MEMBANGUN KOMUNIKASI EFEKTIF SUAMI–ISTRI
Oleh: M. Mujib Ansor
A. Pendahuluan
Komunikasi itu penting. Termasuk di dalamnya komunikasi antara suami-istri. Gagal dalam berkomunikasi bisa berakibat fatal bagi kehidupan rumah tangga. Gara-gara persoalan sepele atau remeh-temeh, rumah tangga bisa terancam keharmonisannya. Hal itu terjadi, antara lain, disebabkan oleh komunikasi yang kurang lancar. Maka belajar berkomunikasi dengan baik dan efektif itu penting.
Komunikasi efektif suami-istri merupakan langkah awal untuk menciptakan suasana rumah tangga yang harmonis. Banyak rumah tangga yang gagal diawali oleh persoalan komunikasi ini. Jalinan komunikasi yang baik antara suami dan istri akan sangat membantu terciptanya rumah tangga yang Sakinah, mawaddah, wa rahmah. Dengan komunikasi yang lancar, maka apapun bisa dikerjakan bersama-sama, saling Kerjasama, tak ada curiga, dan taka da salah sangka.
Cara membangun komunikasi efektif menjadi tanggung jawab bersama kedua belah pihak untuk mewujudkannya. Masing-masing harus menyadari betapa pentingnya komunikasi di dalam sebuah rumah tangga. Bahkan masalah paling pribadi, masalah seksual sakalipun menuntut keduanya untuk saling terbuka, demi kemaslahatan bersama.
Dengan demikian, komunikasi memiliki peran penting dalam menciptakan keharmonisan rumah tangga. Gagal berkomunikasi bisa mengancam keutuhan sebuah keluarga, bahkan sampai ke tingkat perceraian.
Nah, apakah yang dimaksud dengan komunikasi, dan bagaimana cara berkomunikasi yang baik dan efektif? Berikut ini ulasannya.
B. Makna Komunikasi
Menurut KBBI, komunikasi/ko·mu·ni·ka·si/ n berarti pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.
Maka secara sederhana dapat rumuskan bahwa komunikasi adalah aktivitas menyampaikan pesan atau apa yang ada dalam pikiran, konsep, keinginan, atau perasaan yang ingin kita sampaikan pada orang lain.
Kemudian yang dimaksud dengan komunikasi efektif adalah sebuah bentuk komunikasi dimana pesan yang disampaikan berhasil mencapai sasaran dengan adanya feedback (respon) yang sesuai dengan tujuan. Jika suami menghendaki “Aku ingin dibuatkan teh panas manis”, maka istri mengerti persis setingkat apa panasnya dan seperti apa tingkat kemanisannya. Jika istri membuatkan teh pahit, maka jelas ini bentuk komunikasi yang tidak efektif.
Jika istri minta “diperhatikan” suami, maka suami mengerti persis bentuk perhatian seperti apa yang diinginkan istri dan menyenangkan hati istri. Jika suami tidak peduli atau justru pergi meninggalkan rumah, maka ini menandakan terjadi proses komunikasi yang jauh menyimpang alias tidak efektif.
C. Jangan Berprasangka
Kerangka berpikir kita (paradigma) dan cara kita memandang (persepsi) adalah dua hal yang amat menentukan. Sikap mudah menyalahkan pasangan muncul lantaran perbedaan persepsi. Misalnya, suami menduga “istri tidak setia”, dan istri menyangka “suami sudah bosan” kepadanya. Komunikasi antara pasangan tersebut akan gagal, karena masing-masing menafsirkan pernyataan orang lain dengan kerangka persepsinya. Ketika suami pulang terlambat dari kantor dan istri menyambut dengan gembira setelah cemas menunggu, karena persepsi di atas suami menganggap ucapan istrinya hanya kamuflase dari ketidaksetiaannya maka ia berkata keras, “Ah bilang saja kamu tidak senang aku pulang cepat. “Istri pasti terkejut dan menduga suami mencari gara-gara untuk menceraikannya. Nah, fatal kan….?! Maka, waspadalah dengan “prasangka”…!
D. Prinsip Komunikasi Adalah Saling Mendengar
Kita biasanya berusaha untuk dimengerti terlebih dahulu, bukan berusaha mengerti ”lawannya” (orang lain). Kebanyakan dari kita tidak suka mendengarkan terlebih dahulu alasan orang lain. Padalah prinsip komunikasi yang efektif adalah semua pihak berusaha untuk mendengarkan secara empatik (mendengarkan dengan maksud untuk mengerti). Kita mungkin mendengarkan selektif (mendengar hanya bagian-bagian tertentu dari percakapan) atau mendengar atentif (memfokuskan energi pada kata-kata yang diucapkan), sesungguhnya kedua cara tersebut mungkin mengabaikan atau bahkan tidak benar-benar mendengarkan pasangan kita sama sekali.
Rasulullah saw memberikan contoh metode mendengarkan empatik ini ketika datang seorang pemuda yang minta izin untuk berzina. Jika kita perhatikan betapa jitu jawaban yang Rasulullah sampaikan untuk meredam gejolak si pemuda: “Sukakah kamu jika apa yang ingin kamu lakukan itu menimpa ibumu…, adikmu…, kakakmu…?“
”Tidak,” jawab pemuda tersebut.
“Jika demikian, maka orang lain pun tidak berbeda denganmu,” tegas Nabi.
Subhanallah. Islam mengajarkan umatnya untuk berbicara yang baik, maka ia pun memerintahkan agar umatnya menjadi pendengar yang baik. []
Bersambung… !
Malang, 28/04/2013
Sumber:


















Semoga tulisan Pak Yai Mujib tentang “Membangun Komunikasi Efektif Suami-Istri” menjadi sumber inspirasi bagi seluruh keluarga yang hadir dalam acara family gathering di Yayasan Bina Al-Mujtama’. Semoga setiap nasihat dan petunjuk yang disampaikan dapat menguatkan ikatan kasih sayang dalam setiap rumah tangga, membawa kebahagiaan, dan mendapatkan ridha Allah. Doa terbaik untuk keberlanjutan program-program positif seperti ini dan kesuksesan bagi setiap keluarga yang terlibat. Amiin.
Semoga Ust. Hanafi juga diberikan anugerah keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah… dan segera dikarunia oleh Allah keturunan yang shaleh/shalihah. Amin.