JIKA PASANGAN TAK SEMPURNA (Bag. 2)
Oleh: M. Mujib Ansor, S.H., M.Pd.I. (Kadiv. Pendidikan YBM Malang)
Pendahuluan
Pada pembahasan sebelumnya (bag. 1) telah diuraikan betapa pentingnya komitmen (niat tulus, tekad bulat, kesetiaan (loyal) pada nilai, ikatan kuat), bahkan sampai pada pernyataan “komitmen itu melahirkan cinta”. Kemudian di akhir pembahasan disampaikan bahwa komitmen yang lurus dan kokoh dapat melahirkan motivasi yang dahsyat, termasuk motivasi untuk melakukan perubahan. Jika motivasi itu ada dalam rumah tangga, ia melahirkan kekuatan untuk menerima kekurangan. Dada kita terasa lapang ketika mendapati ketidaksempurnaan pasangan, untuk selanjutnya melangkah melakukan perbaikan.
Nah, ada dua keadaan di sini, terkait ketidaksempurnaan pasangan itu: pertama, suami tidak suka/membenci istri, dan kedua istri kufur (tidak pandai bersyukur) pada suami. Nah, bagaimana kejelasannya?! Berikut ini uraiannya.

Tidak Boleh Membenci Istri
Tidak sepantasnya seorang suami membenci istrinya. Sebab, jika ia membenci sebagian akhlak istrinya, maka ia akan menyukai akhlak yang lain.
Allah I berfirman:
…وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا
”… Pergaulilah mereka dengan cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa (4): 19)
Diriwayatkan dari Abi Hurairah t, Rasulullah r bersabda:
«لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً. إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقاً رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ» أَوْ قَالَ: «غَيْرَهُ»
“Janganlah seorang (suami) mukmin membenci seorang (istri) mukminah. Seandainya ia membenci suatu akhlaknya, ia akan menyukai darinya (akhlaknya) yang lain.” atau beliau bersabda, “…yang lainnya.” (HR. Muslim, 3603)
Jarang sekali terkumpul semua kebaikan pada diri seorang wanita. Nabi r bersabda, yang artinya, “Sesungguhnya manusia itu seperti seratus unta yang hampir tidak ada satu pun di antara mereka yang layak dinaiki.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sedikit sekali semua sifat kebaikan ditemukan terkumpul pada diri seseorang. Seperti satu di antara seratus unta, terkumpul pada satu unta sifat tahan lapar dan haus, cepat jalannya, tenang perangainya, dan banyak air susunya… jarang sekali ditemukan unta yang seperti ini.
Demikian pula keadaan manusia…. Wanita yang tercipta dari tulang rusuk yang bengkok tentu lebih sedikit lagi terkumpul padanya sifat-sefat kebaikan. Kita dapat melihat terkadang satu wanita memiliki paras cantik tetapi lisannya kotor. Terkadang berparas cantik, baik ucapannya, manis kata-katanya, tetapi ia boros dan tidak ekonomis. terkadang cantik, baik akhlaknya, baik terhadap suami, pandai mengatur rumah, tetapi tidak pandai memasak dan membuat kue.[2] Dan terkadang ada yang cantik, taat pada suami, ekonomis dan baik pekerjaannya, tetapi sedikit ibadahnya, dan seterusnya.
Pada kenyataannya memang demikian. Pada wanita terdapat kebengkokan, sebagaimana yang dikatakan Nabi r. Mereka seperti tulang rusuk dan ranting yang ujungnya bengkok. Jika kita luruskan maka akan patah, dan jika kita biarkan maka tetap dalam keadaan semula. Demikian seorang istri jika kita terlalu keras dalam meluruskan perangainya yang bengkok (negatif) maka bisa patah, yakni akan terjadi perceraian. Dan jika kita hendak bersenang-senang dengannya dapat kita lakukan, tetapi ia tetap membawa sifat kebengkokan itu.
Sifat-sifat negatif pasti ditemui pada diri wanita, sebagaimana sabda Nabi r,
«إنَّ المَرْأَةَ خُلِقَتْ مِن ضِلَعٍ، فإِنْ أَقَمْتَها كَسَرْتَها، فَدَارِها تَعِشْ بِهَا»
“Sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk. Jika engkau berusaha meluruskannya maka ia akan patah. Jika engkau membiarkannya, niscaya akan tetap bengkok.” (HR. Ahmad, 19714; Ibnu Hibban, 4102; Ibnu Abi Syaibah, 14126; dari Samurah bin Jundub t)
Kita tidak menganjurkan supaya mereka dibiarkan dengan sifat-sifat negatifnya. Akan tetapi yang seharusnya dilakukan adalah berupaya meluruskannya dengan lemah lembut sesuai dengan kemampuan yang ada, walaupun tidak bisa mencapai kesempurnaan sebagaimana yang disabdakan Baginda Nabi r:
«المرأةُ كالضِّلَع: إن أقمتَها كَسَرتَها، وَإِنْ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيْهَا عِوَجٌ»
“Seorang perempuan itu seperti tulang rusuk. Jika engkau meluruskannya maka ia akan patah. Jika engkau hendak bersenang-senang dengannya, maka kamu dapat melakukannya tetapi padanya terdapat kebengkokan.” (HR. Bukhari, 5063; Muslim, 3559, 3601; dari Abu Hurairah t, lafazh milik Bukhari)

Jangan Mengingkari Kebaikan Suami
Jika muncul suatu yang tidak disukai dari suami janganlah seorang istri mengingkari dan melupakan semua kebaikan suami. Baginda Nabi r telah memperingatkan dengan keras dan telah menerangkan bahwa kufur terhadap suami dan mengingkari kebaikannya adalah salah satu sebab masuknya seorang istri ke neraka. Pada waktu terjadi gerhana matahari, Nabi r melakukan shalat gerhana dan beliau bersabda setelahnya:
“Aku melihat surga –atau aku diperlihatkan surga- lalu aku makan setangkai anggur dari surga itu. Seandainya aku ambil tentu kalian akan memakannya yang tersisa dari dunia. Aku melihat neraka dan belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari itu. Aku melihat mayoritas penduduknya adalah wanita.” Para sahabat bertanya, “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau ditanya (lagi), “Apakah mereka mengingkari Allah?” Beliau bersabda, “Mereka mengingkari suami dan kebaikannya. Andaikata engkau berbuat kebaikan kepada mereka sepanjang masa kemudian ia melihat sesuatu yang tidak disenaginya darimu, ia berkata, “Aku tidak melihat kebaikan darimu sama sekali.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas d)
Imam at-Turmudzi meriwayatkan dengan sanad hasan dari Mu’adz bin Jabal t, bahwa Nabi r bersabda:
«لاَ تُؤْذِي امْرَأةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا. إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ: لاَ تُؤْذِيهِ، قَاتَلَكِ الله، فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَك دَخِيلٌ يُوشِكَ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا»
“Tidaklah seorang istri yang menyakiti suaminya di dunia melainkan istrinya (di akherat kelak) bidadari yang menjadi pasangan suaminya, berkata, “Jangan engkau menyakitinya, kelak kamu dimurkai Allah, seorang suami bagimu hanyalah seorang tamu yang bisa saja segera berpisah dengan kamu menuju kami.” (HR. At-Turmudzi, 1170; Ahmad, 21724)
Dari Hushain bin Muhshan, bahwa budak wanitanya mendatangi Nabi r untuk suatu keperluan, setelah menyelesaikan hajatnya Nabi r bertanya kepadanya, “Apakah engkau mempunyai suami?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bertanya (lagi), “Bagaimana engkau melayaninya?” Ia menjawab, “Aku tidak mengabaikan urusannya selain perkara yang aku tidak mampu.” Maka beliau bersabda:
فَانْظُرِي أيْنَ أنْتِ مِنْهُ فَإنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Maka lihatlah di mana kedudukanmu di sisinya. Sesungguhnya suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad, 18648)
Maksudnya, jika engkau bertakwa kepada Allah dengan menunaikan haknya (suami) akan menjadi sebab masuknya engkau ke dalam surga. Sebaliknya, jika engkau tidak bertakwa kepada Allah dalam menunaikan haknya, maka akan menjadi sebab masuknya engkau ke dalam neraka.
Penutup
Jadi, solusi yang diberikan Allah I dan Kanjeng Nabi r ketika kita tidak suka pada sesuatu yang ada pada pasangan hidup (fisik, sifat, dan akhlak), maka lihatlah kelebihan yang lain. Itu lebih baik bagi kita.
Keretakan terjadi karena kita tidak bisa melihat kebaikannya, yang ada -di mata atau di benak kita- hanya kekurangan. Ini masalahnya. Wallahu a’lam. []
Malang, 24/11/2013
Sumber Rujukan:
Mohammad Fauzil Adhim, Agar Cinta Bersemi Indah, Jakarta: Gema Insani, cet. ke-4, 2007 (hal. 87-108)
Syaikh Musthofa al-‘Adawi, Romantika Pergaulan Suami Istri, terj. Ahmad Hamdani dan Team, Jogjakarta: Pustaka Al Haura’ – Media Hidayah, cet. I, 2002 (hal. 55-62)
Catatan Kaki:
[2] Asma’ binti Abu Bakar yang diberi julukan “yang mempunyai dua ikat pinggang”, seorang wanita yang cerdas dan terbimbing, ia berkata tentang dirinya, “Aku adalah wanita yang tidak pandai membuat kue.” (lihat Bukhari, 9/319; dan Muslim, 5/26). Zainab binti Jahsyi Ummul Mukminin adalah wanita yang banyak ibadah, suka bersedekah dan cantik, akan tetapi terkadang ia emosional. Dan ibunda kita Aisyah s sangat pencemburu, padahal ia memiliki keutamaan dan ilmu, dsb.


















Masyaallah mantabs pak yai😀👍
الحمد لله الذى بنعمته تتم الصالحات
Bismillah,ana diberi Alloh seorang istri dari perjodohan orang tua,tidak mencari sendiri,masyaAlloh tulisan ustadz sangat mencerahkan ,memang niat,tekad,dan komitmen yang baik karena Alloh harus ada dan harus diingat dan dijaga kalau ingin RT bisa langgeng, karena nilai nilai yg fana mau tak mau akan berkurang dan memudar seiring waktu,dan jika 3 point diatas bisa dijaga maka istilah “Garwo”/Sigare nyowo akan bisa dirasakan masing2 pasangan dan itu adalah karunia Alloh meskipun usia pernikahan sdh sekian lama,InsyaAlloh tulisan panjenengan bisa memberi banyak manfaat sbg persiapan para muda mudi yg blm berumah tangga ataupun mereka yg sudah lama berumah tangga.
Baarakallaahu fiikum
MasyaAllah, terimakasih komentarnya Pak Iwan Fanani. Pengalaman yang sangat berharga untuk ditularkan kepada sauda-saudara yang lain untuk membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Semoga para pemuda tidak terpengaruh oleh senitron atau pun Drakor yang banyak menghipnotis anak muda, sehingga gambaran di benaknya bahwa untuk membangun rumah tangga harus melalui pintu pacaran, padahal Islam tidak mengajarkan demikian. sekali lagi terimakasih, jazakumullahu khairan, wafikum barakallah Pak Iwan Fanani.