Sunday, May 17, 2026
  • Login
SWAHARAH
  • Beranda
  • Profil
    • PROFIL PENDIRI
    • PROFIL SWAHARAH.ID
  • Agama
    • Kajian
    • Khutbah
    • Makalah
  • Pendidikan
  • Kutipan
  • Nasional
    • Berita
    • Internasional
    • Opini
  • Sejarah
  • Keluarga
  • Tamu
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Profil
    • PROFIL PENDIRI
    • PROFIL SWAHARAH.ID
  • Agama
    • Kajian
    • Khutbah
    • Makalah
  • Pendidikan
  • Kutipan
  • Nasional
    • Berita
    • Internasional
    • Opini
  • Sejarah
  • Keluarga
  • Tamu
No Result
View All Result
SWAHARAH
No Result
View All Result
Home Agama

MERAIH LAILATUL QADAR

M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I. by M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.
April 1, 2024
in Agama, Khutbah
A A
0
MERAIH LAILATUL QADAR

sumber: wahdah.or.id

0
SHARES
40
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

@MERAIH LAILATUL QADAR

Oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.

Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jum’at rahimakumullah

Marilah kita tingkatkan iman dan takwa kepada Allah I, dengan jalan meningkatkan amal ibadah kita –terutama- di bulan suci Ramadhan ini, wabil khusus lagi di sepuluh hari terakhir, karena begitulah yang dilakukan oleh panutan kita, Baginda Nabi r beserta para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum.

Diriwayatkan dari Aisyah s ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

 “Adalah Rasulullah r apabila memasuki sepuluh Ramadhan (yang terakhir), beliau mengikat kain sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari Muslim)

  • Mengikat kain sarungnya: ini bentuk kiasan tentang kesungguhan beliau dalam beribadah dan kesibukan beliau dengan mengesampingkan untuk bersenang-senang dengan istri-istrinya.[1]
  • Menghidupkan malamnya, artinya beliau tidak tidur di sebagian besar waktu malamnya, untuk melakukan kegiatan ibadah, baik berupa shalat maupun berdzikir.[2]
  • Hal itu dilakukan karena beliau berharap mendapatkan malam “Lailatul Qadar”, yaitu sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
  • Begitulah yang dilakukan Baginda Rasul r, diikuti para sahabat, diteruskan para tabi’in dan para salafus shalih hingga akhir zaman.
sumber: lampung.nu.or.id

Hadirin jamaah rahimakumullah,

Mengapa Disebut “Lailatul Qadar”?

Para ulama rahimahumullah berselisih pendapat mengenai hal ini:

Pertama, disebut al-qadar atau takdir, karena pada malam lailatul Qadar ini Allah menetapkan (at-taqdir) semua rizki, ajal kematian, dan semua peristiwa untuk setahun ke depan, dan para malaikat mencatat semua hal itu.

Kedua, disebut Qadar yang bermakna “syarafu wal ‘azhamah” (kemuliaan dan keagungan), yaitu malam yang penuh kemuliaan dan keagungan, dengan diturunkannya al-Qur’an, barokah (keberkahan), rahmat, dan maghfirah, juga turunnya para malaikat.

Ketiga, bahwa orang yang menghidupkan malam ini akan mendapat al-qadar (kemuliaan) yang besar yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Malam ini akan menambah kemuliaannya di sisi Allah I.[3]

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Fadhilah (Keutamaan) Lailatul Qadar

Di antara fadhilah (keutamaan) lailatul qadar antara lain:

Pertama, Allah memilih malam itu untuk turunnya al-Qur’an. Ibnu Abbas t dan yang lainnya mengatakan, “Allah menurunkan al-Qur’an secara keseluruhan (30 juz) sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia, selanjutnya diturunkan secara bertahap kepada Rasulullah r sesuai dengan konteks realitasnya dalam kurun waktu dua puluh tiga tahun.”[4] Sedangkan pendapat lain mengatakan, bahwa maksud ayat di atas (QS. al-Qadar: 1) adalah permulaan turunnya al-Qur’an.[5] Wallahu a’lam.

Kedua, Sebagai “Lailatul Mubarakah” (malam yang penuh berkah). Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Allah mensifati malam ini dengan keberkahan, karena Dia menurunkan kepada hamba-hamba-Nya berbagai berkah, kebaikan, dan pahala pada malam yang mulia ini.”[6] Malam ini juga bernilai lebih baik dari seribu bulan. Allah berfirman:

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al–Quran) pada Lailatul Qadar (malam kemuliaan), dan tahukah kamu Apakah Lailatul qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr (97): 1-3)

Maksud malam itu lebih baik dari seribu bulan ialah keutamaannya menyamai seribu bulan.[7] Artinya, beramal shalih pada malam itu pahalanya jauh lebih besar dan lebih baik daripada beramal shalih yang dilakukan selama seribu bulan yang tidak mengandung Lailatul Qadar (di dalamnya).[8] Itu karena kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Oleh karena itu, sebaliknya, orang yang menodai kemuliaan malam itu dengan berbuat maksiat, maka maksiatnya juga akan bernilai seperti melakukan maksiat selama seribu bulan.

  • Ini menunjukkan bahwa urusan “fadhilah” atau “pahala” itu urusan Allah/wahyu, bukan hasil percobaan atau eksperimen atau mujarobat
  • Jadi, itu masalah ghaib. Secerdas apapun manusia, dalam masalah ini, masalah ghaib, maka kondisi kita adalah:

وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ࣖ

“Allah Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah (2): 216)

  • Kita tidak tahu bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum daripada minyak kasturi kalau Nabi r tidak menyebutkan hal itu.
  • Kita tidak tahu kalau “al-Fatihah” itu induk atau inti al-Qur’an kalau Nabi r tidak menyebutkan hal itu.
  • Kita tidak bisa menetapkan bahwa rajanya ayat itu adalah Ayat Kursi kalau tidak dikabarkan oleh Rasulullah r.
  • Kita tidak tahu kalau Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha itu lebih mulia dan utama dibanding masjid-masjid lainnya kalau Nabi r tidak menyebutkan hal itu. Begitu seterusnya.
sumber: suara.com

Ketiga, Turunnya para malaikat, untuk mengatur segala urusan dan untuk memberi salam pada umat Islam.[9] Orang yang mendapatkan salam dari malaikat (karena berada dalam ketaatan) akan mendapatkan ampunan. Allah berfirman:

تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ࣖ

“Pada malam itu turun para malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr (97): 4-5)

Yaitu turunnya para malaikat pada malam ini karena banyaknya berkah yang terdapat padanya. Para malaikat itu selalu turun bersamaan dengan turunnya berkah, sebagaimana mereka senang untuk turun saat al-Qur’an dibaca. Selain itu para malaikat ini akan mengelilingi halaqah-halaqah dzikir (majelis ilmu) dan meletakkan sayap mereka bagi pencari ilmu dengan penuh kejujuran, sebagai bentuk penghormatan terhadapnya.[10]

Keempat, Pada waktu itu semua urusan diputuskan, berbagai ajal dan rezeki juga ditetapkan,[11] sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala:

 فِيهَا يُفۡرَقُ كُلُّ أَمۡرٍ حَكِيمٍ ٤

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. ad-Dukhan (44): 4)

Sekali lagi, Takdir ini ditulis khusus untuk satu tahun kedepan, menyalin dari takdir umum di Lauh Mahfuzh.

Ma’asyiral muslimin, jamaah rahimakumullah,

Kapankah Ada (Turun) Lailatul Qadar?

Mengenai hal ini ada beberapa pendapat:

  1. Ada pada setiap malam, dan di setiap bulan. (Pendapat ini lemah, tidak didukung oleh dalil).
  2. Ada pada malam Nisfu Sya’ban. (Ini juga tidak benar, bertentangan dengan al-Qur’an, Sunnah, dan atsar dll.) Pendapat ini disalahkan oleh Imam Nawawi rahimahullah.
  3. Yang benar, jumhur ulama bersepakat bahwa Lailatul Qadar hanya ada pada bulan Ramadhan,[12] terutama pada malam-malam di sepuluh hari terakhir, dan lebih diharapkan lagi pada malam-malam ganjil, meskipun tidak menutup kemungkinan juga ada di malam-malam genap.[13]
sumber: strategi.id

Hadirin, jamaah rahimakumullah,

Tanda-Tanda Alam Adanya Lailatul Qadar

Para ulama juga menyebutkan tanda-tanda alam tentang turunnya Lailatul Qadar, yaitu antara lain:

  1. Cuaca cerah (seperti ada sinar rembulan), tidak panas, dan tidak dingin. Air laut malam itu tawar, anjing tidak menggonggong (tenang dan hening).[14]
  2. Di pagi harinya sinar matahari putih cerah agak redup (tidak menyilaukan mata).[15]

Maka bagi yang melihat tanda-tanda ini pada pagi hari, hendaknya meningkatkan ibadah kepada Allah dan berdoa, sebagaimana pada malam harinya, karena insyaAllah ia akan mendapatkan keutamaannya.[16]

Fadhilah Menghidupkan Lailatul Qadar

Di antara keutamaan menghidupkan Lailatul Qadar ialah dimpuninya dosa-dosa. Rasulullah r bersabda:

مَن قامَ ليلةَ القَدْرِ إِيماناً واحْتِساباً غُفِرَ لهُ ما تَقَّدمَ مِن ذَنْبهِ،

“Barangsiapa menghidupkan malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari Muslim)

Amalan-Amalan Apa Saja Untuk Menghidupkan Lailatul Qadr?[17]

  1. Memperbanyak shalat, seperti shalat terawih, witir, dan tahajjud (qiyamul lail), serta memperbagusinya: dengan thuma’ninah, atau mentartilkan bacaan dsb.
  2. Memperbanyak doa:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, suka memaafkan, maka maafkanlah aku.” (HR. Ahmad)[18] 

  1. Membaca al-Qur’an.
  2. I’tikaf, yaitu menetap di masjid dan berdiam di dalamnya dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.[19] Atau mengekang diri di dalam masjid dan menetap di dalamnya untuk melaksanakan shalat, membaca al-Qur’an, dan berdzikir kepada Allah.[20]
  3. dan lain-lain.
sumber: dompetdhuafa.org

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Bagaimanakah Supaya Mendapatkan Lailatul Qadr?

Supaya kita bisa termasuk orang yang mendapat Lailatul Qadar, maka harus melakukan hal-hal berikut:

  1. Ikut shalat isya’ berjamaah
  2. Ikut shalat subuh berjamaah.

Hal ini berdasarkan riwayat dari Utsman bin Affan t bahwa Nabi r bersabda:

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ لَيْلَةٍ. وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

“Barangsiapa shalat isya’ berjamaah maka ia seperti melakukan shalat separuh malam. Dan barangsiapa shalat subuh berjamaah maka ia seperti shalat semalam suntuk.” (HR. Muslim)

Artinya, kalau kita sudah melaksanakan shalat isya’ dan subuh berjamaah pada malam Lailatul Qadar maka kita sudah mendapatkan bagian dari Lailatul Qadar dengan batas minimal, insyaAllah.

Sebagai peringatan, bahwa bermalas-malasan mengerjakan shalat sampai mengakhirkan waktunya, maka ini sifat orang munafik, sebagaimana firman Allah:

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia, dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa’ (4): 142)

Termasuk sifat orang munafik adalah malas atau berat shalat isya dan subuh (apalagi berjamaah), sebagaimana sabda Rasulullah r:

إنَّ هاتَيْنِ الصَّلاتَيْنِ مِنْ أثْقَلِ الصَّلَوَاتِ على الْمُنافِقِيْنَ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ ما فِيْهِما لأَتَوْهُما وَلوْ حَبْوَا،

“Sesungguhnya shalat yang paling berat dilakukan oleh orang munafik [ialah shalat isya’ dan shalat subuh]. Seandainya mereka tahu pahala kedua shalat tersebut maka pastilah mereka akan menunaikannya sekalipun dengan merangkak.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan al-Baihaqi)

Semoga Allah I memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada kita sehingga kita dimudahkan untuk bisa mengisi malam Lailatul Qadar, malam yang penuh berkah dan kemuliaan itu dengan berbagai amal shalih. Amin ya Rabbal ‘alamin. [*]

Mojokerto, 23/4/2017

sumber: pwmu.co

Sumber Rujukan:

  1. Abdul Qadir Syaibah al-Hamd, Fiqhul Islam, Syarah Bulughul Maram 3, terj. Izzudin Karimi, Lc. dkk., Jakarta: Darul Haq, 2006.
  2. Nashir bin Abdirrahman bin Muhammad al-Juda’i, Amalan dan Waktu yang Diberkahi, terj. Team Darut Turats, Bogor: Pustaka Ibnu Katsir, 2004.
  3. Syaikh Ali Ahmad Al-Jurjawi, Indahnya Syariat Islam, terj. Nabhani Idris, Lc., Jakarta: Al-Kautsar, 2013.
  4. Al-Hafizh Imaduddin Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’anul Azhim, Juz IV, Bairut: Darul Jiil, tt.
  5. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Aal asy-Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 8, terj. Abdul Ghaffar, Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’i, 2001.
  6. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Taisirul Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, Riyadh: Darus Salam Lin-nasyr wat-Tauzi’, 1422 H/2002.
  7. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Tafsir Al-Qur’an, jilid 7, terj. Muhammad Iqbal, Lc. dkk., Jakarta: Pustaka Sahifa, 2012.
  8. Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi, Tafsir al-Jalalain, Indonesia: Maktabatu Daru Ihya’i al-Kutub al-Arabiyah Indonesia, tt.
  9. Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuti, Tafsir Jalalain, Jilid 2, terj. Bahrun Abubakar, Lc., Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013.
  10. Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim al-Jarullah, Risalah Ramadhan, terj. Muhammad Yusuf Harun dkk., Jakarta: Yayasan Al-Sofwa, 1418 H/1997.
  11. Syaikh Abdullah ash-Shalih, Kiat-Kiat Menghidupkan Bulan Ramadhan, terj. Abu Ihsan al-Maidani al-Atsari, Jakarta: Yayasan Al-Sofwa, 1434 H/ 2013.

************

 

Catatan Kaki:

[1] Fiqhul Islam; Syarah Bulughul Maram, 3/326.

[2] Ibid.

[3] Lihat Amalan dan Waktu yang Diberkahi, 151-152; lihat pula Tafsir As-Sa’di, 7/611.

[4] Tafsir Ibnu Katsir, 4/532; edisi Indonesia, 8/510

[5] lihat Amalan dan Waktu yang Diberkahi, 154-155, mengutip dari pendapat Al-Iraqi dalam kitab Lailatul Qadr.

[6] Amalan dan Waktu yang Diberkahi, 152.

[7] Tafsir as-Sa’di, 1098; edisi Indonesia, 7/611.

[8] Tafsir Jalalain, 505; edisi Indonesia, 2/1360; dan Tafsir as-Sa’di, 1098.

[9] Tafsir Jalalain, 505; edisi Indonesia, 2/1361.

[10] Tafsir Ibnu Katsir, 4/533; edisi Indonesia, 8/510.

[11] Tafsir Ibnu Katsir, 4/534; edisi Indonesia, 8/510, mengutip pendapat Qatadah dll.

[12] Amalan dan Waktu yang Diberkahi, 156.

[13] Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 8/511-513; Indahnya Syariat Islam, 171.

[14] Indahnya Syariat Islam, 173

[15] Indahnya Syariat Islam, 173; lihat pula Amalan dan Waktu yang Diberkahi, 157; juga Kiat-Kiat Menghidupkan Ramadhan, berdasarkan keterangan Ubay bin Ka’ab.

[16] Indahnya Syariat Islam, 173.

[17] Lihat Risalah Ramadhan, 112-113;

[18] Tafsir Ibnu Katsir, 4/537; edisi Indonesia, 8/513.

[19] Kiat-Kiat Menghidupkan Ramadhan, 28.

[20] Fiqhul Islam, Syarah Bulughul Maram, 323.

Previous Post

BUTUH SATU ORANG BERSYAHWAT KEKUASAAN UNTUK RUSAK NEGERI INI

Next Post

IMAM SHALAT “LEGENDARIS”, SUARA “PELIPUR LARA”

M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.

M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.

Related Posts

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM
Agama

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

January 9, 2026
BERMUHASABAH (INTROSPEKSI DIRI)
Agama

BERMUHASABAH (INTROSPEKSI DIRI)

January 2, 2026
SABAR MENERIMA MUSIBAH
Agama

SABAR MENERIMA MUSIBAH

December 17, 2025
Next Post
IMAM SHALAT “LEGENDARIS”, SUARA “PELIPUR LARA”

IMAM SHALAT "LEGENDARIS", SUARA "PELIPUR LARA"

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
PENGHAPUSAN TUJUH KATA PIAGAM JAKARTA

PENGHAPUSAN TUJUH KATA PIAGAM JAKARTA

July 29, 2024
PIAGAM JAKARTA DAN PANCASILA (Bag. 1)

PIAGAM JAKARTA DAN PANCASILA (Bag. 1)

July 21, 2024
KERUKUNAN (TOLERANSI) ANTAR UMAT BERAGAMA

KERUKUNAN (TOLERANSI) ANTAR UMAT BERAGAMA

December 3, 2023
GURU BESAR UGM: JOKOWI KELUAR DARI JALUR DEMOKRASI

GURU BESAR UGM: JOKOWI KELUAR DARI JALUR DEMOKRASI

February 1, 2024
BELAJAR KEPADA SAYYIDAH KHADIJAH Radhiyallahu ‘Anha

BELAJAR KEPADA SAYYIDAH KHADIJAH Radhiyallahu ‘Anha

4
JILBAB PELAJAR, JILBAB PERJUANGAN

JILBAB PELAJAR, JILBAB PERJUANGAN

4
ORANG KAFIR (BARAT) BENCI ISLAM

ORANG KAFIR (BARAT) BENCI ISLAM

4
ORANG KAFIR SALING MENOLONG

ORANG KAFIR SALING MENOLONG

4
ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

April 30, 2026
BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

March 10, 2026
APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

February 9, 2026
ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

January 9, 2026

Recent News

ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

April 30, 2026
BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

March 10, 2026
APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

February 9, 2026
ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

January 9, 2026
SWAHARAH

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Check our landing page for details.

© 2023 Swaharah Indonesia Muhammad Mujib Ansor, S.H, M.Pdi by Ahsan.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Profil
    • PROFIL PENDIRI
    • PROFIL SWAHARAH.ID
  • Agama
    • Kajian
    • Khutbah
    • Makalah
  • Pendidikan
  • Kutipan
  • Nasional
    • Berita
    • Internasional
    • Opini
  • Sejarah
  • Keluarga
  • Tamu

© 2023 Swaharah Indonesia Muhammad Mujib Ansor, S.H, M.Pdi by Ahsan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In