@ KIPRAH PEMUDA MUSLIM (SANTRI) ed
Oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I. (Kepala MA Al-Umm Malang)
Pendahuluan
Marilah kita perbanyak amal ibadah dan ketaatan kepada Allah senyampang kita masih sehat dan kuat, terlebih yang masih berusia muda, karena jika sudah tua, kita kembali lemah, maka banyak udzurnya dalam melakukan amal ibadah dan ketaatan.
Sebagai makhluk, manusia melalui beberapa fase dalam kehidupannya: masa kecil, masa remaja, dewasa, dan masa tua. Ayat 54 Surat ar-Rum menggambarkan masa kecil sebagai masa dhu’f atau lemah, kemudian masuk ke masa quwwah atau kekuatan, yaitu masa remaja dan dewasa, kemudian diakhiri dengan dhu’f dan syaibah atau lemah kembali, dan sepuh yaitu setelah memasuki masa tua. Ayat ini menggambarkan siklus kehidupan manusia dan kondisi fisiknya. Bahkan, jika manusia sudah memasuki masa tua, ia bisa menjadi pikun (ardzalil ‘umur), yaitu kondisi di mana ia seperti anak kecil kembali. Nabi saw meminta kepada Allah agar dijauhkan dari situasi seperti ini.[1]
Pada fase pertama boleh dikatakan peran seseorang belum nampak. Sebaliknya pada fase ketiga, manusia lanjut usia juga telah mengalami penurunan kemampuan, baik kemampuan fisik maupun intelektual untuk banyak berkiprah di tengah kehidupan masyarakat. Banyak aktivitas yang dulu sanggup dijalaninya sekarang terpaksa harus direlakan untuk dikerjakan oleh orang lain. Oleh karena itu fase puncak seseorang untuk bisa berbuat lebih banyak terletak pada fase kedua yaitu masa muda.
Betapa tidak, pada masa itu kondisi fisik, intelektual dan semangat seseorang betul-betul berada pada puncaknya. Tak heran bila aktivitas para pemuda ada di berbagai bidang kehidupan yang keras dan menantang. Mereka yang berjaya di bidang olah raga, yang berjuang di garis depan peperangan, yang tekun menuntut ilmu, serta yang menuntut perubahan mendasar di tengah masyarakat kebanyakan dipelopori oleh para pemuda.[2]
Kata al-asyud –sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Ahqaf: 15 dan al-An’am: 152, dll) untuk menggambarkan kedewasaan seseorang- secara bahasa berarti kekuatan atau seseorang yang telah sampai kepada tingkat pengalaman dan pengetahuan… Kesimpulannya, bahwa fase dewasa ini adalah fase kematangan, di mana seseorang bisa menggunakan akal, pikiran, dan mampu berbuat dengan baik.[3]
Istilah Pemuda dalam al-Qur’an dan Sunnah
Istilah pemuda, dalam Al-Qur’an sering disebut dengan fata (al-fata) (QS. Al-Anbiya’: 60; al-Kahfi: 60. 62), bentuk tasniyah-nya fatayani (QS. Yusuf: 36), dan bentuk jamaknya fityatun atau al-fityah (al-Kahfi: 10, dan13), juga fityan (Yusuf: 62).[4]
Misal, sebutan fatan untuk Nabi Ibrahim muda, yang ketika itu sedang dicari oleh Raja Namrud karena dituduh menghancurkan patung-patung berhala.
قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ ٦٠
“Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” (QS. Al-Anbiya’ (21): 60)
Bentuk jamak fityatun untuk para pemuda Ashabul Kahfi.
نَّحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ نَبَأَهُم بِٱلۡحَقِّۚ إِنَّهُمۡ فِتۡيَةٌ ءَامَنُواْ بِرَبِّهِمۡ وَزِدۡنَٰهُمۡ هُدٗى
“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi (18): 13)
Sedangkan dalam Hadits, pemuda disebut sebagai syaab jamaknya syabaab. Misalnya dalam hadits Lima perkara sebelum lima perkara lainnya: syabaabaka qabla haramika (masa mudamu sebelum masa tuamu). Juga dalam hadits tujuh golongan yang mendapat naungan Allah: syaab nasya-a fii ‘ibadatillah (seorang pemuda yang tumbuh besar dalam ibadah dan taat kepada Allah). Atau hadits anjuran menikah: Ya ma’syarasy-syabab (wahai para pemuda)…dst.[5]
Para Pemuda di Mata Rasulullah
Rasulullah SAW juga bersabda, “Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, (yaitu): …dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah.” (HR Bukhari dan Muslim).
Syaikh Salim al-Hilali menyatakan dalam kitab Bahjatun Nazhirin (1/445): “Hadis ini menunjukkan keutamaan pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah, sehingga dia selalu menjauhi perbuatan maksiat dan keburukan.”
Inilah sosok pemuda Muslim yang dicintai oleh Allah Ta’ala dan pandai mensyukuri nikmat yang dianugerahkan Allah kepadanya, serta mampu berjuang menundukkan hawa nafsunya di puncak gejolaknya yang begitu kuat. Ini tentu merupakan hal yang sangat sulit dan berat, maka wajar jika kemudian Allah Ta’ala memberikan balasan pahala dan keutamaan besar kepadanya.[6]
Kalau diperhatikan, pemuda memiliki empat kelebihan: Pertama, kekuatan spiritual: iman, takwa, dan ikhlas. Kedua, kekuatan intelektual: ingatan dan analisa yang tajam. Ketiga, kekuatan emosional: menggelora dan meledak-ledak, semangat dan kemauan yang kuat. Dan keempat, kekuatan fisik: tubuh masih segar dan sehat, otot-otot masih kuat.[7]
Pemuda dalam Sejarah
Sejarah telah mencatat, pemuda mempunyai peran penting dalam kemerdekaan. Karena pemudalah yang paling bersemangat dan ambisius memperjuangkan perubahan menuju lebih baik. Peristiwa detik-detik proklamasi kemerdekaan RI tidak lepas dari peran pemuda.
Begitu juga dalam sejarah Islam, banyak pemuda yang mendampingi Rasulullah SAW berjuang menegakkan kalimat Allah. Misalnya adalah Mush`ab bin `Umair, Ali bin Abu Thalib, `Aisyah, Usamah dll. Mereka mempunyai peran penting dalam perjuangan.
Di masa terdahulu, ada sosok-sosok seperti Nabi Ibrahim muda, yang disebutkan oleh Al-Qur’an sebagai “fatan yuqalu lahu ibrahim”. Ada juga para pemuda Ash-habul Kahfi, yang disebutkan oleh Al-Qur’an sebagai “innahum fityatun amanu birabbihim wa zidnahum huda”.
Demikian pula di masa Rasulullah saw, kita mendapati bahwa sebagian besar yang dibina oleh Rasulullah saw di rumah Arqaam bin Abil Arqam adalah para pemuda. Di antara yang paling muda adalah Ali bin Ali Thalib (8 tahun), dan Az-Zubair bin Al ‘Awwam (8 tahun), sementara rata-rata berumur antara 10-30-an tahun, dan yang paling tua adalah Abu Bakar as-Shiddiq ra (37 tahun).[8]
Sepeninggal Rasulullah saw, kita memiliki sosok seperti Umar bin Abdul Aziz (61-101 H), yang diangkat menjadi khalifah ketika berusia sekitar 35-37 tahun[9], dan wafat dalam usia 40 tahun.[10] Karena keadilan dan kebijaksanaannya dalam memimpin, sampai-sampai ia dijuluki sebagai khalifah rasyidah yang ke-5.[11] Kita juga mengenal Muhammad Al-Fatih, yang dalam usia belia memimpin penaklukan Konstantinopel, dan berhasil menguasainya pada tanggal 20 Jumadal Ula 857 H/ 29 Mei 1453 M.[12]
Peran Pemuda Masa Kini
Berdasarkan potensi yang dimiliki pemuda, dan berdasarkan informasi dari al-Qur’an tentang kiprah pemuda yang diperankan oleh Daud, Ibrahim, Musa, Yusuf, Maryam, Ash-habul Kahfi, dll, maka sejatinya peran pemuda dalam kehidupan ini amatlah banyak. Di antaranya yang bisa kami sebutkan di sini ialah:
Pertama: Tafaqquh fid-Din (Memahami Agama)
Ini penting. Pemahaman yang baik dan benar terhadap Islam ini merupakan karunia dari Allah SWT. Memiliki pemahaman yang baik dan benar terhadap agama ini adalah pertanda bahwa kita dikehendaki baik oleh Allah, dunia akherat.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
“Barangsiapa yang akan diberi kebaikan oleh Allah, maka ia difaqihkan dalam masalah agama.” (HR Bukhari)
Upaya untuk memahami agama ini harus dilakukan secara terus menerus (istiqamah), menyeluruh (kaffah), dan terprogram dengan baik. Tidak sekedar sambil lalu. Al-Qur’an dan As-sunah sebagai acuan pokok harus dikaji terus dengan cara pandang salafus shalih. Dengan pemahaman ini, kita terdorong untuk beramal shalih yang memiliki dimensi vertikal maupun horisontal.
Kedua: Meluruskan Akidah dan Mempertahankannya
Akidah adalah pondasi. Baik buruknya agama ini tergantung dari akidahnya. Maka menanamkan akidah yang lurus perlu mendapatkan perhatian pertama dan utama, kemudian dilanjutkan dengan mempertahankannya sampai titik darah penghabisan. Al-Quran telah memberikan contoh terbaiknya, yaitu kisah Ash-habul Kahfi sebagaimana diceritakan dalam surat al-Kahfi ayat 9-26. Diceritakan bahwa untuk mempertahankan akidah, mereka rela meninggalkan negeri mereka dan akhirnya memasuki goa bersama anjing mereka. Mereka ditidurkan oleh Allah selama 309 tahun. Setelah itu, Allah membangkitkan mereka kembali dan mereka melanjutkan kehidupan mereka sampai ajal yang telah ditentukan.
Pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini ialah bagaimana para pemuda rela meninggalkan tanah kelahiran mereka, meninggalkan harta mereka, demi menjaga keyakinan dan akidah mereka yang sangat berharga dalam kehidupan. Dalam keyakinan mereka akidah tidak dapat dihargai dengan apa pun.[13]
Ketiga: Memiliki Akhlak Mulia
Akhlak mulia itu cerminan dari akidah yang benar. Akhlak yang baik itu sebagai bukti dari keimanan. Sebaliknya, akhlak yang buruk sebagai bukti atas lemahnya iman seseorang. Semakin sempurna akhlak seseorang, maka semakin kuat imannya. Diriwayatkan dari Abi Hurairah t, Rasulullah r bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنينَ إيمَاناً أَحْسَنُهمْ خُلُقاً. وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لنِسَائِهِمْ خُلُقاً
“Kaum mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik akhlaknya kepada istrinya.” (HR. Ahmad (7374), At-Turmudzi (1158), hadits hasan, dan dishahihkan oleh al-Albani)
Tidak ada “harganya” seseorang jika akhlaknya buruk, perangainya buruk, ucapannya buruk. Karena yang tampak di hadapan manusia adalah perangainya, akhlaknya, bukan yang lain. Maka akhlak dan adab harus didahulukan sebelum yang lainnya. Bahkan ada slogan atau kaidah yang berbunyi, “Dahulukan belajar adab sebelum belajar ilmu.”
Maka sekali lagi, akhlak dan adab harus dimiliki terlebih dahulu oleh seorang pemuda, sebelum yang lain. Karena akidah, ilmu, dan berbagai kompetensi yang lain akan sirna, akan tertutupi, dan tidak berguna di hadapan manusia jika akhlak dan adabnya buruk.
Keempat: Menguasai Ilmu dan Teknologi
Selagi masih muda, carilah ilmu setinggi-tingginya dan seluas-luasnya. Sukses di dunia itu dengan ilmu, tegaknya agama Allah SWT dimuka bumi ini juga dengan ilmu. Oleh karena itu menuntut ilmu setinggi mungkin bagi seorang mukmin merupakan bagian dari menggapai izzul Islam wal muslimin (kemuliaan Islam dan umat Islam). Allah berjanji akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu, sebagaimana firman-Nya:
… يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ
“… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Di era milenial, global, dan digital ini, para pemuda muslim juga dituntut untuk menguasai sains, teknologi, dan keterampilan, agar pemuda muslim bisa berkiprah, ikut mewarnai, dan menjadi agen perubahan, bukan sekedar menjadi penonton dan obyek semata.
Kelima, Menyebarkan Dakwah
Pemuda merupakan agen perubahan dalam masyarakat. Sejarah Islam telah mencatat dengan indah betapa banyak pemuda yang menjadi pelaku dakwah, dan mereka berhasil membangun peradaban gemilang. Tak pelak lagi bahwa tugas mulia ini sekarang diembankan secara estafet di pundak para pemuda.
Al-Qur’an telah memberikan teladan, dalam surah al-Anbiya’ ayat 51-73 diceritakan kisah Nabi Ibrahim yang saat itu masih muda belia. Allah menyebut dengan kata fata untuknya saat melakukan pendobrakan terhadap arca-arca kaumnya. Nabi Ibrahim sangat resah dengan perilaku kaumnya yang menyembah berhala, yang tidak logis itu. Setelah menghancurkan berhala itu akhirnya diketahui bahwa yang melakukannya adalah Ibrahim. Maka Nabi Ibrahim dijatuhi hukuman bakar hidup-hidup oleh Namrud.
Pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Ibrahim ini ialah: keresahan seorang pemuda, Ibrahim, terhadap ketimpangan akidah masyarakat akhirnya diluapkan dengan tindakan penuh risiko terhadap dirinya, tetapi akan membawa dampak positif pada kemudian hari. Kisah ini menjadi cerita bersejarah yeng terus abadi dalam pergumulan manusia antara ketauhidan dan kemusyrikan. Pergumulan ini akan terus berlangsung sepanjang sejarah kehidupan manusia. Berhala sendiri bisa jadi bukan lagi berhala dalam bentuk patung atau arca, melainkan berupa loyalitas manusia kepada sesuatu, baik yang kongkrit (seperti harta benda dll) maupun yang abstrak (seperti jabatan yang melebihi batas, dst), sehingga ia terbelenggu oleh sesuatu tersebut.[14]
Selain kisah tersebut, kiprah para sahabat dalam ajang dakwah sangatlah banyak. Satu saja yang kami sebutkan, yaitu Mu’adz bin Jabal. Dikisahkan bahwa Mu’adz bersama para pemuda kecil lainnya mengambil berhala milik Amr bin Jamuh, seorang pembesar bani Salamah, di kegelapan malam lalu melemparkannya ke dalam lubang yang dipenuhi dengan kotoran. Di pagi hari, orang tua itu mencarinya ke setiap tempat hingga ia mendapati berhala itu tertelungkup dan tenggelam dalam kotoran. Kemudian ia mengeluarkannya, membersihkan, dan memandikannya, serta meminyakinya. Kemudian mengembalikan ke tempatnya. Malam harinya, Mu’adz dkk kembali beraksi seperti sebelumnya. Hal itu berlangsung sampai tiga malam. Sampai akhirnya Amr bin Jamuh mengatakan –ketika menemukan berhalanya di tempat kotor untuk ketiga kalinya: “Demi Allah, kalau engkau Tuhan, engkau dan babi tidak akan ada di tengah lubang dan terikat dalam satu tali.” Pada akhirnya, seorang pembesar Yatsrib itu pun masuk Islam.[15]
Demikianlah peran para pemuda muslim (santri) dalam banyak sisi kehidupan, termasuk dakwah, amatlah luar biasa. Jika para pemuda diberi bekal dengan baik dan benar sesuai dengan fitrahnya, maka kiprahnya akan dahsyat. Semoga Allah swt mengaruniai kita dengan hadirnya para pemuda muslim (santri) harapan masa depan sebagaimana yang sudah digambarkan oleh al-Qur’an dan Hadits Nabi saw. Amin ya rabbal ‘alamin. [*]
Mojokerto, 17/10/2019
Sumber Rujukan:
Dr. Abdurrahman Ra’fat al-Basya, 65 Manusia Langit; Perjalanan Hidup Sahabat Rasulullah saw, terj. Asep Sobari, Lc., Jakarta: Senayan Abadi Publishing, 2005.
Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, Keberkahan Al-Qur’an: Memahami Tema-Tema penting Kehidupan dalam Terang Kitab Suci, PT Qaf Media Kreativa, 2017.
Muhammad Ahmad Kan’an, Potret Buram Dunia Remaja (Siapa Peduli?), terj. Nuruddin, MA., Solo: Era Adicitra Intermedia, 2003/ 1424 H.
Abdul Aziz bin Ibrahim Al-Umari, Dr., Penaklukan Dalam Islam, terj., Abdul Basith Basamhah, Lc., Jakarta: Darus Sunnah, 2013.
Abdussyafi Muhmmad Abdul Latif, Prof. Dr., Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah, terj. Masturi Ilham dan Malik Supar, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, cet. II, 2016.
Ali Muhammad Ash-Shallabi, Prof. Dr., Biografi Umar bin Abdul Aziz, ter. H. Sofau Qolbi, Lc., MA., Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, cet.III, 2017.
http://lenterahati21.blogspot.com/2013/01/peran-pemuda-islam-menatap-masa-depan.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Umar_bin_Abdul-Aziz
http://menaraislam.com/content/ view/164/1/
Catatan Kaki:

















MasyaAllah… berguna sekali. Terimakasih ilmunya
Terimakasih atensinya mbak/mas arsadana. Barakallahu fik
Semoga tulisan “KIPRAH PEMUDA MUSLIM (SANTRI) SEPANJANG MASA” yang disampaikan oleh Pak Yai Mujib di acara wisuda MA Al-Umm menjadi inspirasi bagi generasi penerus. Semoga para santri yang baru wisuda dapat mengemban peran dengan keberanian, keilmuan, dan keislaman yang tinggi. Doa terbaik untuk kesuksesan mereka dalam membawa kebaikan bagi masyarakat dan agama. Amiin.