BERTAKWA KEPADA ALLAH, MEMBUKA PINTU REZKI
Oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah
Marilah kita meneguhkan kembali tekad kita untuk selalu meningkatkan iman dan takwa kepada Allah I dengan sebenar-benarnya, agar kita bisa meraih kesuksesan dan keselamatan di dunia dan akherat. Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Terjemah Kemenag 2019
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (beragama Islam).” (QS. Ali Imran (3): 102)
Dalam ayat ini ada dua perintah atau wasiat: 1) perintah takwa dengan sebenar-benarnya, dan 2) perintah jangan mati kecuali dalam keadaan muslim (khusnul khatimah).
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan, “Ayat-ayat ini (Ali Imran: 102-105) mengandung anjuran Allah kepada para hamba-Nya, kaum mukminin, agar mendirikan syukur atas nikmat-nikmat-Nya yang besar, yaitu dengan bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar takwa, dan agar mereka menaati-Nya dan meninggalkan kemaksiatan terhadap-Nya secara tulus ikhlas untuk-Nya… dan agar mereka selalu konsisten atas hal itu hingga mereka meninggal.”[1]
Secara bahasa, taqwa artinya berhati-hati. Sedangkan menurut istilah, para ulama’ rahimahumullah, telah menjelaskannya secara bervariasi, antara lain:
- Abdullah ibnu Mas’ud t –salah seorang sahabat Nabi yang mulia- memberikan pengertian takwa secara sempurna ketika menafsiri ayat: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa.” (QS. Ali Imran: 102) dengan mengatakan: “Hendaklah Allah ditaati tidak dimaksiati, diingat tidak dilupakan, dan disyukuri tidak diingkari.”[2]
Konkritnya –dari apa yang sampaikan Ibnu Mas’ud t- bahwa takwa itu menaati Allah dengan jalan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, selalu berdzikir dan mengingat Allah kapan pun dan di mana pun berada, serta selalu mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah kepada kita.
- Abu Hurairah t ketika ditanya tentang takwa, ia balik bertanya: “Apakah engkau pernah melewati jalan yang penuh duri?!” Si penanya menjawab: “Ya.” Abu Hurairah bertanya: “Lalu apa yang kamu lakukan?” Ia menjawab: “Jika aku melihat duri maka aku menghindar darinya atau aku melangkahinya.” Abu Hurairah berkata: “Itulah takwa.”[3]
- Imam an-Nawawi j mendefinisikan takwa dengan mentaati perintah dan larangan-Nya. [Artinya, melaksanakan segala yang diperintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya]. Maksudnya, menjaga diri dari kemurkaan dan azab Allah I.[4]
Dari semua definisi takwa itu, sebenarnya –kalau disimpulkan- mengarah pada satu titik, yaitu sikap hati-hati dan takut. Takut kepada Allah, takut dosa, takut dengan murka Allah dan takut dengan azab Allah; karena melakukan dosa. Dan perbuatan dosa itu bisa dengan meninggalkan perintah Allah atau sebaliknya mengerjakan larangan-Nya.
Karena itu, siapa saja yang tidak menjaga dirinya dari perbuatan dosa –baik itu mata, telinga, lisan, tangan ataupun kaki atau bahkan hatinya- berarti ia bukanlah termasuk orang-orang yang bertaqwa.
Orang yang selalu melakukan perbuatan dosa, seperti: syirik, bid’ah, maksiat, korupsi, zhalim, sombong, menolak hukum-hukum Allah, menentang sunnah, menentang dakwah, atau hatinya berat dengan menerima syari’at Allah di muka bumi, maka ia bukanlah termasuk orang yang bertakwa.
ó Jadi, orang yang membangkang perintah Allah, menolak hukum Allah, atau menentang Sunnah Rasul r –dengan mengatakan: tidak relevan, ketinggalan zaman, atau tidak modern dst- serta melakukan berbagai kemungkaran, maka orang seperti ini tidak termasuk barisan orang-orang bertaqwa.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kemudian pertanyaannya, kapan dan di mana kita harus bertakwa? Jawabannya: ya, kapan saja dan di mana saja. Karena kita menyembah Allah dan kita diawasi Allah selama 24 jam, tidak dibatasi waktu dan tempat, tidak ada waktu jedah atau tempat tertentu yang boleh melepaskan baju takwa ini.
Jadi, takwa itu tidak hanya di tempat ibadah, tidak hanya di masjid atau mushalla, tetapi di mana saja: di rumah, di jalan, di kantor, di sekolah, di kampus, di pasar, di mall, di tempat kerja, dan di mana pun berada. Juga berbagai profesi, seperti: pejabat pemerintah, aparat penegak hukum, pegawai swasta, guru, dosen, dokter, pedagang, tukang (dengan berbagai variannya), buruh, sopir, dan seterusnya, semua sama di hadapan Allah, akan dimintai tanggung jawabnya.
Kebanyakan orang, biasa dengan mudah mencela pejabat yang diduga korupsi, tetapi sebetulnya kita juga sering melakukan hal yang sama, yaitu perilaku korupsi itu, meskipun dalam skala kecil. Jadi guru sering terlambat, ini korupsi waktu. Jadi pedagang suka mengurangi timbangan atau takaran, atau juga tidak jujur, menyembunyikan yang cacad, mencampuri dengan bahan yang membahayakan, dst. Jadi tukang (batu atau kayu, dsb) atau pekerja pabrik, suka ‘ngelimput’ (Jawa, mencari-cari kelengahan; kalau ada majikan bekerja sungguh-sungguh, kalau tidak ada majikan berleha-leha), ini juga termasuk korupsi, dan sebagainya. Alhasil, korupsi yang merupakan salah satu prilaku tidak bertakwa itu tidak hanya ada pada para pejabat negara, tetapi siapapun bisa melakukan korupsi sesuai bidang dan profesi masing-masing, meskipun dalam skala yang lebih kecil tentunya. Ini perilaku-perilaku yang tidak mencerminkan ketakwaan kepada Allah I.
Jadi, takwa bukanlah kata-kata kosong tanpa bukti. Takwa adalah amal perbuatan dalam rangka ketaatan kepada Allah I, dan tidak melakukan maksiat kepada-Nya.[5]
Baginda Rasul r bersabda:
«اتقِّ اللَّهَ حيثما كنتَ، واتْبَعِ السيئةَ الحسنةَ تمحُهَا، وخالقِ الناسَ بخلقٍ حسنٍ»
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Iringilah keburukan dengan berbuat baik niscaya kebaikan itu menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak terpuji.” (HR. at-Turmudzi, Ahmad, dan ad-Darimi)
Al-Hafizh ibnu Rajab j berkata, “Maksudnya pada saat sembunyi dan nampak (terang-terangan), ketika orang-orang melihatnya dan ketika mereka tidak melihatnya.”[6]
Dr. Musthafa Dieb al-Bugha mengatakan: “Taujih yang paling penting dalam hadits ini adalah takwa kepada Allah. Takwa merupakan sumber semua kebaikan dan pencegah segala keburukan. Dengan takwa, seorang mukmin akan mendapatkan pertolongan dari Allah I.[7]
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Taqwa mempunyai banyak buah yang dapat dipetik oleh orang-orang yang bertakwa, baik di dunia maupun di akherat, antara lain:
Pertama, Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah:
بَلٰى مَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ وَاتَّقٰى فَاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِيْنَ
“Bukan begitu! Siapa yang menepati janji dan bertakwa, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 76), juga QS. at-Taubah: 4 dan 7.
Kedua, Taqwa menyebabkan masuk surga serta memperoleh segala macam kenikmatannya. Allah berfirman:
۞ قُلْ اَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِّنْ ذٰلِكُمْ ۗ لِلَّذِيْنَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَاَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِالْعِبَادِۚ
“…Untuk orang-orang yang bertakwa, di sisi Tuhan mereka ada surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan (untuk mereka) pasangan yang disucikan serta rida Allah. Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran: 15; dan ayat yang senada dengan ini misalnya QS. An-Nahl: 30-31, dan az-Zumar: 20)
Ketiga, Kedudukan yang tinggi di sisi Allah pada hari kiamat (QS. Al-Baqarah: 212)
Keempat, Tercapainya keberuntungan, sebagaimana firman Allah:
قُلْ لَّا يَسْتَوِى الْخَبِيْثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ اَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيْثِۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ࣖ
“Maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang berakal sehat, agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah (5): 100)
Kelima, Mendapat kemenangan di dunia dan akherat. Allah berfirman:
وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَيَخْشَ اللّٰهَ وَيَتَّقْهِ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ
“Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. An-Nur (24): 52)
Keenam, Allah memberi jaminan di dunia ini bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu: diberinya jalan keluar, dibukanya kunci rizki, dan diturunkannya berkah.
Allah swt berfirman:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ
Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga (tidak disangka-sangka).” (QS. Ath-Thalaq (65): 2-3)

Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa orang yang merealisasikan takwa akan dibalas oleh Allah dengan dua hal, pertama: Allah akan mengadakan jalan keluar baginya. Artinya, Allah akan menyelamatkannya dari setiap kesusahan dunia maupun akherat, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas t dalam Tafsir al-Qurthubi. Kedua: Allah akan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangka. Artinya, Allah akan memberinya rezki yang tidak pernah ia harapkan.[8]
Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan: “Maknanya barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintah-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar serta rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yaitu dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.”[9]
Allah juga berfirman:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf (7): 96)
Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan seandainya penduduk suatu negeri merealisasikan dua hal, yaitu iman dan takwa, niscaya Allah akan melapangkan kebaikan (kekayaan) untuk mereka dan memudahkan mereka untuk mendapatkannya dari segala arah. Ini menurut penafsiran Ibnu Abbas t.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Melihat agungnya buah dari takwa ini, maka sudah selayaknya kita semua berusaha sekuat tenaga untuk bisa memiliki dan merealisasikan takwa ini. Untuk merealisasikan takwa ini ada prasyaratnya. Prasyarat itu tiada lain adalah ilmu, yaitu memahami agama Islam ini dengan baik dan benar.
Dr. Musthafa Dieb al-Bugha mengatakan, “Nilai-nilai ketakwaan tidak akan terealisasi dan juga tidak akan membuahkan hasil, kecuali jika seorang muslim memahami ajaran agama Allah. Sebab, orang yang tidak memahami tidak akan mengetahui apa yang wajib ia lakukan dan apa yang wajib ia tinggalkan. Karena itu, ilmu adalah ibadah yang paling afdhal, jalan yang menghubungkan ke surga dan tanda bahwa seseorang menginginkan kebaikan.[10]
KHUTBAH KEDUA
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sesuai dengan wasiat takwa dan jangan meninggal kecuali dalam keadaan muslim, maka marilah kita belajar meningkatkan keistiqamahan dalam ketaatan agar kita bisa mendapatkan khusnul khatimah. Termasuk kita evaluasi amalan harian kita, sebagaimana wasiat Allah dalam firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr (59): 18)
Kita memohon kepada Allah hidayah dan taufik-Nya agar dijadikan ke dalam barisan orang-orang yang bertakwa kepada Allah I dan istiqamah di dalamnya. Amin ya mujibassa’ilin. [*]
Mojokerto, 26/03/2013
Sumber Rujukan:
- Abul Fida’ Ismail bin Katsir al-Qurasyi ad-Dimasyqi, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, juz I dan IV Bairut: Darul Jil, tt.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Taisirul Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, terj. Muhammad Iqbal, Lc. Dkk., Jakarta: Pustaka Sahifa, cet. ke-2, 2012.
- Dr. Said bin Ali al-Qahthani, Taqwa dan Kegelapan Maksiat, Jakarta: Darul Haq, 1998.
- Dr. Fadhl Ilahi, Kunci-Kunci Rizqi Menurut al-Qur’an dan Sunnah, Darul Hak, Jakarta, 1420 H.
- Dr. Musthafa Dieb al-Bugha, Al-Wafi: Syarah Kitab Arba’in an-Nawawiyah, terj. Muhil Dhofir, Lc., Jakarta: al-I’tishom, cet. ke-9, 2008.
Catatan Kaki:
[1] Tafsir as-Sa’di, I/561.
[2] Tafsir Ibnu Katsir, I/366.
[3] Takwa dan Kegelapan Maksiat, 9
[4] Kunci-Kunci Rizki Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, 19.
[5] Al-Wafi: Syarah Kitab Arba’in an-Nawawiyah, 126.
[6] Takwa dan Kegelapan Maksiat, 16.
[7] Al-Wafi: Syarah Kitab Arba’in an-Nawawiyah, 124.
[8] Kunci-Kunci Rizki Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, 21.
[9] Tafsir Ibnu Katsir, IV/380.
[10] Al-Wafi: Syarah Kitab Arba’in an-Nawawiyah, 127.


















Khutbah Yai Mujib mengajarkan konsep takwa yang melampaui batasan waktu dan tempat, mengingatkan kita bahwa setiap langkah kita diawasi oleh Allah. Bukan hanya di tempat ibadah, melainkan di setiap aspek kehidupan. Pesan ini mengingatkan kita untuk memaknai takwa dalam segala profesi dan kehidupan sehari-hari.
Semoga kita senantiasa mendapat hidayah untuk menjalankan takwa, tidak hanya dalam ritual ibadah, tetapi juga dalam setiap tindakan dan profesi. Semoga Allah melimpahkan cinta-Nya kepada kita, membuka pintu rezki, dan memberikan kemenangan di dunia dan akhirat. Ampunilah dosa-dosa kami dan berilah kami keberkahan dalam setiap langkah hidup. Aamiin.