ISLAM ITU INDAH
Oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I. (Kepala MA Al-Umm Malang)
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jum’at rahimakumullah,
Sungguh, agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw adalah agama yang paling sempurna dan paling utama, paling tinggi dan paling agung. Islam mencakup berbagai kebaikan, kesempurnaan, ketepatan/relevanasi, rahmat, keadilan dan hikmah.
Maka agama Islam ini merupakan bukti nyata dan saksi yang paling agung tentang segala keesaan dan seluruh kesempurnaan yang mutlak bagi Allah swt. Juga merupakan bukti nyata tentang kerasulan dan kebenaran bagi Nabi Muhammad saw.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwa berbagai kebaikan agama Islam bersifat menyeluruh pada semua masalah dan dalil-dalilnya, serta pada ushul maupun furu’nya. Juga pada apa-apa yang ditunjukkan olehnya berupa ilmu-ilmu syariat dan hukum-hukum serta ilmu-ilmu alam dan sosial kemasyarakatan.
Di antara kesempurnaan dan keindahan islam itu antara lain:
Pertama, agama Islam dibangun di atas pondasi keimanan. Allah swt berfirman
قُولُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡنَا وَمَآ أُنزِلَ إِلَىٰٓ إِبۡرَٰهِۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ وَٱلۡأَسۡبَاطِ وَمَآ أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَآ أُوتِيَ ٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمۡ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّنۡهُمۡ وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ ١٣٦
“Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma´il, Ishaq, Ya´qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. al-Baqarah (2): 136)
Maka sebuah agama yang pondasinya adalah keimanan kepada Allah swt, buahnya adalah usaha untuk mendapatkan setiap perkara yang dicintai dan diridhai oleh-Nya, serta mengikhlaskannya kepada Allah swt. apakah akan terbayang adanya sebuah agama lain yang lebih baik darinya dan lebih utama?! Tentu tidak.
Hadirin jamaah rahimakumullah,
Kedua, Syariat-syariat yang besar dalam Islam setelah keimanan (dua kalimat syahadat) adalah mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah. Syariat-syariat yang agung ini mengandung berbagai manfaat yang tinggi, dan konsekuensinya berupa usaha mendapat keridhaan Allah dan kemenangan memperoleh pahala-Nya baik yang disegerakan di dunia maupun di akhirat nanti. Kalau dirinci sebagai berikut:
- Shalat. Mari kita perhatikan perkara-perkara yang ada dalam shalat, yaitu: berupa pengikhlasan ibadah kepada Allah swt, konsentrasi yang sempurna menghadap kepada-Nya, pujian, doa, serta ketundukan kepada-Nya.
- Zakat. Mari kita lihat kepada hikmah-hikmah zakat dan manfaat yang terkandung di dalamnya berupa usaha untuk berakhlak dengan akhlak yang mulia, yaitu sikap bermurah hati dan kedermawanan, menjauh dari akhlak-akhlak yang tercela, bersyukur kepada Allah atas pemberian nikmat-nikmat-Nya.
Hikmah zakat lainnya adalah menjaga harta dari perkara-perkara yang akan membuatnya buram, baik perkara itu bisa diindera maupun yang maknawi. Juga bentuk kebaikan yang diberikan kepada sesama manusia, menolong orang-orang yang membutuhkan, serta akan mencukupi banyak maslahat yang memang dibutuhkan.
Dalam zakat terdapat penunaian hajat bagi orang-orang yang sangat terdesak oleh kebutuhan. Di dalamnya juga terdapat sarana pendukung berjihad dan maslahat-maslahat umum bagi kaum muslimin. Dalam zakat terdapat sarana menolak cengkraman kemiskinan dan upaya mengentaskan fakir miskin. Di dalamnya juga terdapat unsur percaya kepada ganti yang akan Allah berikan, harapan mendapatkan pahala, serta pembenaran terhadap jajinya.
- Puasa. Dalam ibadah puasa terdapat pelatihan jiwa untuk meninggalkan perkara-perkara yang disukai dan telah dirutininya karena cinta kepada Allah, dan dalam rangka taqarrub kepada-Nya, serta mempersiapkan dan melatih jiwa untuk mempunyai semangat yang tangguh dan kesabaran yang tegar. Dalam puasa juga terdapat penguatan untuk sebab mencapai keikhlasan, merealisasikan sikap mengutamakan kecintaan kepada-Nya daripada kecintaan terhadap diri sendiri. Oleh karenanya, puasa ini hanya untuk Allah, dan Allah mengkhususkan bagi diri-Nya di antara amalan-amalan lain.
- Haji. Adapun dalam ibadah haji, semua yang ada di dalamnya berupa pengerahan harta, tegar terhadap berbagai kesulitan yang menimpa, menghadapi berbagai bahaya dan kesusahan untuk mencari keridhaan Allah, memenuhi panggilan-Nya, merendahkan diri kepada-Nya di rumah-Nya dan di tanah-tanah lapang-Nya, dan memperbanyak jenis-jenis peribadatan kepada Allah di syi’ar-syiar tersebut.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kesempurnaan dan keindahan Islam yang Ketiga ialah, Perkara-perkara yang diperintahkan dan didorong oleh Pembuat syariat (Allah dan Rasul-Nya) berupa kewajiban berkumpul dan bersatu. Juga larangan dan peringatan-Nya untuk tidak bercerai berai dan berselisih.
Pondasi yang satu ini ditunjukkan oleh nash-nash dari al-Qur’an dan as-Sunnah dengan jumlah yang banyak.
Diantaranya ialah firman Allah:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan (ingatlah pula ketika itu) kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imron (3): 103)
Imam al-Qurthubi berkata ketika menafsirkan ayat ini, “Perpecahan adalah kebinasaan sedangkan al-jamaah adalah keselamatan.”
Sementara Imam Ibnu Katsir mengatakan, “(Dalam ayat yang mulia ini) Allah memerintahkan untuk berjamaah (bersatu) dan melarang mereka dari perpecahan. Dan sungguh banyak hadits yang melarang perpecahan dan memerintahkan untuk menjalin persatuan.”
Orang awam saja bisa berpikir dan mencerna akan manfaat perkara (persatuan) ini, serta berbagai maslahat diniyah dan duniawi yang dihasilkannya. Juga berbagai bahaya dan kerusakan yang akan teratasi dengannya.
Keempat, sesungguhnya agama Islam adalah agama rahmat, berkah, dan ihsan (kebaikan), serta memotivasi untuk memberikan manfaat kepada manusia,
Maka dengan perkara yang agama ini berada di atasnya, berupa rahmat, baiknya muamalah, ajakan kepada perbuatan ihsan, dan melarang segala perkara yang bertentangan dengannya, perkara inilah yang menjadikan Islam sebagai nur dan dhiya’ (cahaya yang terang benderang) di tengah kegelapan kezhaliman, sikap melampaui batas, jeleknya muamalah, dan diterjangnya kehormatan.
Inilah yang menarik hati orang-orang yang sebelum mengetahui perkara ini mereka adalah para musuh besar Islam, hingga kemudian mereka berteduh di bawah naungannya yang teduh.
Kelima, agama Islam adalah agama hikmah, agama fitrah, agama akal, kebaikan, dan kebahagiaan/kemenangan.
Pondasi ini diperjelas dengan apa-apa yang dikandung Islam berupa hukum-hukum ushul dan furu’ yang diterima oleh fitrah dan akal manusia, serta terkandung padanya puncak-puncak kebenaran. Diperjelas pula dengan praktik hukumnya dan bagusnya pengaturan. Dengan demikian, hukum-hukum Islam cocok pada setiap zaman dan waktu.
Demikianlah hadirin jamaah rahimakumullah, sebagian kecil dari kesempurnaan dan keindahan Islam ini, yang kalau diteruskan pembahasannya tentulah tidaklah cukup waktu dan tempatnya. Namun dengan kelima hal ini cukuplah untuk menunjukan bahwa agama Islam adalah agama yang sempurna, besar, dan indah. Hanya saja sebagian umatnya yang masih belum bisa mewujudkan nilai kesempurnaan, kebesaran, dan keindahan Islam itu dengan baik, sehingga Islam masih terkesan atau lebih tepat “dikesankan” sebagai agama yang ketinggalan, terbelakang, tidak disiplin, intoleran, radikal atau bahkan teroris dan seterusnya, yang sebenarnya sangat jauh dari hakekat ajaran Islam itu sendiri.
Semoga Allah swt memberikan hidayah dan taufik kepada kita semua, sehingga kita benar-benar bisa membawa misi agama Islam yang sempurna dan indah ini di tengah-tengah masyarakat dunia. Amin ya Rabbal ‘alamin. [*]
Mojokerto, 6 September 2016 / Ditelaah ulang, 13/01/2024
Sumber Rujukan:
Al-Hafizh Imaduddin Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’anul Azhim, Juz I, Bairut: Darul Jiil, tt.
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa`di, Islam Itu Indah, terj. Falih, Yogyakarta: Pustaka Salafiyah, 1432 H/2011.
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Khadim al-Haramain asy-Syarifain, KSA.
Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Wahai Saudaraku Bersatulah Jangan Berpecah Belah, terj. Abu Muhammad Farhan, Sukoharjo: Gema Ilmu, 2010.

















