Wednesday, May 13, 2026
  • Login
SWAHARAH
  • Beranda
  • Profil
    • PROFIL PENDIRI
    • PROFIL SWAHARAH.ID
  • Agama
    • Kajian
    • Khutbah
    • Makalah
  • Pendidikan
  • Kutipan
  • Nasional
    • Berita
    • Internasional
    • Opini
  • Sejarah
  • Keluarga
  • Tamu
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Profil
    • PROFIL PENDIRI
    • PROFIL SWAHARAH.ID
  • Agama
    • Kajian
    • Khutbah
    • Makalah
  • Pendidikan
  • Kutipan
  • Nasional
    • Berita
    • Internasional
    • Opini
  • Sejarah
  • Keluarga
  • Tamu
No Result
View All Result
SWAHARAH
No Result
View All Result
Home Keluarga

AGAR CINTA TETAP BERSEMI

M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I. by M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.
November 11, 2023
in Keluarga
A A
2
AGAR CINTA TETAP BERSEMI

Dok. Jamaluddin

1
SHARES
100
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

AGAR CINTA TETAP BERSEMI[1]

Oleh: M. Mujib Ansor, S.H., M.Pd.I.

 

Pendahuluan

Banyak hal yang kelihatannya sepele atau remeh-temeh atau kecil tetapi berakibat besar. Artinya, hal-hal yang nampaknya remeh tetapi kalau dilakukan atau tidak dilakukan akan menyebabkan rumah tangga jadi romantis penuh kehangatan. Begitu pula sebaliknya, banyak hal yang kelihatannya remeh tetapi akibatnya bisa membuat rumah tangga jadi runyam bahkan berantakan.

Pada pertemuan pertama yang lalu, kita sudah membahas tentang pentingnya komunikasi dalam rumah tangga, kali ini kita lanjutkan untuk menyempurnakan pembahasan tersebut dengan membahas masalah-masalah yang kelihatannya sepele tetapi berdampak besar bagi berlangsungnya rumah tangga.

 Sebutlah Namanya dengan Cinta

Orang-orang ahli komunikasi mempunyai ungkapan yang terkenal, “Word does not mean, people mean.” Kata yang diucapkan tidaklah terlalu bermakna, Andalah yang menjadikan kata itu penuh makna. Kata yang baik bila Anda ucapkan dengan sinis, akan tidak baik akibatnya. Sebaliknya, kata-kata yang secara harfiah bermakna tidak bagus, tetapi Anda sampaikan kepada sahabat dekat untuk mengungkapkan kekaguman, akan lain maknanya.

Banyak hal “kecil” yang sesungguhnya tidak kecil maknanya, kalau diperhatikan secara seksama. Justru akan berakibat besar jika tidak diperhatikan. Termasuk dalam hubungan suami istri. Nama yang sama akan berkesan lain di hati jika kita mengucapkan dengan perasaan yang berbeda dan cara yang berbeda pula. Karenanya, sebutlah namanya dengan cinta. Panggillah ia dengan suara yang lembut, jangan bikin ia gemetar karena suara yang kasar. Ya, sebutlah namanya dengan cinta agar ia merasa tenteram di sisi Anda.

Panggilan Sayang

Satu-satunya istri Nabi r yang dinikahi tatkala masih gadis adalah Aisyah s, putri Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq t. Sesudah Khadijah al-Kubro, tak ada istri yang lebih dicintai oleh Nabi r melebihi cintanya kepada Aisyah s. Jika yang paling mengesankan dari Sayyidah Khadijah s adalah kesetiaan dan dukungannya yang tak pernah berkurang sedikit pun terhadap perjuangan dakwah Nabi r, maka pernikahan beliau dengan Sayyidah Aisyah s adalah cerita tentang rumah tangga yang romantis.

Selain cara memanggilnya yang menarik, Rasulullah r biasa  memanggil istrinya dengan panggilan yang khusus. Terkadang Rasul r memanggil dengan menyebut nama, terkadang dengan memberi julukan sebagai panggilan sayang.

Menurut riwayat, Baginda Nabi r dalam memanggil istrinya, Bunda Aisyah s, dengan menggunakan beberapa panggilan, misalnya: Muwafaqah (wanita yang diberi petunjuk), Humaira (yang pipinya kemerah-merahan), ‘Aisy, atau Ummu Abdullah. Inilah panggilan sayang seorang Nabi kepada istrinya, ungkapan mesra yang menghangatkan jiwa.

Ketika rumah tangga mulai beku tanpa cinta, panggilan yang mesra dapat membangkitkan kehangatan dan cinta. Sekali waktu, kita dapat memanggil istri atau suami dengan panggilan sayang agar cinta bersemi indah.

Panggilan “sayang” tidak hanya dibutuhkan oleh pasangan muda. Pasangan yang telah merajut benang perkawinan selama bertahun-tahun, justru lebih membutuhkan letupan-letupan romantis. Pada masa pengantin baru, tanpa panggilan sayang atau ungkapan cinta yang bertabur pujian, hati sudah berbunga-bunga. Akan tetapi, ketika sudah memberi kesibukan dengan anak yang banyak, tak ada lagi tawa-tawa kecil yang menggoda, kecuali jika kita pandai menghangatkan suasana dengan panggilan sayang atau canda yang renyah. Artinya, semakin bertambah usia pernikahan, justru semakin perlu kita memahami bagaimana mempererat pertalian jiwa.

Masih tentang panggilan, ada riwayat yang patut direnungkan”

“Rasulullah pernah mendengar seseorang mengatakan kepada istrinya, “Ya, ukhti.” Rasulullah r lalu bertanya, “Apakah ia saudaramu?” (HR. Abu Dawud)

Muhammad Abu Rifa’i menukil hadits ini dalam Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir sesudah menjelaskan tentang zhihar. Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah r tidak suka suami memanggil istrinya dengan ukhti yang berarti “saudaraku”. Rasulullah menampakkan ketidaksukaannya dengan pertanyaan, Apakah ia saudaramu?” Ini merupakan pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban, tetapi sebagai teguran.

Cara memanggil semacam ini membuat hubungan suami istri terasa sangat formal dan kaku, tidak cair, apalagi mesra.

Bagaimana dengan panggilan “abi” dan “ummi”? Mohammad Fauzil Adhim menyarankan, perlu dipertimbangkan. “Jika panggilan itu membuat Anda merasa lebih bahagia, Anda bisa bersepakat untuk mempergunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, akan lebih baik menyempurnakannya, misalnya Ummu Azmi (ibunya Azmi), bukan ummi yang berarti ibuku. Adapun jika penggunaan sebutan semacam ini membuat komunikasi terasa kurang mesra, memanggil dengan nama barangkali lebih tepat untuk Anda.”

Pemanggilan dengan cara yang kaku dan formal akan menimbulkan jarak psikis. Ini menghalangi tumbuhnya keakraban antara suami dan istri. Mereka tidak bisa menjalin hubungan yang hangat dan saling terbuka, akhirnya menyebabkan terhambatnya proses komunikasi, inilah yang kemudian menjadikan suami istri tidak bisa saling curhat. Mereka tidak dapat saling memenuhi kebutuhan untuk mendengar dan didengarkan akibat komunikasi yang tidak lancar.

 

Kepekaan dalam Rumah Tangga

Berbicara tentang kepekaan dalam rumah tangga, kita teringat Rasulullah r, selain beliau selalu memanggil istrinya dengan mesra atau memberi sebutan yang membahagiakan, beiau juga sangat peka terhadap gejolak istrinya. Rasulullah r tahu kapan Bunda Aisyah s marah, bukan karena istrinya membanting piring atau menelungkupkan wajah ke bantal karena dongkol. Beliau tahu kemarahan istrinya “hanya” dari perbedaan ungkapan yang dipakai Bunda Aisyah s tatkala berbicara.

Diriwayatkan dari Aisyah s ia berkata, “Rasulullah r berkata kepadaku, ‘Sungguh aku dapat mengetahui kapan engkau sedang suka padaku dan kapan engkau sedang marah.”

Aku bertanya, ‘Dari mana engkau tahu?’

Rasulullah r berkata, ‘Jika engkau suka padaku, engkau berkata, ‘Demi Tuhannya Muhammad,’ dan jika engkau sedang marah padaku, engkau berkata, ‘Sungguh, demi Tuhannya Ibrahim.’

Aku berkata, “Demi Allah, memang benar, wahai Rasulullah, yang tidak kusebut hanyalah namamu.” (HR. Bukhari Muslim)

Kisah romantis pernikahan Rasulullah r dengan Bunda Aisyah s ini mengingatkan kita pada cerita-cerita sedih para istri kita. Jika Rasulullah r tidak perlu bertanya kepada istrinya, sedang marah atau tidak, maka banyak di antara para istri yang kesal bukan main kepada suami. Sebabnya, para istri sudah menampakkan rasa kesal dan amarahnya dengan jelas, lewat muka yang cemberut atau perkataan yang ketus, tetapi suami masih bertanya, “Kamu marah, ya?!”

Pertanyaan semacam ini bukannya meredakan kemarahan, tetapi justru meledakkan kekesalan. Karena tak tahan membendung rasa kesal, akhirnya justru berkata dengan nada tinggi dan ekspresi marah, “Nggak, aku tidak marah!”

Jawaban istri yang disampaikan dengan bersungut-sungut ini sebenarnya telah cukup. Tak perlu penjelasan lebih panjang. Kitalah yang harus cepat tanggap, tidak justru berkata, “Ya, kalau memang nggak marah, kenapa harus cemberut begitu?”

Masyaallah…, betapa bebalnya perasaan kita terhadap istri.

 

Berpamitan Jika Keluar/ Izin Jika Ada Keperluan

Imam Ibnu Katsir menulis penuturan Atha’ sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih: “Saya, Ibnu Umar, dan Ubaid bin Amir pergi ke rumah Aisyah s. Kami pun masuk ke rumahnya. Antara kami dan dia terdapat hijab (sekat penutup),” kata Atha’. Ia lalu menuturkan percakapan yang berlangsung di rumah Aisyah.

“Wahai Ubaid,” kata Aisyah, “mengapa engkau tidak mengunjungiku?”

Ubaid menjawab, “Karena penyair mengatakan, ‘Berkunjunglah dengan jarang, niscaya bertambahlah kecintaanmu.”

Ibnu Umar berkata, “Izinkan kami di sini sejenak dan ceritakanlah kepada kami perkara paling mempesona dari semua yang pernah engkau saksikan pada diri Nabi.”

Aisyah menarik nafas panjang, kemudian dengan terisak menahan tangis ia berkata dengan suara lirih, “Kaanna kullu amrihi ‘ajaba. (Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku).”

Masih dengan suara lirih, Aisyah bercerita, “Suatu malam ketika dia tidur bersamaku dan kulitnya sudah bersentuhan dengan kulitku, dia berkata, ‘Hai Aisyah, izinkan aku beribadah kepada Tuhanku.’ Aku berkata, ‘Sesungguhnya aku senang merapat denganmu, tetapi aku juga senang melihatmu beribadah kepada Tuhanmu.’ Dia bangkit mengambil gharaba air lalu berwudhu. Ketika berdiri shalat, kudengar dia terisak-isak menangis hingga air matanya membasahi janggut. Dia lalu bersujud dan menangis hingga lantai pun basah oleh air mata. Dia lalu berbaring dan menangis hingga datanglah Bilal untuk memberitahukan datangnya waktu subuh.” (26)

Subhanallah….! inilah panutan kita, teladan kita, junjungan kita, Kanjeng Nabi Muhamad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang pernah bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنينَ إيمَاناً أَحْسَنُهمْ خُلُقاً. وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لنِسَائِهِمْ خُلُقاً

“Kaum mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik akhlaknya kepada istrinya.” (HR. Ahmad (7374), At-Turmudzi (1158), Dari Abi Hurairah t, hadits hasan, dan dishahihkan oleh al-Albani)

Dalam Musnad asy-Syihab ada tambahan:

وَاَنَا خَيْرٌ لِأَهْلِيْ

“Dan aku lebih baik terhadap keluarga (istri)ku.”

Subhanallah….! Kanjeng Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mau ibadah saja pamit dengan istrinya. Bagaimana kita…?! Nah, ini (pamit) kelihatannya sepele, tetapi dampaknya istri akan merasa diorangkan. Lagi pula, ketika ada orang sedang mencarinya, istri akan mengatakan di mana suami berada. Kalau tidak pamit, istri akan mengatakan, “ tidak tahu, wong tidak pamit itu…!” Nah….!!

 

Istirahat, Hiburan, dan Canda Ria

Sebagaimana tubuh kita butuh istirahat, sekali waktu hati kita juga butuh penyegaran agar tidak mengalami kejenuhan. Ali bin Abi Thalib t mengatakan:

رَوِّحُوا الْقُلُوْبَ سَاعَةً, فَاِنَّهَا اِذَا أُكْرِهَتْ عَمِيَتْ

“Hiburlah hati suatu ketika, karena jika ia dipaksa terus-menerus terhadap sesuatu, ia menjadi buta…”

Membiarkan hati sibuk dengan suatu urusan tanpa pernah kita beri penyegaran, justru dapat menjadi buta. Jika hati telah buta, sulit ia mengenali kebaikan dan kebenaran, meskipun nalarnya dapat menunjukkan. Lebih-lebih jika hatinya mati.

Sekalipun demikian, tidak setiap yang menyenangkan dapat menghibur hati. Salah menghibur diri justru membuat hati kita kusut dan pikiran kita tumpul. Sama seperti tidur, kalau tidak berkualitas akan membuat kita enggan beranjak dari kasur. Begitu pula hiburan, ada yang membuat hati kita berpenyakit, karena sangat bergantung kepadanya. Contoh, video game, ia menciptakan ketergantungan melalui bangkitnya rasa penasaran.

Jika istirahat adalah obat agar badan tetap sehat, dan hiburan adalah selingan agar jiwa kita menemukan kesegaran, maka canda yang menggoda adalah sunnah Nabi r untuk meromantiskan perkawinan. Jalinan perasaan yang mulai longgar dapat dieratkan kembali dengan canda-canda mesra yang menghangatkan jiwa.

Kisah berlombanya Nabi r dengan Bunda Aisyah t, telah masyhur, yaitu berlomba lari antara Baginda Nabi dengan Bunda Aisyah yang saat itu dimenangkan oleh Bunda Aisyah karena badannya masih ramping, tetapi ketika badan beliau sudah gemuk, Nabi mengajak berlomba lagi dan dimenangkan oleh Baginda Nabi. Nabi lalu tertawa renyah sembari berkata: “Ini untuk menebus kekalahanku dalam lomba yang lalu.”

Pentingnya bercanda juga tercermin dalam hadits Jabir, yang saat itu ia mengawini seorang janda, maka Nabi mempertanyakan: “(kok janda) mengapa tidak yang perawan saja sehingga engkau bisa bercanda dengannya?” Begitu tanya Nabi.

Salah satu manfaat bercanda adalah menguatkan ikatan batin antara suami dan istri sehingga keluarga menjadi kokoh. Sia-sia memberi pendidikan agama kalau hati dan jiwa mereka rapuh karena suasana rumah yang menjemukan. Selain itu, rumah yang kering tanpa canda dan kehangatan, membuat penghuninya kehilangan pijakan untuk mengokohkan jiwa. Mereka menjadi orang yang tidak memiliki daya juang yang tinggi.

Cerita lain tentang kemesraan dan canda Rasulullah saw dengan para istrinya adalah sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah ra:

اَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَيَّلَ بَعْضَ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ اِلَى الصَّلَاةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

“Dari Aisyah ra. bahwa Nabi saw mencium salah seorang istrinya, kemudian pergi menunaikan shalat dengan tidak berwudhu lagi.” (HR. At-Turmudzi)

Dalam hadits yang lain Aisyah ra berkata:

كان النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يُقَبَّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ اَمْلَكَكُمْ لِاِرْيِهِ

“Nabi saw mencium dan memeluk (istrinya) padahal beliau berpuasa, dan beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan gejolak syahwatnya di antara kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bagaimana Rasulullah saw senantiasa menghidupkan canda dan kemesraan, meskipun sedang berpuasa. Ini menjadikan istri merasa diperhatikan, disayang, dan dimanja.

Ada sisi lain yang juga penting untuk kita cermati agar kita bisa bercermin pada kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para istrinya. Ada perkara yang tampaknya kecil, tetapi sangat berarti bagi seorang istri, yakni menjumpai istri dan mengajaknya berbincang-bincang.

 

Agar Ia Tak Sia-Sia Bicara

Masalah yang muncul dalam pernikahan tak jarang bermula dari hal-hal yang sederhana. Salah satu perkara yang kerap menjadi awal dari konflik, yang terpendam maupun yang terbuka dalam bentuk perekcokan, adalah cara kita berbicara. Cara kita menanggapi pembicaraan juga memegang peranan penting dalam membangkitkan suasana sejuk dan bersahabat di rumah kita.

Berkenaan dengan ini ada riwayat dari sahabat Jabir ra, ia menuturkan: “Aku datang kepada Nabi saw lalu aku mengetuk pintu, maka beliau bertanya, “Siapa itu?” Aku menjawab, “Saya.” Beliau bersabda, “Saya, saya!” seakan beliau tidak menyukainya.”

Kita juga sering melakukan kesalahan ketika berbicara. Kita merasa sudah mengatakan apa yang benar, padahal tidak seharusnya kita bicara seperti itu. Kita merasa sudah menjawab pertanyaan, padahal yang sesungguhnya kita lakukan adalah tidak memberi jawaban apa-apa. Ketika Jabir menjawab “saya”, sesungguhnya tidak memberi informasi apa-apa, sebab “siapa saya” itulah yang ditanyakan. Bedanya, sekali ditegur Jabir segera menyadari kesalahannya, sehingga ia menceritakan kepada kita agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Kita sebaliknya, sudah ditegur berulang-ulang, kita justru merasa benar. Wallahu a’lam bish-shawab [*]

 

Sumber Rujukan:

 Mohammad Fauzil Adhim, Agar Cinta Bersemi Indah, Jakarta: Gema Insani, 2007, cet. ke-4. (hal. 1-56)

 

[1] Makalah disampaikan pada pengajian bulanan ibu-ibu muslimat di Masjid Jami’ Al-Umm Malang setiap pekan ke-4. Pertemuan kedua, 23 Juni 2013.

Previous Post

JANJI KEMERDEKAAN

Next Post

BELAJAR KEPADA SAYYIDAH KHADIJAH Radhiyallahu ‘Anha

M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.

M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.

Related Posts

JIKA PASANGAN TAK SEMPURNA (Bag. 2)
Keluarga

JIKA PASANGAN TAK SEMPURNA (Bag. 2)

December 18, 2023
JIKA PASANGAN TAK SEMPURNA (Bag. 1)
Keluarga

JIKA PASANGAN TAK SEMPURNA (Bag. 1)

December 17, 2023
BERAWAL DARI CARA MEMANDANG SUATU MASALAH (Bag. 2)
Keluarga

BERAWAL DARI CARA MEMANDANG SUATU MASALAH (Bag. 2)

November 30, 2023
Next Post
BELAJAR KEPADA SAYYIDAH KHADIJAH Radhiyallahu ‘Anha

BELAJAR KEPADA SAYYIDAH KHADIJAH Radhiyallahu 'Anha

Comments 2

  1. Muchamad Hanafi says:
    2 years ago

    Semoga tulisan Pak Yai Mujib menginspirasi banyak pasangan untuk memelihara cinta dan kehangatan dalam rumah tangga. Semoga setiap nasihat yang disampaikan menjadi bekal untuk menjaga keharmonisan. Doa terbaik untuk Pak Yai Mujib, semoga beliau terus menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang, dan tulisannya menjadi wahana pembentukan rumah tangga yang penuh kasih dan keberkahan. Amiin.

    Reply
    • M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I. says:
      2 years ago

      Alhamdulillah, terimakasih atas kunjungan dan komentarnya Ust. Hanafi. Barakallahu fikum.

      Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
PENGHAPUSAN TUJUH KATA PIAGAM JAKARTA

PENGHAPUSAN TUJUH KATA PIAGAM JAKARTA

July 29, 2024
PIAGAM JAKARTA DAN PANCASILA (Bag. 1)

PIAGAM JAKARTA DAN PANCASILA (Bag. 1)

July 21, 2024
KERUKUNAN (TOLERANSI) ANTAR UMAT BERAGAMA

KERUKUNAN (TOLERANSI) ANTAR UMAT BERAGAMA

December 3, 2023
GURU BESAR UGM: JOKOWI KELUAR DARI JALUR DEMOKRASI

GURU BESAR UGM: JOKOWI KELUAR DARI JALUR DEMOKRASI

February 1, 2024
BELAJAR KEPADA SAYYIDAH KHADIJAH Radhiyallahu ‘Anha

BELAJAR KEPADA SAYYIDAH KHADIJAH Radhiyallahu ‘Anha

4
JILBAB PELAJAR, JILBAB PERJUANGAN

JILBAB PELAJAR, JILBAB PERJUANGAN

4
ORANG KAFIR (BARAT) BENCI ISLAM

ORANG KAFIR (BARAT) BENCI ISLAM

4
ORANG KAFIR SALING MENOLONG

ORANG KAFIR SALING MENOLONG

4
ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

April 30, 2026
BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

March 10, 2026
APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

February 9, 2026
ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

January 9, 2026

Recent News

ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

April 30, 2026
BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

March 10, 2026
APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

February 9, 2026
ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

January 9, 2026
SWAHARAH

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Check our landing page for details.

© 2023 Swaharah Indonesia Muhammad Mujib Ansor, S.H, M.Pdi by Ahsan.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Profil
    • PROFIL PENDIRI
    • PROFIL SWAHARAH.ID
  • Agama
    • Kajian
    • Khutbah
    • Makalah
  • Pendidikan
  • Kutipan
  • Nasional
    • Berita
    • Internasional
    • Opini
  • Sejarah
  • Keluarga
  • Tamu

© 2023 Swaharah Indonesia Muhammad Mujib Ansor, S.H, M.Pdi by Ahsan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In