SIKAP KITA TERHADAP KONFLIK PALESTINA – ISRAEL
Oleh: M. Mujib Ansor
Ma’asyiralmuslimin rahimakumullah,
Sekarang ada istilah “zionis nusantara” atau “Yahudi Nusantara”. Istilah ini ditujukan bagi orang Indonesia yang mulai terang-terangan membela Israel dan memusuhi atau menyalahkan atau paling tidak ambil sikap “tidak peduli” terhadap rakyat Palestina yang menjadi korban kebiadaban Zionis Israel.
Ada mantan pejabat tinggi Negara –mantan pejabat BIN, Hendro Priyono- yang mengatakan: konflik Palestina – Israel itu bukan urusan kita. Itu urusan orang Arab dan Yahudi. Karena permasalahan di dalam negeri masih amat banyak…”
Pernyataan ini lalu disokong oleh koleganya –mantan BAIS TNI, Sulaiman Ponto, juga Ferdinand Hutahean (mantan politisi Demokrat), dan Monic Reikers (mantan wartawan 18 tahun, buat yayasan non-provit untuk mengedukasi orang Indonesia tentang Israel.
Nah, bagaimana sebenarnya sikap kita bangsa Indonesia secara umum dan umat Islam secara khusus?
Pertama, amanah konstitusi, Pembukaan UUD 1945 alinea 1 berbunyi: bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan perikeadilan.
Alenia keempat: kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social…dst.
Nah, berdasarkan amanah Konstitusi kita tsb, maka sudah benar jika sikap Bangsa Indonesia dari dulu selalu membela rakyat Palestina. Presiden RI pun mulai presiden pertama, Bapak Ir. Soekarno sampai presiden terakhir sekarang ini, Bapak Joko Widodo, semua tetap konsisten untuk membela perjuangan rakyat Palestina.
Jadi pemerintah Indonesia secara resmi mendukung dan membela rakyat Palestina. Maka ketika rakyat memberi dukungan solidaritas melalui demo, penggalangan dana, dan doa dll adalah juga merupakan sikap yang tepat dan benar sesuai amanah Konstitusi. Dan pemahaman bangsa Indonesia terhadap sejarah konflik Palestina-Israel sudah benar, tidak seperti yang disampaikan Monic Reikers tadi yang mau mengedukasi Indonesia soal Israel, katanya.
Untuk bisa membela rakyat Palestina yang tertindas oleh kebiadaban zionis Israel, tidak perlu menjadi muslim. Atas nama kemanusiaan saja sudah cukup memanggil simpati dan empati itu. Karena bagaimana tidak terpanggil, perempuan dan anak-anak banyak yang ditembak tentara zionis. Maka tidak heran jika penduduk seluruh dunia ikut memberikan dukungan kepada rakyat Palestina ini, termasuk rakyat Amerika.
Maka kalau tiba-tiba ada orang Indonesia ambil sikap sebaliknya, menyalahkan Hamas, rakyat Palestina… maka ini luar biasa.
Dalam sejarah pun kita ketahui bagaimana tokoh-tokoh Palestina dulu menyokong perjuangan rakyat Indonesia untuk merdeka, termasuk dengan harta mereka. Kemudian setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, rakyat Palestina memberikan dukungan atas kemerdekaan tersebut, dan menggalang Negara-negara di Timur Tengah untuk jua ikut mengakui kemerdekaan RI tersebut.
Maka hubungan batin, hubungan emosional antara rakyat Indonesia dengan Palestina itu sudah terjalin dari dulu.
Kedua, sebagai muslim agama kita mengajarkan sesama muslim itu bersaudara.
Allah I berfirman:
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ١٠
“Orang-orang beriman itu sungguh bersaudara, karena itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat (49): 10)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Maksudnya, seluruh kaum muslimin merupakan satu saudara karena agama.”[1] Sebagaimana sabda Baginda Nabi saw:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak boleh menzalimi dan membiarkannya (dizalimi).” (HR. Bukhari (14/336 hadits no. 6800), dan Muslim (16/115 no. 6530))
Imam al-Ghazali rahimahullah mangatakan bahwa saling mencintai karena Allah I dan menganggap seseorang sebagai saudara karena agamanya adalah sebaik-baik hubungan persaudaraan. Sikap seperti ini adalah hasil dari akhlak yang baik dan keduanya adalah sikap terpuji.[2]
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Jadi, ukhuwah islamiyah yang beasaskan persaudaraan karena agama ini sungguh luar biasa dahsyatnya, karena dari sinilah kekuatan umat Islam akan terwujud. Sementara persaudaraan sesama muslim itu tidak dibatasi oleh tempat dan jarak; dekat atau jauh, di dalam negeri atau di luar negeri, sama saja, asal dia muslim di manapun berada maka ia saudara kita. Kanjeng Nabi Muhammad saw bersabda:
لا يُؤْمِنُ أَحدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sehingga ia mencintai untuk saudaranya seperti ia mencintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)[3]
Mengomentari hadits ini, Dr. Musthafa Dieb al-Bugha menjelaskan dalam Al-Wafi, Syarah Kitab Arba’in an-Nawawiyah, bahwa keimanan tidak dianggap kokoh dan mengakar dalam hati seorang muslim, kecuali ia menjadi manusia yang baik, manusia yang jauh dari egoisme dan rasa dendam, kebencian, dan kedengkian. Ia menghendaki kebaikan dan kebahagiaan terhadap orang lain, sebagaimana ia menginginkan kebaikan dan kebahagiaan untuk dirinya sendiri… dan membenci keburukan untuk saudaranya sebagaimana ia membenci untuk dirinya sendiri. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa suatu ketika Mu’adz bin Jabal ra bertanya kepada Rasulullah saw perihal iman yang paling afdhal. Maka Rasulullah saw bersabda: “Agar seseorang mencintai susuatu (kebaikan) untuk saudaranya, sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri, dan membenci sesuatu (keburukan) untuk mereka sebagaimana ia membenci untuk dirinya sendiri.” (HR. Ahmad)[4]
Senada dengan hal ini ialah apa yang disampaikan oleh Ibnu Shalah rahimahullah sebagaimana dikutip oleh Ibnu Daqiqil ‘Ied dalam Syarah Hadits Arbai’in Nawawi, “…karena makna hadits ini adalah tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga dia mencintai bagi keislaman saudaranya sebagaimana dia mencintai bagi dirinya. Menegakkan urusan ini dapat direalisasikan dengan cara menyukai jika saudaranya mendapatkan apa yang ia dapatkan…”[5]
Ma’asyiral hadirin rahimakumullah,
Dalam hadits yang lain Nabi saw bersabda memberikan gambaran yang lebih kongkret lagi tentang persaudaraan sesama mukmin itu:
«مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ. إِذَا اشْتَكَىٰ مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَىٰ لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّىٰ».
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta dan kasih sayang mereka adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota badan akan merasa demam dan susah tidur.” (HR. Muslim (6538), dan Ahmad (18030))
Luar biasa…! Kanjeng Nabi saw menggambarkan persaudaraan sesama muslim itu seperti satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh ada yang sakit, maka anggota tubuh yang lain akan merasakan hal yang sama. Inilah yang kita rasakan setiap kali ada penderitaan yang dialami oleh saudara muslim di manapun berada di belahan bumi ini.
Inilah yang kita rasakan saat-saat ini, penderitaan saudara-saudara kita di Palestina sungguh menyayat-nyayat hati kita. Bagaimana tidak?! Di bulan Ramadhan yang penuh berkah dan penuh kedamaian, saudara-saudara kita di Palestina yang sedang shalat di Masjid al-Aqsha ditembali dan dipukul tentara Yahudi Israel tanpa peri kemanusiaan. Di Hari Raya Idul Fitri tahun 2021 ini yang penuh suka cita dan kebahagiaan, saudara kita di Palestina di hancurkan dan diporak-pondakan oleh Zionis Israel dengan kejam dan sadis.
Semoga Allah swt selalu menjaga, melindungi dan menolong saudara-saudara kita di Palestina khususnya dan seluruh kaum muslimin di mana pun berada dari kezaliman dan kebiadaban kaum kafir yang memusuhi kaum muslimin. Amin ya Rabbal ‘alamin. [*]
Mojokerto, 28/05/2021
[1] Tafsir Ibnu Katsir, 4/213.
[2] Ringkasan Ihya’ ‘Ulumuddin, 215.
[3] Dimuat dalam kitab Arba’in Nawawiyah, hadits no. 13.
[4] Al-Wafi…, 92-93.
[5] Syarah Hadits Arba’in, 80.

















