KIAT MENCETAK GENERASI ANDALAN[1]
Bag. 2
oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I. (Kepala MA Al-Umm Malang)
Para pembaca yang dirahmati Allah, pada edisi terdahulu sudah kita bahas langkah-langkah (kiat-kiat) mencetak generasi andalan, antara lain: 1. Memilih calon suami/istri yang saleh/salehah, 2. Berdoa ketika berkumpul (jima’), dan 3. Memperhatikan anak ketika dalam kandungan. Sekarang kita lanjutkan pembahasan kiat-kiat mencetak generasi andalan berikutnya:
4. Memperhatikan Anak Setelah Lahir
- 1) Menyerukan adzan di telinga kanan.
Islam sangat menaruh perhatian tinggi terhadap kelurusan dan kebaikan anak, sehingga Islam menganjurkan kepada orang tua agar mengumandakngkan adzan pada telinga bayi ketika keluar dari perut sang ibu kepada alam kehidupan dunia, sehingga pertama kali yang didengar oleh sang bayi adalah suara dan nilai tauhid kepada Allah, ajakan kepada nilai-nilai dasar Islam dan menegakkan shalat yang menjadi rukun Islam kedua. Adzan juga befungsi sebagai pengusir setan.[2] Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ لَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعَ التَّأْذِينَ،
“Jika adzan dikumandangkan untuk shalat maka setan menyingkir sambil mengeluarkan suara kentut hingga tidak mendengar suara adzan.” (HR. Bukhari, Muslim)
Setan sangat memiliki keinginan untuk mengganggu sang bayi langsung setelah lahir, dan di antara cara perlindungan terhadap anak dari gangguan setan adalah mengumandangkan adzan pada telinga bayi ketika lahir.[3]
Abu Rafi’ t berkata:
رَأَيْتُ رسولَ الله أذَّنَ في أُذُنِ الحَسَنِ بْنُ عَلِي حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمةُ بِالصَّلاةِ. قال أبو عيسى هذا حديث حسن صحيح. والعمل عليه
“Aku melihat Rasulullah mengumandangkan adzan di telinga al-Hasan bin Ali saat baru dilahirkan oleh Fathimah, dengan adzan untuk shalat.” (HR. Ahmad, (23484); at-Turmudzi, (1517))[4]
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa hikmah adzan dan iqamah[5] di telinga bayi yang baru lahir adalah agar suara pertama yang didengar oleh sang bayi adalah seruan adzan, seruan yang mengandung makna keagungan dan kebesaran Allah serta syahadat yang menjadi syarat utama bagi seseorang untuk masuk Islam… Tidaklah aneh bila pengaruh adzan ini masuk ke hati sang bayi.[6]
Syaikh Jamal Abdurrahman melanjutkan, “Setan akan lari terbirit-birit manakala mendengar suara adzan. Karenanya, setan yang berupaya mengganggunya akan mendengar kalimat yang paling dibenci olehnya saat sang bayi memasuki permulaan kehidupannya di dunia. Hal ini menjelaskan kepedulian Nabi r terhadap akidah tauhid yang harus ditanamkan sejak dini dalam jiwa sang anak dan sekaligus untuk mengusir setan yang selalu berupaya mengganggu sang bayi sejak kelahirannya dan memulai kehidupan barunya.”[7]
2) Menyampaikan kabar gembira kepada keluarga/famili, dan pemberian ucapan selamat atas kelahiran si bayi.
Terhadap bayi yang baru dilahirkan dan mulai terhitung sebagai bagian masyarakat islami, seluruh anggota masyarakat hendaknya memberikan ucapan selamat kepada kedua orang tuanya untuk meneladani ucapan selamat dari para malaikat kepada para rasul alaihimussalam.
Al-Qur’an al-Karim menyebutkan tentang kegembiraan akan lahirnya anak di banyak ayat sebagai arahan dan pengajaran bagi umat Islam, karena dengan kabar gembira ini terdapat pengaruh yang besar dalam menumbuhkan jalinan sosial dan ikatan antara kaum muslimin.[8] Allah berfirman tentang Nabi Ibrahim alaihissalam yang artinya:
“Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Selamat”. Ibrahim menjawab: “Selamatlah,” maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: “Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada kaum Luth.” Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya´qub.” (QS. Hud (11): 69-71)
Allah berfirman tentang Nabi Zakariya ‘alaihissalam:
فَنَادَتْهُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَهُوَ قَاۤىِٕمٌ يُّصَلِّيْ فِى الْمِحْرَابِۙ اَنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيٰى مُصَدِّقًاۢ بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَسَيِّدًا وَّحَصُوْرًا وَّنَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ
“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.” (QS. Ali Imran (3): 39; juga QS. Maryam (19): 7)
Memberi ucapan selamat secepatnya dapat menambah kegembiraan dan kebahagiaan di hati kedua orang tua bayi. Hal ini menyebabkan ikatan dalam masyarakat muslim semakin kuat. Tamu yang datang memberi ucapan selamat kepada kedua orang tuanya dengan lafal (doa), misalnya:
بُوْرِكَ لَكَ فِيْ الْمَوْهُوْبِ, وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ, وَرُزِقْتَ بِرَّهُ, وَبَلَغَ أَشُدَّهُ
“Semoga engkau diberkati dalam apa yang diberikan kepadamu, engkau bersyukur kepada Dzat yang memberi. Semoga engkau mendapatkan baktinya, dan semoga dia panjang umur.”[9]
3) Mentahnik (mengoleskan kurma lembut/madu ke langit-langit mulut) bayi dan mendoakan kebaikan
Mentahnik adalah mengunyah sesuatu lalu meletakkan dan mengusap-usapkan kunyahan itu di mulut bayi. Hal ini dilakukan agar bayi mau makan dan membuatnya kuat.[10] Namun, mentahnik yang dimaksudkan di sini ialah mentahnik bayi yang baru lahir yang disyariatkan oleh Allah melalui petunjuk Rasul-Nya dengan cara menyuapinya sedikit buah kurma yang sudah dikunyah dan dibasahi. Selain sunnah yang dianjurkan, mentahnik juga akan membuat bayi merasa tenang dan aman atas kelangsungan makanannya.[11]
Lebih jelas lagi apa yang disampaikan oleh Abdullah Nashih ‘Ulwan, “Hal itu dilakukan dengan menaruh sebagian kurma yang telah dikunyah di atas jari kemudian memasukkan jari tersebut ke dalam mulut bayi. Setelah itu gerakkan jari ke kiri dan ke kanan dengan gerakan yang lembut, sehingga mulut bayi seluruhnya terkena kurma yang dikunyah tadi. Apabila tidak ada kurma maka mentahnik bayi bisa dengan bahan yang lain yang rasanya manis seperti saripati gula yang dicampur dengan bunga sebagai bentuk meneladani Rasulullah.”[12]
Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan dari Abu Musa t, ia berkata:
وُلِدَ لي غُلامٌ، فأتيتُ بِهِ النبيَّ صلى الله عليه وسلم، فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيْمَ، فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ، ودَعا لَهُ بالبركة؛ ودَفعهُ إليَّ
“Aku mendapatkan seorang anak, maka aku membawanya menghadap Nabi r. Maka beliau memberinya nama Ibrahim, kemudian beliau menyuapinya dengan sebutir kurma dan mendoakan keberkahan padanya lalu menyerahkannya kepadaku.” (HR. Bukhari, dan Muslim)[13]
4) Menyusui Anak
Air susu ibu (ASI) merupakan sari pati murni makanan yang dikonsumsi ibu yang menjadi makanan bayi yang paling cocok untuk tumbuh kembang bayi.[14]
Dalam pandangan Islam menyusui anak termasuk pilar pendidikan yang paling urgen, sehingga sumber hukum Islam yang pertama yaitu al-Qur’an menganjurkan kepada semua kaum ibu agar menyusui anak-anak mereka selama dua tahun secara sempurna dari air susu mereka sendiri, sebab hal itu akan memberi pengaruh baik dan positif bagi bayi.[15]
Allah swt berfirman:
۞وَٱلۡوَٰلِدَٰتُ يُرۡضِعۡنَ أَوۡلَٰدَهُنَّ حَوۡلَيۡنِ كَامِلَيۡنِۖ لِمَنۡ أَرَادَ أَن يُتِمَّ ٱلرَّضَاعَةَۚ
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…” (QS. al-Baqarah (2): 233)
Para ahli telah banyak memberikan penjelasan seputar masalah ini, bahwa ada keterkaitan yang sangat erat antara pemberian ASI dengan kepribadian anak. Perilaku anak yang menyusu pada ASI secara sempurna akan lebih baik jika dibanding dengan anak yang kurang atau bahkan tidak menyusu pada ibunya.
Al-Maghribi misalnya, beliau menjelaskan, “…istri wajib menyusui anak, karena anak sangat membutuhkan belaian sang ibu dan dekapan, sehingga ketika menyusui, anak menemukan ketenteraman jiwa dan ketenangan batin karena air susu yang didapat bayi dengan penuh kehangatan dan belaian lembut serta menyusu dari ASI yang telah disiapkan Allah, maka membuat anak tumbuh sempurna.”[16]
Dr. Hj. Mufidah Ch., M.Ag., dosen di UIN Maliki Malang, menuturkan, “Pemberian ASI terutama dari ibunya sendiri, dapat terkondisi kontak batin yang dapat mempengaruhi pembentukan kepribadian anak.”[17]
Di tempat lain, beliau memaparkan, “Hubungan yang terjalin pada proses penyusuan selama kurang lebihnya dua tahun merupakan proses pembentukan kepribadian anak tahap awal, di mana kasih sayang ibu akan terukir dalam kepribadian anak, sehingga diharapkan akan berlanjut pada hubungan harmonis anak dan ibu sepanjang usianya.”[18]
Tak ayal lagi, dari keterangan di atas menunjukkan bahwa menyusui anak dengan ASI dapat membentuk kepribadian anak yang baik. Kita dapati fakta di lapangan, anak-anak yang dibesarkan dengan susu sapi (bukan ASI) –karena ibu enggan menyusuinya- perilaku anak cenderung liar, menyimpang, dan sulit dikendalikan. Maka para ibu perlu memperhatikan masalah penting ini.
5) Memberi nama yang baik
Sesudah bayi dilahirkan, kemuliaan dan kebaikan pertama yang diberikan kepadanya adalah menghiasinya dengan nama dan julukan yang baik. Karena nama yang baik memiliki dampak yang positif pada jiwa dari pertama kali mendengarnya.[19] Al-Maghribi juga menuturkan hal yang sama, “…karena nama akan memberi pengaruh dan kesan yang baik sejak pertama kali mendengar.”[20]
Demikian pula Allah I memerintahkan para hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dengan menyebut nama-nama Allah yang indah (al-Asma’ al-Husna).[21] Nabi r memerintahkan untuk memberi nama yang baik bagi anak, tidak memberinya nama yang mengandung makna buruk.
Dari Abi Wahb al-Jusysyami, bahwa Rasulullah r bersabda:
تَسَمُّوا بِأَسْمَاءِ الأنْبِيَاءِ، وَأَحَبُّ الأسْمَاءِ إِلَى الله عَبْدُ الله وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَصْدَقُهَا حَارِثٌ وَهَمَّامٌ، وَأَقْبَحُهَا حَرْبٌ وَمُرَّةَ
“Pakailah nama para nabi. Nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman. Dan nama yang paling jujur adalah Harits (orang yang memiliki keinginan) dan Hammam (orang yang memiliki cita-cita). Sedangkan nama yang paling buruk adalah Harb (perang) dan Murrah (pahit).” (HR. Abu Dawud (4946), Ahmad)[22]
Diriwayatkan dari Abi Darda’ t, bahwa Rasulullah r bersabda:
إِنَّكُم تُدْعَونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُم وَأَسْمَاءِ آبَائِكُم فأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُم
“Sesungguhnya pada hari kiamat kalian akan dipanggil dengan nama kalian dan nama bapak kalian. Karena itu, indahkanlah nama kalian.” (HR. Abu Dawud (4944), ad-Darimi (2693), al-Baihaqi (19713) [23]
Dari Ibnu Umar t, Rasulullah r bersabda:
أَحَبُّ الأَسْمَاءِ إِلَى الله عَبْدُ الله وعَبْدُ الرَّحْمٰنِ
“Nama yang paling disenangi Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. At-Turmudzi (2911), ad-Darimi (2694), Abu Dawud (4945)[24]
Nabi r memberi nama putra Abu Thalhah dengan Abdullah dan putra al-Abbas dengan nama Abdullah pula pada hari kelahirannya. Putra beliau sendiri beliau beri nama Ibrahim seperti nama bapak para nabi, yaitu Nabi Ibrahim.[25]
Al-Maghribi memberi catatan, “Hendaknya nama anak diambil dari nama-nama tokoh agama atau ulama baik dari kalangan para nabi, rasul, dan nama-nama orang shalih dalam rangka taqarrub kepada Allah swt. Hendaknya nama tersebut bagus dan sesuai dengan kondisi orang yang diberi nama serta cocok dengan tingkatan sosial dan keadaan status.”[26]
6) Merayakan kelahiran bayi dengan Aqiqah
Diriwayatkan dari Samurah bin Jundub t, bahwa Rasulullah r bersabda:
كُلُّ غُلاَمٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ. تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ، وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ، وَيُسَمَّى
“Setiap anak tergadaikan (ditahan) oleh aqiqahnya, yang disembelih pada hari ke tujuh, dan rambutnya dicukur, serta diberi nama.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah (3241), dan lain-lain)[27]
Salman bin Amir t menuturkan bahwa Rasulullah r bersabda:
معَ الغُلام عَقيقةٌ، فأهْريقوا عنه دَماً، وأمِيطوا عنه الأذَى
“Beserta anak ada kewajiban aqiqah. Maka alirkanlah darah (menyembelih) untuk menebusnya, dan hilangkanlah kotoran dari padanya.” (HR. Bukhari (5346), Ahmad (15920), at-Turmudzi (1518), Abu Dawud (2840))[28]
Ibnul Qayyim berkata, “Tujuan aqiqah adalah pembebasan bagi bayi yang baru lahir dan penjagaan baginya dari godaan setan dalam kepentingan akhiratnya. Mencukur rambut berarti menghilangkan gangguan darinya, yakni gangguan dari rambut di kepalanya dan kotoran yang menempel padanya, baik kotoran yang suci maupun najis, agar berganti rambut yang lebih kuat daripada rambut yang lama. Selain itu, mencukur rambut tersebut bermanfaat bagi kepala karena bisa membuka pori-pori kulit kepala hingga uap air bisa keluar dengan mudah. Mencukur rambut juga bermanfaat untuk menguatkan inderanya.”[29]
7) Mencukur rambut dan bersedekah perak seberat timbangannya.
Islam mensyariatkan agar rambut bayi dicukur pada hari ketujuh sesudah kelahirannya untuk melenyapkan kotoran dan sebagai bukti perhatian Islam kepada bayi. Islam bahkan menganjurkan sedekah berupa perak seberat timbangan rambutnya.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib t berkata:
«عقَّ رسولُ الله عن الْحَسَنِ بشاةٍ وقال يا فاطمةُ احْلِقِي رأْسَهُ وتَصَدَّقِي بِزِنَةِ شَعْرِهِ فِضَّةً،قال فَوَزَنَتْهُ، فكانَ وَزْنَهُ دِرْهَماً أو بعضَ دِرْهَمٍ»
“Rasulullah r mengaqiqahi al-Hasan dengan seekor kambing, dan beliau bersabda: “Wahai Fatimah, cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak seberat rambutnya.” Fatimah pun menimbang rambutnya dan ternyata beratnya adalah satu dirham atau kurang dari satu dirham.” (HR. at-Turmudzi (1522), dan ia mengatakan hadits hasan gharib)[30]
8) Mengkhitan anak
Islam juga memerintahkan agar anak dikhitan karena khitan merupakan salah satu aspek fitrah yang dianjurkan oleh Rasulullah r. Sebagian orang ada yang menyebut khitan dengan thahhar (penyuci). Abu Hurairah t berkata: Saya mendengar Nabi r bersabda:
«الْفِطْرَةُ خَمْسٌ: الإِخْتِتانُ، وَالإِسْتِحْدَادُ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الإِبِطِ»
“Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (HR. al-Bukhari (5757), Muslim (551))[31]
Khitan merupakan perlambang kesucian, kebersihan, hiasan, keindahan bentuk, dan keseimbangan syahwat. Bila khitan diabaikan, ini sama artinya bahwa manusia tidak berbeda dengan binatang. Bila khitan ditinggalkan sama sekali, sama artinya manusia sudah seperti benda mati. Jadi, khitan inilah yang menyeimbangkan posisi manusia di antara keduanya. Oleh karena itu, Anda akan menjumpai pria maupun wanita yang tidak dikhitan itu tidak pernah merasa puas dengan persetubuhan yang dilakukannya. Tidak samar lagi bagi orang yang berakal sehat bahwa kulup itu buruk dan melenyapkannya dengan khitan adalah hal yang baik, bersih, dan indah.[32]
9) Memanggil anak dengan julukan atau panggilan yang baik
Setelah memberi nama yang baik, hal berikutnya yang perlu mendapat perhatian adalah memberi julukan atau nama panggilan yang baik pula. Bukan sebaliknya, nama kadang sudah baik tetapi panggilan atau julukannya justru tidak baik, sebagaimana yang lazim terjadi di sebagian masyarakat. Memanggil dengan panggilan yang baik ini adalah salah satu wujud akhlak mulia. Anas t pernah mengatakan:
كانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَحْسَنَ النَّاسُ خُلُقاً، وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْر ـ قَالَ أَحَسِبُهُ فطيماً ـ وَكَانَ إِذَا جَاءَ قَالَ: يَاأَبَا عُمَيْر،
Bahwa Rasulullah r adalah orang yang paling baik akhlaknya. Aku punya seorang saudara laki-laki yang dikenal dengan nama panggilan Abu Umair dan setahuku ia sudah disapih. Bila Nabi datang, beliau selalu menyapanya dengan panggilan, “Hai Abu Umair!” (HR. al-Bukhari (6060), Muslim (5577))[33]
Memanggil anak dengan julukan yang baik akan meningkatkan moralitas anak. Panggilan itu akan membuat bertambah senang kepada guru dan pendidiknya. Ketika hubungan antara anak dan gurunya baik, hasilnya pun akan positif, cepat, dan besar. Karena itu, marilah kita meneladani kebaikan akhlak Rasulullah.[34]
Demikianlah, sembilan langkah yang harus dilakukan orang tua setelah anak lahir guna menghasilkan anak-anak atau generasi yang bisa diandalkan bagi orang tua, masyarakat, bangsa, dan negara, serta agama. Wallahu a’lam bish-shawab [*]
—-BERSAMBUNG—-
Sumber Rujukan:
M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I., Pendidikan Karakter Berbasis Sunnah Nabi saw: Kunci Sukses Membangun Karakter Anak Bangsa, Malang: Pustaka Al-Umm, 2013.
Abdullah Nashih ‘Ulwan, Dr., Pendidikan Anak Dalam Islam, terj. Arif Rahman Hakim Lc., dkk., Solo: Insan Kamil, 2012.
Al-Maghribi bin as-Said al-Maghribi, Begini Seharusnya Mendidik Anak; Panduan mendidik Anak Sejak Masa Kandungan Hingga Dewasa, terj.Zainal Abidin, Lc., Jakarta: Darul Haq, cet. IV, 2006.
Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, Dr., Profetic Prenting Cara Nabi r Mendidik Anak, terj: Farid Abdul Aziz Qurusy, Yogyakarta: Pro-U Media, cet. II, 2011.
Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Lu’lu’ wal Marjan, Riyadh: Maktabah Darus Salam, 1414 H/ 1994.
Syaikh Jamal Abdurrahman, Islamic Parenting Pendidikan Anak Metode Nabi, terj. Agus Suwandi, Solo: Aqwam, cet. III, 2012.
Dr. Hj. Mufidah Ch., M.Ag., Psikologi Keluarga Islam, Malang: Uin-Maliki Press, cet. III, 2013
Program Aplikasi al-Hadits asy-Syarif.
Catatan Kaki:
[1] Makalah dikutip dari buku penulis berjudul Pendidikan Karakter Berbasis Sunnah Nabi saw, yang diterbitkan oleh Pustaka Al-Umm, Malang, 2013, dengan perubahan dan tambahan yang diperlukan.
[2] Al-Maghribi bin as-Said al-Maghribi, Begini Seharusnya Mendidik Anak, 101.
[3] Lihat, ibid, 101-102.
[4] Musnad al-Imam Ahmad, (7/18); Sunan at-Turmudzi, (5/71). Sementara Syaikh Jamal Abdurrahman dalam bukunya, Islamic Parenting, hal. 34, dalam catatan kakinya menyebutkan sebagai berikut: Abu Dawud, Kitabul Adab (5105); at-Turmudzi, Kitabul Adhahi (1514). Dalam sanadnya ada Ashim bin Abdullah, seorang perawi dhaif. Hadits ini memiliki penguat dari hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi di Syu’abul Iman. Hadits ini dinukil oleh Ibnul Qoyyim dalam Tuhfatul Maudud (31). Al-Hakim meriwayatkannya dalam al-Mustadrak (III/4827), dan ia mengatakan, “Hadits yang sanadnya shahih.”
[5] Syaikh Jamal Abdurrahman, Islamic Parenting…, 34, memberi catatan kaki: hadits tentang iqamah statusnya maudhu’. Lihat Dha’if al-Jami’, al-Albani (5881).
[6] Syaikh Jamal Abdurrahman, Islamic Parenting…, 34; Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, Prophetic Parenting, 103; Abdullah Nashih ‘Ulwan, 42.
[7] Syaikh Jamal Abdurrahman, Islamic Parenting…, 34
[8] Abdullah Nashih ‘Ulwan, Pendidikan Anak Dalam Islam, 39.
[9] Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, Prophetic Parenting, 101; dalam kitab al-Adzkar milik Imam an-Nawawi, 256, lafalnya berbunyi:
بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي الْمَوْهُوْبِ لَكَ, وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ, وَبَلَغَ أَشُدَّهُ وَرُزِقْتَ بِرَّهُ
[10] Syaikh Jamal Abdurrahman, Islamic Parenting, 34, mengutip dari Fathul Bari, VI/588; sementara Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid dalam Prophetic Parenting, 106, mengutip Imam Nawawi menjelaskan makna tahnik menurut para ahli bahasa Arab adalah mengunyah buah kurma atau makanan lainnya sampai halus kemudian mengusapkannya ke langit-langit mulut bayi.
[11] Syaikh Jamal Abdurrahman, Islamic Parenting, 38.
[12] Abdullah Nashih ‘Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam, 43.
[13] Shahih al-Bukhari, (11/2); Shahih Muslim, (14/104).
[14] Dr. Hj. Mufidah, Ch., M.Ag., Psikologi Keluarga Islam, 229.
[15] Al-Maghribi bin as-Said al-Maghribi, Begini Seharusnya Mendidik Anak, 105.
[16] Ibid.
[17] Dr. Hj. Mufidah, Ch., M.Ag., Psikologi Keluarga Islam, 230.
[18] Ibid, 277.
[19] Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, Prophetic Parenting…, 107.
[20] Al-Maghribi bin as-Said al-Maghribi, Begini Seharusnya Mendidik Anak, 114.
[21] Al-Qur’an, 7 (al-A’raf): 180.
[22] Sunan Abi Dawud, (13/293); Musnad al-Imam Ahmad, (5/456).
[23] Sunan Abi Dawud, (13/291), ia mengatakan: Ibnu Abi Zakaria (salah satu perawi hadits) tidak bertemu dengan Abu Darda’; Sunan ad-Darimi, (2/294); Sunan al-Kubra lil-Baihaqi, (14/267), al-Baihaqi mengatakan: hadits ini mursal, sebab ibnu Abi Zakaria tidak mendengar dari Abi Darda’.
[24] Sunan at-Turmudzi, (8/103), ia mengatakan: hadits hasan gharib; Sunan ad-Darimi, (2/294); Sunan Abi Dawud, (13/292).
[25] Syaikh Jamal Abdurrahman, Islamic Parenting, 50; lihat pula, Al-Maghribi bin as-Said al-Maghribi, Begini Seharusnya Mendidik Anak, 115-116.
[26] Al-Maghribi bin as-Said al-Maghribi, Begini Seharusnya Mendidik Anak, 115.
[27] Sunan Ibnu Majah (2/1056); Musnad al-Imam Ahmad (5/647); Bulugh al-Maram, 283, hadits nomor 1385.
[28] Shahih al-Bukhari, (11/8); Musnad al-Imam Ahmad, (4/592); Sunan at-Turmudzi, (5/70); Sunan Abu Dawud, (8/41).
[29] Syaikh Jamal Abdurrahman, Islamic Parenting, 45, mengutip dari Faidul Qadir, IV/416.
[30] Shahih at-Turmudzi, (5/74); dan Syaikh Jamal Abdurrahman menulis di catatan kakinya (56): dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih at-Turmudzi (1518).
[31] Shahih al-Bukhari, (11/540); Shahih Muslim, (3/119); al-Lu’lu’ wal Marjan, (1/82).
[32] Syaikh Jamal Abdurrahman, Islamic Parenting, 61, mengutip dari Tuhfatul Maudud,, (154).
[33] Shahih al-Bukhari, bab al-Kunyah Lish-shabiy…, (12/225); Shahih Muslim, (14/106); al-Lu’lu’ wal Marjan, (2/642).
[34] Syaikh Jamal Abdurrahman, Islamic Parenting, 79.


















Panduan untuk mencetak generasi andalan sesuai syariat Islam sangat berharga. Informasi ini mendukung pembentukan karakter yang kuat dan bermoral. Semoga bermanfaat bagi banyak orang.
MasyaAllah… ust Hanafi aktif mengikuti ya. Barakallahu fik…