KONTEN MEDSOS DAN KALIMAT THAYYIBAH
Oleh: Hari Bagus Ardiansyah, M.Pd. (Kepala SMP Islam Al-Umm Malang)

Melihat fenomena media sosial dengan berbagai macam kontennya membuat pengaruhnya tidak bisa dipandang lewat saja. Bisa dibayangkan, ada seorang YouTuber untuk membuat satu konten saja bisa menelan biaya ratusan juta bahkan milyaran. Mereka lakukan bukan tanpa alasan, tujuan balik modal, tambah follower dan ketenaran, terlebih juga terkumpulnya pundi-pundi cuan adalah keniscayaan.
Belum lagi isi dan motif yang tidak karuan. Mulai dari umbar aurat, nyanyi-nyanyi, flexing, kata-kata kotor dan contoh-contoh hal buruk yang dipertontonkan.
Tidak sampai di situ, konten yang beragam macam ini sangat-sangat berpengaruh pada pola pikir orang yang menontonnya, apalagi anak-anak yang jiwanya sangat rapuh dan mudah sekali terpengaruh dengan hal-hal yang mereka lihat.
Dengan segala pengaruh, tontonan yang diulang-ulang membuat mereka berfikir dan berobsesi bahwa apa yang disuguhkan oleh konten itu menjadi kebiasaan dan orientasi bagi mereka.
Tidak jarang, kita melihat anak kecil usia sekolah yang terbiasa berkata kasar, mengumpat, berkata kotor dan segala jenis perilaku yang tidak terpuji, yang dewasa ini sudah dianggap lumrah. Wal iyyadzu Billah.
Kata-kata: anj*r, b*bi, t4* dan semisalnya sudah dianggap hal yang biasa di zaman ini. Dan ini berulang-ulang dalam konten yang notabene banyak digemari anak-anak kita.
Benar-benar ini adalah musibah besar bagi pendidikan dan generasi setelah kita. Kalau ini terus berlanjut akan sangat bahaya dalam mengikis adab-adab Islam, norma-norma kesopanan, ‘unggah-ungguh’ dalam bergaul, dan juga berkata baik dalam masyarakat kita.
Mungkin sekarang belum kita lihat jelas dan masih mengatakan, “Ah, masih anak-anak, masih muda.” Tapi tunggu sebentar! Coba dibayangkan 20 – 30 tahun ke depan ketika meraka dewasa dan mengambil peran dalam masyarakat. Betapa mudahnya kata-kata itu dilontarkan nantinya. Saat nanti semua akan sedikit demi sedikit terkikis. Saat orang tua kecewa dibilang orang tua “baper”, orang tua ingin mengawasi anaknya, dibilang “kepo”, saat orang tua ingin mengarahkan anaknya dibilang “tidak menghargai hak asasi manusia” dan segala macam normalisasi yang sebenarnya itu tidak NORMAL.
Saya sebagai orang tua dan guru mulai gelisah. Dan mulai harus banyak mengambil peran dan jangan sampai didahului oleh konten-konten sampah yang bisa sangat berpengaruh pada anak kita.

Mulailah para orang tua dan guru memberikan contoh yang baik, terlebih sering-sering mengucapkan kalimat Thoyyibah. Kalimat “Masya Allah, Alhamdulillah, Subhanallah dan seterusnya.” Mari terus kita jahr-kan dihadapan anak-anak dan murid-murid kita. Semoga tindakan yang ‘mungkin’ dianggap kecil ini bisa menutup celah dari didengarkannya kata-kata buruk tersebut.
Bila perlu mari kita tulis dalam lembaran rencana mengajar kita, berapa kali kita harus mengucapkan kalimat Thoyyibah tersebut. Dan waktu kapan saja kita harus mengucapkannya.
Semoga langkah-langkah ini dicatat sebagai amal jariyah. Aamiin. []
Malang, 15 Muharram 1446/ 21 Juli 2024

















