AGAR HIDUP BAHAGIA DAN PENUH BERKAH
Oleh: M. Mujib Ansor
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita terus meningkatkan iman dan takwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya agar hidup kita selalu diridhai oleh Allah swt, sehingga sukses selalu, penuh berkah, dan Bahagia dunia akhirat.
Dalam konsep Islam, keberuntungan, kesuksesan, rezeki, keberkahan, dan kebahagiaan akan kita dapatkan manakala kita bisa mewujudkan iman, takwa, dan ketaatan kepada Allah swt. Banyak ayat yang menjelaskan hal itu dengan berbagai macam redaksinya, misalnya Allah sw berfirman:
فَاتَّقُوا اللّٰهَ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ࣖ
“Maka, bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal sehat agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah (5): 100)
Dalam Tafsir Jalalain disebut تَفُوْزُوْنَ artinya kalian sukses, dapat kemenangan, atau bahagia.
Syaikh as-Sa’di rhm mengatakan: Allah memberitakan bahwa keberuntungan bergantung kepada takwa yang merupakan ketaatan kepada perintah dan larangan-Nya. Barangsiapa bertakwa kepada-Nya maka ia beruntung total, dan siapa yang membuang takwa maka ia akan merugi, tidak beruntung.
Ayat ini saja mestinya sudah cukup, tapi tidak mengapa, coba kita perhatikan redaksi ayat yang lain.
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ
“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia sangka. (QS. Ath-Thalaq (65): 2-3)
Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa orang yang merealisasikan takwa akan dibalas oleh Allah dengan dua hal, pertama: Allah akan mengadakan jalan keluar baginya, yaitu akan menyelamatkannya dari setiap kesusahan dunia maupun akherat, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas t dalam Tafsir al-Qurthubi. Kedua: Allah akan memberinya rizki dari arah yang tidak ia sangka-sangka. Artinya, Allah akan memberinya rizki yang tidak pernah ia harapkan.
Kemudian di ayat ke-4 Allah berfirman:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا
“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”
Kita perhatikan lagi ayat yang lain, Allah berfirman,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl (16): 97)
Kehidupan yang baik itu, kata Ibnu Katsir rhm: mencakup seluruh bentuk ketenangan, bagaimana pun wujudnya.
Kalau kita gabung ayat-ayat tersebut, maka menjelaskan kepada kita bahwa kunci meraih sukses, keberuntungan, dan kebahagiaan adalah dengan mewujudkan iman, takwa, amal shaleh dan ketaatan kepada Allah swt.

Itulah beberapa contah ayat tentang kunci meraih sukses, keberuntungan, dan kebahagiaan bagi perorangan atau individu. Sekarang kita perhatikan ayat yang terkait dengan kelompok atau Masyarakat atau bangsa:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Al-A’raf (7): 96)
Ayat ini jelas menyebutkan bahwa keberkahan dari langit dan dan bumi akan dibuka manakala penduduk suatu negeri merealisasikan iman dan takwa. Jadi, realisasi iman dan takwa itu menjadi syarat terbukanya keberkahan. Kalau tidak, ya tidak dibukakan keberkahan itu.
Oleh karena itu, dari ayat-ayat ini dan banyak ayat lain yang tidak disebutkan di sini, para ulama mengambil kesimpulan bahwa iman, takwa, amal shalih, dan berbagai bentuk ketaatan kepada Allah, akan mendatangkan kebaikan, keselamatan, keberuntungan, rezeki, dan kebahagiaan dunia-akhirat.
Sebaliknya, berbagai kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah akan mendatangkan bencana, fitnah, kesusahan, dan kesengsaraan, baik dunia maupun akhirat. Dalilnya, di surat Al-A’raf: 96 tadi, di bagian akhir sarat Allah berfirman:
وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami siksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.
Di ayat lain Allah berfirman:
وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ
“Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan (Allah) memaafkan banyak (kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura (42): 30)
Ayat ini menjelaskan bahwa musibah apa pun yang menimpa kita adalah disebabkan karena kesalahan dan dosa kita. Karena itu, agar hidup ini lapang, penuh berkah, dan bahagia maka jauhi maksiat. Karena maksiat menghilangkan nikmat dan mendatangkan madharat, bencana dan kesusahan lainnya.
Jadi, kalau kita mengalami kesusahan atau kesulitan hidup atau apalah namanya yang menggambarkan kita sedang tidak baik-baik saja, maka kita perlu introspeksi: apakah iman kita meningkat atau menurun, atau ketaatan kita kepada Allah sudah benar atau sebaliknya, atau justru kita banyak bermaksiat kepada Allah.
Kesimpulan
Jadi, intinya: kunci kebahagiaan itu ialah taat kepada Allah dan menjauhi maksiat.
Karena itu, mari kita mendekat kepada Allah Yang Maha Kuasa, Sang Pemberi rezeki dan Pemilik kebahagiaan, bukan malah menjauhi-Nya.
Semoga Allah swt membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya sehingga hidup kita penuh berkah, bahagia, dunia dan akhirat. Amin. []
Mojokerto, 31/05/2024
Sumber Rujukan:
Al-Qur’an dan Terjemah Kemenag (Aplikasi) versi terjemahan 2019.
Al-Hafizh Abul Fida’ Ismail bin Katsir al-Qurasyi ad-Dimasyqi, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, juz 2, Bairut: Darul Jil, tt.
Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Aal asy-Syaikh, Dr., Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 5, terj. Abdul Ghaffar, Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’i, 2001.
Al-Allamah Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuti, Tafsir Jalalain, Juz 1 dan 2, Surabaya: Al-Hidayah, tt.
Fadhl Ilahi, Dr., Kunci-Kunci Rizqi Menurut al-Qur’an dan Sunnah, Jakarta: Darul Haq, 1420 H.
Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuti, Tafsir Jalalain, Jilid 1, terj. Bahrun Abubakar, Lc., Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Taisirul Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, Riyadh: Darus Salam lin-Nasyr wa at-Tauzi’, cet. ke-2, 1422 H/ 2002 M.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Tafsir Al-Qur’an (Tafsir As-Sa’di) Jilid 2, terj. Muhammad Iqbal, Lc. dkk., Jakarta: Pustaka Sahifa, 2007.

















