HIKMAH SHALAT KHUSYUK
Oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I. (Kadiv Pendidikan YBM Malang/ Pesantren Al-Umm Malang)

Ma’asyiral muslimin, jamaah Jum’at rahimakumullah,
Marilah kita bersama-sama meningkatkan iman dan takwa kepada Allah swt dengan sebenar-benarnya. Termasuk meningkatkan takwa adalah meningkatkan kualitas shalat kita. Ya, shalat kita perlu ditingkatkan terus kualitasnya, karena shalat adalah ibadah terbesar setelah tauhid. Shalat adalah tiang agama. Amal yang pertama kali dihisab di hari akherat nanti adalah shalat, kalau shalatnya baik maka dia beruntung dan selamat, sebaliknya kalau shalatnya buruk maka merugi dan celakalah dia[1].Jadi, shalat ini menjadi barometer (ukuran) bagi keislaman seseorang. Maka wajar kalau kita perlu memperbaiki kualitas shalat kita. Karena Allah swt telah menjamin, beruntunglah orang-orang yang shalatnya khusyuk. Allah swt berfirman:
قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢ وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنِ ٱللَّغۡوِ مُعۡرِضُونَ ٣ وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِلزَّكَوٰةِ فَٰعِلُونَ ٤
“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu´ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat…”(QS. Al-Mu’minun (23): 1-4)
Hadirin jamaah rahimakumullah,
قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١
“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman…”
Imam as-Suyuthi rhm dalam Tafsir Jalalain-nya menyatakan, “Lafal qad ini menunjukkan makna tahqiq, artinya sungguh telah pasti beruntung (berbahagia) orang-orang yang beriman.”[2]
Imam Ibnu Katsir rhm menuturkan: “…maksudnya, mereka telah mendapatkan kemenangan, kebahagiaan, serta memperoleh keberuntungan. Mereka itulah orang-orang mukimin yang memiliki sifat-sifat berikut ini:
ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢
“(yaitu) orang-orang yang khusyu´ dalam shalatnya.”
Ali bin Abi Thalhah ra menceritakan dari Ibnu Abbas ra, “Orang-orang yang khusyuk yaitu orang-orang yang takut lagi penuh ketenangan.” Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra mengatakan, “Yang dimaksud dengan khusyuk di sini adalah kekhusyukan hati.”
Imam Ibnu Katsir melanjutkan, “Khusyuk dalam shalat hanya dapat dilakukan oleh orang yang mengkonsentrasikan hati padanya seraya melupakan berbagai aktifitas selain shalat, serta mengutamakan shalat atas aktivitas yang lain. Pada saat itulah akan terwujud ketenangan dan kebahagiaan baginya. Demikian penjelasan Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya.[3]
Jadi sekali lagi, secara sederhana dapat diartikan bahwa khusyuk adalah hadirnya hati untuk mengingat Allah swt. tidak lalai dari mengingat Allah swt. karena hakikat shalat itu sendiri adalah untuk mengingat Allah swt sebagaimana firman-Nya:
… وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ ١٤
“… dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha (20): 14)
Hadirin, jamaah rahimakumullah
Dalam ilmu fikih, khusyuk itu dikaitkan dengan thumakninah, yaitu gerakan shalat yang tenang, tidak cepat-cepat atau tergesa-gesa. Ini wajar, karena dalam ketenangan itulah akan muncul kekhusyukan. Jadi shalat yang thumakninah itu bisa menghantakan kepada kekhusyukan. Bagaimana bisa khusyuk kalau gerakannya terlalu cepat?! Dengan thumakninah kita bisa membaca bacaan-bacaan shalat dengan tenang disertai peresapan dan penghayatan maknanya.
Dalam fikih disebutkan, ukuran thuma’ninah itu kita membaca bacaan shalat itu dengan benar, tepat, dan sempurna. Misalnya, doa rukuk, kita baca subhana rabbiyal azhimi (wabihamdihi) tiga kali dengan tenang. (Nah, anak-anak kita yang baru bisa belajar shalat, praktiknya seperti itu, ia akan membaca lengkap dan pelan. Anehnya, kalau sudah besar shalatnya jadi lebih capat, alasannya sudah hafal…?!).
Imam al-Ghazali rhm dalam kitabnya Mukhtashor Ihya’ Ulumuddin mengatakan, “Ketahuilah bahwa shalat adalah suatu bentuk munajat (permohonan), maka bagaimana mungkin Anda lalai kepada yang dimintai pertolongan (Allah swt)?”[4]
Imam Ibnu Taimiyah rhm berkata: “Jika Khusyuk dalam shalat itu wajib, maka khusyuk ini mengandung makna sakinah (tenang) dan tawadhu’ (rendah diri) sekaligus. Diantaranya adalah hadits Umar t ketika dia melihat orang yang melakukan gerakan main-main dalam shalatnya, dia berkata:
لَوْ خَشَعَ قَلْبٌ هَذَا لَخَشَعَتْ جَوَارِحُهُ
“Kalau orang ini khusyuk hatinya, niscaya khusyuk badannya.” Artinya tenang dan tunduk tidak bergerak-gerak…!
Oleh karena itu Nabi i berkata dalam ruku’nya:
«اللهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، خَشَعَ لَكَ سَمْعِي، وَبَصَرِي، وَمُخِّي، وَعَظْمِي، وَعَصَبِي»
“Ya Allah kepada-Mu aku ruku’, kepada-Mu aku beriman, dan kepada-Mu aku berserah diri, untuk-Mu pendengaranku, penghlihatanku, otakku, tulangku dan sarafku khusyuk.” (HR. Muslim) beliau menyebut dirinya khusyu’ dalam keadaan ruku’ sebab orang yang ruku’ adalah diam tenang merendahkan diri.[5]
Karena itu, benar apa yang dikatakan KH. Ma’shum Ahmad rahimahullah (pengasuh Ponpes Al-Hidayah, Ketegan, Tanggulangin, Jawa Timur, wafat tahun 1996), ketika mengajarkan Tafsir Jalalain kepada santrinya mengatakan:
الْخُشُوْعُ هُوَ سُكُوْتُ الْجَوَارِيْحِ وَ سُكُوْتُ الْقَلْبِ
“Khusyuk adalah tenangnya anggota badan dan tenangnya (hadirnya) hati.”[6]
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Shalat yang kita laksanakan 5 kali setiap hari itu –apalagi dengan khusyuk dan thumakninah- banyak mengandung hikmah. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Dr. H. Achmad Zahro, MA. (imam besar Masjid Al-Akbar Surabaya, juga Rektor Unipdu Jombang 3 periode, 2009-2022), bahwa Hikmah shalat itu minimal ada tiga:
Pertama, Hikmatut Tha’ah (hikmah kepatuhan), artinya kita shalat ini wujud dari kepatuhan kepada Allah swt. Kita mengerti atau tidak tentang hikmah shalat, kita tetap melaksanakannya dan taat kepada Allah swt. Ini namanya hikmatut tha’ah.
Kedua, Hikmatul Kaifiyah (hikmah dalam tata cara shalat). Yaitu, hikmah dari gerakan-gerakan shalat; mulai dari bediri takbiratul ihram sampai duduk tasyahhud akhir. Nah, kebanyakan hasil penelitian tentang gerakan-gerakan sholat itu adalah kesehatan; mulai dari berdiri tegak, rukuk, sujud, i’tidal, dan duduk dst. Itu menghasilkan kesehatan tubuh yang luar biasa. Hikmah ini akan muncul kalau shalatnya thumakninah dan khusyuk.
Ketiga, Hikmatul Adzkar wa Ad’iyah (hikmah dzikir dan doa/bacaan shalat). Kata beliau, posisi seorang hamba yang paling dekat dengan Allah swt adalah ketika dalam shalat. Karena itu, eman sekali kalau bacaan-bacaan dalam shalat dilewatkan begitu saja, tanpa penghayatan dan ingat kepada Allah swt.
Pesan beliau, “Ayo kita nikmati shalat kita ini dengan khusyuk, baik secara fikih maupun spiritual.”[7]
Hadirin jamaah rahimakumullah,
Di bagian akhir khutbah ini akan saya sampaikan hasil penelitian banyak pakar tentang gerakan shalat yang thumakninah, khususnya sujud. Ternyata, hasil riset banyak membuktikan bahwa sujud, baik dalam keadaan shalat maupun dalam keadaan bersyukur (sujud syukur) memiliki manfaat yang luar biasa bagi tubuh. Berikut ringkasannya:
- Mengalirnya darah ke otak. Fungsi dari sujud yang pertama adalah dapat membuat darah mengalir hingga ke otak. Hal ini pertama kali ditemukan oleh Dr Fidelma O’Leary, neurolog dari Amerika, yang mendapat hidayah masuk Islam setelah melakukan kajian tentang saraf otak manusia. Saat melakukan kajian, beliau mendapati bahwa dengan bersujud darah yang terdapat dalam tubuh manusia memiliki kemampuan untuk memasuki bagian dari urat syaraf yang terdapat dalam otak manusia. Padahal urat syaraf tersebut adalah salah satu urat saraf yang tidak bisa dilalui oleh darah dalam otak kita, akan tetapi dengan bersujud darah dapat mengalir pada bagian tersebut.[8] (Dengan kata lain, ada satu urat saraf di otak manusia yang tidak bisa dimasuki atau dialiri darah kecuali pada saat sujud).
- Itu diperkuat lagi oleh pernyataan Hembing, yang berpendapat bahwa jantung hanya mampu memasok 20% darah ke otak manusia. Untuk mencukupi kebutuhan darah ke otak, maka manusia membutuhkan rutinitas sujud.[9]
- Sujud membantu kerja sel-sel otak. Apabila otak mendapatkan pasokan darah dan kaya oksigen, maka dapat memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang thumakninah dan terus menerus dapat memacu kecerdasan. Ini hasil penelitian Prof. Sholeh, yang risetnya telah mendapat pengakuan dari Harvard University, AS.[10]
- Melatih kekuatan otot tertentu termasuk otot dada, di mana terjadi kontraksi pada otot tersebut secara positif. Kebiasaan sujud ini akan mengembalikan serta mempertahankan organ-organ yang terdapat pada perut itu pada tempatnya kembali dengan sesuai (fiksasi).[11]
- Radiasi yang ditimbulkan oleh teknologi listrik dapat memberikan efek samping dan membahayakan organ-organ tubuh, terutama otak. Dimana kalau dibiarkan akan menimbulkan penyakit kejang otot, radang tenggorokan, mudah lelah, stress, migrain, hingga pikun di usia dini. Nah, ketika sujud kelebihan ion-ion positif yang ada dalam tubuh kita akan mengalir ke bumi, karena bumi adalah tempat ion-ion negatif. Maka terjadilah proses netralisasi radiasi listrik dan magnet tersebut. Ini hasil Dr. Muhammad Dhiyaa’uddin Hamid, dosen jurusan biologi dan ketua departemen radiasi makanan pada Lembaga Penelitian Teknologi Radiasi.[12]
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Imam asy-Syafi’i rahimahullah dalam Kitab Al-Umm menyebutkan, “Sujud yang sempurna adalah dengan menempelkan 7 anggota badan: wajah (dahi dan hidung), kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua ujung telapak kaki ke bumi.”[13]
Selanjutnya, Imam Syafi’i menegaskan, “Kesempurnaan sujud, yang memenuhi fardhu dan sunnah-sunnahnya adalah dengan meletakkan dahi, hidung, dua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua telapak kakinya ke permukaan bumi (lantai). Sujud dengan dahi saja tanpa hidung hukumnya makruh, meskipun tetap sah, karena dahi adalah tempat sujud.”[14]
Dengan keterangan tersebut semoga membuat kita semakin bersemangat untuk melaksakan shalat dengan sempurna, yakni dengan khusyuk dan thumakninah.
Semoga kita semua dijadikan oleh Allah swt sebagai orang-orang yang bisa mendirikan shalat dengan khusyuk dan thumakninah. Amin ya Rabbal ‘Alamin. [*]
Mojokerto, 1/5/2015
Sumber Rujukan:
Al-Hafizh Imaduddin Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’anul Azhim, Juz III, Bairut: Darul Jiil, tt.
Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Aal asy-Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 5, terj. Abdul Ghaffar, Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’i, 2001
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi, Tafsir al-Jalalain, Indonesia: Maktabatu Daru Ihya’i al-Kutub al-Arabiyah Indonesia, tt.
Imam Ghazali, Ringkasan Ihya’ Ulumuddin, terj. Fudhailurrahman dan Aida Humaira, Bekasi: PT Sahara Intisains, 2012.
Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, Majma’ Malik Fahd, 1995.
___________, al-Qawa’id al-Nuraniyyah al-Fiqhiyyah, Dar Ibn Jauzi, 1422.
Imam Asy-Syafi’i, Panduan Shalat lengkap, terj. Abdul Rosyad Shiddiq, Jakarta: Khatulistiwa Press, 2012.
Shahih Muslim
Sunan Tirmidzi
http://www.kumpulanmisteri.com/2015/03/fakta-ilmiah-menakjubkan-tentang-sujud.html
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=185707
Catatan Kaki:
[1] HR. Tirmidzi, 413.
[2]Tafsir Jalalain, 282.
[3]Tafsir Ibnu Katsir, 3/231; Edisi Indonesia, 5/570.
[4] Ringkasan Ihya’ Ulumuddin, 87.
[5] Ibnu Taimiyyah, al-Qawaid al-Nuraniyyah, 75; Majmu’ Fatawa, 22/555.
[6] Catatan kaki istri saya dalam kajian KitabTafsir Jalalain.
[7] Disampaikan dalam Kuliah Solusi Spiritual (KSS) di Masjid Al-Qadr Pepelegi Sidoarja, 2 Mei 2014.
[8]http://www.kumpulanmisteri.com/2015/03/fakta-ilmiah-menakjubkan-tentang-sujud.html
[9]http://kanzunqalam.com/2014/11/22/manfaat-sujud-menurut-pakar-kesehatan-prof-hembing-prof-h-a-saboe-dan-dr-fidelma-o-leary/
[10]http://www.kumpulanmisteri.com/2015/03/fakta-ilmiah-menakjubkan-tentang-sujud.html
[11] Ibid.
[12]Ibid.
[13]Panduan Shalat lengkap, 122.
[14] Ibid, 123.

















