@Upaya Membentuk Keluarga yang Harmonis (Sakinah Mawaddah Warahmah)
BERAWAL DARI CARA MEMANDANG SUATU MASALAH[1]
(Bag. 2)
Dikutip oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I. (Kepala MA Al-Umm Malang)
Pengantar
Pada bagian pertama telah dikemukakan bahwa cara memandang suatu masalah berpengaruh pada sikap kita. Kemudian, penerimaan yang tulus, penghargaan yang baik, ditambah motivasi yang tepat akan melahirkan citra diri dan konsep diri yang baik bagi anak. Citra diri dan konsep diri ini selanjutnya melahirkan efikasi diri. Apa itu efikasi diri?
Secara sederhana, efikasi diri adalah harapan untuk sukses yang berangkat dari keyakinan diri yang kuat. Keyakinan diri mereka peroleh dari penerimaan yang tulus dan dukungan psikis yang kuat dari orang terdekat, khususnya orang tua. Jika orang tua menerima yang sedikit darinya, memaafkan yang menyulitkannya, tidak membebani dan tidak pula memakinya –sebagaimana yang Rasulullah r ajarkan kepada kita– serta memberi cap yang baik pada dirinya. Anak akan memiliki penerimaan diri yang baik, sehingga pada gilirannya efikasi dirinya tumbuh secara optimal.
Kita lanjutkan pembahasan berikutnya. Semoga bermanfaat!
Cara Pandang kita Bisa Stabil atau Tidak?!
Sebagaimana iman yang kadang surut dan kadang menguat, cara kita memandang peristiwa juga demikian. Meski biasanya kita begitu sabar menghadapi anak, sekali waktu hati kita bisa berubah. Yang biasanya hangat memandang segala tingkah, berubah menjadi kejengkelan yang membuat kepala serasa mau pecah. Bila biasanya teriakan anak yang kita anggap sebagai lantunan nasyid yang indah, sekarang kita merasakan sebagai kegaduhan yang memekakkan telinga. Jika biasanya coretan mereka kita pandangi dengan senyum bahagia, hari ini kita melihatnya dengan mengelus dada, “Aduh, kok bisa kotor begini, sih?”
Ada beberapa hal yang membuat kita mengalami situasi seperti ini. Kondisi emosi yang sedang tidak baik dapat membuat kita mudah mengalami ketegangan. Mungkin kita sering dikejar oleh pekerjaan yang menumpuk, sehingga kepanikan itu membuat kita menginginkan suasana yang tenang, nyaman, dan bersih. Ini menyebabkan kita mudah naik pitam mendengar celoteh anak yang lepas atau melihat nasi yang berceceran karena anak kita belum terampil makan sendiri. Karena sedang mengalami kondisi emosi yang buruk (bad emotion), kita menjadi mudah marah dan memandang sekeliling kita secara negatif. Bila kita tidak memiliki kendali emosi, anak-anak akan lari ketakutan tanpa bisa tersenyum.
Pada saat situasi semacam ini terjadi di rumah kita, apa yang perlu kita lakukan ?! Berilah perhatian dan dukungan psikis bagi pendamping hidup Anda yang sedang dikuasai oleh emosi. Pahamilah bahwa api hanya dapat dipadamkan oleh air. Bila Anda tetap memberinya kesejukan, gejolak emosinya akan reda, sehingga ia bisa kembali seperti biasa: tidak cepat naik pitam. Akan tetapi, bila Anda menyikapi dia dengan sama-sama keras, api akan semakin berkobar. Kemarahan dan kejengkelannya bisa bertambah, meski ia sadar bahwa skap seperti itu keliru.
Terlepas dari soal positif atau negatif, cara pandang kita bisa stabil, bisa juga tidak. Cara pandang yang bersifat stabil memberi pengaruh yang lebih besar kepada diri kita, sehingga lebih sulit diubah. Kita lebih meyakininya meskipun kita memiliki cara pandang yang sifatnya eksternal.
Menisbatkan Pada Situasi Khusus atau Umum?
Apa reaksi anda ketika mendapati suami anda mudah tersinggung akhir-akhir ini? Anda mungkin segera berpikir, (1) mungkin dia terlalu banyak pekerjaan yang meletihkan sehingga keletihan itu membuatnya cepat marah dan tersinggung. Atau, (2) mungkin anda berpikir jangan-jangan ada orang lain yang menyibukkan hatinya, sehingga anda meningkatkan pengawasan kepada suami. Sebagai akibatnya, suami merasa dicurigai sehingga ia justru lebih cepat tersinggung. Atau, (3) lebih parah lagi, anda mengatakan, “Nggak tahu ya, Mbak. Sudah wataknya barangkali, ya. Apapun yang saya kerjakan, selalu saja salah. Saya tidak pernah benar di matanya. Dia selalu tersinggung dan akan tetap mudah tersinggung. Mungkin ini hukuman Tuhan buat saya, ya?!”
Nah, yang kita bicarakan ini adalah contoh bagaimana orang memandang sesuatu/peristiwa. Jika anda menganggap perubahan suami karena beban kerja berlebih yang sedang dialaminya, anda sedang menisbatkan masalah secara khusus pada situasi yang terjadi. Maka anda akan lebih mudah berempati kepadanya.
Jika anda mencurigainya, anda mulai sulit tersenyum kepadanya. Pertanyaan anda mulai bernada mencurigai, sehingga menyulitkan suami untuk menjawab secara jujur. Jika ia mengatakan tidak, anda tidak percaya (mana ada maling berteriak maling); jika ia mengatakan ya, anda akan marah besar.
Selanjutnya, jika anda mengatakan ini merupakan watak sejak kecil, anda sedang memberi cap umum. Kalau anda sudah menganggap perilaku negatif suami sebagai hukuman dari Tuhan buat anda, bersiap-siaplah anda mengalami depresi dan keputusasaan –yang ringan maupun yang berat. Anda kehilangan harapan dan karena itu Anda tidak memiliki tenaga untuk menjadikan esok lebih baik. Karena anda sendiri sudah tidak punya harapan, anda akan apatis. Ah, percuma menasihati dia. Toh, dia akan tetap seperti itu.
Pendek kata, bahwa cara kita memandang berpengaruh besar kepada sikap dan perilaku kita. Repot tidaknya menghadapi anak acapkali lebih banyak bersumber pada cara pandang kita, bukan pada bagaimana tingkah laku anak yang sebenarnya. Begitu pula pandangan dan akhirnya penerimaan kita terhadap pasangan hidup, sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita memberi atribut (cap/julukan) pada dia maupun apa yang dilakukannya. Wallahu a’lam.
Cara Memandang Erat Kaitannya dengan Depresi
Robert S. Feldman, dalam bukunya Social Psychology (1998), menunjukkan bahwa cara memandang masalah erat kaitannya dengan depresi. Anda rentan atau tidak terhadap depresi maupun berbagai penyakit fisik, banyak dipengaruhi oleh cara pandang anda. Contoh, orang yang memiliki carapandang seperti ini akan menganggap keberhasilannya memperoleh pekerjaan bagus karena sebab eksternal (soalnya lagi sepi peminat); tidak stabil (ya, kebetulan saja saya beruntung); dan situasional (munkin saya tidak bisa meraih kesempatan lagi di masa yang akan datang).
Orang yang memandang keberhasilannya dengan cara ini, cenderung kurang bisa menghargai keberhasilannya, merasa tidak kompeten, dan cepat panik. Ia kurang memiliki rasa aman. Bagi orang seperti ini, keberadaan orang yang “bisa menolong” sangat berarti. Meskipun sangat cerdas, ia kurang berani mengambil inisiatif. Nah, orang seperti inilah yang mudah mengalami deperesi.
Kecenderungan mudah mengalami depresi juga dialami oleh mereka yang biasa mengaitkan peristiwa negatif dengan sebab-sebab yang bersifat internal, stabil, dan umum. Misal, kehilangan pekerjaan bersumber dari sebab yang bersifat internal (saya memang bodoh); stabil (saya nggak pernah bisa meraih yang lebih dan sepertinya tidak akan pernah mampu); dan umum atau global (apa pun yang saya lakukan, pasti selalu gagal).
Nah, jika seseorang terbiasa memandang masalah secara negatif, sedikit hambatan saja sudah menyesakkan dada. Setiap kerewelan anak atau kemuraman suami, sudah dirasakannya sebagai kiamat. Ia merasa tertekan. Sedikit kesulitan akan mendorong lonjakan emosinya sampai ke batas kesabaran.
Selanjutnya Akan Menjadikan Mudah Marah dan Mudah Panik… Bahaya!
Pada situasi seperti inilah kita akan mudah marah. Jika kita tidak meredakan secara sadar, suasana keluarga akan menegangkan. Rumah tidak lagi membuat kita kerasan. Justru sebaliknya, mendorong kita untuk kabur karena merasa sumpek dan kesal. Itu sebabnya, jika ada kemarahan di hati, kita perlu segera meredakan.
Nabi r bersabda:
أنَّ رجلاً قال للنبيِّ صلى الله عليه وسلم أوصِني. قال: لا تَغضب. فردَّدَ مراراً، قال : لاتَغضب
“Seorang laki-laki berkata kepada Nabi r, “Ya Rasul Allah, berpesanlah kepadaku!” Nabi r berpesan, “Jangan marah!” Laki-laki itu bertanya berulang-ulang, tetapi Nabi r tetap berpesan berulang-ulang pula, “Jangan marah.” (HR. Bukhari, 5974)
Nah, apa yang terjadi jika kita tidak sungguh-sungguh menahan dan meredakan amarah? Goleman menulis, “Hormon-hormon yang kita produksi dalam keadaan stres cukup untuk satu reaksi spontan; bertempur atau kabur, tetapi begitu diproduksi, bahan ini terus tinggal dalam tubuh sampai berjam-jam. Padahal, tiap kejadian mengesalkan berikutnya juga menyebabkan diproduksinya hormon-hormon stres baru. Penumpukan yang terjadi dapat membuat amigdala menjadi bahan peledak yang sangat peka, yang siap menghancurkan akal sehat kita –naik pitam atau panik- akibat masalah yang sangat remeh.
Ya, masalah yang sangat remeh. Masalah remeh mampu membuat kita panik, naik pitam, dan stres. Jika ini sering terjadi secara berkelanjutan, daya tahan tubuh akan melemah. Selanjutnya, berbagai penyakit mengintai kita.
Sebaliknya, jika kita meredakan melalui proses kesadaran, kita mencoba merenungkan bahwa anak-anak itu tidak bermaksud membantah kita, tetapi hanya karena inisiatifnya yang berkembang sehingga perlu kita dukung, kita perlahan-lahan mulai bisa menemukan kebahagiaan saat menghadapia kerewelan anak. Wallahu a’lam.

Komitmen itu Melahirkan Cinta
Orang yang menikah dengan berorientasi kepada nilai-nilai agama atau moral cenderung memiliki komitmen yang tinggi. Boleh jadi, ia telah memiliki ketertarikan sebelum menikah, tetapi dorongan agama banyak mempengaruhi keputusannya untuk menikah. Komitmen menjadikan orang memandang apa yang terjadi secara lebih positif. Jika menghadapi situasi yang negatif, komitmen yang ada pada dirinya mendorong untuk lebih berpikir apa yang dapat dilakukan. Ini membuat orang yang memiliki komitmen tinggi lebih mampu menghadapi keadaan sulit atau bahkan buruk. Sikap mental yang lebih baik menjadikannya lebih mampu mengendalikan emosi dan menguasai diri. Orang semacam ini akan lebih sedikit mengeluh dibandingkan dengan mereka yang memiliki harapan perkawinan yang sangat tinggi. Dengan demikian, mereka akan dapat menikmati kehidupan rumah tangga yang lebih baik serta pemenuhan diri yang lebih baik pula. Maka ia lebih bahagia.
Alhasil, orientasi perkawinan bisa mempengaruhi cara kita memandang masalah. Orientasi perkawinan juga berpengaruh pada harapan dan komitmen perkawinan kita.
Berbicara soal komitmen, ada hal yang menarik. Jika ada yang mengatakan bahwa cinta datangnya dari mata turun ke hati, ternyata para pakar psikologi sosial menemukan hal yang berbeda. Memang ada yang jatuh hati karena terpikat oleh kecantikan, tetapi komitmen yang kuat dapat melahirkan cinta dan kasih sayang yang jauh lebih besar dibandingkan ketertarikan yang ditimbulkan oleh pesona kecantikan. Orang yang memiliki komitmen sangat tinggi cenderung lebih mudah mencintai orang dengan komitmen yang sama, meski sebelumnya tidak banyak mengenal. Cinta yang tumbuh karena komitmen lebih mampu membangkitkan kesetiaan dan kasih sayang meskipun mereka “tidak tahu” bahwa itu cinta. Wallahu A’lam [*]
Malang, 27/10/2013 (Telaah ulang, 28/11/2023)
Sumber Rujukan
Mohammad Fauzil Adhim, Agar Cinta Bersemi Indah, Jakarta: Gema Insani, 2007, cet. ke-4. (hal. 71-86)
******
Catatan Kaki:
[1] Makalah disampaikan pada kajian rutin setiap Ahad ke-4 di Masjid Al-Umm Malang, 27 Oktober 2013.


















Semoga keluarga kita senantiasa mampu memandang masalah dengan bijak, memupuk sikap penerimaan yang tulus, memberikan penghargaan yang baik, serta memberikan motivasi yang tepat. Dengan demikian, citra diri dan konsep diri yang baik akan tumbuh dalam diri anak-anak kita, melahirkan efikasi diri yang kuat. Semoga nilai-nilai agama dan moral tetap menjadi landasan, menjadikan komitmen dalam pernikahan tinggi, sehingga keluarga dapat menghadapi setiap peristiwa dengan pandangan yang positif dan penuh keberanian. Amin.
Amin ya Rabbal ‘alamin. MasyaAllah… Ust Hanafi aktif mengikuti swaharah.id. Barakallahu fikum