@Serial Sejarah: Pancasila Hadiah Umat Islam Untuk Indonesia
DETIK-DETIK PROKLAMASI KEMERDEKAAN
Oleh: M. Mujib Ansor, S.H., M.Pd.I. (Kepala MA Al-Umm Malang)
Proklamasi Adalah Titip Puncak Perjuangan Bangsa
“Pada tanggal 17 Agustus 1945, rakyat Indonesia memaklumkan Proklamasi Kemerdekaan. Dengan dan atas Proklamasi itu berdirilah negara Republik Indonesia,” demikian pernyataan Moh. Yamin dalam bukunya Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia.
Proklamasi ialah maklumat kemerdekaan, dan surat itu ialah pula dengan segala keinsyafan berisi tanggal permulaan Revolusi Indonesia yang menghendaki dan melaksanakan: pembentukan negara merdeka, berdaulat, penerangan kemerdekaan dan pembentukan masyarakat yang bebas Merdeka, lanjut Yamin.
Proklamasi kemerdekaan adalah titik kulminasi (puncak) dari perjuangan bangsa Indonesia yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Proklamasi yang dikumandangkan oleh Bung karno dan Bung Hatta adalah sebuah tindakan yang amat tepat dan penting serta bersejarah bagi bangsa Indonesia. Mengapa demikian? Karena pada saat itu terjadilah apa yang disebut dalam sejarah sebagai “the vacuum of power” (kekosongan kekuasaan).
Disebut demikian, sebab Jepang yang menguasai Indonesia saat itu menyerah pada Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945 atau ada juga yang menyebut tanggal 14 Agustus, seperti Adam Malik[1], sementara Sekutu -sebagai pemenang perang Dunia II- yang mau datang ke Indonesia untuk melucuti senjata tentara Jepang belum tiba di Indonesia. Dalam sejarah tercatat bahwa sekutu tiba di Indonesia pada bulan September 1945.
Nah, di saat-saat yang genting dan penting itulah para pejuang bangsa mengambil tindakan penting dan tepat bagi bangsa dan negara, berupa Proklamasi Kemerdekaan.
Peran Para Pemuda
Sejarah juga mencatat bahwa Proklamasi kemerdekaan yang kita raih ini tidak lepas dari peranan penting para pemuda Indonesia seperti: Sutan Syahrir, Sukarni, Chairul Saleh, Adam Malik, Sayuti Malik, Wikana dan lain-lain sebagaimana sudah diaparkan sebelumnya.
Ketika mendengar berita kekalahan Jepang lewat pemancar “radio gelap” mereka[2], pada tanggal 15 Agustus 1945 itu[3], mereka langsung menghadap kepada Bung Karno dan Bung Hatta dan rombongan yang baru saja tiba dari Dalat, Vietnam, untuk menghadiri undangan Jenderal Terauchi[4], guna membicarakan “janji kemerdekaan” yang dijanjikan Jepang kepada Indonesia.
Para pemuda mendesak agar Bung Karno segera memproklamasikan kemerdekaan RI atas nama rakyat Indonesia. Tetapi Bung Karno dan Bung Hatta, dan golongan tua lainnya masih “ragu” dengan berita tersebut. Di samping itu juga masih akan membicarakannya dalam rapat PPKI. Para pemuda tidak setuju, sebab itu berarti bahwa kemerdekaan ini adalah bener-benar pemberian atau “hadiah” dari Jepang.
Bahkan yang lebih ekstrem dilakukan Wikana, “Apabila Bung Karno tidak mau mengucapkan pengumuman kemerdekaan malam ini juga (15 Agustus, pen.), besok pagi akan terjadi pembunuhan dan penumpahan darah.”
Mendengar ancaman itu Soekarno naik darah, menuju ke Wikana sambal menunjukkan lehernya dan berkata, “Ini leherku, seretlah aku ke pojok sana, dan sudahilah nyawaku malan ini juga, jangan menunggu sampai besok.”
Wikana terperanjat, lalu berkata, “Maksud kami bukan membunuh Bung, melainkan kami mau memperingatkan, apabila kemerdekaan Indonesia tidak dinyatakan malam ini juga, besok rakyat akan bertindak dan membunuh orang-orang yang dicurigai, yang dianggap pro-Belanda, seperti orang-orang Ambon dan lain-lain.”
Berhubung suasana begitu panas, Bung Hatta minta istirahat sekitar 15 menit, dan mengajak Soekarno, Soebardjo, dan dr. Boentaran masuk ke dalam rumah. Dari pembicaraan itu diperoleh kata sepakat bahwa apabila pemuda bersikap keras untuk memproklamasikan Indonesia merdeka pada malam itu juga, lebih baik mereka mencari seorang pemimpin sebagai penyokong revolusi.
Soekarno-Hatta Diculik ke Rengasdengklok
Maka pada tanggal 16 Agustus 1945 dini hari terjadilah peristiwa “penculikan” terhadap Bung Karno dan Bung Hatta oleh para pemuda, dibawa ke Rengasdengklok di Kota Kerawang –tempat yang aman, karena dalam kekuasaan PETA- agar mereka terhindar dari pengaruh dan tekanan Jepang.[5]
Akhirnya, setelah melalui perundingan yang cukup alot antara golongan pemuda dan golongan tua, Ahmad Subardjo dari golongan tua memberi jaminan bahwa Proklamasi akan dilakukan besok. Maka Bung Karno dan Bung Hatta dibawa kembali ke Jakarta pada sore itu juga.
Rapat Anggota PPKI
Tiba di Jakarta malam hari. Hatta minta Subardjo menelpon Hotel Des Indes untuk mengadakan rapat anggota PPKI pukul 12.00 malam itu juga, guna melanjutkan rapat yang tidak jadi pada pagi harinya -karena Soekarno-Hatta dibawa para pemuda ke Rengasdengklok-. Pihak hotel menjawab bahwa Jepang memerintahkan sejak dulu kepada pengurus hotel, rapat tidak boleh diadakan lagi kalau sudah lewat jam 10.00 malam.
Subardjo menyarankan agar dicoba minta kesediaan Maeda untuk mengadakan rapat itu di rumahnya. Kami setuju, kata Hatta. Saat ditelepon, Maeda menjawab: Dengan segala senang hati rumahnya dijadikan tempat rapat dan gembira mendengar kami berdua telah kembali ke Jakarta. Semua anggota 21 orang diundang rapat tengah malam itu.
Mengapa di Rumah Laksamana Maeda?
Tentang mengapa rumah Laksamana Maeda menjadi pilihan, Ahmad Subarjo mengemukakan alasannya: Tempat kediaman Maeda mempunyai status extra-territorial. Apa yang terjadi di tempat kediaman Maeda tidak dapat dicampuri oleh Angkatan Darat dan harus dihormati, tidak dalam arti hukum tetapi sebagai suatu adat-istiadat yang lazim bagi Jepang.
Bagi Maeda tentu hal ini bukanlah suatu yang mudah, sebab posisi Jepang saat itu menyerah pada Sekutu, dan diminta oleh Sekutu untuk menjaga status quo, tidak boleh ada pergerakan di Indonesia apalagi gerakan kemerdekaan. Subardjo berkesimpulan bahwa Soekarno dan kawan-kawan telah gagal untuk mengubah pendirian Angkatan Darat mengenai masalah Kemerdekaan Indonesia.
Bertitik dari keadaan yang demikian, maka Ahmad Soebardjo memandang bahwa kedudukan Maeda, baik resmi maupun secara pribadi menjadi sangat sulit. Tetapi justru dalam saat-saat yang genting ini, Maeda telah menunjukkan kebesaran moralnya. Berdasarkan keyakinan bahwa kemerdekaan merupakan aspirasi alamiah dan yang tidak terhindarkan lagi dari suatu bangsa, ia tanpa ragu-ragu sedikit pun memberikan dukungannya kepada tujuan kebebasan Indonesia dan dengan demikian mengorbankan kedudukannya bahkan menyabung nyawanya untuk itu. Sebab, bagaimana pun, Sekutu dapat menuduhnya telah melanggar status-quo. Sungguh suatu tanggung jawab yang sangat besar dipikul oleh Maeda dengan memberikan kesempatan kepada PPKI untuk bersdiang di tempat kediamannya.
Kurang lebih pukul 02.00 pagi buta, Soekarno, Hatta, dan Maeda tiba kembali ditemani oleh seorang anggota Angkatan Darat Jepang, Kolonel Myosi, perwira penghubung di kantor Badan Penasehat Hatta. Ia adalah penghubung antara Kantor Hatta dengan Markas Besar Pemerintahan (pendudukan) Militer Jepang. Kehadiran Myosi di tempat kediaman Maeda sebagai perwira Angkatan Darat, bagi Subardjo dinilai mungkin suatu siasat diplomatik dari Laksamada Muda Maeda, suatu Tindakan pencegahan yang bijaksana untuk memberi kesan bahwa Angkatan Darat diberi tahu tentang apa yang terjadi di bawah atap rumahnya.
Perumusan Teks Proklamasi
Kembali ke rumah Maeda, Soebardjo menuturkan bahwa Laksamana Maeda langsung pergi ke bagian belakang rumah dan diikuti oleh Soekarno, Hatta, dan Myosi. Saya (Subardjo) diminta hadir, sementara Nishizima menyusul kemudian. Terdapat sebuah pintu besar berupa jalan ke luar ke sebuah teras menghadap sebuah taman pada pekarangan belakang rumah.
Sekeliling meja bundar duduklah Soekarno, Hatta, Maeda, Myoshi dan saya sendiri. Dekat saya agak ke belakang, duduklah sekertaris saya, Soediro, Soekarni, dan B.M. Diah yang ikut mendengarkan perundingan meja bundar tersebut.
Nasib baik berada di tangan kami, kata Ahmad Subardjo. Tuan-tuan jepang mengundurkan diri hampir-hampir tanpa kami ketahui pada saat kami mulai memperbincangkan redaksi Proklamasi Kemerdekaan. Hal ini merupakan tanda lampu hijau, bahwa dari pihak Jepang tidak perlu dikhawatirkan adanya campur tangan.
Perkembangan selanjutnya berjalan lancar, tidak terdapat kesulitan untuk menemukan rumusan yang sesuai. Sebenarnya teks proklamasi telah dirumuskan dalam “Piagam Jakarta” tanggal 22 Juni 1945.
“Masih ingatkah saudara teks dari Bab Pembukaan Undang-Undang Dasar kita?” tanya Soekarno kepada Soebardjo.
“Ya, saya masih ingat tetapi tidak lengkap seluruhnya,” jawab Subardjo.
“Tidak apa,” demikian Soekarno, “Kita hanya memerlukan kalimat-kalimat yang menyangkut Proklamasi, bukan seluruh teksnya.”
Soekarno kemudian mengambil secarik kertas dan menulis sesuai dengan apa yang saya ucapkan, sebagai berikut:
“Kami rakyat Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan kami.” Kalimat yang pendek dan sederhana ini dianggap cukup dan mempunyai arti penting dalam sejarah dunia. Waktu telah menunjukkan pukul 03.00 sementara orang-orang yang berkumpul menunggu-nunggu apa yang terjadi selanjutnya.
Setelah menuliskan kalimat tersebut, Soekarno yang duduk di hadapan saya, membacakan dengan suara cukup keras. Kemudian Hatta menyatakan pendapatnya:
“Ini tidak cukup dan merupakan suatu pernyataan abstrak tanpa isi. Kita harus mengantarkan kemerdekaan kita pada pelaksanaan yang nyata dan kita tidak mungkin dapat berbuat demikian tanpa kekuasaan berada di tangan kita. Kita harus menambah pikiran tentang penyerahan kekuasaan dari Jepang ke dalam tangan kita sendiri.”
Maka akhirnya lahirlah rumusan berikutnya yang berbunyi:
“Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain akan diselenggarakan dengan cara yang secermat-cermatnya serta dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”
Kemudian rumusan Proklamasi dalam bentuk terakhirnya sebagai berikut:
“Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”
Kemudian naskah yang ditulis oleh Soekarno diketik oleh Sayuti Melik.
Dalam versi Mohammad Hatta, beliaulah yang mendiktekan kalimat naskah proklamasi. Hatta menuturkan:
Bung Karno bilang agar kita bikin teks yang pendek saja, “Bung Hatta lebih tahu Bahasa Indonesia daripada saya. Tulislah dan pikirlah,” kata Bung Karno
Saya kemudian menyebutkan kalimat-kalimat konsep proklamasi itu. Bung Karno menuliskannya di atas kertas. Dua kalimat yang saya diktekan itu ialah:
“Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”
Oleh Bung Karno teks proklamasi tersebut dibacakan pelan-pelan. Tiga kali dibacakan. Akhirnya semua setuju secara bulat. Semua menerima dengan gembira. Semua berteriak: “Setuju.”
Kemudian Hatta menyampaikan bahwa ini satu dokumen penting bagi sejarah bangsa Indonesia, untuk itu beliau meminta semua yang hadir untuk menandatangani dokumen ini. tak ada seorang pun yang menjawab, kecuali Soekarni: “Tidak baik kita semua yang menandatangni. Cukup Soekarno-Hatta saja atas nama semua rakyat Indonesia.”
“Semua gembira, saya agak jengkel juga, karena diberi kesempatan membuat sejarah, tidak mau,” tutur Bung Hatta.
Rapat ditutup, semua gembira. Maeda turun dari kamarnya di tingkat atas. Ia memberikan salam kepada semua yang hadir. Teks Proklamasi itu kami suruh ketik kembali diperbanyak dan disiarkan.[6]
Perbedaan Pendapat Terkait Naskah Proklamasi
Dari pemaparan tersebut tampak ada sedikit perbedaan terkait naskah Proklamasi. Versi Mohammad Hatta beliaulah yang mendiktekan semua kalimat tekas Proklamasi, tetapi versi Ahmad Soebardjo, beliau yang mendikte kalimat bagian pertama, sementara kalimat bagian kedua adalah dari Bung Hatta. Mengapa bisa demikian? Wallahu a’lam. Tapi yang tidak diperselisihkan adalah bahwa teks proklamasi ini dirumuskan oleh tiga orang yaitu: Soekarno, Moh. Hatta, dan Ahmad Soebardjo. Adapun peran ketiga orang tersebut dengan versi jalan tengah adalah: Soekarno yang menulis, ide kalimat teks Proklamasi dari Ahmad Soebardjo dan Moh. Hatta.
Dalam pertemuan ini diputuskan: pertama, Proklamasi kemerdekaan akan tetap dilaksanakan dengan atau tanpa persetujuan Angkatan Darat Jepang. Kedua, bahwa proklamasi akan dibacakan oleh Bung Karno tanggal 17 Agustus 1945 di rumah kediaman beliau, Jl. Pegangsaan Timur no. 56 Jakarta pukul 10.00 .

Akhirnya, pada hari Jum’at, 17 Agustus 1945, bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan 1363 atau 1364 H[7], pukul 10.00 WIB, dibacakanlah Teks Proklamasi oleh Bung karno di depan rumah kediaman beliau, Jl. Pegangsaan Timur 56 Jakarta, yang dihadiri oleh rakyat dan para pemuda Jakarta.
Peristiwa besar ini hanya berlangsung kurang lebih 1 jam. Ditata amat sederhana, tetapi penuh suasana hikmat dan mengharukan. Dan selanjutnya, pekik ‘kemerdekaan’ itu secara berangsur-angsur membahana ke seluruh pelosok nusantara.
Penutup
Menyimak sedikit peristiwa “detik-detik” proklamasi tersebut, mengingatkan kita betapa perjuangan itu membutuhkan: kegigihan, kejelian, kecepatan, dan ketepatan mengambil keputusan, juga kekompakan dan persatuan, terutama kekompakan antara golongan tua dan para pemuda, dan semua komponen bangsa, terutama umat Islam –karena mayoritas penduduk Indonesia dan yang gigih berjuang melawan penjajah adalah umat Islam di bawah komando para kyai dan tokoh agama- guna meraih sukses yang besar.
Ternyata bangsa Indonesia di samping sebagai bangsa pejuang, juga bangsa yang religius, bangsa yang beragama. Meskipun beratus-ratus tahun berjuang mengusir penjajah, tetapi setelah memproklamirkan kemerdekaan, keberhasilan itu tidak diakui sebagai hasil perjuangan semata, tetapi semua itu tidak lepas dari pertolongan dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Para pendiri bangsa ini sadar sepenuhnya akan hal itu. Maka pengakuan itu kemudian dituangkan dalam pembukaan UUD 1945 alinea II yang berbunyi:
“Atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa dan dengan didorong oleh keinginan yang luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” [*]
Malang, 21/11/2023
DAFTAR PUSTAKA
Adam Malik, Riwayat Proklamasi 17 Agustus 1945, Jakarta: Penerbit Widjaya Jakarta, 1982, cet. VII.
Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah 2, Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bandung: Surya Dinasti, 1439 H/ 2018, cet. III
Mohammad Hatta, Untuk Negeriku 3, Menuju Gerbang Kemerdekaan Sebuah Otobiografi, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2018, cet. VIII.
Muhammad Yamin, Prof. Mr. H., Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1982, cet. keenam.
Ricklefs, M.C., Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, terj. Tim Penerjemah Serambi, Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2008.
Saifuddin Zuhri, K.H., Berangkat Dari Pesantren, Yogyakarta: LKiS, 2013.
William H. Freederick dan Soeri Soeroto, Pemahaman Sejarah Indonesia: Sebelum dan Sesudah Revolusi, Jakarta: LP3ES, 2017, cet. IV.
Catatan Kaki:
[1] Adam Malik menyebutkan tentang menyerahkan Jepang ini tanggal 14 Agustus 1945 (lihat Adam Malik, Riwayat Proklamasi Agustus 1945, hal. 24-25); demikian pula keterangan Hatta bahwa Sjahrir mengabarkan Jepang “minta damai” dengan Sekutu ketika ia mendatangi rumah Hatta saat baru saja tiba dari Dalat, Vietnam, pada tanggal 14 Agustus, sekitar pukul 14.00. (Moh. Hatta, Menuju Gerbang Kemerdekaan, hal. 73-74);
[2] Yang mereka dengar dari siaran Radio Domei milik Jepang.
[3] Dalam catatan Hatta para pemuda mendatangi mereka tiga gelombang: pertama Sjahrir pada tanggal 14 Agustus (sebagaimana yang penulis kemukakan di atas), kedua tanggal 15 Agustus, sore hari. Yang datang adalah Soebadio Sastrosatomo dan Soebianto. Di sana terjadi perdebatan sengit sekitar setengah jam, tanpa hasil. Ketiga, pada malam hari, sekitar pukul 21.30, Ketika Bung Hatta sedang mengetik naskah pernyataan proklamasi, diajak oleh Soebardjo ke rumah Soekarno karena ia sedang dikerumuni oleh para pemuda, di antaranya Wikana. Bung karno dan Bung Hatta mengatakan bahwa besok tanggal 16 Agustus PPKI akan bersidang untuk melaksanakan kemerdekaan itu. Para pemuda tetap menolak jika atas nama PPKI.
[4] Panglima seluruh angkatan perang Jepang di Asia Tenggara
[5] Selain tujuan itu, menurut catatan Adam Malik juga bertujuan untuk mempersilakan Bung Karno dan Bung Hatta selekasnya menyatakan Proklamasi Kemerdekaan atas nama seluruh rakyat hari itu juga di Rengasdengklok. Tetapi Bung Karno menolak dan ia hanya bersedia melakukan proklamasi jika dilaksanakan di Jakarta. (Lihat Adam Malik, Peristiwa-Peristiwa Sekita Proklamasi 17-8-1945, hal. 106-107).
[6] Pada malam permusan teks proklamasi itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, sehinga diceritakan juga bahwa Bung Hatta menyiapkan sendiri makan sahurnya.
[7] KH. Saifuddin Zuhri menyebut tahun 1363 H, sementara Ahmad Mansur menyebut tahun 1364 H.


















Semoga pemuda kita tetap bersemangat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemerdekaan, menjadi generasi yang penuh dedikasi untuk memajukan bangsa dan membawa Indonesia ke puncak kejayaan. Semoga mereka selalu menghargai sejarah dan menjadi pemimpin yang bijaksana untuk masa depan yang lebih baik. Doa terbaik untuk keberanian dan keberhasilan selalu menyertai langkah-langkah mereka.