JAGA PERSATUAN, HINDARI PERPECAHAN ed
Oleh: M. Mujib, SH., M.Pd.I.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pada kesempatan yang baik ini marilah kita bersama-sama meningkatkan iman dan takwa kepada Allah swt dengan sebenar-benarnya. Selanjutnya, dalam rangka menjaga kelangsungan iman dan takwa ini, mari kita wujudkan semangat persatuan di tengah-tengah umat dan kita hindari perselisihan dan perpecahan. Dan ini hendaknya tidak sekedar slogan, yang setiap muslim bisa mengucapkannya, tetapi dalam kenyataan hal itu sulit diwujudkan, meskipun sesama ahlussunnah wal jamaah.
Allah swt melarang kita dari perpecahan karena persatuan merupakan kekuatan dan pertahanan, sedangkan perpecahan adalah kegagalan dan kehancuran. Allah berfirman:
وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ١٠٣
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imron (3): 103)
Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini, “Perpecahan adalah kebinasaan sedangkan al-jamaah adalah keselamatan.”[1]
Sementara Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “(Dalam ayat yang mulia ini) Allah memerintahkan untuk berjamaah (bersatu) dan melarang mereka dari perpecahan. Dan sungguh banyak hadits yang melarang perpecahan dan memerintahkan untuk menjalin persatuan.”[2]
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Berpegang teguh itu ada dua macam: berpegang teguh kepada Allah dan berpegang teguh kepada tali-Nya. Tidak ada keselamatan kecuali bagi orang yang berpegang dengan kedua penjagaan ini. Adapun berpegang dengan tali-Nya, maka akan menjaga dari kesesatan. Sedangkan berpegang dengan-Nya akan menjaga dari kebinasaan, karena orang yang berjalan menuju Allah, ia seperti halnya seorang musafir yang menyusuri jalan menuju tujuannya. Maka ia membutuhkan petunjuk jalan dan keselamatan dalam perjalanannya sampai tujuan. Ia tidak akan sampai ke tujuan kecuali setelah mendapatkan kedua perkara ini.”[3]
Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan mengatakan, “Banyak sekali dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang memberikan dorongan kepada pokok agama (persatuan) ini, memerintahkan kepada seluruh perkara yang menguatkan kasih sayang, menumbuhkan cinta, menghilangkan permusuhan dan kebencian. Dan tidaklah banyaknya dorongan dan motivasi ini melainkan karena adanya kebaikan yang banyak dalam persatuan, hasil yang indah, keberkahan, serta kekuatan, sedangkan pada lawannya didapatkan kebalikannya.”[4]
Nah, ini nampaknya di kita, umat Islam Indonesia khususnya, masih terdengar sekedar slogan atau teori saja, belum pada praktik, belum direalisasikan. Buktinya di sana-sini masih terjadi ketegangan, kebencian, dan ujung-ujungnya permusuhan. Perkara-perkara furu’ yang bisa memicu perpecahan, kebencian, dan permusuhan masih terus berlangsung. Mestinya kita sudah mulai berpikir dan mengambil sikap untuk menyelamatkan rumah besar ahlussunnah wal jamaah di negeri kita ini. Ahlussunnah wal jamaah ini bisa diibaratkan sebagai rumah besar, di dalamnya ada kamar-kamar, semisal: NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, Salafi, FPI, dan lain-lain yang masih dalam manhaj ahlussunnah. Nah, masalah-masalah furu’ (khilafiyah) hendaknya tidak dibesar-besarkan. Kita kembangkan sikap saling menghormati, menghargai, dan toleransi. Bukan saling meremehkan, merendahkan, dan mencibirkan.
Kalau ini kita jaga, niscaya akan terbangun rasa kasih sayang dan saling cinta, serta terhindar dari bahaya perpecahan dan permusuhan, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Shalih Fauzan tadi.
Jika persatuan dan kesatuan ini terwujud, tentu menghadapi perkara besar seperti liberalisme, sekularisme, pluralism, komunisme, Syi’ah dan lain-lain akan terasa ringan mengatasinya. Jika dalam rumah besar saja masih terjadi ketegangan dan bibit-bibit perpecahan antar kamar-kamar tersebut masih terus berlanjut, tentu menghadapi bahaya besar itu akan kewalahan dan bahkan tidak berdaya sama sekali.
Hadirin jamaah rahimakumullah,
Masalah furu’ (khilafiyah) itu sulit –atau bahkan mustahil- dihilangkan, dan selamanya akan tetap ada. Itu sudah ada sejak dari dulu –bukan sekarang saja- dan sampai hari ini pun masih tetap seperti dulu. Semakin dibahas dan dipermasalahkan, maka pihak yang merasa “diserang” juga akan mengeluarkan hujjah-hujjahnya. Berikutnya yang muncul adalah saling merendahkan, meremahkan, mencibirkan, bahkan saling menghujat. Dan terus begitu, tidak ada habisnya. Apakah energi kita akan kita habiskan untuk ini?!
Nah, sudah waktunya kita memikirkan untuk menyelamatkan rumah besar ahlussunnah wal jamaah ini, serta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang bahaya besarnya sudah terpampang di depan mata, seperti Syiah, liberalisme, sekularisme, dan komunisme. Masing-masing kamar tidak perlu memaksakan kehendaknya, karena itu tidak membuahkan kebaikan (persatuan), tapi justru membuahkan keburukan (perpecahan). Allah swt sudah menegaskan:
وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُواْ فَتَفۡشَلُواْ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡۖ وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ٤٦
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal (8): 46)
Kata Syaikh Shalih Fauzan, “Dalam ayat ini Allah menggabungkan antara perintah untuk berupaya mendapatkan kekuatan maknawi dengan keimanan dan keteguhan, serta perintah kesabaran dan persatuan tanpa adanya perselisihan dan perpecahan.[5] Allah swt berfirman:
وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَٱخۡتَلَفُواْ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡبَيِّنَٰتُۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ١٠٥
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,” (QS. Ali Imran (3): 105)
Syaikh Shalih Fauzan menjelaskan, “Dalam ayat ini Allah melarang untuk mengikuti jalannya orang-orang yang berpecah belah padahal telah datang kepada mereka agama dan penjelasan-penjelasan yang mewajibkan mereka untuk melaksanakannya serta bersatu di atasnya. Tetapi mereka berpecah belah dan berselisih sehingga menjadi kelompok-kelompok yang hal itu bukan karena kebodohan dan kesesatan mereka. Tetapi semuanya terjadi setelah adanya ilmu serta muncul darinya niat yang jelek dan sikap melampaui batas sebagian mereka terhadap sebagian yang lain. Karena itu Allah berfirman: “…dan bagi mereka adzab yang besar.”[6]
Padahal, sekali lagi, Baginda Nabi saw bersabda:
«لاَ تَباغَضُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَدَابَرُوا. وَكُونُوا. عِبَادَ اللّهِ إِخْوَاناً..».
“Janganlah kalian saling membenci, jangan saling hasud, dan jangan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara…!” (HR. Bukhari (5926) dan Muslim (6478), dari Anas bin Malik ra)
Hadirin jamaah rahimakumullah,
Selanjutnya Syaikh Shalih Fauzan memberi nasihat: kita harus berpegang dengan kecintaan dan persatuan yang agama kita memberikan dorongan kepadanya. Kita berhati-hati dari perpecahan dan perselisihan antara kita. Hendaknya kita bersemangat untuk mengusahakan setiap perkara yang menyebabkan bersatunya hati kita, dan berhati-hati dari orang-orang yang sengaja menumbuhkan benih perpecahan dan permusuhan dalam tubuh kaum muslimin, walaupun mereka mengaku beragama Islam. Karena sejatinya dalam diri mereka ada kedengkian dan kemunafikan. Seorang muslim adalah orang yang selalu berusaha menyatukan kaum muslimin dan benar-benar menjauhi pertikaian dan perpecahan di antara mereka. Sesungguhnya tidaklah para musuh Islam ini berusaha dan ingin menguasai kaum muslimin kecuali dengan senjata perpecahan yang mematikan ini. Hendaknya kita mengetahui bahwasanya ketika kita bersatu, musuh-musuh akan melihat kita dengan segan, takut, dan menganggap besar. Musuh-musuh akan terus menerus melemparkan perpecahan dan perselisihan di antara kita, membenturkan sebagian kita dengan yang lainnya sampai akhirnya mereka mampu menghabisi kita.
Sebagaiman kita harus tahu pula bahwa seharusnya perbedaan pendapat dalam hukum berbagai permasalahan yang terjadi tidaklah menjadi sebab perpecahan, pemutus hubungan persaudaraan, dan pudarnya tali kecintaan. Kita dapati para sahabat, walaupun terkadang terjadi perbedaan pendapat di antara mereka, tetapi mereka saling tetap cinta, lemah lembut, dan saling menolong. Masing-masing dari mereka mencintai untuk saudaranya sebagaimana yang mereka cintai untuk dirinya sendiri. Dan kalimat (hakim) pemutus pada setiap perkara dan pada setiap apa yang terjadi adalah Al-Kitab dan As-sunnah. Keduanya adalah tempat kembali pada setiap perselisihan. Allah berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا ٥٩
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul–(Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al–Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ (4): 59)[7]
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan bahwa perpecahan terbagi menjadi dua:
Pertama, perpecahan yang tercela. Yaitu perpecahan yang dipicu oleh sikap ta’ashub (fanatik) serta kesombongan, setelah datangnya kebenaran bersamaan dengan jelasnya dalil.
Kedua, perpecahan yang tidak tercela. Yaitu perpecahan yang terjadi karena ijtihad, dan niat dari ijtihad itu untuk mendapatkan kebenaran dalam keadaan tersamarnya dalil.
Sedangkan penyebab terjadinya perpecahan adalah adanya hasad (kedengkian) dan aniaya. Allah swt berfirman:
وَمَا تَفَرَّقُوٓاْ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُ بَغۡيَۢا بَيۡنَهُمۡۚ
“Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka.” (QS. asy-Syura (42): 14)
Syaikhul Islam menjelaskan, “Allah mengabarkan dalam ayat ini bahwa perpecahan yang terjadi pada mereka muncul setelah adanya ilmu… dan Allah mengabarkan bahwasanya tidaklah mereka berpecah belah kecuali karena sikap aniaya mereka, yaitu sikap melampaui batas.”[8]
Oleh karena itu, sekali lagi, ma’asyiral muslimin rahimakumullah, mari kita wujudkan semangat persatuan dan menghindari perpecahan di antara kaum muslimin dengan cara menyucikan hati dari hasud dan zalim (aniaya), kemudian menumbuhkan sikap saling menghormati dan menghargai masing-masing kelompok dalam wadah ahulussunnah wal jamaah berdasarkan sikap saling cinta dan kasih sayang, dengan mengesampingkan masalah furu’ dan mengedepankan titik temu pada masalah-masalah ushuluddin (pokok-pokok agama). Dan ini bisa diwujudkan jika kita berjiwa besar dan berlapang dada, serta memiliki sikap tawadhu’ (mengakui kebenaran orang lain, tidak hanya mengakui kebenaran diri sendiri).
Semoga Allah swt memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita, kaum muslimin ahlussunnah wal jamaah, sehingga kita senantiasa berada dalam keberkahan dan kemenangan. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Khutbah Kedua
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Menjaga persatuan dan menghindari perpecahan termasuk pokok agama yang harus diwujudkan di tengah-tengah umat. Begitu pentingnya masalah ini sampai-sampai Allah mensyariatkan pula –masalah persatuan ini- sejak para Nabi Ulul ‘Azmi dahulu, sebagaimana firman Allah:
۞شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحٗا وَٱلَّذِيٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِۦٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓۖ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِ
“Dia telah mensyari´atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (QS. asy-Syura (42): 13)
Maka, memulai dengan membersihkan hati dari hasud dan dengki, kemudian mewujudkan persatuan dan kesatuan dengan mengusung seluruh perkara yang menguatkan kasih sayang, menumbuhkan cinta, menghilangkan sumber permusuhan dan kebencian, adalah sebuah keniscayaan yang mesti kita wujudkan bersama. Mengingat kebaikan yang banyak dalam persatuan, hasil yang indah, keberkahan, serta kekuatan.
Semoga Allah swt membimbing kita untuk bisa mewujudkan semua kebaikan tersebut. Amin ya Mujibas-sa’ilin. [*]
Mojokerto, 4 Januari 2015
Sumber Rujukan:
Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Wahai Saudaraku Bersatulah Jangan Berpecah Belah, terj. Abu Muhammad Farhan, Sukoharjo: Gema Ilmu, 2010.
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Khadim al-Haramain asy-Syarifain, KSA.
Al-Hafizh Imaduddin Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’anul Azhim, Juz I, Bairut: Darul Jiil, tt.
[1] Wahai Saudaraku Bersatulah…, 20.
[2] Tafsir Ibnu Katsir, I/367.
[3] Wahai Saudaraku Bersatulah…, 21.
[4] Ibid, 25.
[5] Ibid, 25-26.
[6] Ibid, 26.
[7] Ibid, 28-29.
[8] Ibid, 53.




![[FULL] Menlu Retno Marsudi di Sidang Darurat PBB soal Perang Gaza: Pakai Hati Anda untuk Palestina](https://swaharah.id/wp-content/uploads/2023/11/full-menlu-retno-marsudi-di-sidang-darurat-pbb-soal-perang-gaza-pakai-hati-anda-untuk-palestina-75x75.jpg)













Khutbah Yai Mujib sangat memotivasi! Pesan “Jaga Persatuan, Hindari Perpecahan” sangat relevan. Semoga kita semua dapat menjaga kebersamaan, menghormati perbedaan, dan bersatu dalam mencapai kemajuan bersama. Terima kasih, Yai Mujib, atas inspirasinya! 🌟