AKIBAT MENINGGALKAN AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR
Oleh: M. Mujib Ansor (Kadiv. Pendidikan YBM/ Pesantren Al-Umm Malang)
Ma’asyiral muslimimin rahimakumullah,
Pada khutbah terdahulu, melalui mimbar ini, sudah kami sampaikan bahwa umat Islam wajib mengamalkan amar makruf nahi mungkar. Dan kewajiban itu adalah kewajiban perseorangan berdasarkan hadits Riwayat Muslim, bahwa setiap muslim wajib mengingkari kemungkaran minimal dengan hati. Kemudian juga kami kemukakan bahwa pelaku amar makruf nahi mungkar akan mendapatkan dua manfaat sekaligus berdasarkan QS. At-Taubah [9]: 71.
وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
“Orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) makruf dan mencegah (berbuat) mungkar, menegakkan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah [9]: 71)
Jadi, ada dua manfaat bagi yang beramar makruf nahi mungkar: pertama, dimasukkan ke dalam barisan kaum mukminin, kedua, mendapat rahmat Allah
Siapa yang tidak butuh Rahmat Allah? Semua orang pasti butuh Rahmat Allah, baik yang masih hidup terlebih lagi yang sudah meninggal. Apa itu Rahmat Allah? Yaitu kasih sayang Allah. Karena itu, mari kita ikut ambil bagian dalam beramar makruf nahi mungkar, agar mendapatkan Rahmat Allah tsb.
Ma’asyiral muslimimin rahimakumullah,

Lalu, bagaimana jika amar amkruf nahi mungkar tidak terlaksana dengan baik di tengah umat? Inilah materi khutbah jumat kali ini.
Berdasarkan surat At-Taubah: 71 tadi, maka orang yang meninggalkan amar makruf nahi mungkar tidak termasuk orang-orang yang beriman (mukmin) yang disifati Allah dalam ayat ini, kemudian dikuatkan oleh firman Allah:
لُعِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْۢ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ عَلٰى لِسَانِ دَاوٗدَ وَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۗذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ كَانُوْا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُّنْكَرٍ فَعَلُوْهُۗ لَبِئْسَ مَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ
“Orang-orang yang kufur dari Bani Israil telah dilaknat (oleh Allah) melalui lisan (ucapan) Daud dan Isa putra Maryam. Hal itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang mereka lakukan. Sungguh, itulah seburuk-buruk apa yang selalu mereka lakukan.” (QS. Al-Maidah [5]: 78-79)
Coba, betapa mengerikannya orang yang tidak melaksanakan amar makruf nahi mungkar: pertama, tidak masuk kategori orang-orang yang beriman, dan kedua, tidak mendapat Rahmat Allah (ini berdasarkan QS. At-Taubah: 71), lalu ketiga, dilaknat oleh Allah (berdasarkan surat Al-Maidah: 78-79).
Hadirin jamaah rahimakumullah,
Karena itulah di bagian pertama khutbah serial amar makruf nahi mungkar ini kami kemukakan firman Allah Surat Ali Imran: 110:
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ
“Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kalian menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran [3]: 110)
Semua ini menunjukkan keutamaan amar makruf nahi mungkar. Karena dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa berkat amar makruf nahi mungkar mereka (umat Islam) menjadi umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Selanjutnya Allah berfirman:
فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖٓ اَنْجَيْنَا الَّذِيْنَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوْۤءِ وَاَخَذْنَا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا بِعَذَابٍۢ بَـِٔيْسٍۢ بِمَا كَانُوْا يَفْسُقُوْنَ
“Maka, setelah mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang mencegah (orang berbuat) keburukan dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim azab yang keras karena mereka selalu berbuat fasik.” (QS. Al-A’raf [7]: 165)
Mari kita perhatikan ayat ini, ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Orang yang mencegah kemungkaran diselamatkan oleh Allah. Sementara yang berbuat zalim akan ditimpakan azab. Na’udzu billah min dzalik.
Selanjutnya mari kita simak sabda Baginda Nabi saw berikut ini:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْ عِنْدِهِ ثُمَّ لَتَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ
“Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh kalian memerintah yang baik dan mencegah yang mungkar, atau Allah akan segera mengirimkan azab kepada kalian dari sisi-Nya, lalu kalian berdoa kepada-Nya namun tidak dikabulkan.” (HR. Turmudzi, ia berkata: hadits hasan, dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani)
Hadirin rahimakumullah,
Di hadits ini Kanjeng Nabi saw memberi pilihan: kalian melakukan amar makruf nahi mungkar ataukah diazab? Artinya, ketika meninggalkan amar makruf nahi mungkar, maka konsekuensinya siap diazab. Ditambah lagi, jika berdoa, doanya tidak dikabulkan oleh Allah. Na’udzu billah tsumma na’udzu billah.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ada satu lagi hadits yang patut menjadi perhatian bersama. Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq ra meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda:
مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيْهِمْ بِالْمَعَاصِي هُمْ أَعَزُّ مِنْهُمْ وَأَكْثَرُ مِمَّنْ يَعْمَلُهُ لَمْ يُغَيِّرُوهُ اِلَّا عَمَّهُمُ اللهُ تَعَالَى بِعِقَابٍ
“Apabila di Tengah-tengah suatu kaum dilaksanakan maksiat, sementara mereka (orang yang tidak melakukan maksiat) lebih kuat dan lebih banyak daripada orang yang melakukan maksiat, tetapi mereka tidak mencegahnya, maka Allah akan menimpakan azab kepada mereka secara merata.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad; dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani)
Hadits ini redaksinya jelas … jika di suatu masyarakat terdapat maksiat, kemudian umat tidak melaksanakan amar makruf nahi mungkar, padahal mereka kuat dan mampu, maka Allah akan menimpakan azab secara merata.
Hadits ini senada dengan hadits riwayat Ummu Salamah ra. ia berkata: aku mendengar Rasulullah r bersabda:
إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِى فِى اُمَّتِى عَمَّهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ …
“Apabila maksiat sudah merajalela di kalangan umatku, Allah akan menurunkan siksa dari sisi-Nya kepada mereka secara merata…” (HR. Ahmad, dll. Hadits Shahih)
Maksiat merajalela itu artinya kemaksiatan telah dilakukan secara terang-terangan, sementara amar makruf nahi mungkar tidak berjalan dengan baik, maka dalam kondisi demikian, Allah akan menurunkan azab (siksa)- Nya secara merata, tidak pandang bulu. Kita berlindung kepada Allah dari hal yang demikian.
Karena itulah, ma’asyiral muslimin rahimakumullah, agar hal itu tidak terjadi di tengah-tengah kita, maka mari tegakkan amar makruf nahi mungkar, minimal dengan hati (meningkari/ tidak ridha), dan jika tidak mampu berbuat secara langsung marilah ikut mendukung orang-orang yang bisa melaksanakan amar makruf nahi mungkar, bukan malah memusuhi mereka.
Meskipun demikian, dalam melaksanakan amar amkruf nahi mungkar kita tetap membutuhkan ilmu (mempertimbangkan mana yang baik dan buruk, mana yang ia mampu dan tidak), kemudian melakukannya dengan lemah lembut, dan dengan kesabaran; serta jangan sampai melampaui batas syariat-Nya.
Demikianlah serial khutbah amar makruf nahi mungkar, semoga Allah memasukkan kita ke dalam barisannya orang-orang yang bisa menegakkan amar makruf nahi mungkar dan selalu mendapat Ridha-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin. []
Mojokerto, 27/12/2024
Sumber Rujukan
Ahmad Farid, Dr. Tazkiyatun Nufus: Konsep Penyucian Jiwa dalam Islam, terj. Muhammad Suhadi, Lc., Jakarta: Ummul Qura, 2016/ 1437 H, cet, ke-3.

















