@Upaya Mewujudkan Keluarga yang Harmonis (Sakinah Mawaddah wa Rahmah)
BERAWAL DARI CARA MEMANDANG SUATU MASALAH
(Bag. 1)
Dikutip oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I. (Kepala MA Al-Umm Malang)
Ledakan emosi acapkali bukan karena masalah-masalah besar. Jarang suami istri bertengkar karena persoalan-persoalan prinsip, misalnya karena akidah yang tidak benar. Sebab, masalah seperti itu biasanya sudah terselesaikan sebelum mereka menikah, kecuali jika pernikahan itu terjadi tanpa sengaja (“kecelakaan”). Seperti kata penyair Charle Bukowski, “Bukan masalah besar yang mengirim kita ke rumah sakit jiwa, bukan hilangnya kekasih, melainkan hanya putusnya tali sepatu di saat kita mesti bergegas.”
Kemarahan kita kepada anak acapkali bukan karena mereka nakal. Tidak juga karena anak-anak menentang kita. Anak-anak yang masih balita tidak ada yang menentang orang tua. Kitalah yang menganggap mereka menentang, hanya karena meniru perilaku kita, sehingga dengan cepat emosi kita meningkat. Akibatnya, tangan kita dengan mudah terangkat dan mencubitnya kuat-kuat.
Hati-Hati dengan ”Cap Bodoh”
Begitu juga dengan kecerdasan, tidak banyak anak-anak yang terlahir dengan kecerdasan yang benar-benar menyedihkan. Umumnya anak-anak memiliki kecerdasan yang memadai; tidak bodoh. Pada tingkat kecerdasan rata-rata, anak masih mampu meraih kehebatan maksimal apabila dia memiliki motivasi yang kuat dan penerimaan diri yang bagus. Nah, yang terakhir inilah masalahnya. Kita menjuluki mereka bodoh atau banyak berkeluh kesah tentang betapa lambatnya belajar mereka, sehingga mereka merasa tidak mampu. Karena merasa tidak mampu, mereka mengalami hambatan belajar, sehingga benar-benar bodoh di sekolah. Betapa banyak anak yang tingkat IQ-nya di atas rata-rata, tetapi prestasi mereka di bawah rata-rata –bahkan berada pada peringkat paling bawah– karena orang tua yang meyakini dengan sepenuh hati bahwa anak mereka bodoh atau bahkan idiot.
Ya, seperti kata Charles Bukowski tadi, yang membuat kita memberi cap bodoh bagi anak kita bukanlah IQ mereka yang rendah, melainkan hanya karena soal yang sangat sepele: tidak cepat dalam perkalian.
Penerimaan yang Tulus
Karena masalah yang kecil, kita menumpahkan keburukan ke wajah mereka. Kita merusak citra diri (self image) dan konsep diri (self consept) mereka, sehingga mereka tidak memiliki efikasi diri yang bagus. Apakah efikasi diri itu?
Secara sederhana, efikasi diri adalah harapan untuk sukses yang berangkat dari keyakinan diri yang kuat. Keyakinan diri mereka peroleh dari penerimaan yang tulus dan dukungan psikis yang kuat dari orang terdekat, khususnya orang tua. Jika orang tua menerima yang sedikit darinya, memaafkan yang menyulitkannya, tidak membebani dan tidak pula memakinya –sebagaimana yang Rasulullah r ajarkan kepada kita– serta memberi cap yang baik pada dirinya. Anak akan memiliki penerimaan diri yang baik, sehingga pada gilirannya efikasi dirinya tumbuh secara optimal.
Dalam tulisannya yang berjudul Social Foundations of Though and Action, termuat di buku Health Psychology Reader (2002), Albert Bandura menunjukkan bahwa kompetensi yang dimiliki oleh seseorang banyak yang ditentukan oleh efikasi diri yang dimilikinya. Meskipun Anda cerdas dan memiliki kehebatan yang mengesankan, bila efikasi diri Anda lemah, kehebatan itu kurang berfungsi optimal. Karena itu, jangan heran bila ada orang yang sangat cerdas, tetapi justru yang tampil dan dipercaya orang adalah mereka yang kemampuannya lebih rendah. Orang cerdas tanpa memiliki kepercayaan diri dan efikasi, dia hanya akan menjadi orang yang bergantung pada orang lain, termasuk dalam apa yang menjadi keahliannya.

Cara Anda Memandang
Apa yang menyebabkan kita mudah marah kepada anak-anak atau suami/istri?! Sementara ada banyak orang lain dengan beban kerja yang lebih berat dan jumlah anak yang lebih banyak dapat tersenyum bahagia. Mengapa emosi kita mudah terbakar?!
Para pakar psikologi sosial mengatakan bahwa yang membedakan apakah pekerjaan itu membebani atau tidak adalah cara kita memandang (type of attribution). Anda akan mudah naik pitam atau tidak, sangat dipengaruhi oleh cara Anda memandang. Bila Anda berpandangan lahirnya anak kedua sebelum kakaknya berusia dua tahun sebagai petaka (orang Jawa mengekspresikannya dengan kata kesundulan), Anda akan lebih cepat emosi. Sikap Anda akan berbeda bila Anda meyakini betul (bukan sebagai analogi) bahwa apa yang ditakdirkan Allah adalah yang terbaik untuk Anda. Bila Anda sudah menganggap kelahiran sebelum waktunya sebagai keburukan, sikap Anda berikutnya cenderung kurang baik terhadap anak, kecuali jika Anda memperoleh penyadaran sesudah anak itu lahir.
Agar lebih mudah, mari kita bicarakan bagaimana cara memandang masalah (type of attribution) ini satu persatu.
Positif atau Negatif?!
Apa yang Anda pikirkan tentang mengasuh bayi ketika masih kuliah? Bila Anda memimpikannya, sambil diam-diam mengusap perut anda yang belum kunjung membuncit, rasa bahagia itu akan menguasai dada Anda ketika ia lahir. Anda akan menyambutnya dengan penuh suka cita. Karena itu, perhatian Anda tercurah sepenuhnya untuknya. Begitu besarnya perhatian Anda kepadanya sampai-sampai kadang lupa memperhatikan bapaknya. Anda baru ingat ketika ia bermanja dengan Anda.
Bagaimana cara kita memandang peristiwa, sangat mempengaruhi perasaan kita terhadapnya. Cara kita memandang juga banyak berpengaruh pada perlakuan kita, termasuk penerimaan kita terhadap hal-hal yang dapat dianggap sebagai hal yang merepotkan. Orang yang memandang anaknya secara positif, memandang anaknya yang tidak mau dicekoki obat sebagai pertanda cerdasnya anak, “Wah anak saya sekarang makin pintar, lho. Sekarang dia bisa meronta kalau dicekoki obat.” Sedangkan yang memandang anaknya secara negatif, akan memberikan komentar yang berbeda untuk hal yang sama, “Repot mbak, anak saya ini masih kecil sudah nakal sekali. Dikasih obat itu susahnya setengah mati.”
Little things mean a lot. Sepele tampaknya, tetapi bila ucapan-ucapan semacam ini kita ulang-ulang, pada akhirnya akan mempengaruhi pandangan anak tentang dirinya. Dia akan menjadi anak yang percaya diri atau tidak, memiliki konsep diri yang bagus atau tidak, banyak dipengaruhi oleh pandangan anak tentang dirinya (self image). Jika anak memandang dirinya secara positif, ia akan tumbuh dengan penuh rasa percaya diri, semangat yang tinggi, dan optimistis. Akan tetapi, jika ia memandang dirinya secara negatif karena orang tua sering mengatakan nakal, sulit baginya untuk memiliki konsep diri dan rasa percaya diri yang bagus, cenderung pesimistik, dan meratapi diri. Boleh jadi ia seorang anak yang cerdas, tetapi kalau ia merasa tidak berguna, kecerdasan itu hampir-hampir tidak memberi manfaat sama sekali.
Abul Hasan al-Mawardi mengatakan, “Upayakanlah agar setiap orang berniat untuk mendapatkan anak, kemudian memohon perlindungan dari godaan setan yang terkutuk. Selanjutnya, berdoa semoga Allah menganugerahinya seorang anak yang menyembah Allah dan mengesakan-Nya, serta menjadi perantara bagi kemaslahatan umat manusia, menegakkan kebenaran, membela kejujuran, menjadi orang yang penuh manfaat bagi orang lain dan menjadi pemakmur negeri.”
Percaya Diri Mempengaruhi Kecakapan
Jika Anda orang yang mengharap lahirnya banyak anak untuk meninggikan perintah Nabi r, Anda akan senantiasa mensyukurinya dengan sepenuh hati jika Allah mengaruniakan keturunan. Anda akan menyambutnya dengan penuh kebahagiaan meskipun kuliah belum selesai, sehingga Anda sanggup bersabar (bahkan bahagia) menghadapi berbagai kerepotan yang ditimbulkan oleh anak.
Bagaimana efikasi diri mempengaruhi kecakapan kita?! Albert Bandura menunjukkan, bagaimana seseorang mengantisipasi dan menghadapi sesuatu, sangat bergantung pada bagaimana ia memandangnya. Sopir yang merasa dirinya tidak mampu mengemudi di jalanan yang menanjak pada daerah pegunungan berbukit-bukit, cenderung tidak mampu membawakan kendaraan dengan baik. Cara membawa kendaraannya kasar dan tidak jarang harus mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, sehingga berakibat tubuh terluka. Sebaliknya, sopir yang memandang pengalaman mengemudi di jalanan menanjak akan menyenangkan. Ia merasa mampu melakukannya (meskipun belum pernah), cenderung mampu membawakan kendaraan dengan lebih nyaman. Ia mengemudi dengan rasa percaya diri yang penuh sehingga mampu mengendalikan kemudinya dengan baik, tidak panik, dan tidak mudah stres.
Sikap Kita Dipengaruhi Oleh Cara Kita Memandang
Seperti halnya sopir, kita juga sangat terpengaruh oleh bagaimana kita memandang pernikahan, untuk apa kita menikah, serta bagaimana kita menilai kelahiran anak. Jika kita memandang kelahiran anak sebagai anugerah terindah –dalam kondisi atau situasi yang bagaimanapun—maka kita akan mengasuh anak dengan lebih baik. Kita tidak merasa direpotkan meskipun mengurusi bayi yang memang merepotkan. Sebaliknya kita akan mudah panik dan naik pitam menghadapi anak jika kehamilan itu kita sambut dengan perasaan negatif. Apalagi jika kita mengingkari anak yang kita lahirkan sendiri, atau bayi yang dilahirkan sedang tidak diharapkan (apakah soal jenis kelamin atau soal waktu dst).
Berdasarkan dokumentasi yang dilakukan oleh Holman (1984), Bandura menunjukkan bahwa mereka yang menilai kehamilannya sebagai anugerah serta memiliki persepsi yang baik terhadap dirinya, cenderung lebih mampu menahan rasa sakit. Tak jarang ibu merasa tidak sakit sama sekali (padahal, mana ada orang melahirkan yang tidak sakir?).
Alhasil, pandangan kitalah yang mempengaruhi perasaan dan kondisi psikis kita. Bukan peristiwa itu sendiri. Karena menginginkan kemuliaan dengan syahid di jalan Allah, Abdullah bin Jahsyi bisa kita anggap gila semata-mata karena jiwa kita yang masih kerdil. Saat berangkat menghadapi Perang Uhud, ia berdoa, “Ya Allah, berilah aku musuh yang gagah perkasa. Aku berusaha membunuhnya, dan ia pun berusaha membunuhku. Kemudian ia memotong hidung dan telingaku. Kelak apabila aku berjumpa dengan-Mu, Engkau tentu akan bertanya, ‘Siapa yang memotong hidung dan telingamu?’ Aku akan menjawab, ‘Keduanya terpotong ketika aku berjuang di jalan-Mu dan di jalan Rasul-Mu.’ Maka Engkau akan berkata, “Kamu benar!”
Setelah Perang Uhud selesai, Saad bin Abi Waqqash melihat Abdullah bin Jahsyi meraih kemuliaan yang sangat tinggi. Ia mati sahid dengan hidung dan telinga terpotong. Dengan sedih Saad bin Abi Waqqash berkata kepada anaknya, “Anakku, doa Abdullah lebih baik daripada doaku. Petang itu aku melihat hidung dan telinganya tergantung pada seutas tali.”
Kita mungkin merasa tak habis pikir melihat kesedihan Saad bin Abi Waqqash. Allah memberinya keselamatan sehingga ia tidak terbunuh dalam Perang Uhud, tetapi ia justri bersedih karena tidak berdoa seperti doa Abdullah bin Jahsyi saat berangkat perang. Ia melihat kematian dalam perang menegakkan kalimatullah sebagai kemuliaan. Karena itu keberaniannya berlipat-lipat. Tak ada kesedihan ketika tubuhnya terluka karena ia akan membawa kepada Tuhannya sehingga memperoleh kemuliaan di surga. Sementara itu, kita sudah berucap beribu keluh kesah hanya karena anak kita yang terkecil pipis di lantai tanpa membuka celana…!
Eksternal atau Internal
Penilaian Anda negatif atau positif, keduanya bisa bersifat eksternal atau bisa juga internal. Jika Anda memandang kehamilan sekarang ini secara negatif dan itu semua gara-gara suami yang tidak tahan dingin, Anda akan sering sewot kepadanya. Anda jengkel. Begitu jengkelnya sehingga gairah seks Anda kepadanya jadi turun. Rasanya, di dunia ini tidak ada makhluk yang lebih menjengkelkan daripada suami (coba dia mau sabar sedikit, pasti tidak begini jadinya). Akibatnya, kemesraan bersama suami jadi berkurang, atau bahkan memudar. Bahkan yang sebelumnya penuh kemesraan, berubah menjadi pertengkaran. Sekali lagi, ini bukan karena lahirnya anak, tetapi karena mental kita yang tidak baik dalam menghadapi.
Jika kita menginginkan punya anak dua saja biar tidak repot, kita cenderung tidak siap menghadapi berbagai kerepotan yang ditimbulkan oleh rasa ingin tahu anak. Emosi kita lebih mudah terbakar sehingga tidak sanggup melayani anak dengan baik. Sebaliknya, jika kita siap menghadapi sepuluh orang anak, jiwa akan lapang menghadapi tiga anak yang usianya saling berdekatan. Alhasil, kita perlu sangat berhati-hati dalam soal cara memandang ini. Salah cara kita memandang, anugerah bisa menjadi bencana.
Penghargaan Melahirkan Rasa Percaya Diri
Singkat kata, kita perlu berhati-hati dalam memandang masalah (attributing). Jika anak meraih peringkat lima belas, bersyukur kepada Allah atas kecerdasan yang dikaruniakan kepadanya. Berikan penghargaan yang hangat kepadanya. Insyaallah, semangatnya akan tumbuh, penerimaan dirinya akan baik, dan rasa percaya dirinya bangkit, sehingga ia mampu meraih yang lebih baik di waktu berikutnya. Katakan kepadanya, “Ibu benar-benar terharu. Kamu sudah menunjukkan prestasi terbaikmu. Karena kamu bersungguh-sungguh, Allah menolongmu sehingga bisa rangking lima belas.”
Jangan Anda katakan, “Kamu ini kenapa, sih? Perasaan, bapak sudah belikan semua buku yang kamu butuhkan. Tapi, kenapa rangkingmu sangat mengecewakan?”
Jika kita mengucapkan kalimat semacam itu, kita baru saja meninggalkan pesan Nabi r. Terhadap anak, Nabi r memerintahkan agar kita menerima yang sedikit darinya. Jangan membebaninya, apalagi memberi beban berat hanya karena rangkingnya lima belas. Terimalah anak dengan penuh kehangatan, maka dalam dirinya akan tumbuh semangat. Jika Anda menggunakan kesempatan anjloknya rangking anak untuk menuntunnya agar lebih berorientasi pada kemampuan, bukan pada nilai, ia akan mendapatkan rasa aman yang besar. Inilah yang kemudian menjadikannya bersungguh-sungguh dalam berusaha tanpa perlu mencemaskan kecaman orang tua. Kelak, ini sangat berguna bagi tumbuhnya konsep diri, efikasi diri, serta kompetensi anak. Nah, yang bisa mempengaruhi bisa-tidaknya kita menyikapi anak dengan baik adalah atribut yang kita kenakan, negatif atau positif.
Citra Diri Yang Baik Menghasilkan Prestasi
Selebihnya, apakah penilaian Anda bersifat eksternal atau internal juga turut berpengaruh besar, jika Anda menganggap keberhasilannya karena kebetulan semata-mata, maka percaya dirinya sulit tumbuh dengan baik. Meski ia memiliki kemampuan yang hebat, ia tidak pernah merasa benar-benar yakin. Tidak jarang, anak-anak yang kurang memiliki percaya diri serta citra diri yang bagus menjadi under achievement, yakni berprestasi di bawah kemampuan sebenarnya. Di antara mereka bahkan ada yang sangat buruk prestasinya, padahal ia memiliki kecerdasan yang sangat tinggi. Ini berbeda dengan anak yang memandang prestasinya secara positif dan internal, misalnya orang tua menanamkan bahwa Allah mengaruniainya kecerdasan karena ada amanah yang akan dipikulnya, percaya diri dan efikasi dirinya akan tumbuh dengan baik. Ia memiliki citra diri yang baik sehingga tidak menjadikannya suka mencela diri sendiri. Sebaliknya ia memiliki self reward yang baik, yakni mampu menghargai dan mensyukuri setiap keberhasilannya sehingga ia terdorong untuk berprestasi yang lebih baik lagi meskipun tidak ada yang memberinya pujian. Inilah kekuatan jiwa yang sangat besar. Ini berawal dari cara orang tua memandang keberhasilan anak, internal atau eksternal.
Selain berpengaruh bagi anak, cara kita memandang juga mempengaruhi diri kita sendiri. Jika kita merasa keberhasilan anak sebagai anugerah dari Allah Ta’ala, rasa syukur kita akan bertambah-tambah. Kita merasa bahagia. Rangking lima belas tak apa-apa, yang penting ia paling pintar di sekolah. Alhasil, sikap kita terhadapnya sangat hangat. Sebaliknya, bila kita memandang keberhasilannya secara ekternal (meskipun positif), kita sulit mempercayainya dengan sepenuh hati. Kita cenderung membebaninya. Sekurang-kurangnya, kita tidak begitu menghargai jerih payah dan keberhasilan anak. Kurangnya penghargaan yang tulus dari orang tua lantaran cara kita memandang yang cenderung eksternal, membuat anak kehilangan motivasi. Anak merasa usahanya kurang berarti, sehingga bisa berakibat lebih jauh lagi, yakni merasa dirinya tidak berharga. Jika ini terjadi, ia dapat mengalami rasa rendah diri. Ia kurang mampu menerima dirinya sendiri dengan baik.
Nah, mari kita lihat cara pandang kita terhadap anak-anak maupun pendamping hidup kita. Bila selama ini kita sering merasa jengkel, apakah sebab yang sesungguhnya? Karena ada yang memang perlu kita sedihkan atau karena hati kita yang tidak beres dalam memandang, sehingga sebaik apapun ia, kita selalu merasa kurang. Begitupun tatkala kita merasakan betapa berharganya hidup bersamanya, apakah yang menggerakkan hati kita? Semoga dengan membenahi hati, rumah tangga ini akan menemukan kebaikan yang sejati. []
Malang, 27/10/2013 (Telaah ulang, 28/11/2023)
Bersambung….!
Sumber Rujukan
Mohammad Fauzil Adhim, Agar Cinta Bersemi Indah, Jakarta: Gema Insani, 2007, cet. ke-4. (hal. 57-71)
***


















Memandang masalah dengan bijak dapat menjadi langkah awal menuju keluarga yang harmonis. Cara kita memandang tidak hanya memengaruhi perasaan dan kondisi psikis kita, tetapi juga memberikan dampak pada anak-anak dan diri sendiri. Oleh karena itu, berhati-hati dalam atribusi terhadap masalah adalah kunci untuk menciptakan lingkungan keluarga yang seimbang dan positif.