@Serial Sejarah: Pancasila Hadiah Umat Islam Untuk Indonesia
MENJELANG PROKLAMASI KEMERDEKAAN
Oleh: M. Mujib Ansor, S.H., M.Pd.I. (Kepala MA Al-Umm Malang)
Proklamasi tidak bisa dilepaskan dari peran penting para pemuda. Pada awal masa pendudukan Jepang, Soekarno, Hatta, dan Sjahrir bersepakat bahwa Sukarno-Hatta berjuang melalui jalur kooperasi dengan Jepang, sementara Sjahrir dkk bergerak di bawah tanah.
Pada masa persidangan BPUPK, kelompok pemuda menolak ketika mau dimasukkan menjadi anggota BPUPK.
Ketika mendengar berita menyerahnya Jepang kepada Sekutu, 14 Agustus 1945, mereka segera mendesak tokoh nasional, Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan.
Menurut Adam Malik dalam bukunya Riwayat Proklamasi 17 Agustus 1945 -yang terbit pertama kali tahun 1950- bahwa kelompok pemuda ini dibagi menjadi empat: Gerombolan Sukarni, Gerombolan Syahrir, Gerombolan Pelajar, dan Gerombolan Kaigun.
Gerombolan Sukarni
Gerombolan Sukarni selama pendudukan Jepang, berusaha diam-diam mengumpulkan sesuatunya yang dipandang perlu untuk dipakai jadi alat membuka kedok-kedok kepalsuan Jepang, kebohongan dan kecurangannya, diantaranya yang kita ketahui ialah penyebaran (diam-diam), siaran berita-berita perang yang sebenarnya (kekalahan Jepang), siaran Postdam dan lain-lain. Di lapangan organisasi, mereka mengusahakan memasukkan tenaga revolusioner di berbagai lapangan; mendirikan organisasi-organisasi buruh dan tani.
Gerombolan ini pula yang menyiarkan secara illegal pengumuman tentang dilepaskannya balon -perdamaian- Jepang via pidato-pidato bekas Duta Jepang di Italia, pada bulan Juli 1945, pada saat gentingnya keadaan di Tokyo pada 13/14 Agustus 1945 sampai pada jam pengumuman resmi menyerahnya Jepang, gerombolan ini pun dapat mengetahuinya (karena bantuan orang yang bekerja di radio militer dan radio Domei).
Gerombolan Syahrir
Gerombolan ini pada mulanya lebih tepat disebut “Gerombolan Hatta-Syahrir”. Tetapi, oleh karena langkah-langkah dan sikap serta keyakinan politik ekonomi Hatta sangat “Gecompromiteerd” dengan Jepang ketika itu, maka timbullah perpisahan dan pertentangan di antara mereka. Karena itu, kemudian Syahrir bekerja sendiri, dibantu Sudarsono, Sugra, Hamdani, Kartamuhari dan lain-lain.
Perhubungan Gerombolan Syahrir dengan Gerombolan Sukarni rapat sekali, karena keadaan dan kesukaran-kesukaran bergerak dan karena kekurangan tenaga revolusioner ketika itu dirasakan oleh masing-masing gerombolan. Gerombolan Sukarni menunjuk M. Nitimihardjo menjadi perantara dan penghubungnya.
Tiap-tiap langkah atau gerak yang diputuskan oleh Gerombolan Sukarni dirundingkan dan dibawa ke tengah rakyat. Kerjasama ini (walaupun paralel) dapat diatur dan dijaga baik sampai dekat kepada saat proklamasi.
Di kalangan terbuka, usaha Gerombolan Syahrir tidak kelihatan nyata dan hanya menyokong aksi-aksi terbuka dari Gerombolan Sukarni.
Oleh Adam Malik, Gerombolan Syahrir ini dinilai masih ragu atau bimbang dalam menghadapi proklamasi.
Gerombolan Pelajar
Menurut Adam Malik, Gerombolan pelajar ini tidak sedikit peranannya dalam perjuangan revolusioner. Para pelajar ini oleh Adam Malik digolongkan ke dalam satu gerombolan saja, meskipun dalam alirannya kelihatan ada dua kotaknya, yang satu terhimpun dalam asrama Ika Daigaku (sekolah kedokteran tinggi), pusatnya di Prapatan 10, sedangkan yang satu berkumpul di BAPERPI, berpusat di Cikini 71.
Gerombolan pelajar ini ialah para pelajar dari sekolah kedokteran tinggi yang mempunyai ikatan organisasi bernama Persatuan Mahasiswa. Persatuan Mahasiswa ini dipimpin oleh Djohar Nur, wakilnya Sayoko dan Syarif Taib merangkap penulis, dan pembantu-pembantunya terdiri dari Darwis dan Eri Sudewo.
Para pelajar yang tergabung dalam Persatuan Mahasiswa inilah yang banyak jadi pendorong di kalangan pemuda-pemuda pelajar umumnya.
Para pemuka dari Gerombolan Pelajar ini antara lain: Khairul Shaleh, Djohar Nur, Darwis, Kusnandar, Subadio Sastrosatomo, E. Sudewo, Baharrazak, Cenan, Abubakar, Rasyid Siregar, Wahidin, E.A. Ratulangi dan lain-lain.
Gerombolan Kaigun
Gerombolan Kaigun adalah orang-orang (atau tenaga) revolusioner yang bekerja di kalangan dinas Angkatan Laut Jepang pada masa pendudukan Jepang.
Tenaga-tenaga terkemuka di kalangan Kaigun ini ialah Mr. Subarjo, Sudiro (mbah), Wikana, E. Chairudin, Joyopranoto dan berpuluh-puluh orang lagi, bekas para pemuka pergerakan rakyat, seperti pemuka-pemuka PKI Tua dan PKI Muda, Partindo, PNI dan lain-lain.
Gerombolan ini berhasil membentuk Asrama Pemuda Angkatan Laut yang dipimpin oleh Wikana. Di dalam asrama inilah Syahrir, Sukarno, Hatta, Iwa Kusumasumantri, Subarjo, Suwandhi dan lain-lain memberikan pelajaran-pelajaran umum (algemeene ontwikkeling).
Demikianlah gambaran singkat golongan pemuda menurut Adam Malik. Selain empat gerombolan ini, di mata Adam Malik, tetaplah ada, tidak dinafikan. Tetapi lingkupnya terbatas dan tidak menjadi tenaga hidup atau pendorong, juga tidak langsung menempa dan meletuskan Proklamasi 17 Agustus.
Terkait dengan berita menyerahnya Jepang dan Proklamasi, ketiga gerombolan ini oleh Adam Malik dinilai berbeda sikap: Gerombolan Syahrir masih “bimbang”, sementara Gerombolan Sukarni, Pelajar, dan Kaigun dinilai siap merdeka dan siap mengawal kemerdekaan.
*****
Tanggal 14 Agustus 1945 Sukarno Hatta baru saja tiba dari Saigon untuk menghadiri undangan Jenderal Besar Terauchi membicarakan tentang kemerdekaan Indonesia. Di bandara Kemayoran mereka sudah ditunggu rakyat dan para pemimpin Indonesia. Soekarno berbicara singkat: “Apabila dulu aku katakan bahwa Indonesia akan merdeka sesudah jagung berbuah, sekarang dapat dikatakan Indonesia akan merdeka sebelum jagung berbunga.”
Siang itu, sekitar pukul 14.00, Sjahrir sudah menunggu di rumah Hatta. Ia bertanya tentang kemerdekaan. Hatta menyampaikan bahwa soal kemerdekaan kita sekarang semata-mata di tangan kita, hanya penyelenggaraannya diserahkan kepada Panitia Persiapan Kemerdekaan (PPKI). Sjahrir mengabarkan bahwa Jepang sudah menyerah kepada Sekutu. Karena itu, menurut pendapatnya, pernyataan kemerdekaan janganlah dilakukan oleh PPKI, sebab Indonesia merdeka yang lahir seperti itu akan dicap Sekutu sebagai Indonesia buatan (hadiah) Jepang. Sebaiknya Bung Karno sendiri saja menyatakannya sebagai pemimpin rakyat atas nama rakyat dengan perantaraan corong radio.
Hatta setuju dengan pendapat Sjahrir supaya pernyataan kemerdekaan Indonesia diselenggarakan selekas-lekasnya, tetapi ia sangsi apakah pernyataan itu dapat dilakukan oleh Sukarno pribadi sebagai pemimpin rakyat atas nama rakyat. Sukarno adalah ketua PPKI dan ia tidak dapat bertindak sendiri, sekalipun atas nama rakyat Indonesia.
Setelah itu mereka datang kepada Soekarno. Hatta meminta Sjahrir menyampaikan maksudnya. Soekarno menjawab, “Memang di Saigon kami menduga, setelah Letkol Nomura melaporkan bahwa tantara Rusia telah menyerbu Mancuko, Jepang pasti akan bertekuk lutut. Akan tetapi, bahwa begitu lekas terjadinya aku belum percaya sekalipun saudara Sjahrir mendengarkan berita dari siaran radio luar negeri yang kebanyakan dikuasai oleh Sekutu. Oleh karena itu, aku ingin mengecek dahulu dari Gunseikanbu (Kepala Pemerintahan Pendudukan Jepang).
Soekarno tidak setuju dengan usul Sjahrir bahwa ia sendiri sebagai pemimpin rakyat memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Alasannya sama dengan yang dikatakan Hatta kepada Sjahrir. Soekarno menegaskan, “Aku tidak berhak bertindak sendiri, hak itu adalah tugas Panitia Persiapan Kemerdekaan yang aku menjadi ketuanya. Alangkah janggalnya di mata orang, setelah kesempatan terbuka untuk mengucapkan kemerdekaan Indonesia, aku bertindak sendiri melewati Panitia Persiapan Kemerdekaan yang kuketuai.” Di situ kandaslah cita-cita Sjahrir untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia yang menyimpang dari jalan yang sudah dirintis selama ini.
Dalam rencana maka proklamasi akan diumumkan 15 Agustus. Ribuan pemuda disiapkan untuk merebut RRI dan markas Kenpetai di Jl. Merdeka Barat (sekarang ditempati KOGAM V-VII). Tetapi Ir. Sukarno masih ingin mengecek berita Sjahrir, sehingga rencana tanggal 15 gagal. Dan Sjahrir telah kepalang memberikan instruksi bergerak pada anak buahnya. Di Cirebon, dr. Sudarsono (ex. Dubes kita di India) telah berontak dan ia segera ditawan Jepang. []
Malang, 20/11/2023
DAFTAR PUSTAKA
Adam Malik, Riwayat Proklamasi 17 Agustus 1945, Jakarta: Penerbit Widjaya Jakarta, 1982, cet. VII, (hal. 28-41).
Mohammad Hatta, Untuk Negeriku 3: Menuju Gerbang Kemerdekaan, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2018, cet. VIII, (hal. 73-74).
Soe Hok Gie, Catatan-Catatan Kecil tentang Sutan Sjahrir, dalam Sutan Sjahrir, Renungan Indonesia, Yogyakarta: Bakung Putih,2020, cet. Kedua, (hal. xii-xiii).

















