KIAT MENCETAK GENERASI ANDALAN
Bag. 3
Oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I. (Kepala MA Al-Umm Malang)
Para pembaca yang dirahmati Allah, pada edisi terdahulu sudah kita bahas langkah-langkah (kiat-kiat) mencetak generasi andalan, antara lain: 1. Memilih calon suami/istri yang saleh/salehah, 2. Berdoa ketika berkumpul (jima’), 3. Memperhatikan anak ketika dalam kandungan, dan 4. Memperhatikan anak setelah lahir: a) menyerukan adzan di telinga kanan, b) menyampaikan kabar gembira dan ucapan selamat, c) mentahnik bayi dan mendoakan kebaikan, d) menyusui anak, e) memberi nama yang baik, f) merayakan kelahiran dengan aqiqah, g) mencukur rambut dan bersedekah, h) mengkhitan, dan i) memanggil dengan julukan dan panggilan yang baik. Sekarang kita lanjutkan pembahasan kiat-kiat mencetak generasi andalan berikutnya:
- Mentarbiyah (mendidik) anak tahap demi tahap.
Setelah memperhatikan anak setelah lahir –sebagaimana dipaparkan pada poin 4 yang lalu- maka tugas dan tanggung jawab orang tua dan pendidik selanjutnya adalah mentarbiyah anak tahap demi tahap dengan memperhatikan umur, pertumbuhan (fisik), dan perkembangan (psikis) anak.
Pertumbuhan dan perkembangan anak menurut para pakar ilmu jiwa ialah masa perubahan tubuh, intelegensi, emosional, dan kemampuan interaksi yang memberi pengaruh pada utuhnya individu dan matangnya kepribadian.
Meskipun pertumbuhan dan perkembangan anak itu berbeda obyek dan karakteristiknya, tetapi keduanya mempunyai persamaan, yakni suatu proses perubahan yang menuju ke arah kesempurnaan. Kedua istilah tersebut bersifat integral.
Karena itu, kedua hal ini, yaitu pertumbuhan dan perkembangan anak, perlu mendapat perhatian orang tua dan pendidik secara seksama, agar bisa menentukan langkah dan program yang tepat, serta menjalankan proses pendidikan dengan baik dan benar.
Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan merumuskan tanggung jawab besar para pendidik sebagai berikut: “Salah satu tanggung jawab pendidikan paling besar yang mendapat perhatian Islam adalah tanggung jawab pendidik terhadap siapa saja yang menjadi tanggung jawabnya untuk mengajari, mengarahkan, dan mendidik. Sebetulnya ini adalah tanggung jawab yang besar, berat, dan urgen. Sebab tanggung jawab ini dimulai sejak kelahiran hingga anak tumbuh sampai pada tahap usia pra pubertas dan pubertas hingga menjadi seorang mukallaf (terbebani kewajiban). Tidak diragukan lagi bahwa seorang pendidik, baik berstatus sebagai guru, bapak, ibu, maupun pembimbing masyarakat, tatkala mampu melaksanakan tanggung jawab secara sempurna dan menunaikan hak-hak dengan penuh amanah, maka berarti ia telah mengerahkan daya dan upayanya untuk membentuk individu yang memiliki karakteristik dan keistimewaan.”
Selanjutnya, beliau memaparkan lebih rinci lagi bahwa tanggung jawab yang paling utama bagi orang tua dan pendidik adalah tanggung jawab: 1) pendidikan iman, 2) pendidikan moral, 3) pendidikan fisik, 4) pendidikan akal, 5) pendidikan kejiwaan, 6) pendidikan sosial, dan 7) pendidikan seks.
Pembahasan ketujuh pasal tersebut telah diuraikan secara detil dalam buku beliau berjudul “Pendidikan Anak dalam Islam”. Penulis tidak hendak membahas uraian tersebut, tetapi dalam kesempatan ini penulis hanya akan memaparkan materi pendidikan yang paling urgen, yang kami paparkan secara global, yaitu seputar pendidikan iman, akhlak, ibadah, dan sosial. Materi tersebut kami urutkan berdasarkan prioritasnya, antara lain:
1) Mengajarkan keimanan dan kalimat tauhid
Poin pertama kali yang wajib diajarkan kepada anak adalah masalah tauhid, yaitu mengenalkan Allah dan mengesakan-Nya melalui kalimat tauhid. Itulah materi awal yang diajarkan Lukman al-Hakim kepada anaknya sebelum pelajaran lainnya. Sehingga materi tersebut diabadikan dalam al-Qur’an:
وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman (31): 13)
Seorang pendidik wajib untuk mengajarkan kepada anak akan pedoman-pedoman berupa pendidikan keimanan semenjak pertumbuhannya. Dia juga diharuskan untuk mengajarkan fondasi-fondasi berupa ajaran-ajaran Islam. Sehingga anak akan terikat dengan agama Islam secara akidah dan ibadah, di samping penerapan metode dan aturan.
Jundub bin Junadah berkata:
كُنَّا غِلْـمَاناً حَزَاوِرةً معَ رسولِ الله صَلَّـى الله عَلَـيْهِ وَسَلَّـم فَـيُعَلِّـمُنَا الإيـمانَ قبلَ القرآنِ، ثم يُعَلِّـمُنا القرآنَ فازْدَدْنَا بهِ إيـماناً، وإنَّكُمُ الـيومَ تَعَلَّـمُوْنَ القرآنَ قبلَ الإيـمانِ
“Dahulu kami telah bersama Nabi sejak kami masih remaja mendekati usia baligh. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari al-Qur’an dan kemudian kami mempelajari al-Qur’an sehingga iman kami bertambah dengan mempelajari al-Qur’an tersebut.” (HR. Al-Baihaqi (5330))
Dari hadits tersebut diketahui bahwa Nabi saw mengajarkan iman kepada para sahabat sebelum mengajarkan al-Qur’an. Iman itu seperti disebutkan dalam hadits terdiri dari 70 lebih atau 60 lebih cabang (ada 79 amal shalih di al Qur`an dan Sunnah). Yang paling utama adalah ucapan lailaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Malu itu cabang dari iman.
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Ajarkanlah kepada anak-anak kalian pada permulaan bicaranya ucapan lailaha illallah dan ajarilah ia agar di akhir hayatnya mengucapkan lailaha illallah.”
Ini artinya para orang tua dan guru harus menanamkan tauhid (akidah) sejak dini sebelum mengajarkan yang lain. Jangan sebaliknya, anak sudah mengenal hal-hal lain sebelum menganal Allah, Nabi Muhammad saw, dan agama Islam. Hal ini tentu saja menuntut para orang tua dan guru untuk terlebih dahulu memiliki ilmu tentang tauhid ini.
2) Mengajak shalat berjamaah
Termasuk bagian penting dari mendidik anak adalah mengajak anak shalat berjamaah di masjid. Tujuannya untuk mengenalkan kepada anak tentang rukun Islam kedua, yaitu shalat, dan anak menjadi akrab dengan shalat dan masjid. Tetapi dengan catatan, kalau anak tersebut bisa tenang di masjid, supaya tidak mengganggu jamaah yang lain. Untuk ini maka orang tua perlu mendampingi anak-anak agar tidak ramai dan bergurau di masjid.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Syaddad dari ayahnya, ia berkata:
خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِحْدَى صَلَاتَيِ الْعَشِيِّ، الظُّهْرِ – أَوِ الْعَصْرِ – وَهُوَ حَامِلٌ الْحَسَنَ – أَوِ الْحُسَيْنَ – فَتَقَدَّمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَهُ، ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ، فَصَلَّى، فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِهِ، سَجْدَةً أَطَالَهَا فَقَالَ: إِنِّي رَفَعْتُ رَأْسِي، فَإِذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ سَاجِدٌ، فَرَجَعْتُ فِي سُجُودِي، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ، قَالَ النَّاسُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِكَ، هَذِهِ سَجْدَةً قَدْ أَطَلْتَهَا، فَظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ، أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ، قَالَ: ” فَكُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ
Rasulullah keluar menemui kami yang sedang menunggu beliau untuk shalat zhuhur atau ashar, sedangkan beliau menggendong Hasan atau Husen. Maka Nabi maju dan meletakkan cucunya, kemudian melakukan takbir shalatnya. Dalam salah satu sujud dari shalatnya itu, beliau lama sekali melakukannya. Ayah perawi mengatakan: “Maka kuangkat kepalaku, ternyata kulihat anak itu berada di atas punggung Rasulullah yang sedang dalam sujudnya. Sesudah itu aku kembali ke sujudku. Setelah Rasulullah menyelesaikan shalatnya, orang-orang bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah melakukan sujud dalam shalatmu yang begitu lama, sehingga kami mengira terjadi sesuatu pada dirimu karena ada wahyu yang diturunkan kepadamu.” Rasulullah menjawab, “Semuanya itu tidak terjadi, melainkan anakku ini menunggangiku sehingga aku tidak suka bila menyegerakannya untuk turun sebelum dia merasa puas denganku.” (HR. Ahmad (15726))
3) Mendidik akhlak mulia
Termasuk pendidikan yang penting bagi anak-anak adalah mengajari dan membiasakan akhlak-akhlak yang baik, seperti berkata jujur, ramah, sopan santun, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, tanggung jawab, dan sebagainya. Karena ada pepatah mengatakan: kecil teranjak-anjak, besar terbawa-bawa. Artinya, kebiasaan sejak kecil akan terbawa sampai tua. Hal ini akan lebih baik lagi jika disertai teladan yang baik dari orang tua.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amir , ia berkata:
دَعَتْنِي أُمِّي يَوْماً وَرَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم قاعِدٌ في بَيْتِنا، فقالَتْ هَا تَعَالَ أُعْطِيكَ، فَقالَ لَهَا رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم وَمَا أَرَدْتِ أَنْ تُعْطِيهِ؟ قالَتْ أُعْطِيهِ تَمْراً، فقالَ لَهَا رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: أُمَا إِنَّكِ لَوْ لَمْ تُعْطِهِ شَيْئاً كُتِبَتْ عَلَيْكَ كَذِبَةٌ
“Ibuku memanggilku dan pada saat itu Rasulullah sedang berada di rumah kami. Ibuku berkata, “Kemarilah aku akan memberimu sesuatu!” Nabi bertanya kepada ibuku, “Apa yang akan engkau berikan kepadanya?” Ibuku menjawab, “Aku akan memberinya buah kurma.” Nabi pun bersabda, “Ingatlah, jika engkau tidak memberinya sesuatu, maka hal itu akan dicatatkan sebagai kedustaan bagimu.” (HR. Abu Dawud (4987))
Anak-anak akan selalu memperhatikan dan meneladani sikap dan perilaku orang dewasa. Apabila mereka melihat kedua orang tuanya berperilaku jujur, mereka akan tumbuh dalam kejujuran. Demikian seterusnya. Oleh karena itu, jangan sekali-kali kedua orang tua berbohong terhadap anaknya dengan cara apa pun.
Termasuk dalam pendidikan akhlak ialah memperhatikan penampilan si anak, misalnya, potongan rambut. Nafi’ meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Nabi melihat seorang anak kecil telah dicukur di sebagian sisi kepalanya dan dibiarkan pada sisi yang lain. Beliau pun melarang hal itu dan bersabda, “Cukurlah semua atau biarkan semua.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban)
Rasulullah tidak suka penampilan anak Islam yang menyerupai penampilan anak-anak orang kafir. Beliau tidak ingin jika rasa cinta kita terhadap anak akan mendorong kita berbuat seperti mereka. Akan tetapi, beliau ingin agar anak-anak kaum muslimin memiliki penampilan tersendiri dan kepribadian yang berbeda dari yang lain. Tidak ikut-ikutan atau meniru kepribadian non-muslim, seperti yang terlihat dalam realitas kebanyakan manusia zaman sekarang, kecuali orang yang dijaga oleh Allah .
4) Mengajarkan dan membiasakan adab-adab
Termasuk pendidikan yang penting bagi anak ialah mengajari adab atau tata cara yang benar dalam berpakaian, makan, minum, masuk rumah, keluar rumah, masuk dan keluar masjid, adab berjalan, adab tidur, adab bertamu, dan seterusnya. Kita ajarkan untuk selalu memulai dengan yang kanan ketika berpakaian, makan dan minum, masuk rumah, masuk masjid, keluar dari kamar kecil, dst. Sebaliknya dimulai dari yang kiri ketika melepas pakaian, keluar rumah, keluar masjid, masuk kamar kecil, dst. Karena demikianlah yang diajarkan oleh Rasulullah .
5) Mengajarkan hafalan doa sehari-hari
Demikian pula, untuk menyempurnakan pelajaran adab, kita ajarkan anak-anak untuk menghafal doa pendek sehari-hari, seperti doa akan dan sesudah makan, akan dan bangun tidur, masuk dan keluar rumah, masuk dan keluar kamar kecil, masuk dan keluar masjid, doa untuk kedua orang tua, dan seterusnya, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah dan para ulama panutan umat.
6) Mengajarkan kewajiban-kewajiban bagi umat Islam
Mengajarkan beberapa kewajiban umat Islam yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya juga tidak kalah pentingnya diberikan kepada anak. Misalnya, shalat, puasa, berbakti kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada sesama, menuntut ilmu, dan seterusnya. Hal ini misalnya, berdasarkan hadits Nabi yang berbunyi:
مُرُوا أَوْلاَدَكُم بالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْع سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ في المَضَاجِعِ
“Perintahkanlah anakmu untuk shalat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka –jika meninggalkan shalat- ketika berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur.” (HR. Abu Dawud (495))
Faedah perintah ini adalah agar anak mau mempelajari hukum-hukum ibadah ini sejak tumbuh dewasa serta akan terbiasa melaksanakan dan menegakkannya. Selain itu juga agar terdidik untuk taat kepada Allah, melaksanakan hak-Nya, bersyukur kepada-Nya, kembali kepada-Nya, berpegang teguh kepada-Nya, bersandar kepada-Nya, dan berserah diri kepada-Nya.
Materi pendidikan anak sejak kecil ini sebenarnya sudah terangkum dalam al-Qur’an Surat Luqman (31) ayat 12-19, yang berisi tentang akidah tauhid (mengesakan Allah dan menjauhi syirik), ibadah (mendirikan shalat), dakwah (amar ma’ruf nahi mungkar), dan akhlak (menghormati kedua orang tua, jangan sombong dan angkuh dalam berjalan dan bersikap, juga sabar), dan sebagainya.
Maka dengan pendidikan yang benar sejak dini ini diharapkan benar-benar bisa melahirkan generasi yang saleh, yang memiliki akidah yang benar, takwa kepada Allah, dan memiliki karakter yang baik dan berakhlak yang mulia.
Jika dilihat pada tataran ini, yaitu mendidik anak sejak umur 0-6 tahun, kemudian 6-12 tahun, maka tanggung jawab terbesar pendidikan anak ada pada kedua orang tua dan guru. Merekalah yang bertanggung jawab membentuk karakter, kepribadian, atau watak dasar anak. Sampai-sampai Rasulullah bersabda:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَي الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari, 1361)
Imam al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Anak adalah amanat di tangan kedua orang tuanya. Hatinya yang suci adalah mutiara yang masih mentah, belum dipahat maupun dibentuk. Mutiara ini dapat dipahat dalam bentuk apapun, mudah condong kepada segala sesuatu. Apabila dibiasakan dan diajari dengan kebaikan, maka dia akan tumbuh dalam kebaikan itu. Dampaknya, kedua orang tuanya akan hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Semua orang dapat menjadi guru dan pendidiknya. Namun apabila dibiasakan dengan keburukan dan dilalaikan, pasti si anak akan celaka dan binasa. Dosanya akan melilit leher orang yang seharusnya bertanggung jawab atasnya dan menjadi walinya.” Wallahu a’lam bish-shawab [*]
Dtelaah ulang, 17/11/2023
— SELESAI —
Sumber Rujukan:
M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I., Pendidikan Karakter Berbasis Sunnah Nabi saw: Kunci Sukses Membangun Karakter Anak Bangsa, Malang: Pustaka Al-Umm, 2013.
Abdullah Nashih ‘Ulwan, Dr., Pendidikan Anak Dalam Islam, terj. Arif Rahman Hakim Lc., dkk., Solo: Insan Kamil, 2012.
Al-Maghribi bin as-Said al-Maghribi, Begini Seharusnya Mendidik Anak; Panduan mendidik Anak Sejak Masa Kandungan Hingga Dewasa, terj.Zainal Abidin, Lc., Jakarta: Darul Haq, cet. IV, 2006.
Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, Dr., Prophetic Parenting Cara Nabi Mendidik Anak, terj: Farid Abdul Aziz Qurusy, Yogyakarta: Pro-U Media, cet. II, 2011.
Syaikh Jamal Abdurrahman, Islamic Parenting Pendidikan Anak Metode Nabi, terj. Agus Suwandi, Solo: Aqwam, cet. III, 2012.
Baharuddin, H., Prof., Dr.,M.Pd.I., Pendidikan dan Psikologi Perkembangan, Joqjakarta: Ar-Ruzz Media, 2009.
Program Aplikasi al-Hadits asy-Syarif.


















Tulisan ini memberikan kiat-kiat yang baik dalam mencetak generasi andalan dengan pendekatan pendidikan berbasis keimanan dan akhlak. Memfokuskan pada pengajaran keimanan, kalimat tauhid, shalat berjamaah, akhlak mulia, adab-adab, hafalan doa, dan kewajiban umat Islam adalah langkah esensial untuk membentuk individu yang berakhlak dan beriman. Pentingnya pendekatan tahap demi tahap juga mencerminkan kesadaran akan proses pembentukan karakter yang berkelanjutan.