Wednesday, May 13, 2026
  • Login
SWAHARAH
  • Beranda
  • Profil
    • PROFIL PENDIRI
    • PROFIL SWAHARAH.ID
  • Agama
    • Kajian
    • Khutbah
    • Makalah
  • Pendidikan
  • Kutipan
  • Nasional
    • Berita
    • Internasional
    • Opini
  • Sejarah
  • Keluarga
  • Tamu
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Profil
    • PROFIL PENDIRI
    • PROFIL SWAHARAH.ID
  • Agama
    • Kajian
    • Khutbah
    • Makalah
  • Pendidikan
  • Kutipan
  • Nasional
    • Berita
    • Internasional
    • Opini
  • Sejarah
  • Keluarga
  • Tamu
No Result
View All Result
SWAHARAH
No Result
View All Result
Home Sejarah

MASA PERTUMBUHAN NILAI-NILAI PANCASILA (Bag. 2)

Zaman Kerajaan

M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I. by M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.
December 19, 2023
in Sejarah, Sejarah Pancasila
A A
0
MASA PERTUMBUHAN NILAI-NILAI PANCASILA (Bag. 2)

sumber: detiknews.com

0
SHARES
24
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

@Serial Sejarah: Pancasila Hadiah Umat Islam Untuk Indonesia (bag. 12)

SEJARAH LAHIRNYA PANCASILA (bag. 3)

Oleh: M. Mujib Ansor, S.H., M.Pd.I. (Kepala MA Al-Umm Malang)

B. MASA PERTUMBUHAN NILAI-NILAI PANCASILA (Bag. 2)

Para pembaca setia swaharah.id –rahimakumullah-, pada pembahasan sebelumnya telah kami kemukakan bahwa Pancasila, dasar nagara RI ini, tidak muncul begitu saja, tidaklah terjadi begitu saja secara tiba-tiba, tetapi melalui proses perjalanan yang amat panjang. Pancasila diakui sebagai kristalisasi dari nilai-nilai budaya bangsa. Hal itu telah diakui oleh para ahli Pancasila bahwa nilai-nilai Pancasila digali dari khazanah budaya bangsa sejak tumbuh dan berkembangnya bangsa ini beberapa abad silam. Oleh karena itu penulis merasa perlu menelusuri jejak sejarah lahirnya Pancasila, mulai dari tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai Pancasila tersebut sampai pada pengesahan dan penetapannya bahkan sesudahnya, yaitu Dekrit 5 Juli 1959.

Kemudian penulis juga sudah mengemukakan periodesasi lahirnya Pancasila -berdasarkan hasil temuan dalam penelitian- menjadi empat bagian: pertama, periode pertumbuhan nilai-nilai Pancasila, kedua: periode perintisan Pancasila, ketiga periode perumusan Pancasila, dan keempat, periode penetapan atau pengesahan Pancasila.

Kita masih dalam pembahasan periode pertama, yaitu pertumbuhan nilai-nilai Pancasila. Pada masa pertumbuhan ini kami bagi menjadi tiga bagian, yaitu: 1) zaman purbakala, 2) zaman Kerajaan, dan 3) zaman penjajahan. Pertemuan yang lalu sudah membahas zaman purbakala, sekarang kita lanjutkan pembahasannya di zaman Kerajaan.

2. Zaman Kerajaan

Pada zaman Kerajaan Kutai[1] (abad ke-5 Masehi) dikenal istilah kenduri dan sedekah yang diketahui melalui tulisan pada 7 buah prasasti yang disebut prasasti Yupa[2]. Suwardono menuliskan bahwa di antara prasasti Yupa itu berbunyi:

prasasti yupa (sumber: kumparan.com)

“Sang Maharaja Kudungga, yang amat mulia, mempunyai putra yang termasyhur, Sang Aswawarman namanya, yang seperti Sang Angsuman (Dewa Matahari) menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aswawarman mempunyai putra tiga, seperti api (yang suci) tiga. Yang terkemuka dari ketiga putra itu ialah Sang Mulawarman, raja yang berperadaban baik, kuat, dan kuasa. Sang Mulawarman telah mengadakan kenduri (selamatan) emas amat banyak. Untuk peringatan kenduri itulah tugu batu ini didirikan oleh para brahmana.”

Di prasasti yang lain berbunyi, “Sang Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka, telah memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana yang seperti api, (bertempat) di tanah yang sangat suci (bernama) Waprakeswara. Untuk (peringatan) akan kebaikan budi sang raja itu, tugu ini telah dibuat oleh para brahmana yang datang di tempat ini.”

Upacara selamatan ini juga ditemukan di Kerajaan Tarumanegara, sebuah kerajaan tua yang terletak di Jawa Barat. Keberadaan kerajaan ini dibuktikan melalui dua bukti sumber sejarah, yaitu sumber prasasti dan berita Cina dari masa Dinasti Tang (abad VII).

Prasasti Kerajaan Tarumanegara berjumlah 7 buah, yaitu: Prasasti Ciaruteun (Ciampea-Bogor), Prasasti Tugu (dekat Tanjung Priuk), Prasasti Cidanghiang (Kampung Lebak-Munjul), Prasasti Pasirawi dan Muara Cianten (daerah Ciampea Bogor), Prasasti Kebon Kopi (Muara Hilir Cibungbulang), dan Prasasti Pasir Koleangkak (sebelah barat Bogor). Huruf yang dipakai dalam prasasti-prasasti tersebut adalah huruf Pallawa[4] dan Bahasa yang dipakai adalah Bahasa Sansekerta dalam bentuk metrum (syair).

prasasti tugu (sumber: kompas.com)

Prasasti Tugu yang didapatkan di Jakarta, merupakan prasasti yang terpanjang dari semua tinggalan Kerajaan Tarumanegara. Tulisannya dipahat pada batu bulat telur secara melingkar. Adapun bunyi prasasti Tugu adalah sebagai berikut (terjemahannya):

Dulu kali (yang bernama) Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan mempunyai lengan kencang, dan kuat, (yakni Raja Purnawarman) untuk mengalirkannya ke laut, setelah (kali ini) sampai di istana kerajaan yang termasyhur. Di dalam tahun ke dua puluh dua dari tahta yang mulia Raja Purnawarman yang berkilau-kilauan karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji segala raja, (maka sekarang) beliau menitahkan pula menggali kali yang permai dan berair jernih, Goman namanya, setelah sungai itu mengalir di tengah-tengah tanah kediaman yang mulia sang pendeta neneknda (Sang Purnawarman). Pekerjaan ini dimulai pada hari yang baik, tanggal 8 paruh gelap bulan Phalguna dan disudahi pada hari tanggal 13 paruh terang bulan Caitra, jadi hanya 21 hari saja, sedang galian itu panjangnya 6.122 tumbak. Selamatan baginya dilakukan oleh para brahmana disertai 1.000 ekor sapi yang dihadiahkan.

Tentang nama Sungai Candrabhaga yang disebut di dalam Prasasti Tugu, Poerbatjaraka beranggapan bahwa itu tentulah nama sungai di India yang diberikan kepada sebuah sungai di Pulau Jawa. Menurut Poerbatjaraka bahwa kata candrabhaga barasal dari dua kata, yaitu candra = bulan atau sasi, dan bhaga = bagian. Candrabhaga = sasibhaga = Bhagasasi, menjadi Bagasi, dan yang terakhir menjadi nama Bekasi sekarang.

Sedekah dan kenduri ini menunjukkan bahwa nilai religius dan kepedulian sosial telah tumbuh dan berkembang di zaman Kerajaan Kutai dan Kerajaan Tarumanegara.

peninggalan kerajaan sriwijaya (sumber: detik.com)

Kemudian Kerajaan Sriwijaya berlangsung lebih dari satu abad yang dimulai abad ke-7 Masehi. Menurut Anas, sebagaimana dikutip Achmad Busrotun Nufus dkk, Kerajaan Sriwijaya dapat dipandang sebagai sebuah kerajaan yang pertama mampu mengusung pandangan mendasar tentang kesatuan dalam menyelenggarakan sistem kerajaan. Nilai kesatuan terlihat pada pemusatan kekuasaan pada seorang raja baik kekuatan politik maupun kekuatan religius… Sistem pemerintahan dan ekonomi yang dijalankan oleh Kerajaan Sriwijaya menunjukkan bahwa nilai persatuan dan nilai internasionalisme tumbuh di zaman itu. Sedangkan nilai religius yang tumbuh pada zaman kerajaan Sriwijaya dapat dilihat pada Prasasti Nalanda. Prasasti tersebut berisi tentang pendirian bangunan biara di Nalanda oleh Raja Balaputradewa, yang merupakan Raja Sriwijaya yang menganut agama Budha.

Berikutnya adalah zaman kerajaan Majapahit yang merupakan kerajaan terluas dan terbesar dalam kesejarahan di Nusantara. Wilayah kekuasaan Majapahit selama masa kejayaan membentang dari semenanjung Melayu (Malaysia sekarang) sampai Irian Barat melalui Kalimantan Utara. Kerajaan Majapahit berdiri tahun 1293 dan mencapai masa kejayaan pada saat diperintah oleh Raja Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada yang dibantu oleh Laksamana Nala dalam memimpin armadanya untuk menguasai Nusantara.

candi borobudur (sumber: sindonews.com)

Menurut Kaelan, pada zaman kerajaan Majapahit, berbagai unsur agama yang berbeda yang meliputi agama Hindu dan Budha dengan berbagai alirannya dapat hidup berdampingan dengan damai dalam satu kerajaan. Empu Prapanca menulis kitab Negarakertagama (1365) yang di dalamnya memuat istilah “Pancasila”. Empu Tantular mengarang buku Sutasoma, dan di dalam buku itulah kita jumpai seloka persatuan nasional yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”, yang melambangkan bangsa dan negara Indonesia yang tersusun dari berbagai unsur rakyat (bangsa) yang terdiri atas berbagai macam suku, adat-istiadat, golongan, kebudayaan, dan agama, serta wilayah yang terdiri atas beribu pulau menyatu menjadi bangsa dan negara Indonesia.

Lebih lanjut Kaelan memaparkan bahwa lengkapnya seloka persatuan tersebut berbunyi Bhinneka Tunggal Ika, tan hana dharma mangrwa, yang terjemahannya bermakna meskipun berbeda-beda akan tetapi satu jua, tidak ada hukum yang mendua (dualisme). Toleransi positif dalam bidang agama dijunjung tinggi sejak masa bahari yang telah silam. Hal ini sebagai suatu fakta historis bahwa kausa materialis Pancasila sudah dimiliki dan diamalkan dalam kehidupan bersama, meskipun pada saat itu masih dalam kekuasaan kerajaan.

Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Mahapatih Gajah Mada dalam sidang Ratu dan Menteri-menteri di paseban keprabuan Majapahit pada tahun 1331, berisi cita-cita mempersatukan seluruh Nusantara Raya. Menurut Prasasti Brumbung (1329), dalam tata pemerintahan Majapahit terdapat semacam penasehat seperti Rakyan I Hino, I Sirikan, dan I Halu yang bertugas memberikan nasehat kepada raja, hal ini sebagai nilai-nilai musyawarah mufakat yang dilakukan oleh sistem pemerintahan kerajaan Majapahit.

Nilai-nilai Pancasila, yaitu Ketuhanan, kamanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial ini semakin menampakkan wujudnya pada zaman sejarah Indonesia madya, yaitu sejak datangnya agama Islam menjelang runtuhnya kerajaan Hindu, Majapahit, sampai akhir abad ke-19.[10]

Nilai-nilai Ketuhanan di zaman kerajaan Islam diwujudkan dalam bentuk penerapan syariat Islam dalam kehidupan masyarakat, mulai dari pelaksanaan Rukun Islam yang lima (syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji) sampai pada hubungan sosial kemasyarakatan yang biasa disebut mu’amalah.

Ricklefs menyebutkan bahwa pada awal abad ke-17, dinasti yang berkuasa adalah dinasti Mataram (yang wilayahnya meliputi daerah Yogyakarta sekarang). Di sana, raja terbesar di Jawa dari era paska Majapahit, Sultan Agung (1613-1646), mempertemukan dan mendamaikan keraton dengan tradisi-tradisi islami. Sultan Agung juga meninggalkan sistem penanggalan Jawa Kuno, Saka, yang bergaya India serta menggantinya dengan sistem penanggalan Jawa hibrid yang menggunakan sistem penanggalan hijriah, tindakan yang tentu memberinya kekuasaan secara supernatural. Ricklefs melanjutkan, dengan bantuan seorang pangeran dari Surabaya -yang dinikahkan dengan adik perempuannya sebagai bentuk upaya damai dengan Surabaya- Sultan Agung memperkenalkan karya-karya literatur besar yang diinspirasi ajaran Islam ke dalam khazanah literer istana yang diyakini memiliki kekuatan magis. Salah satu karya ini ialah Kitab Usulbiyah.

keraton jogja (sumber: intisari.grid.id)

Selanjutnya Ricklefs menuturkan bahwa rekonsiliasi kedua antara keraton Mataram dan kesadaran Islamik terjadi semasa kekuasaan Pakubuwana II (1726-1749). Penggerak utamanya adalah nenek sang raja muda yang sudah sepuh, buta, namun juga seorang sufi saleh bernama Ratu Pakubuwana (1657-1732). Ada berbagai upaya yang dibuat pihak keraton untuk menjadikan masyarakat lebih saleh secara islami. Masyarakat diperintahkan agar rajin datang ke masjid untuk beribadah pada hari Jumat, judi dianggap sebagai tindakan yang melanggar hukum di istana (kecuali sabung ayam), dan ada bukti bahwa tangan pencuri dipotong. Namun demikian, berbagai doktrin pra Islam, karya sastra, dan praktik lain tetap dipertahankan di dalam istana, tetapi kesemuanya itu kini dipahami sebagai sesuatu yang sepenuhnya Islami. Meskipun demikian Ricklefs menegaskan bahwa proyek islamisasi ini juga idiosinkratis dalam hal-hal lain. Madat (secara teori) dilarang, namun selera kaum bangsawan terhadap anggur, minuman, dan bir dari Eropa secara kasat mata dibiarkan.

Sampai akhir kejayaan Mataram yang akhirnya Mataram terpecah menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kesuhunan Surakarta -yang kemudian dipecah lagi menjadi Pakualaman dan Mangkunegaran- akibat pemberontakan dan campur tangan VOC, rekonsiliasi antara identitas, keyakinan, serta gaya Jawa dan Islam menghasilkan apa yang diistilahkan oleh Ricklefs sebagai “Sintesis Mistik”. Sintesis ini didasarkan pada tiga pilar utama:

  1. Suatu keadaan identitas Islami yang kuat: menjadi orang Jawa berarti menjadi Muslim.
  2. Pelaksanaan lima rukun ritual dalam Islam: mengucapkan syahadat, shalat lima kali sehari, membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji bagi mereka yang mampu melakukannya; dan,
  3. Terlepas dari kemungkinan munculnya kotradiksi dengan dua pilar pertama, penerimaan terhadap realitas kekuatan spiritual khas Jawa seperti Ratu Kidul, Sunan Lawu (roh Gunung Lawu, yang pada dasarnya adalah dewa angin) dan banyak lagi makhluk adikodrati yang lebih rendah.
kesultanan mataram (sumber: kompas.com)

Meskipun nampak adanya sinkretisme di zaman Mataram ini, yakni percampuran antara ajaran Islam dan ajaran sebelumnya seperti animisme, dinamisme serta ajaran Hindu-Budha, Ricklefs ingin menegaskan bahwa dalam konteks ini kesadaran sebagai muslim benar-benar dirasakan secara kuat di segenap lapisan masyarakat Jawa. Ricklef meyakinkan bahwa kompromi-kompromi iman dan praktik serupa dapat ditemukan di berbagai belahan dunia Islam lain pada periode sebelum gerakan reformasi abad ke-18 dan, secara khusus, abad ke-19. Selanjutnya Ricklefs menunjukkan bukti berupa laporan yang mendeskripsikan Gresik di Jawa Timur pada 1822 oleh A.D. Cornets de Groot, bahwa lima rukun Islam sudah dijalankan secara luas.

Sir Thomas Stanford Raffles, Gubernur Letnan Jawa selama masa kekuasaan Inggris di Hindia Belanda pada 1811-1816, menulis buku History of Java yang terkenal itu, menuturkan, “Penziarahan ke Mekkah adalah lazim,” dan “Setiap desa memiliki imamnya, dan… di desa yang penting terdapat sebuah masjid atau bangunan khusus yang diperuntukkan untuk peribadatan.”

masjid gedhe kauman (sumber: detik.com)

Dari keterangan di atas nampak jelas pelaksanaan nilai Ketuhanan di zaman kerajaan Islam telah dilaksanakan dengan menerapkan syariat Islam dalam kehidupan masyarakat bahkan sampai pada penerapan hukum pidana berupa potong tangan bagi pencuri.

Berikutnya, nila-nilai persatuan dan semangat cinta tanah air, juga sudah muncul di zaman kerajaan-kerajaan Islam ketika dijajah oleh Belanda. Hal tersebut tampak dari penjelasan Prof. A. Daliman dalam bukunya Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia.

“Pada zaman kejayaan Islam abad-abad ke-17 dan ke-18 wilayah Nusantara masih terbagi dalam setidak-tidaknya empat kerajaan besar, ialah Kerajaan Aceh dan Banten yang mengintegrasikan wilayah Nusantara di bagian barat, Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung mengintegrasikan wilayah bagian tengah Jawa, dan wilayah Nusantara bagian timur diintegrasikan oleh Makassar di bawah Sultan Hasanuddin. Tetapi usaha-usaha saling membantu dalam menghadapi musuh bersama, yaitu Belanda harus dijadikan petunjuk ke arah integrasi bangsa. Tersebarnya orang-orang Makassar-Bugis dan orang-orang Melayu ke seluruh pelosok tanah air untuk meneruskan perjuangannya melawan Belanda setelah Makassar sendiri jatuh ke tangan Belanda, juga usaha-usaha mereka untuk membantu dan menyatukan diri dengan perjuangan Trunajaya di Jawa Timur dan perjuangan rakyat Banten di Jawa Barat harus dipandang di samping sebagai faktor yang mengembangkan rasa senasib dan seperjuangan yang menjadi dasar utama nasionalitas modern, juga harus ditangkap sebagai bentuk dasar (prototipe) wawasan Indonesia sebagai Tanah Air yang pada tahun 1928 dicetuskan sebagai Sumpah Pemuda.”[*]

Mojokerto, 19/12/2023

[bersambung….]

 

Daftar Pustaka:

Achmad Busrotun Nufus dkk, Pendidikan Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan, Malang: Madani Media, 2020, cet. ketujuh.

A. Daliman, Prof., Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia, Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2012.

Kaelan, M.S. Prof. Dr. H., Negara Kebangsaan Pancasila, (Yogyakarta: Paradigma, 2013

M.C. Ricklefs, Mengislamkan Jawa, terj. Fx. Dona Sunardi dan Satrio Wahono, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2013

Suwardono, Sejarah Indonesia Masa Hindu-Buddha, (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2019, cet. keempat

 

Catatan Kaki:

[1] Kutai adalah Kerajaan tertua di Indonesia, terletak di hulu Sungai Mahakan, Kalimantan Timur.

[2] Yupa adalah sebutan bagi tiang dari batu guna mengikatkan korban (hewan) yang akan dipersembahkan kepada dewa-dewa.

[4] Pallawa adalah nama sebuah dinasti di India selatan yang abjadnya banyak dipakai di Indonesia (Suwardono, hal. 15). Prasasti Yupa di Kutai juga menggunakan Bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa.

[10] A. Dailiman membagi zaman sejarah Indonesia ke dalam tiga tahap: 1) Zaman Purba (kuno), yaitu sejarah bangsa Indonesia sejak dari datangnya pengaruh agama dan peradaban Hindu pada abad-abad pertama Masehi sampai dengan lenyapnya Kerajaan Majapahit menjelang 1600. 2) Zaman Madya, yaitu sejak datangnya agama dan peradaban Islam serta datangnya orang-orang Barat sesudah jatuhnya Kerajaan Majapahit sampai akhir abad ke-19. 3) Zaman Baru (modern), sejak masuknya unsur-unsur peradaban Barat dan teknologi modern sekitar 1900-an sampai dewasa ini. (A. Daliman, Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia, hal. 3)

 

Previous Post

JIKA PASANGAN TAK SEMPURNA (Bag. 2)

Next Post

FAKTA MENCENGANGKAN TENTANG TEROWONGAN HAMAS DI GAZA

M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.

M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.

Related Posts

APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?
Sejarah

APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

February 9, 2026
BOHONG KALAU PKI ITU KORBAN
Sejarah

BOHONG KALAU PKI ITU KORBAN

October 16, 2025
REAKSI BUNG HATTA KETIKA DITEROR PKI 1965
Sejarah

REAKSI BUNG HATTA KETIKA DITEROR PKI 1965

October 16, 2025
Next Post
FAKTA MENCENGANGKAN TENTANG TEROWONGAN HAMAS DI GAZA

FAKTA MENCENGANGKAN TENTANG TEROWONGAN HAMAS DI GAZA

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
PENGHAPUSAN TUJUH KATA PIAGAM JAKARTA

PENGHAPUSAN TUJUH KATA PIAGAM JAKARTA

July 29, 2024
PIAGAM JAKARTA DAN PANCASILA (Bag. 1)

PIAGAM JAKARTA DAN PANCASILA (Bag. 1)

July 21, 2024
KERUKUNAN (TOLERANSI) ANTAR UMAT BERAGAMA

KERUKUNAN (TOLERANSI) ANTAR UMAT BERAGAMA

December 3, 2023
GURU BESAR UGM: JOKOWI KELUAR DARI JALUR DEMOKRASI

GURU BESAR UGM: JOKOWI KELUAR DARI JALUR DEMOKRASI

February 1, 2024
BELAJAR KEPADA SAYYIDAH KHADIJAH Radhiyallahu ‘Anha

BELAJAR KEPADA SAYYIDAH KHADIJAH Radhiyallahu ‘Anha

4
JILBAB PELAJAR, JILBAB PERJUANGAN

JILBAB PELAJAR, JILBAB PERJUANGAN

4
ORANG KAFIR (BARAT) BENCI ISLAM

ORANG KAFIR (BARAT) BENCI ISLAM

4
ORANG KAFIR SALING MENOLONG

ORANG KAFIR SALING MENOLONG

4
ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

April 30, 2026
BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

March 10, 2026
APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

February 9, 2026
ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

January 9, 2026

Recent News

ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

ARIEF HIDAYAT dan PUTUSAN MK 90, JALAN GIBRAN JADI WAPRES: “BATIN SAYA MENANGIS”

April 30, 2026
BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

BOARD OF PEACE DAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH

March 10, 2026
APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

APA YANG TERJADI DI JAWA PADA ERA NABI MUHAMMAD SAW?

February 9, 2026
ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

ORANG BERIMAN TIDAK MERUSAK ALAM

January 9, 2026
SWAHARAH

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Check our landing page for details.

© 2023 Swaharah Indonesia Muhammad Mujib Ansor, S.H, M.Pdi by Ahsan.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Profil
    • PROFIL PENDIRI
    • PROFIL SWAHARAH.ID
  • Agama
    • Kajian
    • Khutbah
    • Makalah
  • Pendidikan
  • Kutipan
  • Nasional
    • Berita
    • Internasional
    • Opini
  • Sejarah
  • Keluarga
  • Tamu

© 2023 Swaharah Indonesia Muhammad Mujib Ansor, S.H, M.Pdi by Ahsan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In