@Serial Sejarah: Pancasila Hadiah Umat Islam Untuk Indonesia
JANJI KEMERDEKAAN
Oleh: M. Mujib Ansor, S.H., M.Pd.I.
Perang Dunia II ternyata membawa dua keberkahan bagi bangsa Indonesia. Pertama, kalahnya Belanda oleh tentara Jepang yang menyebabkan menyerahnya Belanda kepada Jepang, pada tanggal 8 Maret 1942. Kedua, menyerahnya Jepang tanpa syarat kepada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945, yang menyebabkan terjadinya Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945.
Secara umum gambaran perkembangan Perang Dunia II di awal tahun 1945 sangat tidak menguntungkan bagi negara-negara fasis, seperti Italia, Jerman, dan Jepang. Tim Tempo dalam Seri Buku Tempo Agus Salim Diplomat Jepang Penopang Republik menyebutkan: Pada April 1945, Perang Dunia II hampir sampai di penghujung. Tokyo hancur lebur setelah dibombardir Sekutu pada 10 Maret. Jepang membalas dengan mengirim hampir 1.500 pilot kamikaze (pasukan berani mati, pen.), yang berhasil menenggelamkan 21 kapal perang Amerika Serikat di Okinawa. Tapi serangan pada 6 April itu memperlemah kekuatan Jepang. Di Eropa, kekuatan fasis sudah porak poranda. Italia bertekuk lutut pada 9 April. Austria diduduki Sekutu empat hari kemudian. Pada 30 April, pemimpin Nazi Jerman, Adolf Hitler, bunuh diri bersama Eva Braun, perempuan yang baru sehari dinikahinya.[1]
Kondisi demikian ini mendorong pemerintah pendudukan Jepang di Indonesia untuk memberikan janji kemerdekaan kepada Indonesia dengan harapan rakyat Indonesia mau membantu tantara Jepang dalam perang. Kondisi ini sebenarnya dirasakan Jepang pada tahun-tahun sebelumnya. Memasuki akhir tahun 1943, Jepang mulai kewalahan menghadapi Sekutu.[2] Karena itu semakin membutuhkan dukungan dari bangsa Indonesia. Hal itu dibaca oleh Bung Karno. Beliau merasa perlu dibentuknya rakyat atau pemuda yang dilatih militer agar berguna bagi Indonesia merdeka kelak. Muncullah ide pembentukan PETA (Pembela Tanah Air). Beliau menuturkan dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia:
“Di seluruh wilayah yang didudukinya, Jepang menderita kekalahan yang mengejutkan, dan menjadi lemah. Mereka ingin sekali memberi dukungan pada prajurit mereka dengan para pemuda Indonesia yang tidak pernah mendapat pendidikan Belanda dan dengan demikian tidak memiliki perasaan pro-Barat. Secara teoritis, orang Indonesia yang sederhana, tidak berpendidikan dan bersifat kekanak-kanakan itu akan mudah diperlakukan sesuai kehendak Jepang. Mereka akan diindoktrinasi untuk membenci Barat dan dilatih bagaimana cara bertempur. Komando Tinggi Jepang menyetujui pembentukan PETA, agar mempersiapkan penduduk asli untuk melawan Sekutu seandainya invasi mereka berlangsung. Jauh lebih baik, demikian pikir para jenderal Jepang itu, darah bangsa Indonesia yang tertumpah daripada darah bangsa Jepang.”[3]
Sebenarnya kemerdekaan bangsa Indonesia sudah dijanjikan oleh Pemerintah Jepang, tak lama setelah Pasukan Negeri Sakura itu berhasil membuat pasukan Belanda menyerah tanpa syarat di Kalijati pada 1942. Sebagai saudara tua, saat itu Pemerintah Jepang berjanji ingin membebaskan bangsa Indonesia dari cengkeraman Belanda. Tentu saja rakyat Indonesia menerima kehadiran Jepang dengan tangan terbuka. Sebab pada waktu itu rakyat benar-benar menaruh harapan besar pada Jepang, agar segera mengentaskan mereka dari penderitaan yang sudah dialami selama bertahun-tahun. Tapi kenyataannya, janji itu hanyalah isapan jempol belaka. Semakin hari Pemerintah Jepang justru semakin memberikan tekanan kepada rakyat Indonesia. Menjajah bangsa Indonesia tanpa berperikemanusiaan, jauh lebih kejam daripada yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Bahkan pemerintah Jepang juga secara paksa membubarkan organisasi dan partai politik yang dibentuk oleh rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaannya.
Banyak aktivis pergerakan yang berseberangan pemikiran dengan Dai Nippon ditangkap dan dipenjara. Tak terhitung lagi para kiai dan guru ngaji yang ditangkap dan diasingkan. Dijauhkan dari santri dan pesantrennya dibakar. Kesewenang-wenangan Jepang terus berlanjut, selama lebih dari tiga tahun lamanya. Baru setelah Negeri Jepang porak-poranda karena dibombardir oleh Pasukan Sekutu, Dai Nippon mulai bersikap lunak kepada rakyat Indonesia. Dai Nippon kembali menawarkan bantuan. Ingin membantu bangsa Indonesia meraih kemerdekaannya.[4]
Tahun 1944 keadaan Jepang semakin terjepit. Di banyak wilayah tentara Jepang mengalami kekalahan menghadapi sekutu. Kondisi Jepang yang semakin memburuk, jatuhnya Kepulauan Saipan yang letaknya sangat dekat dengan Kepulauan Jepang ke tangan Amerika, serta dipukul mundurnya Angkatan perang Jepang oleh Sekutu dari beberapa wilayah, menyebabkan jatuhnya Kabinet Tojo, 17 Juli 1944. Kemudian diangkatlah Jenderal Kuniaki Koiso sebagai penggantinya. Salah satu langkah yang diambilnya guna mempertahankan pengaruh Jepang di antara penduduk negeri-negeri yang didudukinya ialah dengan cara mengeluarkan pernyataan “janji kemerdekaan” kepada Indonesia di kemudian hari. Dengan cara ini, Jepang mengharapkan bahwa Sekutu akan disambut oleh penduduk tidak sebagai pembebas rakyat, tetapi sebagai penyerbu ke negara merdeka.[5]
Pernyataan janji kemerdekaan tersebut disampaikan oleh Perdana Menteri Kuniaki Kaiso, pengganti Hideki Tojo, dalam pidatonya di parlemen Jepang pada 7 September 1945, bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dalam waktu singkat.[6]
Menurut istilah Deliar Noer, pemerintah Jepang memperlonggar pengawasannya secara politik dengan tujuan agar rakyat Indonesia mau membantu tantara Jepang. Beliau mengemukakan, “Kian mundur tantara Jepang di Pasifik, dan kian maju tantara Amerika; kian longgar pengawasan pemerintah pendudukan Jepang di Indonesia, khususnya di Jawa, dalam bidang politik. Maksudnya agar rakyat Indonesia dapat lebih diharapkan untuk membantunya dalam peperangan. Demikianlah setelah janji Indonesia merdeka diberikan, walau tak jelas kapan, pemerintah mendirikan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dibuka tanggal 28 Mei 1945, dan segera mengadakan sidang pertama pada tanggal 29 Mei – 2 Juni 1945. Sidang kedua diadakan pada tanggal 10-16 Juli 1945.”[7]
Mojokerto, 11/11/2023
DAFTAR PUSTAKA
Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Terj. Syamsu Hadi, Yogyakarta: Media Pressindo, dan Yayasan Bung Karno, 2014, edisi revisi cet. ke-3.
Deliar Noer, Biografi Politik Mohammad Hatta dan Persatuan Indonesia, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2018.
Haidar Musyafa, Hadji Agus Salim Diplomat Nyentrik Penjaga Martabat Republik, Tangerang: Penerbit Imania, 2019.
Hendri F. Isnaeni, Kontroversi Sang Kolaborator, Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2008.
Marwati Djoened Poesponegoro, dkk. (editor), Sejarah Nasional Indonesia VI, Jakarta: Balai Pustaka, Edisi Pemutakhiran, 2011, cet. ke-5.
Tim Tempo, Seri Buku Tempo Agus Salim Diplomat Jenaka Penopang Republik, (Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) bekerjasama dengan Majalah Tempo), cet. kelima, 2017.
Catatan Kaki:
[1] Tim Tempo, Seri Buku Tempo Agus Salim Diplomat Jenaka Penopang Republik, (Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2017, cet. V, hal. 16.
[2] Bahkan, jika dihitung dari menyerahnya Belanda di Indonesia pada Jepang (Maret 1942) dengan mulai kedodorannya Jepang pada sekutu berlangsung hanya sekitar 3 bulan, karena sejak Mei 1942 Jepang berangsung-angsur mulai mengalami kekalahan. (lihat Pejambon, hal. 2-3)
[3] Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, hal. 225.
[4] Haidar Musyafa, Hadji Agus Salim Diplomat Nyentrik Penjaga Martabat Republik, (Tangerang: Penerbit Imania, 2019), hal. 378-379.
[5] Lihat Marwati Djoened Poesponegoro, dkk., Sejarah Nasional Indonesia VI, hlm. 121.
[6] Hendri F. Isnaeni, Kontroversi Sang Kolaborator, hal. 103, 106, dan 110.
[7] Deliar Noer, Biografi Politik Mohammad Hatta dan Persatuan Indonesia, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2018), hal. 34-36.


















Semoga tulisan ini menjadi jendela yang membuka wawasan tentang perjalanan sejarah penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Semoga pemuda-pemudi kita dapat mengambil inspirasi dari janji kemerdekaan tersebut untuk terus berjuang membangun negeri yang adil dan sejahtera. Doa kami semoga semangat kemerdekaan terus berkobar dalam hati setiap generasi, menjadi pendorong untuk mencapai kemajuan dan keberhasilan. Teruslah menginspirasi dan memberikan dedikasi untuk kebaikan tanah air. Selamat menapaki perjalanan sejarah yang membentuk identitas bangsa.