MARHABAN YA RAMADHAN (AGAR MENDAPAT RAHMAT ALLAH DAN AMPUNAN-NYA)
Oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.
Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jum’at rahimakumullah,
Kita patut bersyukur kepada Allah I karena masih diberi umur panjang, sehingga kita bisa mendapati lagi bulan suci Ramadhan tahun ini, bulan yang dirindukan oleh kaum mukminin. Kita ucapkan, “ahlan wa sahlan wa marhaban ya Ramadhan.” Semoga Allah melimpahkan rahmat, berkah serta hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita semua bisa mengisi Ramadhan ini dengan baik dan benar sesuai sunnah Nabi r.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, rahmat, serta ampunan. Di dalamnya Allah menurunkan Kitab Mulia, petunjuk dan cahaya, yaitu al-Qur’an al-Karim. Di bulan ini Allah memberikan kemenangan besar kepada Umat Islam saat Perang Badar. Pada bulan suci ini pula terjadi pembebasan kota suci Mekkah al-Mukarramah (Fat-hu Makkah). Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan diikat (dibelenggu).
Karena itu pada bulan ini Rasulullah r sangat giat dalam melakukan berbagai amal shaleh, baik siang maupun malamnya. Para sahabat dan salafush shaleh senantiasa berlomba-lomba meraih keridhaan Allah, dengan meraih kebaikan dan amal ibadah. Akan tetapi kita justru kebalikannya. Kondisi umat Islam saat ini mulai lemah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita justru berlomba-lomba dalam kemaksiatan dan kesia-siaan.
Hadirin jamaah rahimakumullah,
Diriwayatkan dari Abu Hurairah t: “Adalah Rasulullah r biasanya memberi kabar gembira kepada para sahabatnya, dengan sabdanya:
« قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ »
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Juga terdapat pada bulan ini sebuah malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya, maka dia tidak memperoleh apa-apa.” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i, shahih lighairihi)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Hadits tersebut menjelaskan sekilas keistimewaan bulan suci Ramadhan yang luar biasa itu. Nah, selanjutnya, bagaimanakah kita menyambutnya?!
Maka seyogyanya seorang hamba yang shaleh menyambutnya dengan suka cita, dengan “taubatan nashuha” disertai tekad yang bulat untuk meraih sebanyak-banyaknya kebaikan dan keberkahan di bulan suci ini. Mengisi waktunya dengan berbagai amal shaleh, dan tidak lupa pula memohon kepada Allah swt agar Ia menolong kita dan memberi hidayah dan taufik-Nya sehingga kita bisa melaksanakan ibadah dengan baik dan benar di bulan nan suci ini.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Dalam hadits tentang “keistimewaan” bulan Ramadhan tersebut di atas, di bagian akhirnya ada peringatan dari Nabi r yang perlu diperhatikan, yaitu:
مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
“Siapa yang tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa (alias menjadi orang yang rugi).”
Ini peringatan keras sekaligus ancaman Baginda Nabi r bahwa bulan Ramadhan yang penuh rahmat dan berkah itu harus diraih dengan berbagai amal shaleh dan ketaatan, tidak dengan berdiam diri –apalagi dengan bermaksiat- kemudian berharap mendapat rahmat dan berkah. Tentu tidak demikian…!
Karena itu kita perlu mengetahui amalan-amalan apa saja yang bisa mendatangkan rahmat, berkah, serta ampunan itu?!
Hadirin jamaah rahimakumullah.

Amalan-amalan tersebut, yang bisa mendatangkan rahmat, berkah, serta ampunan itu antara lain:
Pertama, tentu saja yang harus kita jaga, baik di dalam maupun di luar Ramadhan adalah shalat 5 waktu. Karena ia adalah ibadah terbesar setelah tauhid, rukun Islam ke dua, dan ia adalah tiang agama. Karena itu mari kita jaga/tegakkan shalat ini dengan baik dan benar, baik mengenai waktu, syarat dan rukunnya, kesunnahannya maupun jamaahnya.
Kedua, Ibadah penting dan utama di bulan ini tentu saja puasa Ramadhan itu sendiri. Ia rukun Islam ke empat. Hukumnya wajib. Dosa besar bagi yang meninggalkannya dengan sengaja. Allah swt berfiman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah (2): 183)
Dan hikmah terbesar dari puasa Ramadhan berdasarkan ayat tersebut adalah untuk membentuk “pribadi yang bertaqwa”.
Selain itu, jika kita melaksanakan ibadah puasa dengan baik dan benar, maka kita akan mendapatkan pahala yang besar (sebagaimana disebutkan dalam Hadits Qudsi) dan mendapat ampunan dari Allah I sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah r:
« مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »
“Siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikian besar hikmah dan pahala puasa. Karena itu kita patut menjaga dan melaksanakan puasa dengan sempurna. Kita perhatikan syarat, rukun, dan sunnah-sunnah puasa. Juga perlu kita jaga dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa. Termasuk kesempurnaan puasa adalah menjaga dari hal-hal yang bisa menghilangkan pahala puasa, yaitu menjaga diri dari perbuatan maksiat dan dosa. Karena Rasulullah r sudah mengingatkan:
« رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ »
“Betapa banyak orang berpuasa, (tetapi) bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad, dan ia menshahihkannya)
- Artinya, ia tidak mendapatkan pahala puasa. Karena mata, telinga, lidah, tangan, dan hatinya tidak ikut berpuasa (tidak dijaga dari hal-hal yang dilarang oleh Allah I).
Dalam hadits lain disebutkan:
« مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ »
“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minumnya.” (HR. Bukhari, Ahmad, dll.)
- Jadi, puasa yang sempurna adalah puasa yang dilaksanakan sesuai dengan syarat dan rukunnya, melaksanakan sunnah-sunnahnya, meninggalkan dari yang membatalkan puasa, serta menjaga dari hal-hal yang bisa menghilangkan pahala puasa. Dengan kata lain, seluruh anggota badannya ikut berpuasa dari kemaksiatan. Demikian yang disampaikan oleh para ulama’rahimahumullah.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Ketiga, Shalat Terawih (Qiyamul Lail). Rasulullah r bersabda:
« مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »
“Siapa yang mendirikan malam Ramadhan (shalat Tarawih) karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari – Muslim)
Hal itu dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah, dan mengikuti imam sampai selesai. Rasulullah r bersabda:
« مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ »
“Siapa shalat terawih bersama imam sampai selesai, akan ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk.” (HR. Abu Dawud, Turmudzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah).
Keempat, Shodaqoh (sedekah)
Sedekah termasuk amalan utama di bulan Ramadhan ini. Rasulullah r adalah orang yang dermawan. Di bulan Ramadhan beliau semakin bertambah dermawannya. Bahkan dinyatakan bahwa beliau lebih dermawan dari angin yang berhembus.
Demikian pula Sayyidina Abu Bakar, Umar, dan segenap para sahabat y, meraka berlomba-lomba dalam bersedekah di bulan Ramadhan ini. Diriwayatkan bahwa Rasulullah r bersabda: “Seutama-utama sedekah adalah di bulan Ramadhan.” (HR. Turmudzi)

Sedekah berbentuk apa?!
- memberi makan orang yang lapar atau orang shaleh.
- Menyediakan buka puasa. Rasulullah r bersabda:
« مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ إِلَّا أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ »
“Barangsiapa menyediakan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, niscaya ia akan mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad dan Nasa’i, dan dishahihkan oleh Syekh al-Albani)
3. Dan sedekah-sedekah lainnya.
Kelima, Membaca al-Qur’an dengan penuh kesungguhan.
Bulan Ramadhan adalah bulan al-Qur’an. Kita semua dianjurkan untuk memperbanyak membaca al-Qur’an.
- Rasulullah r “darusan”[1] dengan malaikat Jibril setiap Ramadhan.
- Sayyidina Usman bin Affan t mengkhatamkan al-Qur’an setiap hari.
- Imam Syafi’i j bahkan dapat mengkhatamkan al-Qur’an 60 kali di luar shalat di bulan Ramadhan.
- Al-Aswad khatam setip 2 hari sekali.
- Qatadah khatam setiap 3 hari.
- Imam Az-Zuhri menutup majlis hadits dan ilmu yang biasa diisinya untuk berkonsentrasi kepada al-Qur’an.
Keenam, Tetap duduk di dalam masjid hingga terbit matahari.
Apabila Rasulullah r selesai menunaikan shalat shubuh, beliau selalu duduk di tempat shalatnya hingga terbit matahari. (HR. Muslim)
Imam Turmudzi meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin Malik t dari Rasulullah r bahwa beliau bersabda:
« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ [تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ] »
“Barangsiapa shalat Fajar berjamaah di masjid kemudian ia duduk berdzikir mengingat Allah hingga terbit matahari lalu shalat dua rakaat (dhuha), maka seakan-akan ia mendapat pahala haji dan umrah dengan sempurna, sempurna, dan sempurna.” (HR. at-Turmudzi, dan dishahihkan oleh al-Albani)
Ketujuh, I’tikaf, yaitu mengurung diri di dalam masjid dan mengikatnya untuk berbuat taat dan selalu mengingat Allah di dalamnya.
I’tikaf sangat dianjurkan pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan, sekaligus untuk meraih Lailatul Qadar.
Rasulullah r biasa beri’tikaf selama 10 hari setiap bulan Ramadhan. Dan pada tahun beliau wafat, beliau beri’tikaf selama 20 hari. (HR. Bukhari).
Kedelapan, Umrah di bulan Ramadhan.
Rasulullah e bersabda:
« عُمْرَةٌ فِيْ رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً »
“Pahala umrah di bulan Ramadhan sama seperti ibadah haji.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kesembilan, Mencari Malam Lailatul Qadar
Rasulullah r bersabda:
« مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ … »
“Barangsiapa yang mendirikan malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari Muslim)
Kesepuluh, Memperbanyak Dzikir, do’a, dan istighfar
Kesebelas, Tidak berbuat hal-hal yang sia-sia pada bulan Ramadhan, seperti: duduk-duduk di pinggir jalan, ngobrol, begadang, nonton TV, menyulut petasan, dan berbagai permainan lainnya. [*]
Khuthbah kedua
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Begitu banyaknya amalan-amalan shalih di bulan Ramadhan yang menyebabkan para pelakunya mendapat rahmat, berkah, serta ampunan. Oleh karena itu sangat pantas kalau Baginda Rasul r mengingatkan:
مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
“Siapa yang tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa (alias rugi).”
Bahkan di hadits lain lebih tegas lagi disebutkan:
فَإِنَّ الشَّقِيَّ مَنْ حُرِمَ فِيْهِ رَحْمَةَ اللهِ
“Maka sesungguhnya orang yang sengsara adalah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini.” (HR. ath-Thabrani, dan para perawinya tsiqah)
Atau seperti dalam hadits lain yang lebih tegas lagi, bahwa Nabi r bersabda:
أَتَانِى جِبْرِيْلُ فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ, مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَخَرَجَ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ, فَأَبْعَدَهُ اللهُ, قُلْ آمِيْنَ, فَقُلْتُ آمِيْن
“Jibril datang kepadaku dan berkata: “Wahai Muhammad, siapa yang menjumpai (bulan) Ramadhan, namun setelah keluar dari Ramadhan ia tidak mendapatkan ampunan, maka jika mati ia masuk neraka. Semoga Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakan Amin!” Maka aku pun mengatakan, “Amiin!” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)
Mari kita berdoa kepada Allah swt, semoga kita semua selalu dibimbing dan diberi hidayah serta taufiq-Nya, sehingga kita bisa mengisi Ramadhan dengan baik dan benar, dan akhirnya kita keluar Ramadhan benar-benar mendapatkan rahmat, berkah serta ampunan dari Allah swt. Amin Ya Rabbal ‘Alamin. [*]
***
Sumber Rujukan:
- Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim al-Jarullah, Risalah Ramadhan, Yayasan al-Sofwa, Jakarta, 1997.
- Abdullah ash-Shalih, Kiat-Kiat Menghidupkan Bulan Ramadhan, Yayasan al-Sofwa, Jakarta, 2001.
- Muhammad Shalih al-Munajjid, Risalah Puasa, al-Haramain Islamic Foundation Perwakilan Indonesia, Jakarta, dan Yayasan al-Sofwa Jakarta, 2001.
- Dr. Nashir bin Abdurrahman bin Muhammad al-Juda’i, Amalan dan Waktu yang Diberkahi, terj. Team Darut Turats, Bogor: Pustaka Ibnu Katsir, 1425 H/2004 M.
Catatan Kaki:
[1] Darusan adalah istilah orang Jawa untuk menyebut orang yang sedang membaca al-Qur’an dalam bentuk halaqoh, di mana satu orang membaca kemudian yang lain menyimaknya.

















