Khutbah Jum’at
@ISLAM PENEBAR KEDAMAIAN ed
Oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.pd.I. (Kepala MA Al-Umm Malang)
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jum’at rahimakumullah,
Islam ini agama perdamaian, cinta damai, penebar kedamaian, bukan penebar kebencian dan peperangan, bukan teroris. Begitulah hakikat dan faktanya, bukan sekedar slogan. Karena Islam berasal dari Allah untuk umat manusia. Mustahil Allah membuat agama untuk keributan, pertikaian, dan apalagi penindasan, penjajahan, dan peperangan.
Menurut bahasa, Islam berasal dari kata “salm” artinya damai. Dari kata “aslama“, berarti menyerah. Dari kata “saliim“, artinya suci dan bersih. Dari kata “salam”, Islam berarti selamat, damai, sejahtera.[1]
Allah swt menegaskan bahwa Islam itu agama perdamaian:
۞وَإِن جَنَحُواْ لِلسَّلۡمِ فَٱجۡنَحۡ لَهَا وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ٦١
“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal (8): 61)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: “Allah swt berfirman, jika engkau khawatir terhadap pengkhianatan suatu kaum, maka langgarlah perjanjian mereka itu secara timbal balik. Dan jika ia masih terus memerangimu dan melanggar hakmu, maka seranglah mereka. “Dan jika mereka condong,” yaitu cenderung “kepada perdamaian,” yakni; berdamai, melakukan perbaikan hubungan dan penghentian perang, “Maka condonglah kepadanya.” Maksudnya terimalah tawaran mereka tersebut (untuk berdamai). Oleh karena itu, ketika orang-orang musyrik menawarkan perdamaian dan gencatan senjata selama sembilan tahun antara mereka dengan Rasulullah saw pada saat diadakan Shulhul Hudaibiyah (Perjanjian Hudaibiyah), maka beliaupun menerima tawaran tersebut dengan mengajukan beberapa syarat kepada mereka.”[2]
Nah, nampak sekali dari ayat dan penjelasan di atas bahwa Islam lebih condong kepada perdamaian, bukan perang. Kecuali jika mereka telah melakukan peperangan dan pengusiran kepada ummat Islam seperti di Palestina atau di Rohingya, maka Allah telah mewajibkan kepada kita untuk melakukan perlawanan :
وَقَٰتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَكُمۡ وَلَا تَعۡتَدُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ ١٩٠
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. al-Baqarah (2): 190)
Dalam kondisi perang tersebut, kepada mereka yang memerangi dan mengusir ummat Islam (kafir harbi) tidak ada sikap lemah lembut dan toleran, bahkan kita harus keras dengan mereka:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ جَٰهِدِ ٱلۡكُفَّارَ وَٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱغۡلُظۡ عَلَيۡهِمۡۚ
“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka.” (QS At-Tahrim (66): 9) begitu pula dalam (QS. At-Taubah: 123)
- Prinsipnya: Jika mereka berhenti memusuhi, maka berhenti pula permusuhan umat Islam kepada mereka, demikian yang disebutkan dalam al-Baqarah: 193.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Begitulah Nabi saw mendakwahkan Islam dengan damai, tidak dengan kekerasan atau paksaan apalagi intimidasi. Meski demikian, sejak dari awal dakwah Nabi saw ini sudah dimusuhi oleh orang kafir Quraisy. Nabi dan para sahabat diganggu, diintimidasi, dipersekusi, dizalimi, diboikot, bahkan diusir. Maka perang besar pertama dalam Islam adalah perang Badar Kubro (17 Ramadhan 2 H)[3] terjadi setelah dakwah Nabi berlangsung selama lebih dari 14 tahun, ketika umat Islam sudah mulai kuat. Itupun untuk membalas (mengimbangi) perlakuan zalim orang-orang Quraisy yang sudah berlangsung sekian lama itu. Dan tentunya setelah mendapat izin dari Allah swt.[4] Tujuannya adalah untuk membela diri, membela Agama Allah dari gangguan orang kafir Quraisy.
Begitu seterusnya, peperangan demi peperangan juga penaklukan (al-futuhat) yang dilakukan Nabi saw dan para sahabat tiada lain adalah untuk mengawal dakwah dan membebaskan wilayah/negara dari kezaliman dan penindasan. Sebagaimana dikemukakan Dr. Abdul Aziz bin Ibrahim Al-Umari dalam bukunya Penaklukan dalam Islam[5]
Jadi, tidak ada penjajahan dalam Islam. Penaklukan wilayah/negara itu hanya dalam rangka mendakwahkan atau menyebarkan Islam kepada manusia, agar Islam dikenal umat manusia. Itupan tanpa paksaan. Bukan menguasai wilayah atau menjajah, sebagaimana bangsa-bangsa Barat yang menguasai dan menjajah negara lain di Asia-Afrika.
Sejarah telah membuktikan itu. Di zaman awal-awal Islam sudah ada dua negara imperium besar yaitu Romawi dan Persia. Kemudian di abad 16-20 setelah revolusi industri di Inggris muncullah negara-negara penjajah dari Eropa, antara lain: Portugis, Spanyol, Inggris, Perancis, dan Belanda. Sedangkan dari Asia adalah Jepang. Negara Indonesia termasuk yang pernah dijajah oleh negara-negara imperialis tersebut.
Kemudian di abad 20-21 ini ketika sebagian besar negara-negara di Asia-Afrika memperoleh kemerdekaannya, ternyata masih ada yang tersisa penjajahan yang tergolong sadis dan brutal, yaitu Israel atas Palestina. Kemudian di tahun 1990-an juga terjadi pembantaian di Bosnia Herzegovina oleh Serbia. Berikutnya penyerbuan dan penghancuran Amerika Serikat atas Irak dan Libiya. Semua itu pelakunya adalah negara non-muslim (kafir) dan korbannya muslim.
Terakhir, tragedi yang amat memilukan bangsa manusia yaitu pembantaian bangsa Rohingya yang muslim oleh militer Komunis Myanmar dan kaum Budha ekstrimis, pada 25 Agustus 2017. Yang dalam terminologi hukum internasional apa yang dilakukan pemerintah dan militer Myanmar itu disebut Genosida.
Disusul kemudian Muslim Uighur di Cina yang dizalimi dan diperlakukan secara biadab oleh pemerintahan Cina (yang komunis itu).
Dan sekarang, genosida itu terjadi lagi oleh Zionis Israel terhadap Bangsa Palestina. Sejak 7 Oktober 2023 hingga hari ini, 16 November 2023, tantara Israel terus membombardir Jalur Gaza sesuai kehendak nafsu angkara murkanya, menghancurkan rumah-rumah penduduk, rumah ibadah, rumah sakit, dan fasilitas umum lainnya, serta menghancurkan peradaban. Mereka membunuhi rakyat Palestina, wanita dan anak-anak, dengan alasan mengejar Hamas (kelompok perlawanan rakyat Palestina yang dijajah itu). Ini bukan perang, tapi pembantaian dan pembumihangusan. Ini Genosida, kejahatan perang, yang melanggar dan mengabaikan Hukum Internasional. Tidak ada hukum perang, bagi Israel, yang ada adalah nafsu angkara murka. Koban meninggal sudah mencapai belasan ribu[6], dan yang luka-luka sudah puluhan ribu, sementara yang mengungsi diperkirakan ratusan ribu. Sampai hari ini pejuang Hamas masih bertahan, dan memberikan perlawanan yang luar biasa sesuai kemampuan. Dikabarkan oleh Tribunnews bahwa sampai Rabu, 15 November 2023, Hamar berhasil menghancurkan lebih dari 160 tank Israel.
Hadirin jamaah rahimakumullah
Itulah pemandangan terkini, seluruh dunia menyaksikan di depan mata kepala sendiri kejahatan Zionis Israel ini terhadap kemanusiaan di Palestina.
Belum lagi kita menyebut kekejaman Hitler dengan Nazi-nya di Jerman dan Benito Musolini dari Italia yang mengorbankan jutaan manusia. Bahkan kalau ingin melengkapi data kita, ideologi komunis pun memakan korban yang amat banyak. Mari kita lihat apa yang terjadi jika komunisme berkuasa?!
Di Uni Soviet, sekitar 7 juta orang tewas dalam Revolusi Bolsevik dipimpin oleh Lenin. Di masa Stalin 20 juta orang terbunuh untuk memuluskan program komunisme. Salah satu cara komunisme bertahan adalah melestarikan tidak adanya perbedaan pendapat, dan jika berbeda sebaiknya dibunuh, berapa pun jumlah korban yang dibutuhkan. Di Kamboja, sekitar 2 juta orang atau sepertiga jumlah penduduk dibantai untuk mengukuhkan kekuasaan komunis. Di Cina jumlah korban meninggal dalam revolusi diduga mencapai 80 juta.[7]
Hadirin jamaah rahimakumullah,
Data tersebut menunjukkan bahwa Islam (negara Islam) sepanjang sejarah tidak pernah menjadi negara penjajah. Juga bukan bangsa yang bengis dan biadab atau penebar teror. Yang sering terjadi dalam perkembangannya justru menjadi negara terjajah dan terzalimi. Ironisnya, umat Islam yang menjadi korban itu selalu dipojokkan atau dituduh sebagai radikal, ekstrimis, dan teroris. Dari dulu sampai sekarang.
Bangsa Indonesia yang bangkit melawan penjajah Belanda dulu disebut kaum ekstrimis (pemberontak). Bangsa Palestina yang dijajah Israel, yang wilayahnya dicaplok sampai hampir habis itu, ketika melawan juga disebut ekstrimis dan teroris. Bangsa Rohingya yang muslim itu, yang dijajah Myanmar (Burma) sejak tahun 1784,[8] dibantai, dibakar, dan diusir selama puluhan kali genosida juga dituduh teroris oleh pemerintah Myanmar. Termasuk nasib kaum Muslim Uighur di Cina.
Itu faktanya. Sudah menjadi korban masih dituduh radikal/teroris. Ibarat pepatah: sudah jatuh tertimpa tangga pula. Anehnya, sebagian besar manusia dan sebagian dari umat Islam ada yang mengamini (membenarkan) tuduhan dan cap radikal/teroris itu kepada umat Islam. Dan lebih aneh lagi, dunia diam, dan PBB membisu.
Maka kesimpulan saya: kalau yang menjadi korban kebiadaban itu adalah umat Islam maka PBB dan negara-negara pengusung HAM diam membisu seribu bahasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Tetapi kalau pelaku kejahatan itu adalah sebagian orang Islam atau kelompok Islam, dan korbannya adalah non-muslim, maka dunia ribut, PBB murka, semua berteriak, dan media massa dunia ramai memberitakan. Inilah yang disebut “standar ganda” itu. Termasuk dalam hal demokrasi sekalipun
Hadirin jamaah rahimakumullah
Sekali lagi ini fakta. Maka sebagai muslim mestinya tidak mudah membenarkan begitu saja ketika Barat dan Amerika atau siapapun yang menyematkan julukan teroris, radikal, dan ekstrimis kepada umat Islam. Harus dicermati dulu, diteliti dulu kebenarannya.
Umat Islam Indonesia, yang telah berjuang mengusir penjajah dan merebut kemerdekaan ini, masak disebut radikal/teroris, anti NKRI, anti kebhinnekaan, anti Pancasila?! Kan aneh…!!
Ketika umat Islam mewaspadai bangkitnya PKI yang memang punya sejarah kelam membantai para kiyai dan santri, juga pejabat pemerintah, dan para jenderal pahlawan revolusi, dan pernah berontak mengkhianati negara (tahun 1948 dan 1965), mereka juga disebut radikal dan harus ditangkap…?!
Jadi aneh. Dibolak-balik. Maka tidak perlu heran karena Allah swt sudah mengingatkan, bahwa orang kafir memang dengki dengan umat Islam:
مَّا يَوَدُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَلَا ٱلۡمُشۡرِكِينَ أَن يُنَزَّلَ عَلَيۡكُم مِّنۡ خَيۡرٖ مِّن رَّبِّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَخۡتَصُّ بِرَحۡمَتِهِۦ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ ١٠٥
“Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. al-Baqarah (2): 105)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pemberitaan Allah Azza wa Jalla ini terlihat nyata dalam perlakuan mereka saat ini terhadap kaum Muslimin, yaitu berupa pembunuhan, pengusiran, penyiksaan, penghancuran terhadap negara mereka dengan tanpa perasaan dan kasih sayang sama sekali.
Sebaliknya, ketika kaum Muslimin berada pada posisi di atas, mereka tidak akan membalas dengan perlakuan serupa, sebagai realisasi dari ajaran agama Islam yang lurus. Rahmatan lil ‘alamin. Lantas, bagaimana mungkin dikatakan “Islam itu agama teroris dan biadab?”
Ucapan ini tidak lain hanyalah pemutarbalikan fakta dan membuat kerancuan di tengah umat manusia dan menjauhkan manusia dari Islam. Karena sebenarnya teror dan biadab merupakan perlakuan orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin, saat mereka berkuasa, di mana pun dan sampai kapan pun.
Demikian, semoga penjelasan ini bisa menyadarkan kita betapa umat Islam ini harus cerdas, harus memahami agamanya dengan baik dan benar, dan membangun ukhuwah Islamiyah yang kuat sehingga terwujud persatuan dan kesatuan yang kokoh. Semoga Allah swt selalu meridhai semua usaha dan perjuangan kaum muslimin di mana pun berada, menolong saudara-saudara muslim di Palestina, dan mencerai-beraikan kekuatan Zionis Israel dan para sekutunya, serta menghinakan mereka dengan sehina-hinanya. Amin ya Rabbal ‘alamin. [*]
Mojokerto, 2/10/2017, diedit ulang 16 November 2023.
Sumber Rujukan:
- Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Aal asy-Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 4, terj. M. Abdul Ghoffar, Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’i, 2002.
- Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Rahiqul Makhtum, Riyadh: Darus Salam Lin-Nasyr wat-Tauzi’, 1418 H.
- _________________, Sirah Nabawiyah, terj., Katur Suhadi, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2004.
- Al-Hafizh Ibnu Katsir, Sirah Nabi Muhammad saw, terj. Abu Ihsan Al-Atsari, Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2010.
- Abdul Aziz bin Ibrahim Al-Umari, Penaklukan Dalam Islam, terj., Abdul Basith Basamhah, Lc., Jakarta: Darus Sunnah, 2013.
- Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag., Rohingya Bangsa Yang Terjajah, Malang: Yayasan Bina Al-Mujtama’, 2015.
- H. Abuddin Nata, MA., Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers, 2009
- http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/17/ 09/22/owomet319-jika-pki-bangkit-memangnya-kenapa
- https://www.cnnindonesia.com/internasional/20231113082756-120-1023348/11100-warga-palestina-tewas-selama-agresi-israel-di-jalur-gaza
Catatan Kaki:
[1] http://www.islamcendekia.com/2016/05/arti-makna-hakikat-islam-yang-sebenarnya-menurut-bahasa-dan-istilah.html
[2] Tafsir Ibnu Katsir, 4/72.
[3] Ar-Rahiqul Makhtum, 201; Sirah Nabawiyah, 279; Sirah Nabi Muhammad saw, 107.
[4] Yaitu dengan turunnya QS. al-Hajj: 39; dan al-Baqarah: 216 (lihat Sirah Nabi Muhammad saw, 89-90).
[5] Penaklukan dalam Islam, xxx.
[6] Senin, 13/11/2023 oleh CNN Indonesia dilaporkan koban tewas melampaui angka 11.100 orang (dari angka itu, lebih dari 8.000 korbannya adalah anak-anak dan Perempuan). (https://www.cnnindonesia.com/internasional/20231113082756-120-1023348/11100-warga-palestina-tewas-selama-agresi-israel-di-jalur-gaza)
[7] http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/17/ 09/22/owomet319-jika-pki-bangkit-memangnya-kenapa
[8] Rohingya Bangsa yang Terjajah, 32.


















Semoga khutbah tentang “Islam Penebar Kedamaian” dapat menjadi sumber inspirasi bagi umat Islam untuk menjalankan ajaran agama dengan penuh kasih sayang dan kedamaian. Semoga pemahaman yang mendalam tentang rahmatan lil ‘alamin membawa perdamaian di antara umat manusia, sehingga stigma negatif terhadap Islam dapat terhapus. Marilah kita bersama-sama menjadikan Islam sebagai cahaya pencerahan, menunjukkan bahwa agama ini adalah panggilan untuk keadilan, persaudaraan, dan kedamaian universal.
Semoga ajaran Islam sebagai agama perdamaian terus mengilhami kita semua. Semoga kita mampu menjadi duta cinta, kedamaian, dan harmoni, membuktikan bahwa Islam adalah jalan menuju kebaikan dan keselamatan bagi seluruh umat manusia.
Aamiin.