KEBERKAHAN BULAN MUHARRAM
Oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I. (Kadiv. Pendidikan YBM Malang)
Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jum’at rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah Swt dengan sebenar-benar takwa, dengan meningkatkan ketaatan kepada Allah, serta meningkatkan amal ibadah kita sehari-hari terutama pada waktu-waktu yang dibekahi, seperti pada bulan-bulan haram, yaitu: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, serta Rajab. Bulan-bulan ini diistimewakan oleh Allah dengan kesuciannya dan Dia menjadikan bulan-bulan ini sebagai bulan-bulan pilihan. Allah Swt berfirman:
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
Terjemah Kemenag 2019
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan,[1]326) (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah (9): 36)
Hadirin jamaah rahimakumullah,
Ibnu Jarir ath-Thobari meriwayatkan melalui sanadnya, dari Ibnu Abbas t sehubungan dengan pengagungan Allah terhadap kesucian bulan-bulan ini, beliau berkata, “Allah I telah menjadikan bulan-bulan ini sebagai (bulan-bulan yang) suci, mengagungkan kehormatannya dan menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan-bulan ini menjadi lebih besar, dan menjadikan amal shalih serta pahala pada bulan ini juga lebih besar (banyak).”
Di ayat yang lain Allah I berfirman:
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيْهِۗ قُلْ قِتَالٌ فِيْهِ كَبِيْرٌ ۗ …
“Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, “Berperang dalam bulan itu adalah (dosa) besar…” (QS. Al-Baqarah (2): 217)
Juga firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ …
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar (kesucian) Allah,[3] jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram,[4]…” (QS. Al-Maidah [5]: 2)
Al-Hafizh Ibnu Katsir menuturkan, “yang dimaksud oleh ayat ini adalah pemuliaan dan penyucian bulan tersebut dan pengakuan terhadap kemuliaannya serta meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah seperti memulai peperangan dan penegasan terhadap perintah menjauhi hal yang diharamkan.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di antara keutamaan dan keberkahan bulan Muharram adalah sebagaimana tercantum dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah t, Rasulullah r bersabda:
«أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللّهِ الْمُحَرَّمُ. وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ ، بَعْدَ الْفَرِيضَةِ، صَلاَةُ اللَّيْلِ»
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa pada) bulan Allah, yaitu Muharram….”
Ibnu Rajab al-Hanbali j mengatakan, “Nabi r menamakan Muharram dengan ‘Bulan Allah’ (syahrullah). Penisbatan nama bulan ini dengan lafazh Allah menunjukkan kemuliaan dan keutamaan bulan ini, karena sesungguhnya Allah tidak menyandarkan (menisbatkan) lafal tersebut kepada-Nya kecuali karena keistimewaan dan kekhususan yang dimiliki oleh makhluk-Nya tersebut dan seterusnya.”
Sebagian ulama memberikan alasan yang mengaitkan tentang keutamaan puasa pada bulan ini, maksudnya, bahwa sebaik-baik bulan untuk melakukan puasa sunnah secara penuh setelah bulan Ramadhan adalam Muharram.
Di antara keberkahan bulan Muharram berikutnya adalah hari kesepuluh, yaitu hari ‘asyuro. Hari ‘Asyura ini merupakan hari yang mulia dan penuh berkah. Hari Asyura ini memiliki kesucian dan kemuliaan sejak dahulu. Di mana pada hari Asyura ini Allah swt telah menyelematkan Nabi Musa as beserta kaumnya, serta menenggelamkan musuhnya, Fir’aun dan balatentaranya. Sesungguhnya Nabi Musa as berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukurnya kepada Allahswt.
Disebutkan dalam ash-Shahihain dari Ibnu Abbas ra,:
«لما قَدِمَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم المدينةَ، واليهودُ تصومُ عاشوراءَ، فسألهم فقالوا: هذا اليومُ الذي ظهرَ فيه موسى على فِرعونَ؛ فقال النبيُّ صلى الله عليه وسلم: نحنُ أولى بموسى منهم فصوموه».
“Bahwa Rasulullah saw datang ke Madinah dan beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Maka Rasulullah bertanya pada mereka, “Hari apakah ini, yang kalian berpuasa di dalamnya?!” Mereka menjawab, “Ini adalah hari yang agung, pada hari inilah Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya. Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Maka kita lebih berhak daripada Musa dan lebih diutamakan daripada mereka, maka berpuasalah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan puasa Asyura memiliki keutamaan yang besar, yaitu dapat meleburkan dosa-dosa setahun yang lalu, sebagaimana tercantum dalam Shahih Muslim, dari hadits Abu Qatadah al-Anshari ra.
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ؟ فَقَالَ: «يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ» قَالَ: وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ؟ فَقَالَ: «يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيةَ
“Rasulullah saw ditanya tentang puasa Arafah, maka beliau bersabda: Ia akan menghapus dosa-dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Dan Rasulullah saw ditanya tentang puasa Asyura, maka beliau bersabda, “Dia akan menggugurkan (dosa-dosa) setahun yang lalu.”
Hadirin jamaah rahimakumullah,
Sebagian ulama berpendapat sunnah berpuasa pada hari ke sembilan bersamaan hari kesepuluh karena Nabi saw berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat akan puasa pada hari kesembilan. Imam an-Nawawi rhm menyatakan, “Barangkali sebab dari puasa dua hari ini agar tidak tasyabbuh (menyerupai) dengan Yahudi yang berpuasa hanya di hari kesepuluh.”
Tidak ada lagi yang disyariatkan pada hari Asyura ini amalan-amalan lain selain puasa. Termasuk yang meprihatinkan adalah yang dilakukan orang-orang Syiah Rafidhah, yaitu berupa hari Raya menyiksa diri karena meratapi kematian Sayyidina Husain ra. Itu dilakukan dalam rangka membangun kebencian kepada ahlussunnah yang ditunduh telah membunuh Sayyidina Husain. Dan perayaan ini mulai marak di negeri ini… Padahal, hal ini tidak pernah dilakukan oleh seorang pun dari generasi salaf, dan ahlul bait Rasulullah saw maupun dari yang lainnya.
Sungguh, musibah terbunuhnya Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma pada hari Asyura ini adalah musibah bagi kaum muslimin. Dan wajib disikapi sebagaimana menyikapi terhadap musibah yang lain, yaitu menerima dengan sabar, dan mengembalikannya kepada Allah Swt.
Semoga kita semua selalu diberi hidayah dan taufik oleh Allah I, sehingga bisa melaksanakan berbagai ketaatan dan ibadah kepada Allah dengan ringan dan ikhlas karena Allah. Amin ya Rabbal ‘Alamin. [*]
Mojokerto, (revisi) 4 Juli 2025/ 8 Muharram 1447 H.
Sumber Rujukan:
Al-Imam al-Hafizh Imaduddin Abulfida’ Ismail ibn Katis al-Qurasyi ad-Dimasyqi, Tafsir Al-Qur’an al-Azhim, Beirut: Darul Jil, tt.
Nashir bin Abdurrahman bin Muhammad al-Juda’i, Dr., Amalan dan Waktu Yang Diberkahi, Bogor: Pustaka Ibnu Katsir, 1993.
Zakaria Ghulam Qadir al-Bakistani, Ensiklopedi Shahih Fadhail A’mal, Pustaka Yassir, Surabaya, 2007.
Catatan Kaki:
[1] Allah Swt. menetapkan periode orbit bumi mengitari matahari selama setahun yang setara dengan dua belas bulan, yaitu dua belas kali ketampakan bulan sabit akibat bulan mengitari bumi. Keteraturan periode waktu inilah yang menjadi patokan untuk perhitungan waktu.
[3] Syiar-syiar kesucian Allah ialah segala amalan yang dilakukan dalam rangka ibadah haji, seperti tata cara melakukan tawaf dan sa’i, serta tempat-tempat mengerjakannya, seperti Ka‘bah, Safa, dan Marwah. (Al-Qur’an terjemah Kemenag 2019)
[4] Bulan haram ialah Zulqa’dah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab. Pada bulan-bulan itu dilarang melakukan peperangan

















