MENGISI KEMERDEKAAN, MENGAMALKAN PANCASILA
Oleh: M. Mujib Ansor (Kadiv. Pendidikan YBM Malang)
Bentuk Perjuangan Bangsa Indonesia
Bagi umat Islam, hidup adalah berjuang dan beribadah. Perjuangan yang dilakukan bangsa Indonesia terkait dengan adanya penjajahan di Indonesia minimal ada tiga bentuk (fase): pertama, berjuang merebut kemerdekaan, kedua, berjuang mempertahankan kemerdekaan, dan ketiga, berjuang mengisi kemerdekaan.

Pertama, berjuang merebut kemerdekaan dimulai sejak masuknya penjajah di Indonesia sampai Proklamasi 17 Agustus 1945. Masuknya penjajahan di Indonesia ditandai dengan awal masuknya bangsa Portugis di Maluku (1512) setelah menguasai Malaka (1511, sekarang masuk wilayah Malaysia), kemudian Spanyol (1521), serta Belanda tahun 1596 (gelombang pertama, namun gagal) dilanjutkan gelombang 2 tahun 1598, dan berhasil membentuk VOC tahun 1602. VOC menguasai Indonesia sampai 1799, kemudian per 1 Januari 1800 langsung diambil alih oleh pemerintahan Belanda sampai Maret 1942.[1] Kemudian dari Maret 1942 sampai 16 Agustus 1945 dikuasai Jepang.

Dari perjuangan merebut kemerdekaan ini melahirkan perlawanan rakyat yang dipimpin oleh para pahlawan yang gagah perkasa, misalnya: Sultan Baabullah Raja Ternate (1570-1583) yang gigih melawan Portugis, Sultan Agung Raja Mataram (1613-1645) gigih melawan VOC (Belanda), Sultan Ageng Tirtayasa Raja Banten (1651-1682) gigih melawan VOC, Sultan Hasanuddin yang memimpin Perang Makassar melawan VOC (1660-1669), Trunojoyo (1677-1679) juga gigih melawan VOC sampai meninggal, Untung Surapati yang jalan perlawanannya terhadap Kumpeni (Belanda) cukup panjang; dimulai dari menemani pelarian Pangeran Purbaya (putra Sultan Ageng Tirtayasa) lalu ke Mataram membantu Sunan Mas sampai akhir perjuangannya di Pasuruan (1683-1706), Thomas Matulessy (Pattimura) yang mempimpin pemberontakan Saparua (1817), Tuanku Imam Bonjol yang memipin Perang Paderi di Sumatra Barat (1819-1832), Pangeran Diponegoro yang memimpin Perang Jawa yang dahsyat dengan Panglimanya Alibasyah Sentot Prawiradirjo (1825-1830), kemudian terakhir perang paling lama dan paling mahal -menurut Taufik Abdullah- adalah Perang Aceh atau biasa disebut “Perang Sabilillah” (1873-1912)[2] yang dipimpin oleh para pahlawan gagah berani seperti Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Panglima Polim, Teungku Cik di Tiro, dan lain-lain.

Setelah perjuangan fisik (peperangan) dilanjutkan dengan perjuangan melalui organisasi sosial dan politik yang menandai lahirnya zaman Pergerakan Nasional. Zaman pergerakan ini ditandai dengan berdirinya beberapa organisasi sosial-politik serta keagamaan, di antaranya ialah: Syarikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh H. Samanhudi (1905) yang kemudian berubah nama menjadi Syarikat Islam (SI) di bawah pimpinan HOS Tjokro Aminoto (1912), Budi Utomo (1908) didirikan oleh Sutomo dkk atas gagasan dr. Wahidin Sudirohusodo, Indische Partij yang didirikan oleh Tiga Serangkai: Douwes Dekker, dr. Tjipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat (1912) yang berasaskan nasionalisme dan mencita-citakan kemerdekaan, dan seterusnya. Disusul kemudian oleh pergerakan pemuda yang melahirkan organisasi antara lain: Jong Java (1915), Jong Sumatranen Bond (1917), Indonesia Muda dan lain-lain, yang nantinya pada 28 Oktober 1928 dalam Kongres Pemuda II melahirkan “Sumpah Pemuda” yang dahsyat itu, yang isinya: pertama, mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia; kedua, mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia; dan ketiga, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.[3] Tujuh belas tahun setelah Sumpah Pemuda itu berbuahlah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.
Perjuangan tahap kedua adalah mengisi sekaligus mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1945-1949. Disebut demikian karena setelah proklamasi 17 Agustus 1945 kita belum memiliki perlengkapan kenegaraan sama sekali dan di lain pihak Jepang masih bersenjata lengkap berada di Indonesia sementara Sekutu yang diboncengi Belanda akan segera datang ke Indonesia untuk melucuti senjata Jepang. Untuk mengisi kemerdekaan dilakukan dengan membentuk dan melengkapi kelengkapan negara, sementara perjuangan mempertahankan kemerdekaan dilakukan dengan perjuangan bersenjata dan perjuangan diplomatik. []
Mojokerto, 14/11/2024
DAFTAR PUSTAKA
Abintoro Prakoso, Prof. Dr., Drs, S.H., M.S., Sejarah Pergerakan Bangsa, Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2020.
Ibrahim Alfian, Perang Di Jalan Allah: Perang Aceh 1873-1912, Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2016.
Catatan Kaki:
[1] Tahun 1806-1611 Hindia Belanda (Indonesia) sempat dikuasai oleh Perancis dengan Gubernur Thomas Stamford Raffles, karena Belanda kalah dengan Perancis. Kemudian tahun 1811-1816 Hindia Belanda dikuasai oleh Inggris dengan Gubernur Jenderalnya Herman William Daendels.
[2] Tentang detilnya Perang Aceh ini silakan merujuk pada Ibrahim Alfian, Perang Di Jalan Allah: Perang Aceh 1873-1912, (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2016)
[3] Lihat, Abintoro Prakoso, Prof. Dr., Drs, S.H., M.S., Sejarah Pergerakan Bangsa, (Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2020), hal. 105-132.

















