DAFTAR ANGGOTA BPUPK
Oleh: M. Mujib Ansor, S.H., M.Pd.I. (Kepala MA Al-Umm Malang)
Untuk lebih mengenal pribadi para pendiri bangsa yang tergabung dalam BPUPK, maka perlu dikemukakan di sini identitas mereka meskipun secara singkat. Jika dikelompokkan ke dalam golongan-golongan, maka keanggotaan BPUPK terbagi ke dalam beberapa kelompok. Ada golongan birokrat profesional, birokrat pemerintahan, golongan swasta dan independen, golongan ulama, golongan pergerakan nasional, serta anggota dari Jepang.
Dari golongan birokrat profesional, yaitu mereka yang mempunyai keahlian khusus (dokter, hakim, ahli keuangan, apoteker, dan sebagainya) ada 22 orang, yaitu:
- K.R.T. Radjiman Wediodiningrat, 66 tahun, mantan dokter Keraton Solo, pengurus pertanian Ngawi, anggota Cuo Sangi In.
- P. Soeroso, 52 tahun, mantan anggota Dewan Rakyat Jawa Timur.
- Dr. R. Djenal Asikin Widjajakoesoema, 55 tahun, guru besar Sekolah Tabib Tinggi Djakarta (Ika Dai Gaku), wakil pimpinan RSU Jakarta.
- Mas Aris, 44 tahun, pimpinan jawatan kehutanan daerah Cepu, anggota Cuo Sangi In.
- Abdul Kadir, 39 tahun, Komandan Batalyon Idaidancho) PETA daerah Kedu.
- R. Boentaran Martoatmojo, 50 tahun, dokter, pimpinan Rumah Sakit Semarang, anggota Cuo Sangi In.
- P.A. Hoesein Djajadiningrat, 60 tahun, panitia adat dan tata negara, anggota Cuo Sangi In.
- Dr. R. Soeleiman Effendi Koesoema Atmadja, 48 tahun, hakim Pengadilan Semarang.
- M. Margono Djojohadikoesoemo. 52 tahun, sekertaris bagian koperasi Kantor Pusat Koperasi Perdagangan Dalam Negeri.
- Moenandar, 31 tahun, insinyur Keraton Solo.
- Ir. R. Roeseno Soerjohadikoesoemo, 37 tahun, Guru Besar Bandung Koogyoo Daigaku, insinyur pengairan Kediri, anggota Cuo Sangi In.
- R. Sastromoeljono, 48 tahun, hakim Pengadilan Jakarta.
- Mr. Dr. R. Soepomo, 43 tahun, Guru Besar Kenkoki Gakuin, anggota Panitia Adat dan Tatanegara Jakarta.
- R.M.P. Soerachman Tjokroadisoerjo, 41 tahun, pemimpin kantor pusat kerajinan dan jawatan tera Jakarta.
- Mas Soesanto Tirtoprodjo, 45 tahun, pegawai di kantor pemerintah Madiun.
- R. Soewandi, 47 tahun, pegawai di kantor pemerintah, anggota Dewan Sanyo.
- Tan Eng Hoa, 38 tahun, kepala jawatan koperasi Waroeng Kumiai dan Kepala Koperasi Sepeda Kumiai.
- Soedirman, 55 tahun, anggota Surabaya Syuu Sangi Kai.
- H. Abdoel Fatah Hasan, 33 tahun, anggota Banten Syu Sangi Kai.
- Asikin Natanegara, 43 tahun, departemen kepolisian.
- Pangeran M. Noor, 44 tahun, pimpinan kantor pengairan Bondowoso.
- Abdoel Kaffar, 32 tahun, anggota militer Barisan Madura.
Golongan birokrat pemerintahan ada 12 orang. Mereka adalah:
- P.H. Bintoro, 27 tahun, pejabat Kesultanan Yogya
- A.A. Kolopaking Poerbonegoro, 59 tahun, Bupati Bandjarnegara
- P.H. Poerobojo, 39 tahun, pejabat Keraton Yogya, anggota Cuo Sangi In
- Abdoelrahim Pratalykrama, 56 tahun, Wakil Residen Kediri
- Soetardjo Kartohadikoesoemo, 53 tahun, Residen Jakarta
- M.T.A. Soerjo, 51 tahun, Residen Bodjonegoro
- K.R.M.A. Sosrodiningrat, 44 tahun, Bupati Surakarta
- R.M.T.H. Woerjaningrat, 60 tahun, pejabat Keraton Solo
- A.A. Wiranatakoesoema, 58 tahun, Bupati Bandung
- K.R.M.T Wongsonegoro, 49 tahun, Bupati Sragen
- P.K.A. Soerjo Hamodjojo, 40 tahun, pejabat Keraton Solo
- Mas Besar Martokoesoemo, 52 tahun, Walikota Tegal.
Dari golongan swasta dan independen (wartawan, pengusaha, advokat dan sebagainya) ada 10 Orang:
- M. Dasad, 41 tahun, pengusaha
- A.A. Maramis, 48 tahun, advokat
- Oto Iskandar Dinata, 49 tahun, pemimpin umum Tjahaja
- Parada Harahap, 44 tahun, pemimpin umum Sinar Baroe
- Roeslan Wongsokoesoemo, 45 tahun, wartawan Asia Raja dan Djawa Shimbun
- Samsi, 52 tahun, tata usaha dan pajak partikelir
- R.P. Singgih, 52 tahun, advokat
- Soekardjo Wirjopranoto, 42 tahun, pemimpin umum Asia Raya
- Soekiman, 56 tahun, dokter partikelir
- Liem Koen Hian, 38 tahun, wartawan, anggota Gerindo.
Dari golongan Ulama ada 7 orang:
- H.A. Sanoesi, 56 tahun, Persatuan Umat Islam Indonesia, anggota Jawa Hooko Kai dari Masyumi (PUI)
- H. Abdoel Halim, 59 tahun, Perikatan Oemat Islam, anggota Jawa Hooko Kai dari Masyumi (PUI).
- Ki Bagoes Hadikoesoemo, 56 tahun, Muhammadiyah
- H. Masjkoer, 44 tahun, NU (Masyumi)
- H. Mansjoer, 50 tahun, Muhammadiyah
- H. Abdoel Kahar Moezakir, 38 tahun, Muhammadiyah
- H.A Wachid Hasjim, 33 tahun, NU.
Sementara dari golongan pergerakan nasionalis yang banyak bergerak dalam kepartaian dan organisasi masyarakat sebanyak 17 orang:
- Abikoesno Tjokrosoejoso, 49 tahun, Jawa Hookoo Kai (mantan PSII)
- Ki Hadjar Dewantara, 57 tahun, Taman Siswa
- Moh. Hatta, 44 tahun, Jawa Hookoo Kai
- R. Hindromartono, 37 tahun, ahli hukum
- Moh. Yamin, 42 tahun, ahli hukum
- J. Latuharhary, 45 tahun, ahli hukum
- Agoes Salim, 62 tahun, anggota Mejelis Pertimbangan POETRA (Penyadar, mantan PSII)
- R.M. Sartono, 45 tahun, ahli hukum
- R. Samsoedin, 37 tahun, Ketua Gerakan 3A (PUI, mantan Parindra)
- A. Soebardjo, 49 tahun, ahli hukum
- Soekarno, 45 tahun, insinyur
- R. Ayu Maria Ulfah Santoso, 35 tahun, ahli hukum
- R.S.S. Soenarjo Mangoenpoespito, 39 tahun, kepala bagian wanita Jawa Hookoo Kai (Aisyiah, mantan JIB)
- Oei Tjong Hauw, 41 tahun, anggota Cuo Sangi In dari Tionghoa Jawa Tengah
- Oei Tiang Tjoei, 52 tahun, anggota Cuo Sangi In dari Tionghoa Jawa Barat
- F. Dahler, 62 tahun, mantan anggota Volksraad
- R. Baswedan, 37 tahun, anggota Cuo Sangi In pendiri Partai Arab Indonesia.
Sedangkan anggota dari Jepang adalah sebagai berikut:
- Itibangase Yosio Tekisan (wakil ketua)
- Tokonomi Tokuzi
- Miyano Syoozoo
- Itagaki Masamitu
- Matuura Mitikiyo
- Tanaka Minoru
- Masuda Toyohiko
- Ide Teitiro
Melihat komposisi di atas, terlihat jelas campur tangan pihak Jepang untuk memastikan Lembaga ini tidak mengancam posisi Jepang sendiri. Walaupun kaum pergerakan menempati urutan kedua terbesar (17 anggota), tapi mereka bisa kalah dalam pemungutan suara atau istilah saat itu adalah “stem suara” bila dibandingkan dengan koalisi kaum birokrat yang berjumlah 34 orang.
Pihak Jepang juga secara cerdik menyusun komposisi tersebut dari latar belakangnya. Total ada 45 orang anggota yang berlatar belakang bangsawan lokal atau keraton. Lalu ada 7 orang berlatar belakang ulama. Dari luar Jawa ada 3 orang berasal dari Sumatra Barat (Hatta, Yamin, dan Agus Salim), satu dari Tapanuli (Parada Harahap), satu dari Maluku (Latuharhary), satu dari Kalimantan (Pangeran M. Noor), satu dari Minahasa (Maramis), satu dari Lampung (Dasaad), satu dari Arab (A.R. Baswedan), satu dari Indo (Dahler), dan empat dari Tionghoa.
Namun Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak lain, 9 jiwa nasionalisme mereka ternyata mengalahkan ego dan kepentingan pribadi atau sekedar mengikuti kehendak Pemerintah Jepang. Sehingga hasil kerja mereka sungguh luar biasa bagi berdirinya negara Indonesia Merdeka kelak di kemudian hari. Mereka berhasil bekerja melampaui wewenang yang diberikan kepada BPUPK. [*]
Mojokerto, 18/11/2023
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah 2, Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bandung: Surya Dinasti, 1439 H/ 2018, cet. III
Daradjadi dan Osa Kurniawan Ilham, Pejambon 1945 – Konsensus Agung Para Peletak Fondasi Bangsa, Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2020.
Deliar Noer, Partai Islam di Pentas Nasional, Kisah dan Analisis Perkembangan Politik Indonesia 1945-1965, Bandung: Penerbit Mizan, 2000, cet. II.
Yudi Latif, Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas, Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, cet. ketujuh, 2019.

















