PUASA DAN TAUHID
Oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.
Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jum’at Rahimakumullah,
Alhamdulillah, kita memuji dan bersyukur kepada Allah, karena masih diberi kesempatan lagi memasuki bulan Ramadhan tahun 1445 H (2024), bulan yang penuh rahmat, berkah, serta ampunan.
Karena itu, kita perlu meraih rahmat, berkah, serta ampunan itu dengan melakukan berbagai amal ibadah yang sudah disyariatkan Allah subhanahu wa ta’ala (untuk selanjutnya, penulisannya disingkat menjadi swt, membacanya tetap subhanahu wa ta’ala), seperti: puasa, shalat lail (Tarawih, Witir, Tahajjud), tadarrus al-Qur’an, sedekah, dzikir, istighfar, doa, I’tikaf dll. Karena dengan ketaatan itulah kita berharap bisa meraih rahmat, berkah, serta ampunan Allah swt.
Kita memohon kepada Allah swt agar diberikan taufik dan hidayah-Nya, serta kekuatan agar bisa melaksanakan paket ibadah itu dengan baik dan benar sesuai tuntunan syariat. Amin ya Robbal ‘alamin.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Allah swt telah mewajibkan ibadah puasa Ramadhan kepada umat Islam dengan firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah (2): 183)
Perintah puasa dimulai dengan panggilan kehormatan kepada mereka yang masih mampu mempertahankan keimanannya, yaitu dengan panggilan “ya ayyuhalladzina amanu” (wahai orang-orang yang beriman). Panggilan akrab ini sebagai isyarat bahwa hanya mereka yang benar-benar beriman yang mampu melaksanakan puasa yang bisa mencapai target takwa.

Dari sinilah dapat dipahami, bahwa puasa Ramadhan ternyata sangat berkaitan erat dengan tauhid. Bahwa hanya orang beriman, yang di hatinya ada keimanan, yang mentauhidkan Allah, ialah yang bisa memenuhi panggilan Allah tersebut. Di mana tauhid adalah landasan utama agama ini dan sendi yang paling utama. Sedangkan syahadat adalah inti dari tauhid, inti dari pemurnian ibadah hanya kepada Allah swt.
Nah, lawan dari tauhid adalah syirik. Sementara syirik ada bermacam-macam bentuknya, sedangkan macam syirik yang paling samar adalah riya’, yang kesamarannya telah disifati oleh Baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (untuk selanjutnya disingkat saw) dalam sabdanya:
فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ
“Sesungguhnya riya’ lebih samar daripada rambatan semut.” (HR. Ahmad (19235))
Rasulullah saw takut umatnya tertimpa bahaya riya’, seraya bersabda:
«إنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّركُ الْأَصْغَرُ، قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ الله؟ قَالَ: اَلرِّيَاءُ،
“Sesungguhnya perkara yang paling aku takutkan terhadap kalian adalah syirik kecil. Maka para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, (yaitu) “riya’.” (HR. Ahmad (23246), dan al-Hakim)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Keistimewaan puasa yang paling istimewa adalah melatih keikhlasan dan terbiasa muroqobah (merasa diawasi Allah). Puasa mampu menjauhkan seorang hamba dari riya’, dan menjauhkannya dari sikap tidak tahu malu.
Kewajiban puasa adalah termasuk ibadah paling agung, yang di dalamnya seorang hamba merealisasikan keikhlasan, serta menghidupkan tauhid dengan muroqobah. Di dalam puasa, seseorang tidak mengharap apa-apa kecuali wajah Allah (ridha Allah/pahala dari Allah). Dalilnya adalah hadits qudsi yang sudah terkenal:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ اَدَمَ لَهُ, اِلَّا الصِّيَامَ, فَاِنَّهُ لِيْ وَاَنَا أَجْزِي بِهِ
“Setiap amal (perbuatan) anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ada perkataan ulama yang berharga tentang alasan pengkhususan puasa dan pahalanya seperti yang disebutkan dalam hadits qudsi tersebut di atas, yaitu antara lain:
“Bahwa puasa tidak akan tampak pada diri anak Adam, karena puasa adalah sesuatu yang ada di dalam hati. Sementara amal ibadah tidak akan ada kecuali dengan gerakan-gerakan yang nampak, kecuali ibadah puasa. Puasa dilakukan dengan niat yang tersembunyi dari manusia.”
Atau ulama yang lain mengatakan: “Seluruh ibadah tampak jelas dengan melakukannya, dan apa yang tampak oleh manusia, sedikit sekali yang selamat dari keburukan (riya’, ujub, sum’ah, dll), berbeda dengan puasa.”
Demikianlah ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Bahwa puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Allah swt. Dia melakukannya dengan ikhlas, mengharap pahala dan ridha dari Allah swt.
Puasa inilah yang bisa kita realisasikan dengan ikhlas karena Allah dan jauh dari riya’. Maka jika ditambah lagi lebih dari itu, yaitu muraqabah (perasaan senantiasa diawasi oleh Allah) serta hadirnya keagungan Allah, maka menjadi jelaslah bagi kita betapa agung dampak puasa terhadap tauhid.
Menurut Imam Ibnul Qayyim rh, muraqabah adalah pengetahuan hamba secara terus-menerus dan keyakinannya bahwa Allah mengetahui zhahir dan batinnya. Muraqabah ini merupakan hasil pengetahuannya bahwa Allah mengawasinya, melihatnya, mendengar perkataannya, mengetahui amalnya di setiap waktu dan di mana pun, mengetahui setiap hembusan nafas dan tak sedetik pun lolos dari perhatiannya.
Betapa agung isyarat al-Qur’an yang Allah menyebutkan ringkasan pengaruh puasa, serta puncak tujuan dan hikmah puasa, yaitu:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“Agar kamu bertakwa.”
Sementara makna takwa yang paling agung adalah muroqobah terhadap Allah swt yang memenuhi jiwa dan hati.
Oleh karena itu, Atabik Luthfi sampai mengatakan, “Jika puasa tidak bisa mengantarkan seseorang kepada derajat takwa, puasa itu masih sebatas memenuhi hajah basyariyah seperti yang dilakukan oleh mereka yang berpuasa karena tuntutan kesehatan atau sebagainya. Inilah rahasia Allah swt mengawali pembahasan puasa dengan seruan yang ditujukan khusus (takhshish) kepada orang-orang yang beriman.”
Hadirin jamaah rahimakumullah,
Puasa mempersiapkan orang yang berpuasa untuk bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan nafsu syahwat yang menguasai manusia. Sekiranya bukan karena takut kepada Allah, dan bukan karena muroqobahnya terhadap Allah, tentulah kita tidak akan meninggalkan nafsu syahwat itu, sekalipun meninggalkannya adalah dengan pengorbanan yang paling mahal. Akan tetapi ketakwaan kepada Allah menjadikannya menjaga amanah Allah pada keadaan tersembunyi dari manusia.
Maka sungguh agung faedah puasa dalam merealisasikan permata iman, serta mendapatkan hakekat tauhid. Betapa besar pengaruh yang ditimbulkan oleh puasa, diantaranya adalah khauf (takut) dan raja’ (pengharapannya). Dia merasa memiliki Tuhan yang senantiasa mengawasinya. Dia telah mengharamkan dirinya untuk meraih syahwat dalam keadaan sendirian. Maka dia taat kepada Allah, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, karena takut hukuman-Nya, dan berharap pahala-Nya.
Maka Allah memuji dan memuliakan orang-orang yang berpuasa ini dengan sebuah pintu khusus dalam surga yang disebut “ar-Rayyan”, sebagaimana disebutkan dalam hadits Sahl bin Sa’d bahwa Rasulullah saw bersabda:
إنَّ في الجنَّةِ بَاباً يُقالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ
“Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pintu yang disebut Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk darinya pada hari kiamat, yang tidak akan masuk darinya seorang pun selain mereka.” (HR. Bukhari – Muslim)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Maka renungkanlah pengkhususan dan pengumuman ini. Di dalamnya tampak bahwa orang-orang yang ahli puasa akan dikenali oleh para saksi (makhluk). Itu adalah sebuah balasan dari jenis amalan mereka. Bukankah dulu ia ikhlas karena Allah? Maka sesungguhnya tatkala dulu puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Allah, maka Allah menampakkannya di akherat secara terang-terangan kepada seluruh makhluk, agar ahli puasa terkenal, sebagai balasan atas rahasia puasa mereka di dunia.
Semoga Allah berkenan menerima ibadah puasa kita, dan mengampuni kekurangannya, serta mengampuni semua dosa kita. Amin ya Rabbal ‘alamin. [*]

Khutbah kedua
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Dari khutbah pertama tadi nampak jelas, betapa besar pengkhususan dan pemuliaan Allah terhadap orang-orang yang berpuasa Ramadhan karena Allah. Tetapi hari ini kita saksikan anak-anak kita, generasi muda kita banyak yang tidak puasa secara terang-terangan. Mereka dengan santainya merokok, makan dan minum di hadapan orang banyak, tanpa rasa sungkan dan malu
Tentu ini adalah kewajiban kita, terutama para orang tua untuk menasihatinya agar takut kepada Allah, menghormati bulan Ramadhan, dan orang-orang yang berpuasa, untuk tidak makan dan minum secara terang-terangan. Karena ini terkandung makna menentang hukum dan siksa Allah yang amat pedih.
Semoga Allah swt memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita dan keluarga kita, sehingga kita bisa melaksanakan puasa dengan baik dan benar, serta diridhai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Amin ya Rabbal ‘alamin. [*]
Sumber Rujukan:
Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim al-Jarullah, Risalah Ramadhan, terj. Muhammad Yusuf harun dkk, Jakarta: Yayasan al-Sofwa, 1997.
Dr. Musthafa al-Bugha, Al-Wafi fi Syarhi al-Arba’in an-Nawawiyah, Bairut: Darul-‘Ilmi wan-Nur, tt.
Muhammad Shalih al-Munajjid, Risalah Puasa, Jakarta: Al-Haramain Islamic Foundation Perwakilan Indonesia, bekerjasama dengan Yayasan al-Sofwa, 2001.
Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni, Tafsir-Ayat-Ayat Ahkam, terj. Ahmad Dzulfikar, M.A. dkk., Depok: Keira Publishing, 2016.
Dr. Atabik Luthfi, M.A., Tafsir Tazkiyah: Tadabur Ayat-Ayat untuk Pencerahan dan Penyucian Hati, Jakarta: Gema Insani, 2009.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Madarijus Salikin (Pendakian Menuju Allah), terj. Kathur Suhardi, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2003.

















