@RAMADHAN, BULAN PENUH BERKAHed
Oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I. (Kepala MA Al-Umm Malang)
Ma’asyiral muslimin rahimukullah,
Alhamdulillah, kita patut bersyukur kepada Allah swt atas limpahan rahmat, nikmat, dan berkah-Nya sehingga kita bisa mendapati lagi bulan yang penuh rahmat, berkah, serta ampunan, yatu bulan suci Ramadhan tahun 1440 H ini.
Bulan Ramadhan memang sudah dimaklumi memiliki banyak keberkahan, keutamaan, dan berbagai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya. Keberkahan bulan Ramadhan ini disebutkan oleh Baginda Nabi r dalam sabdanya:
« قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ … »
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi.…” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i)
Hadirin, jamaah rahimakumullah,
Kalau dirinci, di antara keberkahan dan keutamaan bulan Ramadhan itu antara lain:
Berkah Pertama: Banyaknya peristiwa besar dan mulia yang terjadi di bulan Ramadhan, antara lain:

Pertama: Peristiwa paling fenomenal dan sangat bermanfaat untuk umat manusia adalah peristiwa turunnya al-Qur’an al-Karim. Sebagaimana firman Allah:
شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al–Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).…” (QS. Al-Baqarah (2): 185)
Kita tahu bahwa al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia dan orang yang beriman. Dan dengan al-Qur’an inilah ajaran Islam menyebar ke seluruh dunia sampai hari ini.
Kedua: Perang Badar Kubra

Perang ini dinamakan sebagai yaumul furqan (hari pembeda). Karena pada hari itu Allah memisahkan dan membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Kala itu, kelompok minoritas (313 pasukan) yang beriman meraih kemenangan telak atas kelompok besar (1000-an pasukan) yang kafir. Peristiwa itu terjadi pada 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah.
Ketiga: Fathu Mekkah (Pembebasan Kota Mekkah)
Peristiwa besar ini terjadi pada tahun ke-8 H. Rasulullah berangkat pada tanggal 10 Ramadhan dengan membawa 10.000 orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta berbagai kabilah Arab.
Nabi Muhammad saw ingin sekali memasuki Mekkah dengan selamat tanpa harus menumpahkan darah. Oleh karena itu, ketika masuk Mekkah Nabi saw membagi pasukannya menjadi empat kelompok. Masing-masing kelompok masuk dari empat arah dengan memperlihatkan kekuatannya kepada orang-orang. Sehingga, penduduk Mekkah menyerah dengan kondisi itu dan memeluk Islam dengan penuh kedamaian.
Allah I memberikan nikmat besar kepada kaum mukminin dengan futuh (penaklukan) yang penuh berkah ini. Manusia secara berbondong-bondong masuk Islam, lalu jadilah Mekkah sebagai Darul Islam (negeri Islam), setelah sebelumnya menjadi pusat kesyirikan orang-orang musyrik.
Peristiwa ini menurut Ibnu Katsir diperkirakan terjadi pada 19 Ramadhan, sementara Dr. Abdul Aziz bin Ibrahim al-Umari menyebut 20 Ramadhan tahun ke-8 H.
Keempat: Kemerdekaan Negara Republik Indonesia

Teks Proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Bung Karno di hadapan para anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan rakyat, di rumah beliau, Jalan pegangsaan Timur 56 Jakarta, pada hari Jum’at, 17 Agustus 1945, bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan 1364 H, pada pukul 10.00 pagi.
Hadirin, jamaah rahimakumullah,
Berkah Kedua: Disebutkan dalam banyak hadits yang menjelaskan keutamaan dan keistemawaan bulan yang sangat berkah ini (misal pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu), diantaranya yang terdapat dalam kitab Shahihain dari Abu Hurairah t, bahwa Nabi r bersabda:
«إِذَا جَاءَ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ»
“Apabila Ramadhan datang maka pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim (2448), lafazh milik Muslim)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah t: “Adalah Rasulullah r biasanya memberi kabar gembira kepada para sahabatnya, dengan sabdanya:
« قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ »
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Juga terdapat pada bulan ini sebuah malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya, maka dia tidak memperoleh apa-apa.” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i)
Berkah ketiga, Diampuninya dosa-dosa dan terhapusnya berbagai kesalahan oleh berbagai amal, misal: puasa Ramadhan, qiyamul lail, dan Lailatul Qodar. Sebagaimana terdapat dalam ash-Shahihain, dari Abu Hurairah t, Nabi r bersabda:
« مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »
“Barangsiapa berpuasa ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala (dari Allah), niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam Shahih Muslim disebutkan dari Abu Hurairah t bahwa Rasulullah r bersabda:
«الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ. وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ . وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ. مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ. إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ»
“Shalat fardhu lima waktu, shalat jum’at ke Jum’at berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antara masa tersebut selama dosa-dosa besar dijauhinya.” (HR. Muslim (505))

Berkah keempat: pada bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam lailatul qodar. Melakukan ibadah di dalamnya dinilai seperti melakukan ibadah selama seribu bulan (83 tahun). (tentang lailatul qadar ini akan dibahas dalam khutbah tersendiri, insyaAllah)
Berkah kelima: kaum muslimin dapat meraih banyak keutamaan dan manfaat dari puasa, baik yang bersifat ukhrawi maupun duniawi, di antaranya berupa diampuninya dosa-dosa, dilipangandakannya pahala, mendapat dua kebahagian…dan seterusnya. (Materi ini akan dibahas dalam khutbah tersendiri, insyaAllah).
Berkah keenam: besarnya keutamaan amal shaleh yang dilakukan dalam bulan ini, dan besarnya motivasi Rasulullah r untuk memacu kaum muslimin beramal shalih pada bulan ini. Di antara amal-amal tersebut antara lain:
Pertama: Shalat Tarawih (Qiyamul Lail)
Dari Abu Hurairah t ia berkata, Rasulullah r memberi motivasi (kepada para sahabat) untuk mendirikan qiyam Ramadhan (shalat malam Ramadhan) tanpa menyuruh mereka dengan paksaan. Maka beliau bersabda:
« مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »
“Siapa yang mendirikan malam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari – Muslim)
Lalu, setelah Rasulullah r meninggal, ibadah ini terus berlanjut. Dan terus berlanjut pada masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq dan permulaan masa khalifah Umar bin Khatthab t. Kemudian terus berlanjut hingga hari ini.[9]
Kedua: Sedekah
Imam Bukhari dan Muslim mengeluarkan hadits dari Ibnu Abbas ra, ia berkata:
كان النبيُّ صلى الله عليه وسلم أجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ، وَكانَ أجْوَدَ مَا يَكُوْنُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكانَ جِبْرِيلُ عليهِ السلامُ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ، يَعرِضُ عليهِ النبيُّ صلى الله عليه وسلم القُرآنَ، فإذا لَقِيَهُ جِبريلُ عليه السلامُ كان أجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الِّريْحِ الْمُرْسَلَةِ».
“Rasulullah r adalah orang yang paling dermawan dalam kebaikan. Dan beliau lebih dermawan lagi ketika di bulan Ramadhana pada saat Jibril menemuinya. Maka pada saat Jibril menemuinya, ketika itulah beliau r lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.”
Bentuk sedekah di sini sifatnya umum. Termasuk yang banyak keutamaannya adalah memberi makan dan menyediakan makanan berbuka bagi yang berpuasa.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketiga: Tilawah al-Qur’an al-Karim
Disunnahkan untuk memperbanyak membaca al-Qur’an pada bulan Ramadhan. Pada bulan inilah al-Qur’an diturunkan. Rasulullah r selalu mengulang-ulang hafalan al-Qur’annya bersama Jibril, satu kali di setiap Ramadhan. Sebagaimana yang tertera dalam hadits Ibnu Abbas t: (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
وكان جِبريلُ عليهِ السلامُ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ، يَعْرِضُ عليهِ النبيُّ صلى الله عليه وسلم القُرآنَ
“Jibril u menemuinya setiap malam pada bulan Ramadhan hingga terbaring. Saat itu Nabi r menunjukkan hafalan bacaan al-Qur’annya pada Jibril.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Para salaf shaleh memperbanyak bacaan al-Qur’annya di dalam shalat maupun di luar shalat. Sayyidina Utsman bin Affan ra mengkhatamkan al-Qur’an setiap hari pada bulan Ramadhan. Bahkan Imam asy-Syafi’i dapat mengkhatamkan sebanyak enam puluh kali di luar shalat dalam bulan Ramadhan.[11]
Keempat: I’tikaf

Yaitu berdiam diri di masjid untuk beribadah dalam rangka bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah I. Rasulullah r beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Dalam hadits ‘Aisyah s disebutkan:
«أنّ النبيِّ صلى الله عليه وسلم كانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمضانَ حَتّى تَوَفّاهُ اللهُ تعالىٰ، ثمَّ اعْتِكَفَ أزْوَاجُهُ مِن بَعدِه»
“Bahwa Nabi r beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, (amalan ini terus dilakukannya) hingga Allah mewafatkannya. Kemudian para istri beliau meneruskan amal beri’tikaf sepeninggalnya.” (HR. Bukhari (2002) dan Muslim (2737))
Tidak diragukan lagi bahwa I’tikaf akan membantu pelakunya berkonsentrasi untuk melakukan ibadah dan bertaqarrub kepada Allah I. Lebih lagi pada saat-saat yang dimuliakan, seperti bulan Ramadhan atau sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.
Kelima: Umrah

Dalil yang menunjukkan keutamaan berumrah pada bulan Ramadhan adalah sabda Baginda Rasul r kepada seorang wanita Anshar yang tidak rempat berhaji bersama Rasulullah r:
«فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي. فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً»
“Apabila datang bulan Ramadhan maka beumrahlah kamu, sesungguhnya umrah pada bulan Ramadhan nilainya setara dengan haji.” (HR. Muslim (2991), dan Ahmad (2034))
Dalam riwayat lain disebutkan: “(Umrah pada bulan Ramadhan itu) dapat menggantikan haji atau menggantikan haji bersamaku.” (HR. Bukhari)
Kata Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim: “Maksudnya, nilai pahala umrahnya wanita Anshar menyamai nilai pahala haji. Bukan umrah tersebut dapat menggantikan kedudukan hukum wajibnya haji, sehingga dapat menggugurkan hukum wajibnya haji tersebut, tidak demikian.”
Keenam: dan beberapa amalan lainnya yang tidak bisa diuraikan di sini, seperti: tetap duduk di masjid hingga terbit matahari, memperbanyak dzikir, doa, dan istighfar, serta menghidupkan malam lailatul qadar.
Hadirin, jamaah rahimakumullah,
Setelah memaparkan secara global berbagai keberkahan dan keutamaan bulan Ramadhan, maka selanjutnya kita perlu bertekad untuk meraih keberkahan itu sebanyak-banyaknya dengan melakukan berbagai amal ibadah dan ketaatan, dan kita berdoa untuk diri kita, keluarga kita, dan saudara-saudara muslim agar kita bisa terus mereguk berbagai keutamaan ini, dan bisa meraih berbagai keberkahan itu sebagai implementasi dari perintah Allah I dan mengikuti sunnah Nabi-Nya r, para sahabat yang mulia, dan para pendahulu umat ini yang terpilih, serta meraih berbagai manfaat baik yang bersifat ukhrawi maupun duniawi, juga dari berbagai kebaikan yang luas. Amin ya Rabbal ‘alamin. [*]
Mojokerto, 29/03/2019
Sumber Rujukan:
- Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim al-Jarullah, Risalah Ramadhan, terj. Muhammad Yusuf harun dkk, Yayasan al-Sofwa, Jakarta, 1997.
- Agus Hasan Bashori, Shalat Tarawih Nabi dan Salaf as-Shalih, ttp://www.binamasyarakat.com/shalat-tarawih-nabi-dan-salaf-as-shalih/;
- _________, Tarawih Terbaik Di Jaman Sekarang, http://www.binamasyarakat.com/tarawih-terbaik-di-jaman-sekarang/.
- Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah 2, Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bandung: Surya Dinasti, cet.III, 2018.
- Al-Hafizh Ibnu Katsir, Sirah Nabi Muhammad saw, terj. Abu Ihsan Al-Atsari, Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2010.
- Abdul Aziz bin Ibrahim Al-Umari, Penaklukan Dalam Islam, terj., Abdul Basith Basamhah, Lc., Jakarta: Darus Sunnah, 2013.
- Nashir bin Abdurrahman bin Muhammad al-Juda’i, Amalan dan Waktu yang Diberkahi, terj. Team Darut Turats, Bogor: Pustaka Ibnu Katsir, 1425 H/2004 M.
- Syaikh Abdullah ash-Shalih, Kiat-Kiat Menghidupkan Bulan Ramadhan, terj. Abu Ihsan Al-Maidani Al-Atsari, Jakarta: Yayasan al-Sofwa, cet.VI, 1434 H/2013.
- Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, terj., Katur Suhadi, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2004.
Program Aplikasi: Hadits asy-Syarif
Program Aplikasi: al-Qur’an in Word
====================================
Catatan Kaki:
[9] Silahkan baca, Agus Hasan Bashori, Shalat Tarawih Nabi dan Salaf as-Shalih, http://www.binamasyarakat.com/shalat-tarawih-nabi-dan-salaf-as-shalih/; Tarawih Terbaik Di Jaman Sekarang, http://www.binamasyarakat.com/tarawih-terbaik-di-jaman-sekarang/.

















