga
  • Tamu
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Profil
    • PROFIL PENDIRI
    • PROFIL SWAHARAH.ID
  • Agama
    • Kajian
    • Khutbah
    • Makalah
  • Pendidikan
  • Kutipan
  • Nasional
    • Berita
    • Internasional
    • Opini
  • Sejarah
  • Keluarga
  • Tamu
No Result
View All Result
SWAHARAH
No Result
View All Result
Home Agama

DOSA DAN KESERAKAHAN MANUSIA MENGUNDANG BENCANA

M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I. by M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.
December 5, 2025
in Agama, Khutbah
A A
0
DOSA DAN KESERAKAHAN MANUSIA MENGUNDANG BENCANA

sumber: detik.com

1
SHARES
120
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

DOSA DAN KESERAKAHAN MANUSIA MENGUNDANG BENCANA

Oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I. (Kadiv. Pendidikan YBM/ Pondok Pesantren Al-Umm Malang)

Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jum’at Rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan iman dan takwa kepada Allah swt, mendekatkan diri kepada-Nya, serta memohon ampun dan bertobat kepada-Nya, sebelum ajal menjemput kita, atau sebelum berbagai musibah dan bencana menimpa kita, baik secara individu, keluarga, masyarakat, maupun bangsa.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Patut kiranya kita menundukkan kepala sejenak, merenung, dan introspeksi…! Negeri kita ini seolah tak pernah sepi dari musibah dan bencana, besar maupun kecil. Semenjak gelombang tsunami menerjang Aceh (26 Desember 2004), secara beruntun dan bertubi-tubi musibah itu terus menimpa kita, bangsa Indonesia, silih berganti: gempa bumi, gelombang tsunami, gunung meletus, angin lesus, puting beliung, tanah longsor, banjir bandang, kebakaran, berbagai penyakit, dan berbagai kecelakaan (darat, laut, dan udara), dan lain sebagainya. Yang kesemuanya menelan korban jiwa dan harta benda yang cukup besar.

Belum selesai permasalahan di Lombok akibat guncangan hebat gempa bumi yang meluluhlantakkan Lombok (pada 29 Juli – akhir Agustus 2018)[1], sudah disusul gempa, tsunami, dan likuifaksi (pembenaman) di Palu, Donggala dan sekitarnya (28 September 2018).[2] Itu kejadian di tahun 2018, di tahun-tahun sesudahnya juga tidak sepi dari berbagai musibah dan bencana termasuk pandemi covid-19 pada tahun 2020-2022.

sumber: liputan6.com

Kali ini di penghujung tahun 2025 ini kita dikejutkan lagi oleh banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh (25-30 November 2025) yang menelan korban sangat banyak, baik korban manusia maupun material. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan perkembangan jumlah korban akibat banjir bandang dan tanah longsor di tiga provinsi itu hingga Kamis (4/12/2025) sore pukul 16.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia mencapai 836 jiwa, ratusan dinyatakan hilang dan ribuan yang luka-luka (Kompas.com, 4/12/2025). Belum lagi ditambah jumlah penduduk yang mengungsi.

Kerusakan akibat banjir bandang dan tanah longsor ini digambarkan oleh Dr. Annisa Trisnia Sasmi, dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS): “Banjir bandang dan tanah longsor itu menenggelamkan desa, meluluhlantakkan permukiman warga, merusak fasilitas umum, dan memutus akses listrik, jalan, serta komunikasi. Situasi pun terus memburuk dari hari ke hari.” Sementara ahli bencana alam UMS, Prof. Dr. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si. menyayangkan gerak lamban pemerintah dalam menetapkan status bencana menjadi bencana nasional. Kuswaji menyampaikan, “Banjir Sumatera Utara, Sumatera Barat, juga Aceh ini sudah menyebabkan kerusakan fisik dan mengganggu ketahanan sosial dalam jangka panjang.[3] Ribuan warga mengungsi, jalur logistik terputus, dan akses layanan dasar lumpuh di puluhan kecamatan.” (www.ums.ac.id 04/12/2025).

Hadirin jamaah rahimakumullah,

Dalam konsep Islam, hakikat musibah atau bencana itu memiliki 3 makna: 1) ujian/cobaan (bagi kaum mukmin), 2) peringatan/teguran dan kaffarah (bagi muslim yang berdosa), 3) adzab/hukuman (bagi kafirin dan zhalimin/pendosa besar).[4]

Kita yang selamat dari musibah tentu ikut merasa sedih dan prihatin atas musibah yang menimpa saudara-saudara kita. Kita bantu mereka dan kita doakan semoga Allah memberikan kesabaran, pahala yang berlipat, dan ganti yang lebih baik –bagi yang selamat-, dan yang meninggal semoga diampuni dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya, dan diberikan rahmat oleh Allah swt di alam kuburnya. Dan kita juga memohon kepada Allah agar kita diselamatkan dari segala macam musibah, marabahaya, dan bencana. Allahumma amin.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Dalam konsep Al-Qur’an (agama) ternyata setiap musibah/bencana itu adalah “bima kasabat aidikum/ aidin-nas” (sebab ulah tangan dan dosa manusia). Allah swt berfirman:

  وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ ٣٠

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura (42): 30)

Bima kasabat aidikum di sini dimaknai oleh para ulama sebagai dosa-dosa atau maksiat, karena di akhir ayat Allah mengisyaratkan “dan Allah memaafkan sebagian besar (kesalahanmu).” Maka, “akibat perbuatanmu” maksudnya adalah akibat dosamu.

Imam Jalaluddin al-Mahalli rahimahullah dalam Tafsir Jalalin menyebutkan, “Artinya karena dosa-dosa yang telah kalian lakukan sendiri.”[5] Imam Ibnu Katsir rahimahullah menuturkan, “Apa saja musibah yang menimpa kalian wahai manusia, maka hanyalah disebabkan kesalahan-kesalahan yang kalian lakukan.”[6]

Sementara yang lebih detil/rinci dipaparkan oleh Syaikh as-Sa’di rahimahullah, “Allah swt mengabarkan bahwa apapun musibah yang menimpa hamba-hamba-Nya, pada jasad mereka, pada harta mereka, ataupun anak-anak mereka, dan pada apa saja yang mereka cintai lagi sangat mereka sayangi, adalah akibat dosa-dosa yang mereka lakukan sendiri, dan sesungguhnya yang dimaafkan Allah swt lebih banyak dari itu.”[7]

Kemudian di ayat lain Allah berfirman:

  ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٤١

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum (30): 41)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

“Kerusakan di darat dan di laut” ini bisa berupa bencana atau hilangnya keberkahan di muka bumi ini, misalnya Imam Jalaluddin al-Mahalli rahimahullah menuturkan, “…terhentinya hujan dan sedikitnya tumbuh-tumbuhan, dan banyaknya sungai yang mengering.”[8] Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan, “Yaitu, kekurangan tanam-tanaman dan buah-buahan (krisis pangan).”[9] Sedangkan Syaikh as-Sa’di rahimahullah menuturkan, “Yaitu, rusaknya kehidupan mereka serta berkurangnya (keberkahannya), dan terjadinya berbagai wabah penyakit padanya, dan juga pada diri mereka, berupa penyakit, wabah, dan lain-lain.”[10]

 

sumber: kompas.com

Kemudian, musibah/bencana itu “Bima kasabat aidinnas” (disebabkan perbuatan tangan manusia) yaitu kemaksiatan.[11] Sementara syaikh as-Sa’di menegaskan, “Itu semua disebabkan apa yang telah dilakukan oleh tangan mereka berupa pekerjaan-pekerjaan yang rusak dan merusak.”[12]

Nah, dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa bima kasabat aidikum/ aidin-nas (perbuatan tangan manusia) itu ada dua macam:

  1. Perbuatan (kesalahan) yang mempunyai hubungan langsung dengan terjadinya musibah/bencana (istilah Syaikh as-Sa’di: perbuatan yang merusak), seperti: penebangan hutan secara liar (baik legal maupun illegal) atau pengrusakan alam (lingkungan) yang besar (seperti penambangan dll),[13] maka ini akan menyebabkan banjir besar, tanah longsor, terjadinya pemanasan global, dan perubahan musim dsb. [Tentang penebangan hutan dan pengrusakan lingkungan ini, jika dilakukan oleh para pemilik modal dan para penguasa maka akibat buruknya akan semakin masif, terstruktur, dan sistematis]; kemudian perzinaan (apakah seks bebas, atau LGBT) maka menyebabkan virus HIV/AIDS dan penyakit lainnya yang obatnya masih belum ditemukan, dsb.
  2. Perbuatan (kesalahan) berupa dosa atau maksiat (istilah Syaikh as-Sa’di: perbuatan yang rusak). Seperti: kesyirikan, kemaksiatan, dan berbagai kemungkaran yang kian merajalela. Ini secara logika memang nampak tidak ada hubungan langsung dengan bencana, tetapi kemaksiatan dan kemungkaran itu mengundang murka Allah, mengundang bencana/malapetaka.

Ummu Salamah s berkata: aku mendengar Rasulullah r bersabda:

إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِى فِى اُمَّتِى عَمَّهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ …

“Apabila maksiat sudah merajalela di kalangan umatku, Allah akan menurunkan siksa dari sisi-Nya kepada mereka secara merata…” (HR. Ahmad, dll. Hadits Shahih)

Ya, musibah/bencana yang menimpa seluruh umat manusia, tidak hanya menimpa orang yang buruk (zhalim), tetapi juga menimpa orang-orang baik. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Anfal: 25.

Hadirin jamaah rahimakumullah,

Pertanyaannya, maksiat apa yang tidak ada di negara kita ini?! Semua ada, dan semua dilakukan dengan terang-terangan, tidak ada yang tersembunyi. Mulai dari kesyirikan –dosa yang paling besar- sampai dosa-dosa besar lainnya, seperti perzinaan dan LGBT, minuman keras/ khamr, narkoba, riba, pembunuhan, pencurian, perampokan, korupsi, perjudian dan seterusnya. Belum lagi yang namanya pertunjukan musik di mana-mana dengan pengunjung yang tak pernah sepi dari manusia, mencapai ribuan manusia.

sumber: cnbcindonesia.com

Maka sekali lagi, tidak boleh kita menyikapi setiap bencana itu hanya dengan mengatakan, “Itu fenomena alam biasa”, atau “wajar saja”, dan sebagainya. Misalnya, kalau gempa bumi, itu diakibatkan oleh pergeseran lempeng bumi (gempa tektonik) atau karena adanya gunung meletus (gempa vulkanik). Tidak dikaitkan dengan konsep agama. Nah, itu sekuler namanya dan tidak memperbaiki keadaan. Karena ini tidak membuat orang jadi sadar dari kesalahan dan memperbaiki diri. Kita tidak menolak kebenaran teori itu, dan itu bermanfaat untuk peringatan dini guna meminimalisir kurban. Tetapi, sekali lagi, konsep agama ini penting, karena untuk penyadaran dan memperbaiki perilaku manusia ke arah yang diridhai Allah swt.

Karena di antara tujuan Allah memberikan musibah/bencana adalah “la’allahum yarji’un” (agar mereka kembali ke jalan yang benar). Agar mereka menyadari kesalahannya, memohon ampun, dan bertobat kepada Allah swt. Kata Imam Jalaluddin al-Mahalli, “Maksudnya supaya mereka bertobat dari perbuatan-perbuatan maksiat.”[14]

Ma’asyiral Muslimin rahimakumulllah,

Setelah memahami hakikat musibah/bencana seperti tersebut di atas, maka yang bisa kita lakukan dalam menyikapi hal ini adalah:

  1. Tidak merusak alam/ lingkungan, karena orang beriman akan memakmurkan bumi dengan menjaga dan melestarikan lingkungannya, bukan menebangi hutan atau merusak alam untuk kekayaan pribadi dan kelompok atau golongan, khususnya oleh para pemilik modal dan para penguasa, karena kerusakan yang ditimbulakannya akan sangat dahsyat dan merugikan rakyat kebanyakan tidak hanya di hari ini tetapi juga merusak generasi yang akan datang. Bertobatlah!
  2. Masing-masing individu dan masyarakat mengakui dosa dan kesalahan kepada Allah swt, atas berbagai kesyirikan, kemaksiatan, kemungkaran, dan kesia-siaan lainnya selama ini. Bukan saling menyalahkan atau mencari kambing hitam.
  3. Sadar, dan takut kepada Allah, serta bertobat kepada-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah tadi: “…agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41). Itulah fungsi setiap bencana atau musibah, yaitu agar umat manusia menyadari kesalahannya, beristighfar, dan bertobat kepada Allah, serta kembali ke jalan yang benar. Dengan istighfar yang benar, kita berharap akan dijaga oleh Allah dari segala musibah/bencana. Allah swt berfirman:

وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمۡ وَهُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ ٣٣

“Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun (kepada-Nya).” (QS. Al-Anfal: 33)

  1. Tidak merasa aman dari azab Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Allah swt berfirman:

أَفَأَمِنُواْ مَكۡرَ ٱللَّهِۚ فَلَا يَأۡمَنُ مَكۡرَ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ٩٩

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak diduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99)

  • Kalau hanya percaya dengan hasil analisis tadi bahwa daerah yang rawan gempa hanyalah daerah sepanjang pantai barat Sumatra, terus Jawa bagian selatan, dan terus ke timur. Atau yang terancam tsunami adalah daerah pantai saja. Bagaimana dengan kasus Lumpur Lapindo di Porong (Jawa Timur)?! Nah, jangan merasa aman…! Musibah tidak hanya gempa dan tsunami…!
  • Bagi setiap mukmin, berbagai musibah itu akan menjadi peringatan dan memberikan banyak pelajaran untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, memohon ampun kepada-Nya, memperbanyak amal kebaikan, termasuk berbuat baik dengan alam lingkungan dan sesama umat.
sumber: kompas.com

Khutbah Kedua

Ma’asyiral Muslimin rahimakumulllah,

Dalam khutbah kedua ini kami ingin menegaskan bahwa salah satu cara agar dijauhkan dari musibah atau bencana ialah dengan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar -sebagaimana kami sampaikan pada khutbah sebelumnya-. Jika tidak, dikhawatirkan bencana yang berlaku umum itu akan menimpa kita. Allah berfirman:

  وَٱتَّقُواْ فِتۡنَةٗ لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمۡ خَآصَّةٗۖ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٢٥

“Dan takutlah (jagalah) dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Anfal (8): 25)

Syaikh as-Sa’di rahimahullah menuturkan, “Hal itu jika kezaliman muncul dan tidak diubah, maka azabnya akan menimpa pelaku dan selainnya. Menghindari fitnah ini adalah dengan melarang kemungkaran dan melawan para pengusung kejahatan dan kerusakan serta tidak memberi mereka peluang untuk berbuat dosa dan kemaksiatan sebisa mungkin.”[15]

Sementara Imam Jalaluddin as-Suyuthi rahimahullah memaparkan, “Dan cara untuk memelihara diri supaya jangan tertimpa siksaan ialah membenci penyebabnya, yaitu perkara mungkar.”[16]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dalam menafsirkan ayat ini: “Allah swt memerintahkan orang-orang beriman agar mereka tidak membiarkan kemungkaran terjadi di hadapan mereka, sebab Allah bisa menimpakan adzab secara merata.[17]

 Mengapa hal itu terjadi? Karena orang-orang yang durjana dan pendosa di dalamnya bebas berkeliaran tanpa ada pencegahan dan upaya untuk mengubahnya,[18] maka wajar jika semua orang akan menanggungnya, sebagai akibat dari pembiaran kemungkaran tersebut.

Kita berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari segala musibah/bencana, dilimpahi rahmat dan berkah-Nya, serta diberi keselamatan di dunia dan akhirat. Amin ya Rabbal ‘alamin. [*]

Mojokerto, 24/10/2018 diupdate 4 Desember 2025

 

Sumber Rujukan:

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Khadim al-Haramain asy-Syarifain, KSA.

Ainul Haris Umar Thayib, Lc., M.Ag. dkk., Nasihat dan Pelajaran Indonesia Menangis, Surabaya: La Raiba Bima Amanta (elba), 2005.

Al-Hafizh Imaduddin Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’anul Azhim, Juz 2, 3 dan 4, Bairut: Darul Jiil, tt.

Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Aal asy-Syaikh, Dr., Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 4, 6, dan 7, terj. Abdul Ghaffar, Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’i, 2001.

Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi, Tafsir al-Jalalain, Indonesia: Maktabatu Daru Ihya’i al-Kutub al-Arabiyah Indonesia, tt.

Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuti, Tafsir Jalalain, Jilid 1 dan 2, terj. Bahrun Abubakar, Lc., Bandung: Sinar baru Algensindo, 2013.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Taisirul Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, Riyadh: Darus Salam Lin-nasyr wat-Tauzi’, 1422 H/2002

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Taisirul Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, Jilid 3, 5, dan 6, terj. Muhammad Iqbal, Lc. dkk., Jakarta: Pustaka Sahifa, cet. ke-2, 2012.

https://nasional.kompas.com/read/2025/12/04/18314681/update-bnpb-korban-meninggal-dunia-akibat-banjir-sumatera-capai-836-jiwa. Diunduh 4 Desember 2025 pukul 19.30

https://www.ums.ac.id/berita/teropong-jagat/banjir-sumatera-kombinasi-faktor-alam-dan-ulah-manusia. Diunduh 4 Desember 2025 pukul 19.40

@anhargonggongofficial youtobe

 

Catatan Kaki:

[1] “Sampai tanggal 23 Agustus (2018) pukul 02.00 WITA tercatat sebanyak 280 gempa susulan, 16 di antaranya dirasakan,” terang Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Agus Riyanto, dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com (https://regional.kompas.com).

[2] Makalah/ khutbah ini ditulis tahun 2018, karena itu peristiwa yang disebutkan adalah peristiwa di tahun 2018.

[3] Prof. Anhar Gonggong, sejarawan senior terkemuka bahkan mengungkapkan: perbuatan penebangan hutan dan merusak lingkungan ini tidak hanya merusak manusia sekarang tetapi juga merusak generasi yang akan datang, karena itu pelakunya tidak bisa dimaafkan.

[4] Lihat, Nasihat dan Pelajaran dari Indonesia Menangis, 70-78.

[5] Tafsir Jalalain, 397; edisi Indonesia, 2/768.

[6] Tafsir Ibnu Katsir, 4/118; edisi Indonesia, 7/255.

[7] Tafsir as-Sa’di, 894; edisi Indonesia, 6/432.

[8] Tafsir Jalalain, 336; edisi Indonesia, 2/462.

[9] Tafsir Ibnu Katsir, 3/420; edisi Indonesia, 6/380.

[10] Tafsir as-Sa’di, 755; edisi Indonesia; 5/548.

[11] Lihat, Tafsir Jalalain, 336; edisi Indonesia, 2/462; dan Tafsir Ibnu Katsir, 3/420; edisi Indonesia, 6/380.

[12] Tafsir as-Sa’di, 755; edisi Indonesia, 5/548.

[13] Sebagaimana yang kita saksikan banjir bandang yang terjadi di Sumatra Utara tahun 2025 ini, di mana banjir banyak membawa kayu gelondongan besar-besar yang tampak digergaji oleh manusia. Maka ini adalah bukti nyata dan peringatan keras bagi umat manusia bahwa keserakahan segelintir manusia yang bermodal dan berkuasa itu ternyata mengakibatkan malapetaka yang begitu hebat yang kerugiannya dirasakan oleh rakyat banyak untuk hari ini dan generasi yang akan datang..

[14] Tafsir Jalalain, 336; edisi Indonesia, 2/462.

[15] Tafsir as-Sa’di, 362, edisi Indonesia, 3/203.

[16] Tafsir Jalalain, 151; edisi Indonesia, 1/680.

[17] Tafsir Ibnu Katsir, 2/286; edisi Indonesia, 4/28.

[18] Nasihat dan Pelajaran dari Indonesia Menangis, 172.

Previous Post

AKIBAT MENINGGALKAN AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR

Next Post

FADHILAH MENOLONG ORANG YANG KESUSAHAN (TERTIMPA MUSIBAH)

M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.

M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.

Related Posts

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM
Agama

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

January 9, 2026
BERMUHASABAH (INTROSPEKSI DIRI)
Agama

BERMUHASABAH (INTROSPEKSI DIRI)

January 2, 2026
SABAR MENERIMA MUSIBAH
Agama

SABAR MENERIMA MUSIBAH

December 17, 2025
Next Post
FADHILAH MENOLONG ORANG YANG KESUSAHAN (TERTIMPA MUSIBAH)

FADHILAH MENOLONG ORANG YANG KESUSAHAN (TERTIMPA MUSIBAH)

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
PENGHAPUSAN TUJUH KATA PIAGAM JAKARTA

PENGHAPUSAN TUJUH KATA PIAGAM JAKARTA

July 29, 2024
PIAGAM JAKARTA DAN PANCASILA (Bag. 1)

PIAGAM JAKARTA DAN PANCASILA (Bag. 1)

July 21, 2024
KERUKUNAN (TOLERANSI) ANTAR UMAT BERAGAMA

KERUKUNAN (TOLERANSI) ANTAR UMAT BERAGAMA

December 3, 2023
GURU BESAR UGM: JOKOWI KELUAR DARI JALUR DEMOKRASI

GURU BESAR UGM: JOKOWI KELUAR DARI JALUR DEMOKRASI

February 1, 2024
BELAJAR KEPADA SAYYIDAH KHADIJAH Radhiyallahu ‘Anha

BELAJAR KEPADA SAYYIDAH KHADIJAH Radhiyallahu ‘Anha

4
JILBAB PELAJAR, JILBAB PERJUANGAN

JILBAB PELAJAR, JILBAB PERJUANGAN

4
ORANG KAFIR (BARAT) BENCI ISLAM

ORANG KAFIR (BARAT) BENCI ISLAM

4
ORANG KAFIR SALING MENOLONG

ORANG KAFIR SALING MENOLONG

4
ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

April 30, 2026
BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

March 10, 2026
APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

February 9, 2026
ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

January 9, 2026

Recent News

ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

April 30, 2026
BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

March 10, 2026
APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

February 9, 2026
ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

January 9, 2026
SWAHARAH

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Check our landing page for details.

© 2023 Swaharah Indonesia Muhammad Mujib Ansor, S.H, M.Pdi by Ahsan.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Profil
    • PROFIL PENDIRI
    • PROFIL SWAHARAH.ID
  • Agama
    • Kajian
    • Khutbah
    • Makalah
  • Pendidikan
  • Kutipan
  • Nasional
    • Berita
    • Internasional
    • Opini
  • Sejarah
  • Keluarga
  • Tamu

© 2023 Swaharah Indonesia Muhammad Mujib Ansor, S.H, M.Pdi by Ahsan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In